Rabu, 11 September 2019 | By: Isnania

Miliki Mimpi



Setiap insan yang lahir ke dunia fana ini pasti memiliki mimpi, sesederhana apapun itu.

Kaum papa yang terlantar di jalanan, mereka pasti memimpikan sebuah tempat layak huni atau yang paling sederhana, tempat berteduh untuk menghirup nafas pemberian-Nya, serta mendapatkan sedikit asupan energi 'tuk melanjutkan se-persekian detik kehidupan.

Kaum duafa yang berjuang demi sesuap nasi dan pengobatan, pastinya bermimpi dapat hidup layak dan berbalik memberi kepada insan yang membutuhkan.

Insan yang paling dekat dengan-Nya, para pejuang syahid di medan perang ... mereka pasti se-detik saja pernah memimpikan sebuah kebebasan. Kemerdekaan yang sangat mereka rindukan dan penghidupan layaknya sebuah kehidupan.

Anak-anak yang hidupnya dijalani pada sebuah pondok ataupun panti asuhan, setidaknya pernah bermimpi memiliki keluarga utuh yang mengayomi, sesederhana apapun keluarga yang akan mereka miliki.

Bahkan seorang kaya raya, berkecukupan hingga berlimpah harta sampai tujuh turunan pun, memiliki mimpi yang tak kalah besarnya dengan kehidupan yang dianugerahkan pada mereka.

Seorang beriman pasti sangatlah bermimpi bertemu panutan, Sang Rasul dan Rabb Penguasa Alam dalam keadaan terbaiknya.

Memiliki mimpi, bukanlah sebuah kesalahan. Bukanlah sebuah ketidaksyukuran. Bukan berarti kufur nikmat apalagi menentang takdir-Nya. Bermimpi ialah sebuah kisah yang tak sengaja hadir dalam kehidupan. Mimpi juga bisa menjadi awal baru kehidupan yang penuh warna dan penunjang semangat dalam mengarungi dunia yang sementara.
Selasa, 10 September 2019 | By: Isnania

Diri Ini dan Dia


Masih terekam jelas dalam angan,
Bagaimana diri dan dia merancang mimpi.
Namun, semua itu terpaksa lenyap terbawa masa,
Karena akhirnya di dunia telah hampiri.

Yah, dunia hanyalah rantauan saja,
Akhiratlah kampung halaman yang abadi.
Namun, manusia seolah lupa,
Masih saja terpesona indahnya mimpi.

Laksana diri yang harusnya sadar dan kuat hadapi,
Namun, tetap saja berkubang sendu.
Selalu tak sabar diri menanti,
Hari bersua kembali bersama yang dirindu.

Akankah jiwa terampuni,
Di kala raga selalu rapuh.
Akankah sanubari terpenuhi,
Di kala bathin selalu mengeluh.

Wahai diri, yang selalu merindu,
Bukankah kau sadar, dunia hanyalah semu,
Namun, kenapa masih saja pilu.
Bila akhirnya kau dan dia 'kan kembali bertemu.

Yah, wahai diri,
Kutahu kau masih akan selalu terkenang,
Kau takkan pernah melukai diri,
Kutahu dia insan tersayang.

Kodrat manusia ialah menjalani,
Takdirnya tak bisa kau pungkiri.
Bila kau memanglah meyakini,
Al-fatihah untuknya kau hadiahi.
---

Wahai Kamu yang sempat membersamai,
Puncak segala perhatian,
Tak pernah lelah mendampingi,
Tumpuan semua harapan.

Kamu, insan beriman,
Panutan di kala resah,
Tempat berkeluh kesah,
Tiada lelah berikan senyuman.

Kamu, sang pahlawan,
Pemilik mimpi yang tinggal kenangan,
Begitu elok dan rupawan,
Hingga akhirpun tetaplah dermawan.

Wahai kamu,
Bersama dengan-Nya ialah impian,
Jannah-Nya tempat kembalimu,
Hadiah segala sabar dan keimanan.
-nurhidayatunnisa- Duri-Riau.