Senin, 01 Juni 2015

Akhir nan Indah Menuju Awal yang Cerah



Awal bulan yang baru telah menghampiri jiwa dan raga. Namun, mengingat kembali apa yang telah terjadi diakhir-akhir bulan mei kemarin. Dimana, satu persatu undangan walimatul ursy dua insan beriman datang menjenguk kerumah cinta. Kesibukan baru menggeluti aktifitas cinta di akhir pekan, yah, menghadiri acara pernikahan yang selalu dinanti setiap insan yang merasa dirinya masih jomblo. Hihihi….
Mengingat apa yang terjadi pada setiap penikahan itu, begitu indahnya melihat senyuman merekah dibibir kedua mempelai, terlihat mempesona dengan tanpa tersadar seolah melihat sosok kembar yang berbagi kebahagiaan. Yah, pasangan serasi dengan senyuman mimik yang serupa pula. Apakah memang begitu setiap yang berjodoh kan terlihat sama mimik wajahnya?
31 Mei 2015, hari terakhir di bulan mei, dan merupakan pernikahan terakhir di bulan itu yang cinta hadiri bersama teman. Betapa menyenangkannya acara pernikahan, satu per satu orang-orang dikenal hadir dan bergantian senyum sapa, cerita masa lalu menghampiri segala jiwa disana, yah, acara pernikahan juga dapat menjadi acara reuni yang indah dengan kebahagiaan yang tiada tara.
Hari terakhir di bulan mei itu, menjadi akhir bulan yang indah bagi setiap insan yang hadir dipernikahan itu, tak hanya bagi kedua mempelai, keluarga kedua mempelai, namun juga bagi tamu undangan yang menghadiri pernikahan suci nan indah yang menyentuh hati dan pikiran hingga membuat cinta cemburu. Hehehe….
Sedikit mengingat lamunan sesaat cinta saat menatap dua insan yang tengah berbahagia di panggung pernikahan yang megah, tetibanya terlintas bayangan tanpa sosok yang jelas, akankah cinta segera menyusul? Siapakah sosok yang kan telihat serupa dengan cinta saat tersenyum, menangis atau perasaan lainnya? Hehehe…. Ngimpi….
So, ibroh di akhir bulan nan indah, dapat melihat kebahagiaan insan jomblo bertemu belahan jiwa, melihat senyum merekah dua keluarga, kembali menyatunya silaturahim yang sempat menghilang, dan tentu saja arti kebahagiaan suci dari pernikahan yang terjalin atas ridho-Nya.
Akhirnya, untukmu yang telah menemukan tumpuan hati dan teman sahur bersama saat ramadhan nanti, hehehe… bersyukurlah dan tetaplah menjadi dirimu yang terbaik. Dan untukmu yang kini masih sendiri, tetap bersyukurlah karena bisa sahur dan berbuka bersama keluarga yang tak pernah meninggalkanmu dalam senang maupun duka.
Selamat menyambut bulan yang baru, selamat menyambut ramadhan yang kan segera menghampiri kita. Keep Istiqomah, fighting, and smile.

Senin, 18 Mei 2015

Menanti Hadirnya Karya Indah Cinta


          Aku ingin merangkai kata, namun untaian kata itu begitu enggan merambah di pikiranku, begitu malu-malu menampakkan dirinya menyatu dengan kalimat indah dan menjadi karya yang mampu merasuki jiwa dan raga. Entah apa sebabnya semua hal yang ingin tertuangkan itu, tersesat dan tak tahu rimbanya, terpecah dan bahkan menghilang bersama masa yang semakin melaju jauh meninggalkan pikiran yang makin berkecamuk rindu akan kalimat indahnya yang tak jua menghadap.
        Akankah semua mimpi harus berakhir, berhenti dan memulai masa yang baru dengan pikiran yang baru dan tentu saja akan membutuhkan masa yang lama yang entah kapankan kembali mengalirkan mimpi-mimpi baru dan mengarahkan pikiran menyatu dalam jiwa dan raga dengan ketetapan hidup terjalani.
       Kini, hanya bisa menanti masa yang kan mengembalikan semua mimpi atau bahkan memunculkan mimpi-mimpi baru, menghidupkan kehidupan dengan surya kalimat-kalimat indahnya, merangkai kata menjadi sebuah karya yang mampu memancarkan keindahan hidupnya, dan menjadikannya hidup dalam gelimangan nuansa indaha kan mimpi yang terpancarkan.
      Aku ingin curahkan semua, apa yang ada dalam pikiran tentang lika-liku kehidupan, tentang apa yang terjadi di dunia ini, tentang segala hal yang menggembirakan, mengharukan, mengecewakan, dan bahkan hal yang paling menyedihkan. Tak peduli apakah itu tentang manusianya, tentang alamnya, atau bahkan tentang segala yang ada disekitar alam semesta.
      Semua hal yang bisa menjadi karya, semua peristiwa yang pantas menjadi sejarah, semua pemikiran yang memunculkan persatuan maupun pertentangan, semua seluk beluk prilaku didalam kehidupan, semuanya, segalanya, hal apapun itu yang pantas untuk diceritakan, hal apapun itu yang pantas dibesarkan, hal apapun itu yang pantas disebarluaskan menjadi sebuah karya indah yang mampu menimbulkan emosi yang tiada bias diprediksi.
     Akankah karya itu menjadi nyata? Akankah impian sastra itu temukan tujuannya? Akankah seni tari kata itu tunjukkan hasilnya? Hanya masa dan ketetapan hati serta pikiran yang bisa wujudkannya dan tentu saja semua atas ridho-Nya.



Selasa, 12 Mei 2015

Kado Terindah Untukmu Cinta


            Ada yang sudah bertambah umurnya hari ini, dan lagi ngidam kado nih, hihihi… Sangat di Sayangkan dia meminta pada seseorang yang amat susah untuk pergi keluar rumah selain rutinitas kerja dan hal penting lainnya. Pergi shopping adalah hal yang selalu di hindarinya, sangat dihindari oleh cinta. Entah apa sebabnya, cinta amatlah enggan, sangat enggan untuk pergi keluar bila tujuannya adalah untuk berbelanja.
Cinta lebih memilih akan memberikan wewenang shopping pada orang yang sangat mengagumi hal itu, dia cukup hanya akan memberikan materi yang dibutuhkan daripada pergi dan berburu belanjaan, mungkin karena sifat bosan dan malasnya yang menjadi pemicu betapa dia amat menjauhi yang namanya “shopping”.
Bukannya apa-apa, cinta amatlah ingin melihat sendiri bagaimana bahagianya orang-orang disekitar dirinya bila sedang berburu belanjaan, cinta amat ingin juga memberikan sesuatu yang spesial yang dipilih sendiri olehnya, namun cinta tak sama seperti yang lainnya, cinta akan sangat pusing dan memberontak sendiri karena tak dapat suaikan pilihan, dan akhirnya hanya akan berakhir pada kesia-siaan.
Cinta adalah sosok yang amat sulit memilih bila diminta, cinta adalah sosok yang amat sulit diterka, bahkan Ia sendiripun amatlah sulit memahaminya. Mungkin akan terkesan sombong, bila cinta hanya akan memberikan materinya saja dan membuat yang lainnya memilih, namun jangan menjudgenya karena Ia sebenarnya juga ingin memilihkan sesuatu yang special untuk orang-orang tersayangnya, namun lagi karena hal itu amatlah sulit bagi pikiran dan hatinya Ia hanya dapat memberikan wewenang seseorang itu memilih sendiri kebahagiaannya.
Terlepas dari hal dunia yang begitu dihindarinya itu, cinta akan sangat dengan hati terbuka selalu memberikan titipan do’a untuk orang-orang disekitarnya, cinta akan melantunkan do’a terindahnya untuk mereka tercinta dan dalam diam merangkak kekalbu insan tercinta. Karena kebahagiaan dunia takkan bisa menyentuh namun akan sangat lengkap bila diiringi kepuasan bathin akan kehadiran-Nya.
Jadi, untuk sosok yang sedang berultah hari ini, kado terindah dari cinta adalah do’a. Biarkan cinta memberikan kebahagiaan dengan caranya, maafkan bila tak terlalu memuaskan, namun bukankah do’a adalah hal tertulus yang merupakan hadiah terindah bagi insan beriman.
Bertambah umur berkurang masa kehidupan, maaf untuk berucap hal itu, namun itulah kenyataan. Hari bahagia bisa juga menjadi hari yang harus direnungkan, bermuhasabah diri, mengingat segala perjuangan, kembali pada kenangan masa yang telah berlalu, dan merancang kehidupan didepan, berusaha menjadi sosok yang lebih baik, sosok yang lebih beriman, sosok yang lebih bahagia dunia dan akhirat.
So, finally, untukmu yang tengah berbahagia akan bertambahnya usia di duniamu, cinta selalu akan selalu mencintai sepenuh jiwa dan raga, menyanyangi dengan seluruh kuasa-Nya, cinta dan sayang ini kan selalu untukmu, do’a terindah kan selalu bersemayam untukmu, kebahagiaan dunia dan akhirat kan menjadi hadiah terindah bagimu dari cinta-Nya.

Rabu, 06 Mei 2015

Hijab Story



Masih jelas terasa di pikiranku, pertama kalinya aku memutuskan untuk mengenakan jilbab, saat itu aku adalah seorang siswa kelas 6 SD, aku begitu terpana melihat kakak sepupuku yang ku kenal amatlah tomboy tetibanya datang kerumah dengan penampilan yang berbeda, jilbab yang dikenakannya menambah ketajaman pancaran kecantikan dirinya, seolah terhipnotis amat sangat dalam, aku sampai tak bisa berkata apapun hanya diam terpenjara dalam pikiran yang berkelebatan dengan berisiknya.
Setelah hari bersejarah menurutku itu, aku pun memutuskan untuk berjilbab, namun aku tak bisa begitu saja mengganti seragam sekolahku, aku harus tetap mengikuti peraturan yang ada, jadilah aku hanya akan berjilbab saat pergi les di sekolah, dan di hari biasa jam pelajaran sekolah aku tetap dengan seragam yang seperti biasanya.
Barulah di Sekolah Menengah Pertama, aku akhirnya dengan sukacita dapat mengenakan jilbab sesuai yang kuinginkan, dan betapa canggungnya karena hanya aku seorang yang berjilbab di kelasku, namun begitu kegembiraan tetaplah mendominasi hati, tak peduli dianggap manusia langka, tak peduli tatapan beragam yang melihat penampilanku, aku tetap bangga dengan jilbabku.
Percaya tidak percaya, ternyata ada yang berpikiran bahwa aku ‘botak’, sehingga memutuskan untuk berjilbab, aku tak henti menelan tawa saat salah satu teman sekelasku memberitahukan perihal itu, keyakinannya akan ‘kebotakanku’ makin menjadi tatkala aku seringkali tak masuk sekolah karena sakit.
Jadilah teman sekelas sekaligus tetanggaku menjadi pembicaraku, saat aku tak masuk karena sakit, ia pun menceritakan perihal penyakitku yang sebenarnya tidak terlalu parah, dan juga bahwa aku tidaklah ‘botak’, bahkan memiliki rambut yang amat panjang, karena panjangnya hingga aku tak ingin ambil pusing bagaimana mengikatnya dan memutuskan membungkusnya saja dalam jilbabku.
Mendengar ceritanya, aku bingung harus bagaimana, aku tak bisa marah karena ia bermaksud baik agar tak ada lagi rumor ‘botak’ didiriku, tapi tetap saja bagaimana bisa dia memberikan alasan sekenanya mengenai ‘kejilbabanku’. Biarpun demikian rumor itu memang telah pergi, namun muncul pertanyaan baru, ‘cin, rambutmu sepanjang apa?’ ‘seperti apa sih bentuknya, lurus, ikal ataukeriting?’ dan beragam pertanyaan lainnya yang hanya ku timpali dengan senyuman. Bahkan temanku yang menyebar isu mengenai rambutku itu hanya bisa tertawa dengan puasnya mendengar hebohnya mereka dengan ‘makhluk langka’ yang satu ini.
Dikelas dua dan tiga aku tak lagi menjadi ‘makhluk langka’ dikelas, karena teman-teman muslimahku sudah mulai banyak mendapat pencerahan untuk berjilbab, dan hal itu adalah anugerah tak terhingga dan amat sangat kusyukuri, akhirnya jilbab menjadi dambaan setiap muslimah yang masih belia seperti kami saat itu.
Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi tepatnya di Sekolah Menengah Atas, makin banyak wanita berjilbab ku jumpai, bahkan dikelas pun cukup dominan, kembali rasa syukur yang amat mendalam kulimpahkan, namun aku tetaplah anak manusia yang labil, aku yang masih fakir ilmu akan bagaimana seharusnya sosok muslimah itu, masih saja berpenampilan tomboy yang tak terkira, walau tetap jilbab tak pernah tinggal.
Hingga akhirnya, masa perkuliahan merasukiku, sepertinya Allah ingin aku segera tahu akan hakikat seorang muslimah, jadilah aku diterima di salah satu universitas islam, awal masuk kuliah aku sudah disibukkan dengan perubahan penampilan, aku yang hanya punya rok seragam sekolah, harus berjuang memburu rok untuk kuliahku, dan dengan rela mengucapkan perpisahan pada celana-celana panjangku.
Aku juga mulai penasaran dengan organisasi di kampus, rasa penasaran itu makin kuat tatkala banyak teman yang juga ingin ikut dan utamanya lebih ingin mendalami ilmu agama. Sungguh Allah amatlah sangat sayang pada kami, begitu mudahnya hidayah itu masuk melalui kakak-kakak yang lebih dulu faham akan islam, melalui teman-teman yang sejak sekolah telah berkesimpung didunia organisasi itu, jadinya kami sedikit demi sedikit lebih mengenal islam dan makin mencintai-Nya.
Aku yang dulunya masih amat fakir ilmu akan islam, bahkan hingga kini pun masih, mulai perlahan memahami hakikat muslimah dalam berhijab, yah hijab yang dulunya lebih akrab dengan ‘jilbab’ saat kuliah aku mulai mengakrabkan diri dengan ‘hijab’, jika dulu hanya sekedar berjilbab untuk memenuhi kewajiban sebagai muslimah, saat kuliah lebih memahami seperti apa muslimah yang berhijab itu.
Dan semoga begitupun demikian denganmu saudari-saudariku, hijab adalah mahkotamu, berbahagialah bagi engkau yang telah menemukannya, dan bagimu yang masih kesulitan akan mahkotamu, semoga suatu masa engkau kan menemukan dan berdamai dengannya. Pancarkan kecantikanmu dengan berhijab sesuai syariat-Nya. ^_^

Rabu, 15 April 2015

Curahan Hati Cinta #1



‘Sungguh ku tak tahu, apalagi yang harus kulakukan dengan semua kejadian ini, sungguh ku tak tahu’
Kali ini cerita cinta melampaui alam sadarnya, Ia seolah mengeluarkan seluruh peluru dalam hatinya, mencurahkan segala yang ada tanpa dapat dihentikan maupun dicegah. Cinta melampaui segalanya, seolah lupa apa yang menjadi prinsipnya selama ini, seolah lupa bagaimanaia menjalani kehidupannya selama ini, atau benar-benar lupa bahwa kini Ia tak seperti cinta yang biasanya.
‘Aku yakin, amat yakin DIA kan selalu bersama kami, aku bersyukur atas segala rahmat yang diberikannya pada kami, aku amat bersyukur atas segalanya.Dengan segala syukurku itu, aku juga mengambil kesempatan untuk mengeluhkan segalanya, aku ingin mengadukan segalanya, karena hanya DIA tempat mengadu yang paling dekat dengan hati ini.’
‘Ku bermohon ampunan-Nya atas segala khilaf kami, atas segala kelalaian kami, karena DIA Sang Maha Pemberi Maaf yang tiada cela dan keraguan atas-Nya. Dalam kesempatan ini juga aku berharap DIA selalu ada dalam hati kami, disetiap titik masa kehidupan kami, aku selalu berharap.’
‘Aku akan mencurahkan semuanya padamu, apa yang kurasa, apa yang menjadi keinginanku saat ini, apa yang menjadi harapanku hingga nanti, aku akan memuntahkan semuanya, semoga kau bertahan mendengarkan, semoga kau tak bosan kelaknya.’
Cinta memulai kisahnya, tidak, tepatnya adalah curahan hatinya yang bercampur aduk dengan berbagai rasa, cinta yang jika dulu sempat terpikir akan masa depannya, kini lebih mementingkan keluarganya, jika dulu memang perhatian, kini lebih perhatian lagi, selalu menempatkan diri berdo’a untuk keluarganya, walau dulu juga, namun kini do’a untuk keluarga itu lebih panjang.
Bila setiap insan yang berada di usianya akan membicarakan masa depan, memperbincangkan tentang jodoh, cinta hanya akan menanggapi seperlunya saja, karena kini Ia memasrahkan semua pada-Nya akan hal itu, karena yang lebih diprioritaskan saat ini adalah kedamaian keluarganya, walau keprihatinan itu hanya berkubang dalam do’a, tapi cinta merasa itu sudah lebih mendamaikan hatinya.
Apa yang terjadi pada keluarganya, cinta tak menceritakan secara spesifik, karena ternyata Ia masih cukup sadar akan batasan-batasan dalam memperbincangkan tentang kehidupannya, bermula dari almarhum kakak tercintanya yang masih selalu menyimpan rindu dalam hatinya, cinta terkadang akan menangis tanpa suara jika teringat almarhum, cinta akan mulai melihat masa lalu bersamanya, dan cinta akan kembali berkubang dalam duka rindu yang menyayat hatinya yang masih tak bias mengendalikan apa yang dirasanya atas kehilangan itu.
Cinta faham akan kematian, Ia sangat memahaminya, dan bahkan merindukan kematian indah yang kan menjemputnya, walau begitu cinta tetaplah manusia biasa, cinta tetaplah insan yang masih akan terkurung dalam kubangan masa lalu bersama orang yang telah kembali lebih dulu pada-Nya, tersadar akan hakikatnya sebagai insane beriman, cinta tak lupa memberikan do’a untuk insan yang telah kembali, memanjatkan ayat cinta-Nya untuk dia yang berada disisi-Nya.
Cinta amat bersyukur memiliki kakak yang begitu sempurna dimatanya, cinta dan kakaknya adalah dua sejoli tak terpisahkan, karena kemana cinta kan pergi, dia kan diantar oleh kakak tercinta, dan dimanapun dia berada dan ingin pulang sang kakak akan setia menjemput, betapa cinta begitu bergantung pada sang kakak.
Disaat sang kakak sakit, disela waktu senggang kuliah cinta kan menjenguknya, dan hal yang takkan pernah terlupa itu terjadi, apa itu? Ialah perhatian beliau pada cinta, walau dalam keadaan sakit, sang kakak masih saja menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada sang adik yang makin merasa bersalah karena tak sempat berucap ‘terima kasih’ atas segala perhatian dan kasih sayangnya selama kebersamaan mereka.
Cinta semakin merasa bersalah saat di hari terakhir masa kehidupan dunia sang kakak, Ia tak menyadari bahwa itu adalah hari terakhir bagi mereka bersama, cinta yang tak sempat berucap ‘terima kasih dan maaf’ semakin menangisi kebodohannya, tapi dikarenakan janji untuk tetap kuat demi menguatkan keluarga, cinta menepis semua kesedihan dan memilih menepati janji untuk tak menangis dan menjadi salah satu yang terkuat.
Disaat air mata yang seharusnya menetes deras namun justru tak keluar karena janji, cinta menjadi tanda tanya, disaat semua mengeluarkan kesedihan, cinta justru terlihat tegar dan memapah kesedihan, bahkan cinta tak lagi ingat, apakah ia menangis saat di pemakaman atau tetap menepati janjinya? Namun, terlepas dari hal itu disaat tengah sendiri di kamar, kesedihan itu, rasa kehilangan mendalam itu, rasa bersalah yang semakin bersemayam itu, meruntuhkan kekuatan cinta, merobohkan ketegaran yang tadinya diperlihatkan.
Cinta yang sendiri di kamar, memulai drama kesedihannya, air mata yang terus mengalir tanpa bias terhapuskan, air mata tanpa suara yang semakin menyesakkan dada, air mata perpisahan yang tak terduga, rasa terima kasih yang tak tersampaikan, permintaan maaf yang tak terucap, cinta semakin hanyut dalam kesedihan yang menumpuk di hatinya entah sampai kapan, karena kini pun masih demikian disaat Ia kan teringat almarhum yang takkan pernah tergantikan, yang takkan pernah punah dan selalu bersemayam dalam pikiran dan hatinya.
Do’a yang selalu untuknya, ayat-ayat cinta yang mengalir untuknya, dan kerinduan berjumpa di jannah-Nya, itulah hal yang selalu cinta hadiahkan untuknya sang kakak tercinta yang telah kembali pada-Nya.

Kamis, 09 April 2015

Kisah Seorang Ibu


cerpen oleh : nurhidayatunnisa

Kisah ini berawal saat Aku berada di dalam kendaraan yang akan membawaku ke tempat yang kuagendakan hari itu akan ku kunjungi, kendaran itupun memulai perjalanan dan berhenti untuk memberikan kesempatan kepada penumpang yang ingin menaikinya, masuklah seorang Ibu dan duduk di sampingku. Dan saat itulah, kisahpun dimulai.

“Darimana Ibu?” tanyaku pada beliau.

Ia pun menjawab “Ibu baru saja menjenguk orang sakit, di rumah sakit jiwa nak.” Setelah ucapan itu, mengalirlah ceritanya mengenai orang yang dijenguknya yang ternyata adalah seorang Pelajar kelas 3 SMA. Ya Allah, hati ini terenyuh mendengar segala kisah beliau.

Pelajar itu baru masuk hari itu, penyebab Ia masuk ke RSJ adalah STRES. Stres memikirkan mata pelajaran yang begitu banyak, padahal Ia adalah anak yang tak pernah meninggalkan shalatnya, Subhanallah, tapi, Ia anak yang sangat menyendiri, Ia tak pernah ingin bergaul, jika berada di rumah, Ia hanya menonton TV dan belajar, dua hal itulah yang setiap hari dilakukannya.

Ia akan sangat menjauhi orang yang berbuat kasar padanya, bila Ia dipukul, Ia hanya pergi meninggalkan orang yang berbuat jahat itu tanpa berkata apapun. Menurut cerita Ibu, anak itu pindahan dari Malaysia, Ia telah lama hidup di Malaysia, dan sangat terkejut dengan apa yang Ia alami di Indonesia. Mungkin karena hal itu, Ia stres. Bahkan beliau sempat mengingatkanku untuk jangan terlalu stres, Kan ku ingat Ibu.

Cerita beralih ke kehidupan Ibu yang tak henti berkisah itu. “Ibu juga dari Malaysia nak, 20 tahun Ibu hidup di Malaysia, sebelum menikah hingga melahirkan 3 orang anak”.

Selanjutnya kisah haru pun berlanjut lagi. Beliau menceritakan betapa kehidupannya begitu sejahtera di Malaysia. di Malaysia, tidak ada yang miskin maupun kaya, semua sama, bahkan bagi orang miskin begitu mudah untuknya mengenyam pendidikan, karena Ia akan dibiayai oleh pemerintah, seperti anak Ibu itu, bahkan bila ada anak yang tak makan di sekolah, Ia akan diberikan uang jajan agar Ia dapat menikmati jajanan di sekolahnya seperti anak yang lain, juga bila ada anak yang pakaiannya lusuh, sepatunya yang terlihat tak layak pakai, maka oleh gurunya akan dibelikan pakaian dan sepatu yang baru.

Bila ada anak yang sakit mereka akan dirawat hingga sembuh tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun, Ibu di sampingku itu juga berkisah bahwa saat Ia selesai persalinan dan pulang, perawat akan mendatangi rumahnya setiap hari tanpa diminta hingga Ia benar-benar tak dibutuhkan lagi, karena mereka begitu peduli pada pasiennya. Subhanallah. di Malaysia tak ada korupsi, karena memang baik guru, polisi, dan apapun pekerjaannya mendapat gaji yang cukup besar, jadi pantas bila mereka dapat menolong sesamanya. Alhamdulillah. Namun, narkoba merajalela di sana. Naudzubillah.

            Tapi, semua itu lenyap saat Ibu tersebut harus kembali ke Indonesia atas permintaan Ibu mertua beliau. Beliau begitu kaget atas segala kehidupan yang harus dijalaninya di Indonesia. Seperti misalnya, saat harus menyekolahkan anaknya yang tadinya gratis kini harus membayar uang yang jumlahnya sangat besar, bagaimanapun beliau dan keluarga memulai segalanya dari nol.

Anak bungsu beliau kelas 1 SMA, bila pulang akan mengadu betapa Ia tak mendapatkan kenyamanan seperti yang dialaminya di Malaysia, saat Ia sakit, jangankan dirawat, dijengukpun tidak. Astaghfirullah. Beliau pun berkisah lagi, saat beliau sakit, baru 2 hari dirawat sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal penyakitnya sangat ringan. Ya Allah, begitu menderitakah Indonesia? toilet pun di tempat umum di Malaysia bersih, terawat. Walaupun kata beliau bayar 20 sen, tapi kitanya nyaman, yah, gak masalah kan. Duch Allah, bagai Bumi dan Langit.

            Kisah kembali kepada keluarga beliau, “Anak Ibu yang bungsu itu badannya seperti pamannya yang tentara, tinggi besar, kalau Ia lewat, pasti dikira udah kuliah, padahal baru kelas 1 SMA, anaknya manja, kalau pulang berebut sama bapak nyium Ibu, kalau kakaknya pulang juga dicium, gak malu dia, padahal udah besar begitu.”

Senyum Ibu kembali merekah, tapi hanya sesaat karena ternyata, anaknya juga pendiam, gak pernah olahraga, tapi bahasa Inggris dan komputer begitu dikuasainya, karena memang sistem pelajaran di Malaysia menitikberatkan kepada 2 mata pelajaran itu.

Masih tentang si Bungsu, saat Ia pergi bersama kakaknya naik motor, seperti orang pacaran, “Anak Ibu yang pertama itu, dimarahi sama pacarnya, karena dikira selingkuh, gak percaya kalau itu adiknya, akhirnya dibawa kerumah baru percaya.”

Dan akhirnya tanpa diduga, Ibu pun bertanya, “Pacar adik, orang mana?”

Ya Allah, tanpa pikir panjang langsung saja ku jawab “Gak ada Bu!”

Beliau langsung berucap lagi, mengagetkan, “Ah, gak percaya, orang cantik gini kok gak punya, gak percayalah Ibu... Tapi, walaupun udah pacaran bertahun-tahun kalau gak jodoh, yah, gak jadi ya nak, seperti Ibu ini, pacaran dari SD hingga kerja gak nikah, lah sama Bapak baru kenal sebulan udah langsung nikah” cerita beliau lagi. Yah, itulah yang namanya jodoh, gak da yang tahu. Hanya DIA-lah yang Maha Mengetahui.

Ibu yang masih ingin meneruskan ceritanya itu berkata bahwa Beliau selalu terbuka pada Ibunya, tapi gak pernah mau cerita sama ayah, takut katanya, ayah beliau adalah seorang tentara. “Kalau pulang jam 10, pasti dimarahi bapak” ucap beliau.

Saat mengetahui bahwa Aku jauh dari Orang tua, beliau pun tak henti-hentinya menyuruhku agar berkunjung ke rumahnya.

“Anggap Ibu sebagai Ibumu, bilang sama Ibu mau dimasakin apa, tapi Ibu gak bisa masak yang enak-enak”.

Hehe… ”terima kasih Ibu”.

Kisahnya pun masih berlanjut hingga masa lalu, saat Ia bersekolah di sekolah khusus anak tentara, di sana Ia sering tampil bernyanyi mengumpulkan uang. Beliau punya jiwa seni yang begitu tinggi, Ibu beliau pun demikian, hanya jika Ibu beliau seringnya menyanyikan lagu keroncong, Ibu tersebut seringnya membawakan lagu dangdut atau melayu. Yah, Ibu berasal dari Jawa dan Suaminya berasal dari Bukittinggi.

Ibu pun tak kuasa menahan ceritanya, karena Ia harus memperhatikan jalan. “Keasyikan ngobrol, takutnya malah kelewatan." ucap Beliau.

Namun di akhir cerita yang terpaksa harus terputus itu, lagi-lagi beliau mendeskripsikan alamatnya dan dengan sedikit merendah beliau berkata “Ibu ini orang miskin”.

Akhirnya aku pun menyingkapi perkataan beliau “Ibu… jangan begitu”.

Ya Allah, ampunilah Beliau, berikanlah petunjuk padanya, bahwa tak ada yang miskin dan kaya bagi-Mu, karena yang membedakan kami di mata-Mu adalah Taqwa.  

Akhirnya beliau pun turun dan kisahpun berakhir, tak lupa kuucap terima kasih dan semoga Ia berhati-hati. Terima kasih untuk semua kisahmu Ibu, semoga dapat menjadi pegangan dalam kehidupanku, semoga Engkau dan keluarga selalu berada dalam naungan kasih sayang-Nya, Aamiin ya Robbal Alamin.

Pekanbaru, 11 Oktober 2010.

                                                          diterbitkan oleh :     Xpresi Riau Pos
Ahad, 6 April 2014
This entry was posted in