Rabu, 15 April 2015

Curahan Hati Cinta #1



‘Sungguh ku tak tahu, apalagi yang harus kulakukan dengan semua kejadian ini, sungguh ku tak tahu’
Kali ini cerita cinta melampaui alam sadarnya, Ia seolah mengeluarkan seluruh peluru dalam hatinya, mencurahkan segala yang ada tanpa dapat dihentikan maupun dicegah. Cinta melampaui segalanya, seolah lupa apa yang menjadi prinsipnya selama ini, seolah lupa bagaimanaia menjalani kehidupannya selama ini, atau benar-benar lupa bahwa kini Ia tak seperti cinta yang biasanya.
‘Aku yakin, amat yakin DIA kan selalu bersama kami, aku bersyukur atas segala rahmat yang diberikannya pada kami, aku amat bersyukur atas segalanya.Dengan segala syukurku itu, aku juga mengambil kesempatan untuk mengeluhkan segalanya, aku ingin mengadukan segalanya, karena hanya DIA tempat mengadu yang paling dekat dengan hati ini.’
‘Ku bermohon ampunan-Nya atas segala khilaf kami, atas segala kelalaian kami, karena DIA Sang Maha Pemberi Maaf yang tiada cela dan keraguan atas-Nya. Dalam kesempatan ini juga aku berharap DIA selalu ada dalam hati kami, disetiap titik masa kehidupan kami, aku selalu berharap.’
‘Aku akan mencurahkan semuanya padamu, apa yang kurasa, apa yang menjadi keinginanku saat ini, apa yang menjadi harapanku hingga nanti, aku akan memuntahkan semuanya, semoga kau bertahan mendengarkan, semoga kau tak bosan kelaknya.’
Cinta memulai kisahnya, tidak, tepatnya adalah curahan hatinya yang bercampur aduk dengan berbagai rasa, cinta yang jika dulu sempat terpikir akan masa depannya, kini lebih mementingkan keluarganya, jika dulu memang perhatian, kini lebih perhatian lagi, selalu menempatkan diri berdo’a untuk keluarganya, walau dulu juga, namun kini do’a untuk keluarga itu lebih panjang.
Bila setiap insan yang berada di usianya akan membicarakan masa depan, memperbincangkan tentang jodoh, cinta hanya akan menanggapi seperlunya saja, karena kini Ia memasrahkan semua pada-Nya akan hal itu, karena yang lebih diprioritaskan saat ini adalah kedamaian keluarganya, walau keprihatinan itu hanya berkubang dalam do’a, tapi cinta merasa itu sudah lebih mendamaikan hatinya.
Apa yang terjadi pada keluarganya, cinta tak menceritakan secara spesifik, karena ternyata Ia masih cukup sadar akan batasan-batasan dalam memperbincangkan tentang kehidupannya, bermula dari almarhum kakak tercintanya yang masih selalu menyimpan rindu dalam hatinya, cinta terkadang akan menangis tanpa suara jika teringat almarhum, cinta akan mulai melihat masa lalu bersamanya, dan cinta akan kembali berkubang dalam duka rindu yang menyayat hatinya yang masih tak bias mengendalikan apa yang dirasanya atas kehilangan itu.
Cinta faham akan kematian, Ia sangat memahaminya, dan bahkan merindukan kematian indah yang kan menjemputnya, walau begitu cinta tetaplah manusia biasa, cinta tetaplah insan yang masih akan terkurung dalam kubangan masa lalu bersama orang yang telah kembali lebih dulu pada-Nya, tersadar akan hakikatnya sebagai insane beriman, cinta tak lupa memberikan do’a untuk insan yang telah kembali, memanjatkan ayat cinta-Nya untuk dia yang berada disisi-Nya.
Cinta amat bersyukur memiliki kakak yang begitu sempurna dimatanya, cinta dan kakaknya adalah dua sejoli tak terpisahkan, karena kemana cinta kan pergi, dia kan diantar oleh kakak tercinta, dan dimanapun dia berada dan ingin pulang sang kakak akan setia menjemput, betapa cinta begitu bergantung pada sang kakak.
Disaat sang kakak sakit, disela waktu senggang kuliah cinta kan menjenguknya, dan hal yang takkan pernah terlupa itu terjadi, apa itu? Ialah perhatian beliau pada cinta, walau dalam keadaan sakit, sang kakak masih saja menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada sang adik yang makin merasa bersalah karena tak sempat berucap ‘terima kasih’ atas segala perhatian dan kasih sayangnya selama kebersamaan mereka.
Cinta semakin merasa bersalah saat di hari terakhir masa kehidupan dunia sang kakak, Ia tak menyadari bahwa itu adalah hari terakhir bagi mereka bersama, cinta yang tak sempat berucap ‘terima kasih dan maaf’ semakin menangisi kebodohannya, tapi dikarenakan janji untuk tetap kuat demi menguatkan keluarga, cinta menepis semua kesedihan dan memilih menepati janji untuk tak menangis dan menjadi salah satu yang terkuat.
Disaat air mata yang seharusnya menetes deras namun justru tak keluar karena janji, cinta menjadi tanda tanya, disaat semua mengeluarkan kesedihan, cinta justru terlihat tegar dan memapah kesedihan, bahkan cinta tak lagi ingat, apakah ia menangis saat di pemakaman atau tetap menepati janjinya? Namun, terlepas dari hal itu disaat tengah sendiri di kamar, kesedihan itu, rasa kehilangan mendalam itu, rasa bersalah yang semakin bersemayam itu, meruntuhkan kekuatan cinta, merobohkan ketegaran yang tadinya diperlihatkan.
Cinta yang sendiri di kamar, memulai drama kesedihannya, air mata yang terus mengalir tanpa bias terhapuskan, air mata tanpa suara yang semakin menyesakkan dada, air mata perpisahan yang tak terduga, rasa terima kasih yang tak tersampaikan, permintaan maaf yang tak terucap, cinta semakin hanyut dalam kesedihan yang menumpuk di hatinya entah sampai kapan, karena kini pun masih demikian disaat Ia kan teringat almarhum yang takkan pernah tergantikan, yang takkan pernah punah dan selalu bersemayam dalam pikiran dan hatinya.
Do’a yang selalu untuknya, ayat-ayat cinta yang mengalir untuknya, dan kerinduan berjumpa di jannah-Nya, itulah hal yang selalu cinta hadiahkan untuknya sang kakak tercinta yang telah kembali pada-Nya.

Kamis, 09 April 2015

Kisah Seorang Ibu


cerpen oleh : nurhidayatunnisa

Kisah ini berawal saat Aku berada di dalam kendaraan yang akan membawaku ke tempat yang kuagendakan hari itu akan ku kunjungi, kendaran itupun memulai perjalanan dan berhenti untuk memberikan kesempatan kepada penumpang yang ingin menaikinya, masuklah seorang Ibu dan duduk di sampingku. Dan saat itulah, kisahpun dimulai.

“Darimana Ibu?” tanyaku pada beliau.

Ia pun menjawab “Ibu baru saja menjenguk orang sakit, di rumah sakit jiwa nak.” Setelah ucapan itu, mengalirlah ceritanya mengenai orang yang dijenguknya yang ternyata adalah seorang Pelajar kelas 3 SMA. Ya Allah, hati ini terenyuh mendengar segala kisah beliau.

Pelajar itu baru masuk hari itu, penyebab Ia masuk ke RSJ adalah STRES. Stres memikirkan mata pelajaran yang begitu banyak, padahal Ia adalah anak yang tak pernah meninggalkan shalatnya, Subhanallah, tapi, Ia anak yang sangat menyendiri, Ia tak pernah ingin bergaul, jika berada di rumah, Ia hanya menonton TV dan belajar, dua hal itulah yang setiap hari dilakukannya.

Ia akan sangat menjauhi orang yang berbuat kasar padanya, bila Ia dipukul, Ia hanya pergi meninggalkan orang yang berbuat jahat itu tanpa berkata apapun. Menurut cerita Ibu, anak itu pindahan dari Malaysia, Ia telah lama hidup di Malaysia, dan sangat terkejut dengan apa yang Ia alami di Indonesia. Mungkin karena hal itu, Ia stres. Bahkan beliau sempat mengingatkanku untuk jangan terlalu stres, Kan ku ingat Ibu.

Cerita beralih ke kehidupan Ibu yang tak henti berkisah itu. “Ibu juga dari Malaysia nak, 20 tahun Ibu hidup di Malaysia, sebelum menikah hingga melahirkan 3 orang anak”.

Selanjutnya kisah haru pun berlanjut lagi. Beliau menceritakan betapa kehidupannya begitu sejahtera di Malaysia. di Malaysia, tidak ada yang miskin maupun kaya, semua sama, bahkan bagi orang miskin begitu mudah untuknya mengenyam pendidikan, karena Ia akan dibiayai oleh pemerintah, seperti anak Ibu itu, bahkan bila ada anak yang tak makan di sekolah, Ia akan diberikan uang jajan agar Ia dapat menikmati jajanan di sekolahnya seperti anak yang lain, juga bila ada anak yang pakaiannya lusuh, sepatunya yang terlihat tak layak pakai, maka oleh gurunya akan dibelikan pakaian dan sepatu yang baru.

Bila ada anak yang sakit mereka akan dirawat hingga sembuh tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun, Ibu di sampingku itu juga berkisah bahwa saat Ia selesai persalinan dan pulang, perawat akan mendatangi rumahnya setiap hari tanpa diminta hingga Ia benar-benar tak dibutuhkan lagi, karena mereka begitu peduli pada pasiennya. Subhanallah. di Malaysia tak ada korupsi, karena memang baik guru, polisi, dan apapun pekerjaannya mendapat gaji yang cukup besar, jadi pantas bila mereka dapat menolong sesamanya. Alhamdulillah. Namun, narkoba merajalela di sana. Naudzubillah.

            Tapi, semua itu lenyap saat Ibu tersebut harus kembali ke Indonesia atas permintaan Ibu mertua beliau. Beliau begitu kaget atas segala kehidupan yang harus dijalaninya di Indonesia. Seperti misalnya, saat harus menyekolahkan anaknya yang tadinya gratis kini harus membayar uang yang jumlahnya sangat besar, bagaimanapun beliau dan keluarga memulai segalanya dari nol.

Anak bungsu beliau kelas 1 SMA, bila pulang akan mengadu betapa Ia tak mendapatkan kenyamanan seperti yang dialaminya di Malaysia, saat Ia sakit, jangankan dirawat, dijengukpun tidak. Astaghfirullah. Beliau pun berkisah lagi, saat beliau sakit, baru 2 hari dirawat sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal penyakitnya sangat ringan. Ya Allah, begitu menderitakah Indonesia? toilet pun di tempat umum di Malaysia bersih, terawat. Walaupun kata beliau bayar 20 sen, tapi kitanya nyaman, yah, gak masalah kan. Duch Allah, bagai Bumi dan Langit.

            Kisah kembali kepada keluarga beliau, “Anak Ibu yang bungsu itu badannya seperti pamannya yang tentara, tinggi besar, kalau Ia lewat, pasti dikira udah kuliah, padahal baru kelas 1 SMA, anaknya manja, kalau pulang berebut sama bapak nyium Ibu, kalau kakaknya pulang juga dicium, gak malu dia, padahal udah besar begitu.”

Senyum Ibu kembali merekah, tapi hanya sesaat karena ternyata, anaknya juga pendiam, gak pernah olahraga, tapi bahasa Inggris dan komputer begitu dikuasainya, karena memang sistem pelajaran di Malaysia menitikberatkan kepada 2 mata pelajaran itu.

Masih tentang si Bungsu, saat Ia pergi bersama kakaknya naik motor, seperti orang pacaran, “Anak Ibu yang pertama itu, dimarahi sama pacarnya, karena dikira selingkuh, gak percaya kalau itu adiknya, akhirnya dibawa kerumah baru percaya.”

Dan akhirnya tanpa diduga, Ibu pun bertanya, “Pacar adik, orang mana?”

Ya Allah, tanpa pikir panjang langsung saja ku jawab “Gak ada Bu!”

Beliau langsung berucap lagi, mengagetkan, “Ah, gak percaya, orang cantik gini kok gak punya, gak percayalah Ibu... Tapi, walaupun udah pacaran bertahun-tahun kalau gak jodoh, yah, gak jadi ya nak, seperti Ibu ini, pacaran dari SD hingga kerja gak nikah, lah sama Bapak baru kenal sebulan udah langsung nikah” cerita beliau lagi. Yah, itulah yang namanya jodoh, gak da yang tahu. Hanya DIA-lah yang Maha Mengetahui.

Ibu yang masih ingin meneruskan ceritanya itu berkata bahwa Beliau selalu terbuka pada Ibunya, tapi gak pernah mau cerita sama ayah, takut katanya, ayah beliau adalah seorang tentara. “Kalau pulang jam 10, pasti dimarahi bapak” ucap beliau.

Saat mengetahui bahwa Aku jauh dari Orang tua, beliau pun tak henti-hentinya menyuruhku agar berkunjung ke rumahnya.

“Anggap Ibu sebagai Ibumu, bilang sama Ibu mau dimasakin apa, tapi Ibu gak bisa masak yang enak-enak”.

Hehe… ”terima kasih Ibu”.

Kisahnya pun masih berlanjut hingga masa lalu, saat Ia bersekolah di sekolah khusus anak tentara, di sana Ia sering tampil bernyanyi mengumpulkan uang. Beliau punya jiwa seni yang begitu tinggi, Ibu beliau pun demikian, hanya jika Ibu beliau seringnya menyanyikan lagu keroncong, Ibu tersebut seringnya membawakan lagu dangdut atau melayu. Yah, Ibu berasal dari Jawa dan Suaminya berasal dari Bukittinggi.

Ibu pun tak kuasa menahan ceritanya, karena Ia harus memperhatikan jalan. “Keasyikan ngobrol, takutnya malah kelewatan." ucap Beliau.

Namun di akhir cerita yang terpaksa harus terputus itu, lagi-lagi beliau mendeskripsikan alamatnya dan dengan sedikit merendah beliau berkata “Ibu ini orang miskin”.

Akhirnya aku pun menyingkapi perkataan beliau “Ibu… jangan begitu”.

Ya Allah, ampunilah Beliau, berikanlah petunjuk padanya, bahwa tak ada yang miskin dan kaya bagi-Mu, karena yang membedakan kami di mata-Mu adalah Taqwa.  

Akhirnya beliau pun turun dan kisahpun berakhir, tak lupa kuucap terima kasih dan semoga Ia berhati-hati. Terima kasih untuk semua kisahmu Ibu, semoga dapat menjadi pegangan dalam kehidupanku, semoga Engkau dan keluarga selalu berada dalam naungan kasih sayang-Nya, Aamiin ya Robbal Alamin.

Pekanbaru, 11 Oktober 2010.

                                                          diterbitkan oleh :     Xpresi Riau Pos
Ahad, 6 April 2014
This entry was posted in

KEBAHAGIAAN ABADI UNTUK EMAK


cerpen oleh : nurhidayatunnisa

“Semoga hari ini adalah waktunya, aamiin.” Harap seorang gadis yang mengenakan kemeja lengan panjang garis-garis dan rok panjang serta jilbab abu-abu di tengah perjalanannya menuju ke suatu tempat yang hampir membuatnya tak bisa tidur semalaman.

"Do’a Mak selalu bersamamu anakku, semoga Allah mempertemukan kau dengan masa indahmu, tetaplah semangat, dan jangan lupa selalu ingat Dia saat kau di perjalanan. Tak usah khawatir akan kondisi Mak, ada bibi dan adikmu yang menjaga Mak di sini, pergilah dengan ridho-Nya."

Sebulan gadis tinggi nan gemulai bak foto model itu berada di luar kota yang jauh dari kampung asalnya, semua itu Ia lakukan untuk mencari pekerjaan yang layak, yang kan mampu menaikkan derajat keluarganya, lepas dari itu semua, Ia ingin kebahagiaan Mak teraih karena itu Ia berkelana keluar untuk wujudkannya. Dan hari ini, hari pertama di bulan kedua Ia berada di kota besar itu, kan kembali melakukan test wawancara kerja untuk yang kesekian kalinya.

“Terima kasih atas kesediaan anda saudari Asnah, semoga anda mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria diri dan latar belakang pendidikan anda, maaf kami tidak dapat menerima anda!” Lagi-lagi, Ia kembali tidak diterima kerja, sungguh sulitnya mendapatkan pekerjaan baginya.

"udahlah Nah, kamu tidak akan bisa diterima bekerja di perusahaan, lebih baik kamu terus saja menulis, dan jadikan hal itu sebagai mata pencaharian tetapmu, karena sibuk mencari pekerjaan, kamu sekali-sekali saja menulis, padahal kamu bisa bertahan hidup sebulan penuh di sini kan karena honor dari tulisanmu, sekali lagi ku katakan padamu, berhentilah mencari pekerjaan, fokuskan dirimu untuk menulis, menulis, okay!"

Kata-kata yang selalu tak bosan-bosannya diucapkan oleh sahabat karib yang selama ini telah banyak membantunya, Karin seorang gadis yang sukses di usianya 23 tahun sebagai guru kimia di sebuah SMA swasta favorit di kotanya, yang telah sudi berbagi kost dengan Asnah, dan selalu menyodorkan laptopnya agar Asnah menulis.

 “Ada yang bisa dibantu mbak?” tanya seorang pemuda yang tak sengaja melihat Asnah tengah selingak-selinguk mencari sesuatu.

“Terima kasih, saya mencari buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaru, letaknya di mana ya?” sahut Asnah pada pemuda yang tak lain adalah pegawai toko buku tempatnya berpijak kini.

“Untuk buku nonfiksi ada di bagian samping sebelah kiri tempat mbak berada ini, dan buku fiksi ada di depan. Semuanya buku-buku baru. Boleh tau mbak mencari buku apa?” jelas pemuda yang lumayan tampan untuk ukuran seorang pegawai toko buku.

“Terima kasih, buku terbaru yang menarik tentunya.” jawab Asnah sambil melangkahkan kaki meninggalkan pegawai yang telah sedikit banyaknya menyita perhatian para pengunjung, terutama gadis-gadis yang berada di dalamnya.

 "Kak Asnah, apa sih yang kakak tulis, kadang-kadang sambil nulis tuh, Sari liat kakak senyum-senyum sendiri, cemberut, bahkan sampai nangis, kakak lagi buat cerita khayal ya?"

"Kakak hanya menulis apa yang ada di pikiran, dan kakak gak lagi nulis cerita khayal, okay, udah larut malam, mending sekarang Sari tidur ya, besok kan harus sekolah."

"Kau juga harus tidur Nah, nulisnya dilanjutkan besok saja, bisa-bisa nanti tidak bangun waktu subuh, atau malah nanti sampai mengantuk saat bantu Mak jaga warung."

"Iya Mak, bentar lagi selesai kok, dan InsyaAllah, Asnah akan bangun di waktu subuh, bahkan sebelum subuh biar bisa tahajud, lalu bantuin Mak jaga warung dengan penuh keceriaan"

“Asnah? Kamu baik-baik aja kan? kenapa malah senyum-senyum sendiri gituh or udah dapet kerjaan ya, tapi kok diam-diaman dari Karin sih?” tanya Karin saat mereka tengah asyik makan bersama.

“Hehehe… gak apa-apa kok, ke inget Mak dan Sari, kapan yah Nah bisa ketemu mereka, Nah juga rindu sama bibi Marni dan pemandangan di kampung.” Jawab Asnah sambil terus memperlihatkan mata yang tengah menerawang jauh ke kampungnya.

“Memangnya cuma kamu yang rindu dengan keluarga, Karin juga rindu dengan Abah dan Mas Harun, udah lama Karin gak ketemu mereka” sahut Karin menambah kesunyian rindu yang menerpa dua gadis cantik itu.

   "Kalau mbak memang ingin memberikan kebahagiaan pada Ibu, yah, mbak harus wujudkannya, dan ingat kebahagiaan Ibu tidak terletak pada materi yang mbak peroleh atau mbak berikan, tapi lebih kepada ketulusan atas perjuangan mbak untuk memberikan kebahagiaan itu."

‘"Asnah tau bang, tapi Nah gak punya apapun untuk membahagiakan Mak, kalau hanya sekedar membantu Mak di warung dan di rumah udah buat mak bahagia, Nah udah lakuin itu sejak kecil, tapi kan Nah gak bisa terus-terusan melakukan hal itu, Nah harus berbuat sesuatu, Nah harus sukses bang, supaya Mak gak perlu lagi susah payah jualan, dan Nah juga mau bantuin Mak buat menuhin kebutuhan Sari untuk sehari-harinya. Pokoknya Nah harus jadi tulang punggung keluarga dan Nah yakin dengan begitu Mak akan selalu merasakan kebahagiaan yang abadi"

"Mbak Asnah, kebahagiaan abadi seorang insan yang beriman adalah saat di mana Ia bisa selalu dekat dengan Sang Maha Segalanya, karena Dia-lah kebahagiaan abadi itu, dan saya juga yakin sebenarnya Ibu mbak Asnah pasti tidak keberatan untuk berjualan dan berjuang untuk anak-anaknya karena memang itulah kewajibannya, dan saya kira hal itu juga adalah kebahagiaan baginya saat Ia bisa melihat anak-anaknya bahagia."

"Tapi, Mak sudah semakin renta bang, dan saatnya Nah yang gantiin Mak jadi tulang punggung keluarga, karena itu Nah harus dapat kerja biar Nah bisa buktikan sama Mak bahwa Nah bisa nafkahin keluarga, biarpun Nah harus keluar dari kampung dan memulai hidup baru tanpa Mak dan Sari, juga Bibi Marni, karena memang harus begitulah jalan hidup yang harus Nah tempuh."

"Lalu apakah mbah Asnah sudah dapatkan pekerjaan? Dan sudahkah mbak Asnah memberikan nafkah pada keluarga mbak di desa? Maaf mbak, saya tidak bermaksud membuat mbak tersinggung, tapi kalau tiap hari mbak selalu ke toko buku ini, saya bisa pastikan bahwa mbak sedang tidak memiliki pekerjaan alias menganggur, begitukan? Atau karena ingin selalu melihat saya ya mbak?"

"Hahaha….. ternyata abang nih narsis juga ya, Nah kesini karena Nah udah dapatkan pekerjaan, Nah kesini mencari buku-buku baru, referensi, dan inspirasi untuk Nah menulis."

"Wah, jadi mbak Asnah ini penulis toh, bagus-bagus, teruslah menulis dan menulis karena dengan begitu mbak akan merasakan kehidupan, hehehe… kalau gitu berarti mbak Asnah ini sudah dapatkan pekerjaannya dong, selamat mbak, saya yakin dengan begitu mbak akan bisa jadi tulang punggung keluarga, oh iya, kenapa tidak tinggal di desa saja mbak, kan lebih banyak inspirasi toh."

"Nah, masih belum punya fasilitas untuk menulis kalau Nah di desa, Nah minjam laptop dan print sahabat Nah buat nulis, sekarang lagi ngumpulin uang untuk beli itu, dan sebagiannya lagi buat keluarga di kampung."

Asnah kembali terkenang akan percakapan Ia dengan pemuda pegawai toko buku yang sering Ia kunjungi yang dari parasnya sangatlah sempurna di mata, sedikit lebih tinggi dari Asnah, dan memiliki mata dan senyum yang mengingatkan Asnah pada seseorang, tapi Ia tak mempedulikan hal itu, karena jangankan memikirkannya, namanya saja Asnah tak tau, yah, begitulah Asnah. Tapi berkat pemuda itu dan juga Karin, kini Asnah semakin yakin dengan pilihan yang Ia ambil.

Setahun sudah Asnah berada di kota besar yang telah lebih bersahabat untuk dirinya, Asnah selalu tak lupa mengirim uang untuk keluarganya di kampung, Ia juga sering menjaga komunikasi dengan keluarganya, dan kini Ia telah memiliki semua fasilitas yang mendukungnya menulis di kampung.

“Mak senang Asnah akhirnya pulang, Mak juga bangga sama Nah, Mak bahagiaaaa sekali, sekarang Mak benar-benar merasakan bahwa Mak akan selalu bahagia, kebahagiaan yang abadi, terima kasih ya Nah.”

Kata-kata yang membuat Nah semakin bahagia karena keberhasilannya memberikan kebahagiaan untuk Mak, walau pada akhirnya air mata tetap saja tak terhindarkan tatkala menyadari bahwa Mak telah benar-benar meraih kebahagiaan abadinya, kembali pada kebahagiaan cinta-Nya di hari yang ikut menangisi kampung yang baru seminggu dipijakinya.

terbit pada Xpresi Riau Pos
Ahad, 5 Januari 2014
This entry was posted in

Selasa, 07 April 2015

Cantiknya dirimu dengan Berhijab

          Untukmu para ukhtiku tercinta, kuingin bertanya apa yang menghalangimu untuk berhijab? Kenapa hingga kini engkau masih enggan mengenakannya? Kuyakin engkau amat tahu bahwa berhijab wajib bagi seorang muslimah, dengan berhijab itu menandakan engkau menyakini-Nya dan istiqomah dijalan-Nya.
          Maafkan bila sikap kami yang berhijab ini menjadi alasanmu, maafkan kami yang masih jauh dari sempurna ini menjadikan engkau berpikir negatif tentang berhijab, kami yang berhijab ini pun tengah berjuang untuk menghijabi hati kami seperti alasanmu, kami pun selalu berusaha untuk menjadi pribadi muslimah seperti keinginanmu.
          Taukah kau, kami pun amat sangat berjuang menjalaninya, melawan arus yang kian mengelabui kami tuk jauh dari-Nya, namun cinta-Nya membawa kami pada tali-Nya, belajar istiqomah untuk meraih ridho-Nya, belajar sabar menghadapi semua rintangan menuju-Nya, dan menyelipkan namamu disetiap do’a kami menuju jannah-Nya.
           Engkau melihat semuanya kan?! Dengan berhijab takkan ada halangan untukmu melakukan apapun yang kau inginkan, dengan berhijab perlakuan yang diberikan kepadamu kan berbeda, dengan berhijab kau akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kesejukan.
          Wahai ukhtiku tercinta, semua hal tentang hijab telah terekam jelas dalam kalamullah, kenapa Allah mewajibkan bagimu untuk berhijab, tentu kau lebih faham adanya, cinta-Nya lebih luar biasa, kasih sayang-Nya lebih bijaksana dibanding apa yang kita miliki sebagai insan-Nya, dan perintah berhijab untukmu, tentulah merupakan wujud cinta dan kasih-Nya yang tak terbatas padamu.
          Dan terakhir, untukmu para ukhtiku tercinta, apapun alasan itu, apapun hambatan itu, apapun rintangan itu, semoga kan tiba masanya kami melihat kecantikanmu, kami merasakan kebaikanmu, kami terpana akan ketulusanmu, dalam pancaran hijab yang kau kenakan kelaknya. Aamiin… ^_^