Rabu, 15 April 2015

Curahan Hati Cinta #1



‘Sungguh ku tak tahu, apalagi yang harus kulakukan dengan semua kejadian ini, sungguh ku tak tahu’
Kali ini cerita cinta melampaui alam sadarnya, Ia seolah mengeluarkan seluruh peluru dalam hatinya, mencurahkan segala yang ada tanpa dapat dihentikan maupun dicegah. Cinta melampaui segalanya, seolah lupa apa yang menjadi prinsipnya selama ini, seolah lupa bagaimanaia menjalani kehidupannya selama ini, atau benar-benar lupa bahwa kini Ia tak seperti cinta yang biasanya.
‘Aku yakin, amat yakin DIA kan selalu bersama kami, aku bersyukur atas segala rahmat yang diberikannya pada kami, aku amat bersyukur atas segalanya.Dengan segala syukurku itu, aku juga mengambil kesempatan untuk mengeluhkan segalanya, aku ingin mengadukan segalanya, karena hanya DIA tempat mengadu yang paling dekat dengan hati ini.’
‘Ku bermohon ampunan-Nya atas segala khilaf kami, atas segala kelalaian kami, karena DIA Sang Maha Pemberi Maaf yang tiada cela dan keraguan atas-Nya. Dalam kesempatan ini juga aku berharap DIA selalu ada dalam hati kami, disetiap titik masa kehidupan kami, aku selalu berharap.’
‘Aku akan mencurahkan semuanya padamu, apa yang kurasa, apa yang menjadi keinginanku saat ini, apa yang menjadi harapanku hingga nanti, aku akan memuntahkan semuanya, semoga kau bertahan mendengarkan, semoga kau tak bosan kelaknya.’
Cinta memulai kisahnya, tidak, tepatnya adalah curahan hatinya yang bercampur aduk dengan berbagai rasa, cinta yang jika dulu sempat terpikir akan masa depannya, kini lebih mementingkan keluarganya, jika dulu memang perhatian, kini lebih perhatian lagi, selalu menempatkan diri berdo’a untuk keluarganya, walau dulu juga, namun kini do’a untuk keluarga itu lebih panjang.
Bila setiap insan yang berada di usianya akan membicarakan masa depan, memperbincangkan tentang jodoh, cinta hanya akan menanggapi seperlunya saja, karena kini Ia memasrahkan semua pada-Nya akan hal itu, karena yang lebih diprioritaskan saat ini adalah kedamaian keluarganya, walau keprihatinan itu hanya berkubang dalam do’a, tapi cinta merasa itu sudah lebih mendamaikan hatinya.
Apa yang terjadi pada keluarganya, cinta tak menceritakan secara spesifik, karena ternyata Ia masih cukup sadar akan batasan-batasan dalam memperbincangkan tentang kehidupannya, bermula dari almarhum kakak tercintanya yang masih selalu menyimpan rindu dalam hatinya, cinta terkadang akan menangis tanpa suara jika teringat almarhum, cinta akan mulai melihat masa lalu bersamanya, dan cinta akan kembali berkubang dalam duka rindu yang menyayat hatinya yang masih tak bias mengendalikan apa yang dirasanya atas kehilangan itu.
Cinta faham akan kematian, Ia sangat memahaminya, dan bahkan merindukan kematian indah yang kan menjemputnya, walau begitu cinta tetaplah manusia biasa, cinta tetaplah insan yang masih akan terkurung dalam kubangan masa lalu bersama orang yang telah kembali lebih dulu pada-Nya, tersadar akan hakikatnya sebagai insane beriman, cinta tak lupa memberikan do’a untuk insan yang telah kembali, memanjatkan ayat cinta-Nya untuk dia yang berada disisi-Nya.
Cinta amat bersyukur memiliki kakak yang begitu sempurna dimatanya, cinta dan kakaknya adalah dua sejoli tak terpisahkan, karena kemana cinta kan pergi, dia kan diantar oleh kakak tercinta, dan dimanapun dia berada dan ingin pulang sang kakak akan setia menjemput, betapa cinta begitu bergantung pada sang kakak.
Disaat sang kakak sakit, disela waktu senggang kuliah cinta kan menjenguknya, dan hal yang takkan pernah terlupa itu terjadi, apa itu? Ialah perhatian beliau pada cinta, walau dalam keadaan sakit, sang kakak masih saja menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada sang adik yang makin merasa bersalah karena tak sempat berucap ‘terima kasih’ atas segala perhatian dan kasih sayangnya selama kebersamaan mereka.
Cinta semakin merasa bersalah saat di hari terakhir masa kehidupan dunia sang kakak, Ia tak menyadari bahwa itu adalah hari terakhir bagi mereka bersama, cinta yang tak sempat berucap ‘terima kasih dan maaf’ semakin menangisi kebodohannya, tapi dikarenakan janji untuk tetap kuat demi menguatkan keluarga, cinta menepis semua kesedihan dan memilih menepati janji untuk tak menangis dan menjadi salah satu yang terkuat.
Disaat air mata yang seharusnya menetes deras namun justru tak keluar karena janji, cinta menjadi tanda tanya, disaat semua mengeluarkan kesedihan, cinta justru terlihat tegar dan memapah kesedihan, bahkan cinta tak lagi ingat, apakah ia menangis saat di pemakaman atau tetap menepati janjinya? Namun, terlepas dari hal itu disaat tengah sendiri di kamar, kesedihan itu, rasa kehilangan mendalam itu, rasa bersalah yang semakin bersemayam itu, meruntuhkan kekuatan cinta, merobohkan ketegaran yang tadinya diperlihatkan.
Cinta yang sendiri di kamar, memulai drama kesedihannya, air mata yang terus mengalir tanpa bias terhapuskan, air mata tanpa suara yang semakin menyesakkan dada, air mata perpisahan yang tak terduga, rasa terima kasih yang tak tersampaikan, permintaan maaf yang tak terucap, cinta semakin hanyut dalam kesedihan yang menumpuk di hatinya entah sampai kapan, karena kini pun masih demikian disaat Ia kan teringat almarhum yang takkan pernah tergantikan, yang takkan pernah punah dan selalu bersemayam dalam pikiran dan hatinya.
Do’a yang selalu untuknya, ayat-ayat cinta yang mengalir untuknya, dan kerinduan berjumpa di jannah-Nya, itulah hal yang selalu cinta hadiahkan untuknya sang kakak tercinta yang telah kembali pada-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar