Kamis, 09 April 2015

KEBAHAGIAAN ABADI UNTUK EMAK


cerpen oleh : nurhidayatunnisa

“Semoga hari ini adalah waktunya, aamiin.” Harap seorang gadis yang mengenakan kemeja lengan panjang garis-garis dan rok panjang serta jilbab abu-abu di tengah perjalanannya menuju ke suatu tempat yang hampir membuatnya tak bisa tidur semalaman.

"Do’a Mak selalu bersamamu anakku, semoga Allah mempertemukan kau dengan masa indahmu, tetaplah semangat, dan jangan lupa selalu ingat Dia saat kau di perjalanan. Tak usah khawatir akan kondisi Mak, ada bibi dan adikmu yang menjaga Mak di sini, pergilah dengan ridho-Nya."

Sebulan gadis tinggi nan gemulai bak foto model itu berada di luar kota yang jauh dari kampung asalnya, semua itu Ia lakukan untuk mencari pekerjaan yang layak, yang kan mampu menaikkan derajat keluarganya, lepas dari itu semua, Ia ingin kebahagiaan Mak teraih karena itu Ia berkelana keluar untuk wujudkannya. Dan hari ini, hari pertama di bulan kedua Ia berada di kota besar itu, kan kembali melakukan test wawancara kerja untuk yang kesekian kalinya.

“Terima kasih atas kesediaan anda saudari Asnah, semoga anda mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria diri dan latar belakang pendidikan anda, maaf kami tidak dapat menerima anda!” Lagi-lagi, Ia kembali tidak diterima kerja, sungguh sulitnya mendapatkan pekerjaan baginya.

"udahlah Nah, kamu tidak akan bisa diterima bekerja di perusahaan, lebih baik kamu terus saja menulis, dan jadikan hal itu sebagai mata pencaharian tetapmu, karena sibuk mencari pekerjaan, kamu sekali-sekali saja menulis, padahal kamu bisa bertahan hidup sebulan penuh di sini kan karena honor dari tulisanmu, sekali lagi ku katakan padamu, berhentilah mencari pekerjaan, fokuskan dirimu untuk menulis, menulis, okay!"

Kata-kata yang selalu tak bosan-bosannya diucapkan oleh sahabat karib yang selama ini telah banyak membantunya, Karin seorang gadis yang sukses di usianya 23 tahun sebagai guru kimia di sebuah SMA swasta favorit di kotanya, yang telah sudi berbagi kost dengan Asnah, dan selalu menyodorkan laptopnya agar Asnah menulis.

 “Ada yang bisa dibantu mbak?” tanya seorang pemuda yang tak sengaja melihat Asnah tengah selingak-selinguk mencari sesuatu.

“Terima kasih, saya mencari buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaru, letaknya di mana ya?” sahut Asnah pada pemuda yang tak lain adalah pegawai toko buku tempatnya berpijak kini.

“Untuk buku nonfiksi ada di bagian samping sebelah kiri tempat mbak berada ini, dan buku fiksi ada di depan. Semuanya buku-buku baru. Boleh tau mbak mencari buku apa?” jelas pemuda yang lumayan tampan untuk ukuran seorang pegawai toko buku.

“Terima kasih, buku terbaru yang menarik tentunya.” jawab Asnah sambil melangkahkan kaki meninggalkan pegawai yang telah sedikit banyaknya menyita perhatian para pengunjung, terutama gadis-gadis yang berada di dalamnya.

 "Kak Asnah, apa sih yang kakak tulis, kadang-kadang sambil nulis tuh, Sari liat kakak senyum-senyum sendiri, cemberut, bahkan sampai nangis, kakak lagi buat cerita khayal ya?"

"Kakak hanya menulis apa yang ada di pikiran, dan kakak gak lagi nulis cerita khayal, okay, udah larut malam, mending sekarang Sari tidur ya, besok kan harus sekolah."

"Kau juga harus tidur Nah, nulisnya dilanjutkan besok saja, bisa-bisa nanti tidak bangun waktu subuh, atau malah nanti sampai mengantuk saat bantu Mak jaga warung."

"Iya Mak, bentar lagi selesai kok, dan InsyaAllah, Asnah akan bangun di waktu subuh, bahkan sebelum subuh biar bisa tahajud, lalu bantuin Mak jaga warung dengan penuh keceriaan"

“Asnah? Kamu baik-baik aja kan? kenapa malah senyum-senyum sendiri gituh or udah dapet kerjaan ya, tapi kok diam-diaman dari Karin sih?” tanya Karin saat mereka tengah asyik makan bersama.

“Hehehe… gak apa-apa kok, ke inget Mak dan Sari, kapan yah Nah bisa ketemu mereka, Nah juga rindu sama bibi Marni dan pemandangan di kampung.” Jawab Asnah sambil terus memperlihatkan mata yang tengah menerawang jauh ke kampungnya.

“Memangnya cuma kamu yang rindu dengan keluarga, Karin juga rindu dengan Abah dan Mas Harun, udah lama Karin gak ketemu mereka” sahut Karin menambah kesunyian rindu yang menerpa dua gadis cantik itu.

   "Kalau mbak memang ingin memberikan kebahagiaan pada Ibu, yah, mbak harus wujudkannya, dan ingat kebahagiaan Ibu tidak terletak pada materi yang mbak peroleh atau mbak berikan, tapi lebih kepada ketulusan atas perjuangan mbak untuk memberikan kebahagiaan itu."

‘"Asnah tau bang, tapi Nah gak punya apapun untuk membahagiakan Mak, kalau hanya sekedar membantu Mak di warung dan di rumah udah buat mak bahagia, Nah udah lakuin itu sejak kecil, tapi kan Nah gak bisa terus-terusan melakukan hal itu, Nah harus berbuat sesuatu, Nah harus sukses bang, supaya Mak gak perlu lagi susah payah jualan, dan Nah juga mau bantuin Mak buat menuhin kebutuhan Sari untuk sehari-harinya. Pokoknya Nah harus jadi tulang punggung keluarga dan Nah yakin dengan begitu Mak akan selalu merasakan kebahagiaan yang abadi"

"Mbak Asnah, kebahagiaan abadi seorang insan yang beriman adalah saat di mana Ia bisa selalu dekat dengan Sang Maha Segalanya, karena Dia-lah kebahagiaan abadi itu, dan saya juga yakin sebenarnya Ibu mbak Asnah pasti tidak keberatan untuk berjualan dan berjuang untuk anak-anaknya karena memang itulah kewajibannya, dan saya kira hal itu juga adalah kebahagiaan baginya saat Ia bisa melihat anak-anaknya bahagia."

"Tapi, Mak sudah semakin renta bang, dan saatnya Nah yang gantiin Mak jadi tulang punggung keluarga, karena itu Nah harus dapat kerja biar Nah bisa buktikan sama Mak bahwa Nah bisa nafkahin keluarga, biarpun Nah harus keluar dari kampung dan memulai hidup baru tanpa Mak dan Sari, juga Bibi Marni, karena memang harus begitulah jalan hidup yang harus Nah tempuh."

"Lalu apakah mbah Asnah sudah dapatkan pekerjaan? Dan sudahkah mbak Asnah memberikan nafkah pada keluarga mbak di desa? Maaf mbak, saya tidak bermaksud membuat mbak tersinggung, tapi kalau tiap hari mbak selalu ke toko buku ini, saya bisa pastikan bahwa mbak sedang tidak memiliki pekerjaan alias menganggur, begitukan? Atau karena ingin selalu melihat saya ya mbak?"

"Hahaha….. ternyata abang nih narsis juga ya, Nah kesini karena Nah udah dapatkan pekerjaan, Nah kesini mencari buku-buku baru, referensi, dan inspirasi untuk Nah menulis."

"Wah, jadi mbak Asnah ini penulis toh, bagus-bagus, teruslah menulis dan menulis karena dengan begitu mbak akan merasakan kehidupan, hehehe… kalau gitu berarti mbak Asnah ini sudah dapatkan pekerjaannya dong, selamat mbak, saya yakin dengan begitu mbak akan bisa jadi tulang punggung keluarga, oh iya, kenapa tidak tinggal di desa saja mbak, kan lebih banyak inspirasi toh."

"Nah, masih belum punya fasilitas untuk menulis kalau Nah di desa, Nah minjam laptop dan print sahabat Nah buat nulis, sekarang lagi ngumpulin uang untuk beli itu, dan sebagiannya lagi buat keluarga di kampung."

Asnah kembali terkenang akan percakapan Ia dengan pemuda pegawai toko buku yang sering Ia kunjungi yang dari parasnya sangatlah sempurna di mata, sedikit lebih tinggi dari Asnah, dan memiliki mata dan senyum yang mengingatkan Asnah pada seseorang, tapi Ia tak mempedulikan hal itu, karena jangankan memikirkannya, namanya saja Asnah tak tau, yah, begitulah Asnah. Tapi berkat pemuda itu dan juga Karin, kini Asnah semakin yakin dengan pilihan yang Ia ambil.

Setahun sudah Asnah berada di kota besar yang telah lebih bersahabat untuk dirinya, Asnah selalu tak lupa mengirim uang untuk keluarganya di kampung, Ia juga sering menjaga komunikasi dengan keluarganya, dan kini Ia telah memiliki semua fasilitas yang mendukungnya menulis di kampung.

“Mak senang Asnah akhirnya pulang, Mak juga bangga sama Nah, Mak bahagiaaaa sekali, sekarang Mak benar-benar merasakan bahwa Mak akan selalu bahagia, kebahagiaan yang abadi, terima kasih ya Nah.”

Kata-kata yang membuat Nah semakin bahagia karena keberhasilannya memberikan kebahagiaan untuk Mak, walau pada akhirnya air mata tetap saja tak terhindarkan tatkala menyadari bahwa Mak telah benar-benar meraih kebahagiaan abadinya, kembali pada kebahagiaan cinta-Nya di hari yang ikut menangisi kampung yang baru seminggu dipijakinya.

terbit pada Xpresi Riau Pos
Ahad, 5 Januari 2014
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar