Kamis, 09 April 2015

Kisah Seorang Ibu


cerpen oleh : nurhidayatunnisa

Kisah ini berawal saat Aku berada di dalam kendaraan yang akan membawaku ke tempat yang kuagendakan hari itu akan ku kunjungi, kendaran itupun memulai perjalanan dan berhenti untuk memberikan kesempatan kepada penumpang yang ingin menaikinya, masuklah seorang Ibu dan duduk di sampingku. Dan saat itulah, kisahpun dimulai.

“Darimana Ibu?” tanyaku pada beliau.

Ia pun menjawab “Ibu baru saja menjenguk orang sakit, di rumah sakit jiwa nak.” Setelah ucapan itu, mengalirlah ceritanya mengenai orang yang dijenguknya yang ternyata adalah seorang Pelajar kelas 3 SMA. Ya Allah, hati ini terenyuh mendengar segala kisah beliau.

Pelajar itu baru masuk hari itu, penyebab Ia masuk ke RSJ adalah STRES. Stres memikirkan mata pelajaran yang begitu banyak, padahal Ia adalah anak yang tak pernah meninggalkan shalatnya, Subhanallah, tapi, Ia anak yang sangat menyendiri, Ia tak pernah ingin bergaul, jika berada di rumah, Ia hanya menonton TV dan belajar, dua hal itulah yang setiap hari dilakukannya.

Ia akan sangat menjauhi orang yang berbuat kasar padanya, bila Ia dipukul, Ia hanya pergi meninggalkan orang yang berbuat jahat itu tanpa berkata apapun. Menurut cerita Ibu, anak itu pindahan dari Malaysia, Ia telah lama hidup di Malaysia, dan sangat terkejut dengan apa yang Ia alami di Indonesia. Mungkin karena hal itu, Ia stres. Bahkan beliau sempat mengingatkanku untuk jangan terlalu stres, Kan ku ingat Ibu.

Cerita beralih ke kehidupan Ibu yang tak henti berkisah itu. “Ibu juga dari Malaysia nak, 20 tahun Ibu hidup di Malaysia, sebelum menikah hingga melahirkan 3 orang anak”.

Selanjutnya kisah haru pun berlanjut lagi. Beliau menceritakan betapa kehidupannya begitu sejahtera di Malaysia. di Malaysia, tidak ada yang miskin maupun kaya, semua sama, bahkan bagi orang miskin begitu mudah untuknya mengenyam pendidikan, karena Ia akan dibiayai oleh pemerintah, seperti anak Ibu itu, bahkan bila ada anak yang tak makan di sekolah, Ia akan diberikan uang jajan agar Ia dapat menikmati jajanan di sekolahnya seperti anak yang lain, juga bila ada anak yang pakaiannya lusuh, sepatunya yang terlihat tak layak pakai, maka oleh gurunya akan dibelikan pakaian dan sepatu yang baru.

Bila ada anak yang sakit mereka akan dirawat hingga sembuh tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun, Ibu di sampingku itu juga berkisah bahwa saat Ia selesai persalinan dan pulang, perawat akan mendatangi rumahnya setiap hari tanpa diminta hingga Ia benar-benar tak dibutuhkan lagi, karena mereka begitu peduli pada pasiennya. Subhanallah. di Malaysia tak ada korupsi, karena memang baik guru, polisi, dan apapun pekerjaannya mendapat gaji yang cukup besar, jadi pantas bila mereka dapat menolong sesamanya. Alhamdulillah. Namun, narkoba merajalela di sana. Naudzubillah.

            Tapi, semua itu lenyap saat Ibu tersebut harus kembali ke Indonesia atas permintaan Ibu mertua beliau. Beliau begitu kaget atas segala kehidupan yang harus dijalaninya di Indonesia. Seperti misalnya, saat harus menyekolahkan anaknya yang tadinya gratis kini harus membayar uang yang jumlahnya sangat besar, bagaimanapun beliau dan keluarga memulai segalanya dari nol.

Anak bungsu beliau kelas 1 SMA, bila pulang akan mengadu betapa Ia tak mendapatkan kenyamanan seperti yang dialaminya di Malaysia, saat Ia sakit, jangankan dirawat, dijengukpun tidak. Astaghfirullah. Beliau pun berkisah lagi, saat beliau sakit, baru 2 hari dirawat sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal penyakitnya sangat ringan. Ya Allah, begitu menderitakah Indonesia? toilet pun di tempat umum di Malaysia bersih, terawat. Walaupun kata beliau bayar 20 sen, tapi kitanya nyaman, yah, gak masalah kan. Duch Allah, bagai Bumi dan Langit.

            Kisah kembali kepada keluarga beliau, “Anak Ibu yang bungsu itu badannya seperti pamannya yang tentara, tinggi besar, kalau Ia lewat, pasti dikira udah kuliah, padahal baru kelas 1 SMA, anaknya manja, kalau pulang berebut sama bapak nyium Ibu, kalau kakaknya pulang juga dicium, gak malu dia, padahal udah besar begitu.”

Senyum Ibu kembali merekah, tapi hanya sesaat karena ternyata, anaknya juga pendiam, gak pernah olahraga, tapi bahasa Inggris dan komputer begitu dikuasainya, karena memang sistem pelajaran di Malaysia menitikberatkan kepada 2 mata pelajaran itu.

Masih tentang si Bungsu, saat Ia pergi bersama kakaknya naik motor, seperti orang pacaran, “Anak Ibu yang pertama itu, dimarahi sama pacarnya, karena dikira selingkuh, gak percaya kalau itu adiknya, akhirnya dibawa kerumah baru percaya.”

Dan akhirnya tanpa diduga, Ibu pun bertanya, “Pacar adik, orang mana?”

Ya Allah, tanpa pikir panjang langsung saja ku jawab “Gak ada Bu!”

Beliau langsung berucap lagi, mengagetkan, “Ah, gak percaya, orang cantik gini kok gak punya, gak percayalah Ibu... Tapi, walaupun udah pacaran bertahun-tahun kalau gak jodoh, yah, gak jadi ya nak, seperti Ibu ini, pacaran dari SD hingga kerja gak nikah, lah sama Bapak baru kenal sebulan udah langsung nikah” cerita beliau lagi. Yah, itulah yang namanya jodoh, gak da yang tahu. Hanya DIA-lah yang Maha Mengetahui.

Ibu yang masih ingin meneruskan ceritanya itu berkata bahwa Beliau selalu terbuka pada Ibunya, tapi gak pernah mau cerita sama ayah, takut katanya, ayah beliau adalah seorang tentara. “Kalau pulang jam 10, pasti dimarahi bapak” ucap beliau.

Saat mengetahui bahwa Aku jauh dari Orang tua, beliau pun tak henti-hentinya menyuruhku agar berkunjung ke rumahnya.

“Anggap Ibu sebagai Ibumu, bilang sama Ibu mau dimasakin apa, tapi Ibu gak bisa masak yang enak-enak”.

Hehe… ”terima kasih Ibu”.

Kisahnya pun masih berlanjut hingga masa lalu, saat Ia bersekolah di sekolah khusus anak tentara, di sana Ia sering tampil bernyanyi mengumpulkan uang. Beliau punya jiwa seni yang begitu tinggi, Ibu beliau pun demikian, hanya jika Ibu beliau seringnya menyanyikan lagu keroncong, Ibu tersebut seringnya membawakan lagu dangdut atau melayu. Yah, Ibu berasal dari Jawa dan Suaminya berasal dari Bukittinggi.

Ibu pun tak kuasa menahan ceritanya, karena Ia harus memperhatikan jalan. “Keasyikan ngobrol, takutnya malah kelewatan." ucap Beliau.

Namun di akhir cerita yang terpaksa harus terputus itu, lagi-lagi beliau mendeskripsikan alamatnya dan dengan sedikit merendah beliau berkata “Ibu ini orang miskin”.

Akhirnya aku pun menyingkapi perkataan beliau “Ibu… jangan begitu”.

Ya Allah, ampunilah Beliau, berikanlah petunjuk padanya, bahwa tak ada yang miskin dan kaya bagi-Mu, karena yang membedakan kami di mata-Mu adalah Taqwa.  

Akhirnya beliau pun turun dan kisahpun berakhir, tak lupa kuucap terima kasih dan semoga Ia berhati-hati. Terima kasih untuk semua kisahmu Ibu, semoga dapat menjadi pegangan dalam kehidupanku, semoga Engkau dan keluarga selalu berada dalam naungan kasih sayang-Nya, Aamiin ya Robbal Alamin.

Pekanbaru, 11 Oktober 2010.

                                                          diterbitkan oleh :     Xpresi Riau Pos
Ahad, 6 April 2014
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar