Rabu, 06 Mei 2015

Hijab Story



Masih jelas terasa di pikiranku, pertama kalinya aku memutuskan untuk mengenakan jilbab, saat itu aku adalah seorang siswa kelas 6 SD, aku begitu terpana melihat kakak sepupuku yang ku kenal amatlah tomboy tetibanya datang kerumah dengan penampilan yang berbeda, jilbab yang dikenakannya menambah ketajaman pancaran kecantikan dirinya, seolah terhipnotis amat sangat dalam, aku sampai tak bisa berkata apapun hanya diam terpenjara dalam pikiran yang berkelebatan dengan berisiknya.
Setelah hari bersejarah menurutku itu, aku pun memutuskan untuk berjilbab, namun aku tak bisa begitu saja mengganti seragam sekolahku, aku harus tetap mengikuti peraturan yang ada, jadilah aku hanya akan berjilbab saat pergi les di sekolah, dan di hari biasa jam pelajaran sekolah aku tetap dengan seragam yang seperti biasanya.
Barulah di Sekolah Menengah Pertama, aku akhirnya dengan sukacita dapat mengenakan jilbab sesuai yang kuinginkan, dan betapa canggungnya karena hanya aku seorang yang berjilbab di kelasku, namun begitu kegembiraan tetaplah mendominasi hati, tak peduli dianggap manusia langka, tak peduli tatapan beragam yang melihat penampilanku, aku tetap bangga dengan jilbabku.
Percaya tidak percaya, ternyata ada yang berpikiran bahwa aku ‘botak’, sehingga memutuskan untuk berjilbab, aku tak henti menelan tawa saat salah satu teman sekelasku memberitahukan perihal itu, keyakinannya akan ‘kebotakanku’ makin menjadi tatkala aku seringkali tak masuk sekolah karena sakit.
Jadilah teman sekelas sekaligus tetanggaku menjadi pembicaraku, saat aku tak masuk karena sakit, ia pun menceritakan perihal penyakitku yang sebenarnya tidak terlalu parah, dan juga bahwa aku tidaklah ‘botak’, bahkan memiliki rambut yang amat panjang, karena panjangnya hingga aku tak ingin ambil pusing bagaimana mengikatnya dan memutuskan membungkusnya saja dalam jilbabku.
Mendengar ceritanya, aku bingung harus bagaimana, aku tak bisa marah karena ia bermaksud baik agar tak ada lagi rumor ‘botak’ didiriku, tapi tetap saja bagaimana bisa dia memberikan alasan sekenanya mengenai ‘kejilbabanku’. Biarpun demikian rumor itu memang telah pergi, namun muncul pertanyaan baru, ‘cin, rambutmu sepanjang apa?’ ‘seperti apa sih bentuknya, lurus, ikal ataukeriting?’ dan beragam pertanyaan lainnya yang hanya ku timpali dengan senyuman. Bahkan temanku yang menyebar isu mengenai rambutku itu hanya bisa tertawa dengan puasnya mendengar hebohnya mereka dengan ‘makhluk langka’ yang satu ini.
Dikelas dua dan tiga aku tak lagi menjadi ‘makhluk langka’ dikelas, karena teman-teman muslimahku sudah mulai banyak mendapat pencerahan untuk berjilbab, dan hal itu adalah anugerah tak terhingga dan amat sangat kusyukuri, akhirnya jilbab menjadi dambaan setiap muslimah yang masih belia seperti kami saat itu.
Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi tepatnya di Sekolah Menengah Atas, makin banyak wanita berjilbab ku jumpai, bahkan dikelas pun cukup dominan, kembali rasa syukur yang amat mendalam kulimpahkan, namun aku tetaplah anak manusia yang labil, aku yang masih fakir ilmu akan bagaimana seharusnya sosok muslimah itu, masih saja berpenampilan tomboy yang tak terkira, walau tetap jilbab tak pernah tinggal.
Hingga akhirnya, masa perkuliahan merasukiku, sepertinya Allah ingin aku segera tahu akan hakikat seorang muslimah, jadilah aku diterima di salah satu universitas islam, awal masuk kuliah aku sudah disibukkan dengan perubahan penampilan, aku yang hanya punya rok seragam sekolah, harus berjuang memburu rok untuk kuliahku, dan dengan rela mengucapkan perpisahan pada celana-celana panjangku.
Aku juga mulai penasaran dengan organisasi di kampus, rasa penasaran itu makin kuat tatkala banyak teman yang juga ingin ikut dan utamanya lebih ingin mendalami ilmu agama. Sungguh Allah amatlah sangat sayang pada kami, begitu mudahnya hidayah itu masuk melalui kakak-kakak yang lebih dulu faham akan islam, melalui teman-teman yang sejak sekolah telah berkesimpung didunia organisasi itu, jadinya kami sedikit demi sedikit lebih mengenal islam dan makin mencintai-Nya.
Aku yang dulunya masih amat fakir ilmu akan islam, bahkan hingga kini pun masih, mulai perlahan memahami hakikat muslimah dalam berhijab, yah hijab yang dulunya lebih akrab dengan ‘jilbab’ saat kuliah aku mulai mengakrabkan diri dengan ‘hijab’, jika dulu hanya sekedar berjilbab untuk memenuhi kewajiban sebagai muslimah, saat kuliah lebih memahami seperti apa muslimah yang berhijab itu.
Dan semoga begitupun demikian denganmu saudari-saudariku, hijab adalah mahkotamu, berbahagialah bagi engkau yang telah menemukannya, dan bagimu yang masih kesulitan akan mahkotamu, semoga suatu masa engkau kan menemukan dan berdamai dengannya. Pancarkan kecantikanmu dengan berhijab sesuai syariat-Nya. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar