Rabu, 25 Januari 2017

DIA-Januari-Hujan

Lama sudah jari ini tak menari dengan indahnya, melantunkan panggilan jiwa yang selalu inginkan jawabannya. Okay, kalimat yang keren ya, hihihi… muji diri sendiri, gak papalah ya, hehehe…. Peace. Udah lama ya, gak posting blog, mian. Maybe karena terlalu asyik menyiakan masa hingga lupa pada tujuannya, hah, miris banget ya, punya blog tapi gak pernah dihampiri, bahkan sesekali disapa pun tak pernah. T_T
Oh iya, beberapa posting cerpen dan puisi diriku menghapusnya karena tekadnya sih bakal posting yang sudah terbit aja, tapi, nyatanya sampai sekarang aku masih belum ada ngirim karya kemana-mana, miriiiis deh ya. Kalo gini, bakalan kosong deh blog, maafkan diri yang pemalas ini. Hah, bener-bener butuh oksigen buat menghasilkan karya yang memang pantas untuk ku publish.
Untung aja aku ada ngikutin grup nulis, jadi gak bener-bener vakum nulisnya, dan lagi, aku memang masih harus banyak banyak belajar karena pengetahuan sastraku tuh minim banget, untuk EBI aja musti belajar dan terus belajar karena fakirnya diri ini, pemilihan, perbendaharaan kosakata yang juga amat fakir banget. So, maafkan jikalau tulisanku kacau banget ya.
Okay, cukup baperannya, untuk detik ini, mari kita mulai.
Januari sudah menuju akhirnya ditemani hujan yang seolah diformalin karena awet banget gak berhenti beberapa hari termasuk saat ini, membuat hati yang selalu merindu hujan, kini justru amat rindu pada matahari. Entahlah, hujan datang memenuhi hati yang tengah dirundung rindu tak berkesudahan, seolah tahu hati tengah memilu menyimpan tangis yang enggan berhenti, bahkan air mata yang terus mengalir di hati itu, amat menyiksa bathin.
Jangan tanya kenapa, karena diri tak temukan jawabnya. Yah, entah untuk apa, siapa, dan kenapa air mata memenuhi hati, selalu tak sabar mendesak untuk keluarkannya segala resah hati yang entah apa, jadilah diri mencoba mencari cara agar air mata keluar alami tanpa menyisakan tanya insan disekelilingnya.
Mungkin saja, atau bahkan memang begitu, cara menyembunyikan tangis ialah menonton drama dan menangis sejadi-jadinya seolah memang masuk kedalam dunia drama itu. Hujan, jawaban tepat untuk bersembunyi dari hati yang lara, menyatukan air mata yang mengalir dengan tangisan bumi yang membasah mengirim rindu.
Dan cara terampuh di jagat raya, mengadu pada-Nya, yah, karena hanya DIA tempat segala resah disalurkan, hanya DIA yang tahu apa yang terjadi pada hati, hanya DIA yang tahu apa yang terbaik untuk diri, hanya DIA yang sepenuh hati kan mendengarkan, hanya DIA, hanya DIA. Tuhan Pemilik Alam Semesta, Allah ta’ala, Tuhan Yang Satu, DIA lah tempat curhat terindah yang takkan pernah menolakmu, yang takkan pernah menambah rasa sakitmu, bahkan DIA akan memberi kesejukan, memberi kedamaian, memberi jalan disetiap sesatmu. Hanya DIA.

0 komentar:

Posting Komentar