Kamis, 24 Agustus 2017

UJIAN BUAT ICHA



Kehidupan itu tak pernah mempersulitmu, justru engkaulah yang selalu mempersulitnya, taukah engkau hidup itu sejak awal telah indah bagimu, hanya saja Ia perlu perjuangan darimu untuk menunjukkan keindahan hidup yang sebenarnya telah tercipta untukmu, karena itu BERJUANGLAH, BERKORBANLAH, BERSEMANGATLAH, TERSENYUMLAH SELALU DALAM KEHIDUPANMU.

“Say, enggak ada jadwal hari ini?” tanya Mitha pada sahabatnya Icha yang hanya duduk santai dengan laptop dipangkuannya.

Insya Allah entar siang Cin. Oh ya, Bu Rahmi tadi nitip sesuatu tuh buat kamu!” jawab Icha sambil memberikan selembar catatan kepada Mitha.

“Hm, lumayan banyak juga nih, ya udah deh, berangkat dulu ya Say, Assalamu’alaikum!” pamit Mitha.

Wa’alaikumsalam! Ttdj ya, salam buat manusia-manusia yang berpasasan ama you, okay?! Hahay…” balas Icha tak lupa dengan sedikit gurauan di pagi yang mulai cerah.

***
"Semuanya udah faham kan? jangan lupa tugasnya dikerjakan, kalau ada yang masih belum mengerti, tanyakan pada teman yang sudah faham. Oke silahkan istirahat dulu, selamat Sore!” Salam Icha mengakhiri proses belajar-mengajar hari itu.

“Bu, kami masih belum mengerti, entar pulang sekolah boleh kami ke rumah Ibu untuk mengerjakan tugasnya, please?!” sahut beberapa anak yang sengaja berlarian menghentikan langkah Icha yang sudah akan menuju ruang guru.

Okay, Ibu tunggu kalian di rumah!” jawab Icha.

“Bu Icha, bagaimana murid-muridnya hari ini?” tanya Richard, guru Fisika yang sebenarnya menyukai Icha.

Alhamdulillah Pak, semuanya antusias sekali saat belajar dengan saya!” jawab Icha dengan sedikit tersenyum dan mulai menyantap makanan ringan yang telah berada di hadapannya.

“Syukurlah!” sahut Richard sambil ikut menyantap makanan.

Richard bermaksud ingin mengajak guru kimia dan sekaligus guru termuda dan tercantik di sekolah itu mengobrol, namun melihat khusyuknya Icha dengan pengganjal perut sore itu, Richard jadi mengurungkan niatnya dan hanya memandangi guru yang telah lama mencuri hatinya itu.

***
“Say, Ta denger-denger kamu jadi guru idola di sekolah ya? Enggak cuma guru prianya aja, tapi murid laki-laki di sekolahmu juga ikutan mengidolakanmu. Hebat Cantik!” seru Mitha, saat mereka telah berbaring di atas kasur untuk menutup malam yang dingin itu.

“Hebat apanya,  Icha malah jadi risih kalau tiap hari di kelas selalu digombalin anak-anak, mereka kan harusnya fokus dengan pelajaran yang Icha terangin, bukannya melototin Icha terus, mana bentar lagi mereka akan segera ujian kelulusan, dan mulai memikirkan mau apa mereka setelah lulus SMA ini. Icha juga enggak mau selalu jadi kambing hitam di setiap perselisihan guru laki-laki.” curhat Icha akhirnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Iya Say, Ta juga ngerti gimana perasaan kamu, kalau menurut Ta sih solusi yang terbaik buat kamu cuma satu, NIKAH! Dengan begitukan mereka enggak akan lagi ngejar-ngejar or cari perhatian kamu, iyakan?!” saran Mitha dengan antusiasnya.

“Ngomong sih gampang Cin, tapi mau nikah sama siapa? Lagian Icha harus fokus nyiapin anak-anak untuk ujian kelulusan mereka. Jadi, mana kepikir buat diri Icha sendiri. Icha yakin kok pasti ada solusi yang lain” jawab Icha, yang baru menyadari bahwa Ia masih sendiri.

“Iya, Ta tahu, tapi kan kamu juga harus mikirin masa depan kamu juga dong?! Ta punya beberapa calon buat kamu, kalau kamu mau ntar Ta kenalin deh, mana tau ada yang nyantol di hati, gimana?!” seru Mitha lagi dengan semakin semangatnya.

Thanks ya, Icha nggak nyangka kalau kamu udah mempersiapkan semua itu, tapi sebenarnya Icha juga punya calon buat kamu Cin!” balas Icha tidak kalah semangatnya.

“Hahaha…. Icha, Icha, kamu tuh apaan sih, Ta tuh enggak kayak kamu yang cuma peduli sama orang lain, tapi dirinya sendiri terabaikan, Ta udah punya kok, dan semoga aja dia emang jodoh yang terbaik untuk Ta, Aamiin!” senyum merekah bertengger di wajah imut Mitha.

What? Ih, jahat deh, Icha kok nggak dikenalin? Takut ya?! Hehehe… Just kidding, kapan merid-nya? Jangan lama-lama lo ya?! Tau lah, dua orang tanpa ikatan yang sah berduaan dalam waktu yang lama, bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan!” Icha sedikit kaget tapi juga senang.

“Duh, bahasamu Cha, tenang aja, Ta sama dia aman-aman aja kok! Kita kan udah sama-sama dewasa, taulah batasan-batasan itu!" dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Icha yang mulai mengantuk.

"Alhamdulillah!” ucapan syukur yang menjadi akhir percakapan dua gadis malam itu, berganti dengan mimpi indahnya masing-masing.

***
“Selamat Pagi Bu Icha, kami enggak ganggu kan Bu?!" sapa Sherlin dan diiringi anggukan beberapa temannya saat Icha membukakan pintu untuk anak-anak muridnya yang sengaja berkunjung untuk belajar di hari libur itu.

“Pagi Cinta, tidak apa-apa kok. Ayo masuk!” sahut Icha.

Kimia adalah salah satu pelajaran IPA yang paling sukar dimengerti oleh anak-anak, seperti halnya Icha dulu, namun saat Icha mulai serius mempelajari dan sering bertanya dan berlatih soal dengan guru dan teman-temannya, Ia semakin mencintai mata pelajaran itu dan menjadikannya sebagai bagian dari masa depannya.

Sesuatu yang selalu diingatkan Icha pada murid-muridnya, setiap kali Ia mengajar, ialah ‘tiada pelajaran yang  sulit dan menjengkelkan, kecuali kita sendiri yang membuatnya sulit, mulailah cintai pelajaran apapun itu, senangilah guru yang mengajari kalian, ketahuilah, guru takkan marah bila kalian tak berulah'

'Dan bila kalian membenci guru yang masuk, maka siap-siaplah untuk hanya mengabaikannya, dengan begitu selamanya pelajaran itu takkan pernah menyentuh akal pikiran bahkan hati kalian. Sekali lagi Ibu ingatkan cintai dan senangilah guru yang mengajarimu dan semoga dengan begitu lambat laun pelajaran yang diajarkannya akan mudah dimengerti karena hati kalian yang ikhlas dengan kehadiran beliau.'

***
Pada akhirnya Icha memang telah menemukan solusi terbaik untuk permasalahan di sekolah yang diakibatkan oleh kehadirannya atas pertolongan-Nya. Icha mampu meredam jiwa-jiwa yang hatinya kian melekat pada dirinya, Icha mulai memberanikan diri berbicara dan bersikap tegas atas perilaku guru dan murid laki-laki yang sangat tidak wajar akhir-akhir ini padanya.

Ujian kelulusan adalah salah satu alat yang dipakai Icha untuk menyadarkan para kaum Adam, jadilah hari-hari yang biasanya hanya sibuk membicarakan kecantikan, kelembutan Icha, berganti dengan kesibukan persiapan menuju kesuksesan ujian akhir bagi murid SMA di sekolah yang cukup menjadi favorit itu.

Kesibukan yang memanas itu akhirnya terbayarkan dengan kelulusan seluruh murid baik IPA maupun IPS, Icha pun tak habis-habisnya bersyukur atas rahmat-Nya, dan hari kelulusan itu juga menjadi akhir untuk profesinya sebagai guru di sekolah yang juga dulunya adalah tempat Ia belajar dan menjalani masa SMA.

Yah, tidak hanya murid kelas tiga yang lulus tapi juga Icha yang harus siap meninggalkan kenangannya di sekolah. Guru cantik itu akan kembali ke desa tempat orang tuanya berada, dan mulai menjalani kehidupan yang sudah digariskan-Nya di tanah kelahiran yang selalu muncul di mimpi-mimpinya beberapa malam ini.

Terbit : Xpresi (ZETIZEN) Riau Pos.
Ahad, Tgl. 08 Mei 2016.
This entry was posted in

4 komentar: