Selasa, 18 September 2018

Harapan Jati

pixabay.com

Di sebuah Hutan, terjadi percakapan cukup serius antara Pohon Jati dan Burung Elang yang selalu bertengger erat di dahannya yang mulai merapuh ditelan masa kehidupan.

“Beruntunglah engkau wahai Jati, kau masih bisa berdiri tegak menikmati kehidupan setelah begitu banyaknya teman-temanmu yang harus rela ditebang dan kehilangan jati diri mereka yang sebenarnya.” ucap Elang yang hari itu terlihat sendu.

“Bukannya justru dirimu yang beruntung bila aku masih hidup? Lihat saja, hampir setiap hari kamu berdiam di dahanku, padahal hidupku ini bisa saja juga akan menemui akhirnya. Sejujurnya, aku iri pada mereka, karena …”

“Apa? Iri? Yang benar saja, bagaimana bisa kau merasa iri pada teman-temanmu yang telah meregang nyawa?” sergah Elang memotong curhatan Jati.

“Ah, kamu ini Elang, dengarkan dulu ucapanku, jangan asal menyela begitu. Tahukah kamu? Bila kamu ingin didengar sekitarmu, maka kamu harus menjadi pendengar yang baik, bukannya hanya memperdengarkan celotehanmu yang seakan selalu menusuk itu!” jelas Jati menasehati Elang yang memang terkenal dengan kecerewetannya yang selalu mendatangkan duka mendalam. “Hei, Elang, kamu masih mendengarkanku bukan?”

“Iya. Aku mendengarkanmu Jati. Aku akan diam mendengarkan, jadi silahkan lanjutkan, apa maksudmu iri pada mereka yang malang itu?” sahut Elang yang mulai menunjukkan keseriusannya.
“Ah, ya. Aku iri pada mereka karena mereka bisa sangat bermanfaat bagi semesta. Mereka memang telah kehilangan jati diri, eh, sebenarnya … tidak juga. Mereka hanya tengah menikmati menjadi pribadi lain dan itu terlihat lebih baik. Kamu tahu Elang? Terkadang aku dan yang lainnya menangis serta berharap kami pun akan bisa memberikan yang terbaik untuk manusia. Kamu sendiri juga tahu, sejahat apapun manusia itu, pasti ada yang terbaik. Nah, untuk manusia terbaik itu, aku ingin bermanfaat bagi mereka.

“Seperti yang kamu ketahui Elang, hutan ini telah karam dan akan segera punah, jadi, untuk apa aku mempertahankan diri, berdiri di tengah keterpurukan yang akan menjelang? Akan lebih baik bila ada manusia yang berniat untuk merubahku menjadi benda yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup mereka. Lagipula, hanya buang-buang energi bila kita selalu mengelak dari apa yang sudah ditakdirkan bukan?

“Yah, kita semua tahu bagaimana sifat manusia, mereka makhluk serakah, mereka juga makhluk yang penuh ambisi. Jadi, untuk kami, pohon yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan manusia, hanya bisa memasrahkan diri untuk menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Beda denganmu Elang, kamu masih bisa berkelana dalam semesta ini, kamu bisa terbang bebas dan menikmati segala yang ada.

“Tapi, kami? Kami hanya bisa tumbuh dan menetap di satu tempat, akan sangat indah bila kami bisa menjadi tempat berteduh, namun, bila memang harus keluar dari hutan dan dipermak menjadi berbagai alat kebutuhan untuk digunakan manusia, kami hanya bisa berpasrah, karena itulah takdir kehidupan yang diberikan semesta. Lagipula, seperti yang sudah kukatakan di awal, hal itu masih lebih baik, daripada berdiam diri meratapi hidup yang kan segera punah ini.”

“Ah, bagaimana bisa sebatang pohon berpikir seperti itu? Terlalu mulianya dirimu wahai Jati.” batin Elang yang tengah mengusap air matanya yang tak sengaja menetes dan membasahi dahan. Lalu, dengan tegar menanggapi pengharapan Jati yang tak bisa diterimanya,

“Kau benar, hanya menunggu masa untukmu bernasib sama seperti teman-temanmu yang lainnya. Tapi, bukan berarti kau hanya harus berpasrah! Kata siapa kau hanya bisa tumbuh dengan bantuan manusia? Kata siapa kau hanya hidup agar bisa dimanfaatkan mereka? Semesta juga membutuhkanmu, kau tahu? Bila pohon-pohon tiada, hutan musnah, lalu bagaimana dengan kami, makhluk yang hanya bisa hidup di hutan? Bagaimana dengan alam yang akan semakin gersang dan semakin panas membakar?

“Bahkan manusia sendiri akan mengalami dampak negatif dari kepunahanmu, tiada hutan maka akan tiadalah penghidupan untuk mereka, bumi akan memanas dan itu artinya mereka, manusia akan ikut mengalami kepunahan dan segala yang mereka buat tiada lagi gunanya, mereka takkan bisa menikmatinya, karena semesta ini sepenuhnya gersang dan rusak dikarenkan tiadanya hutan yang menjadi akar penghidupan.” setelah mengatakan segala pemikiran dengan mata tajam penuh amarahnya, Elang terbang meninggalkan Pohon Jati yang terdiam sempurna.

“Elang benar, kenapa aku hanya memikirkan diri sendiri? Kalau kami tiada, hutan tiada, lalu bagaimana dengan semesta?” batin Jati tersadarkan. Namun, tiada guna, karena seperti yang telah diyakininya, segerombolan manusia dengan gergaji mesin besarnya memasuki hutan dan mulai menebang setiap pohon yang berdiri anggun. “Selamat tinggal Elang, selamat tinggal alamku yang mendamaikan, semoga kelak kan ada tunas baru yang mengisi kembali keindahan hutan.”

~End~
This entry was posted in

Senin, 17 September 2018

Angel dan Negeri Asap

pixabay.com

“Kami akan selalu ada untuk anda yang membutuhkan bantuan demi menjaga kelestarian alam, namun, kami juga berharap, anda semua dapat membantu kami mewujudkannya, bagi siapapun yang ingin bergabung, kami siap menerima bahkan amat sangat bersyukur. Karena dengan lebih banyak yang peduli pada lingkungan, maka diharapkan kerusakan alam akan berkurang, bahkan musnah berganti keindahan alam yang memukau semesta.”

“Wuah … itu ayah! Bundaaa … lihat, ayah masuk TV lagi. Ayah gagah sekali, Angel suka ayah, ayah kereeen.” seru Angel sambil mengacungkan jempolnya di depan televisi.

“Iya, ayah Angel memang kereeen banget. Nah, sekarang, Angel tidur ya….” jawab sang bunda dengan senyuman indahnya nan menyejukkan.

“Iya, Angel mau tidur kok, tapi, nanti ayah datang kan bunda? Angel mau ketemu ayah, Angel mau cerita buanyaaak sama ayah.” pertanyaan gadis mungil itu, dijawab anggukan oleh sang bunda yang mulai menidurkannya.

***
“Hai, gadis kecil bangunlah, bangun!” terdengar suara parau yang menggema dan berhasil membuat sang gadis mungil itu terbangun.

“Ada apa? Bukannya Angel baru tidur, kok udah dibangunkan? Eh, ini di mana? Angel di mana?” setelah sadar sepenuhnya, Angel berputar-putar untuk melihat sekelilingnya.

“Kau ada di hutan gadis kecil, tidak seharusnya kau berada di sini, kembalilah ke tempatmu.” kembali terdengar suara tua yang bergema penuh perhatian.

“Pohon, kamu? Bagaimana bisa pohon bicara? Apa Angel tengah bermimpi?” tanya Angel dengan mata berbinar terang.

“Benar, kamu sedang bermimpi, jadi bangunlah dan pergi dari sini!” kali ini burung elang yang bertengger pada si pohon yang bersuara.

“Iya, pergi sekarang juga, kalau tidak kau akan celaka gadis kecil!” sahutan para semut serentak terdengar.

“Wuah … ini keren, sangat keren! Bagaimana bisa? Tapi, kenapa Angel harus pergi? Hutan ini sangat indah, Angel ingin berlama-lama di sini.” ucap Angel dengan penuh antusias.

“Aneh, kamu tidak takut? Kami bicara padamu, itu hal yang tidak lumrah, seharusnya kamu menangis saat ini.” Si Pohon kembali memperdengarkan suara lembutnya yang bergema.

“Kenapa harus takut? Bukankah elang bilang Angel tengah bermimpi? Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan. Oh tidak, apa yang terjadi…” belum sempat Angel melanjutkan ocehannya, asap mulai merebak dan mulai mendekati mereka, Angel pun terbatuk keras karenanya.

“Sudah kami bilang bukan? Sangat berbahaya untukmu berada di sini. Sekarang kau harus merasakan apa yang telah dilakukan manusia pada hutan yang seharusnya mereka lindungi. Begitu banyak hewan yang harus kehilangan tempat tinggal mereka, berapa banyak pohon yang musnah tanpa dapat menikmati kehidupan yang mewah. Semua kesenangan hidup itu hancur karena ulah manusia yang tidak bertanggungjawab, mereka menebang pohon, membakar hutan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.

Karena itu, pergilah wahai gadis kecil, biarkan kami musnah sendiri, kamu harus menyelamatkan diri dan membantu teman-teman kami yang masih bisa dilestarikan, beritahukan pada dunia manusia bahwa kami juga butuh kehidupan yang damai, kami juga bisa sangat bermanfaat untuk mereka, tanpa mereka harus merusak alam. Sampaikanlah itu pada dunia, wahai Angel. Kembalilah sekarang….

***  
“Angel sayang, bangun nak, apa yang terjadi? Ada yang sakitkah? Ini, minumlah.” terdengar suara sang bunda penuh kekhawatiran melihat anak gadisnya tak henti terbatuk.

“Bunda, ayah mana? Angel harus bicara sama ayah, sekarang. Sekarang … Angel….” belum sempat gadis berumur delapan tahun itu melanjutkan ucapannya, matanya kembali menutup dan sayup-sayup terdengar olehnya suara tangis bunda yang meratap penuh duka menyebut namanya.

~End~
This entry was posted in

Sabtu, 01 September 2018

Rindu Asa Puisi


Kertas putih itu masih saja polos,
Terbaring tanpa setitik tinta terpoles.
Adakah kini Ia tengah berduka?
Atau justru amatlah bersuka cita?
Tiada coretan menghampiri jiwanya.

Berbulan-bulan Ia mematung.
Tanpa tersentuh aksara nyata.
Tiadakah rindu terpasung?
Kata indah penuh puja puji raga,
Yang dulu selalu mewarnai jiwanya.

Duri, 01 September 2018
-nurhidayatunnisa-


#30daysSeptemberToRemember
#onedayonepost

Minggu, 20 Mei 2018

Cerpen Fabel Satire ala Oscar Wilde


“Ay, ada apa? Kamu nangis?” Terdengar suara Cinta saat memasuki kamar Aya.

“Cinta? Loh, kamu … ngapain malam-malam ke sini?”

“Aduh, ditanya malah balik nanya! Bukannya kemarin Cinta udah bilang mau nginep? Sekarang, jawab, kenapa tuh mata sampai merah gitu? Ingat dosa ya?”

“Iya. Dosa Aya numpuk nih sampai nembus langit! Oh, Allahu.”

“Lah, apa bedanya sama Cinta coba? Udah, jujur aja ada apaan sih?!” kembali Cinta bertanya, sambil berbaring di sebelah Aya.

“Hmmm… sebenarnya Aya lagi nulis ringkasan kisah fabel satire yang ditulis oleh Oscar Wilde, judulnya itu The Happy Prince and Other Tales. Menurut Aya kumcernya ini wajib banget dibaca oleh semua kalangan, karena begitu banyak ibroh yang bisa diambil dari setiap kisahnya. Dan kenapa Aya bilang satire?  Karena memang demikianlah adanya, begitu banyak sindiran sebenarnya bagi kita yang membaca, mengingatkan betapa masih banyak hal keliru yang kita tafsirkan, begitu banyak hal tak jujur yang dilakukan. Intinya, kumcer ini benar-benar luar biasa.”

“Hmmm… bahasa Inggris ya, untuk tugas RCO itu kan? Oh iya, hari ini terakhir kan ya? Ya udah, sambil ngetik kamu bisa ceritakan tentang buku keren itu ya, karena Cinta nggak akan membacanya walau kamu paksa, kamu kan tahu sendiri Ay, Cinta nggak suka baca, lebih suka dibacain”

What? Kalau gitu caranya nggak kelar dong tugasnya, mana hari ini Aya juga belum ada baca, tahu!”

“Ya ampun, biasanya juga gitu, nggak usah manja deh, buruan, Cinta penasaran banget nih, pengen tahu ceritanya!”

Ampun dah yo nih anak, udah minta tolong maksa lagi! Sabar Ay, sabar!

“Mending tidur deh, ntar nggak bangun sahur lagi!”

“Iya, ini dengerinnya sambil tidur Ay, buruan gih, palli!

“Aish … maksa banget sih, ya udah, tak ceritain deh, denger yo, beneran, awas loh kalo sampe tidur! Jadi, buku The Happy Prince and Other Tales karya Oscar Wilde ini adalah kumpulan cerpen, ada tujuh kisah dalam satu buku menarik ini. Kisah pertama, tentunya ialah tentang The Happy Prince (Pangeran Bahagia), tapi kamu tahu Cin?! Pangeran bahagia ini sejatinya tidaklah berbahagia. Pangeran Bahagia dalam kisah ini ialah sebuah patung yang bertengger indah di tengah kota Eropa yang indah, batu-batu permata menghiasi seluruh tubuhnya, dua batu safir yang berkilauan sebagai matanya, helai-helai dedaunan yang terbuat dari emas menutupi tubuhnya, dan sebuah batu rubi yang bersinar di pangkal pedangnya. 

"Karena posisinya yang berada di atas ketinggian yang menjulang, membuatnya mampu melihat ke seluruh penjuru kota, dan melihat segala kehidupan yang terjadi di sekelilingnya, melihat betapa kesenjangan kehidupan itu nyata adanya, dan lewat burung Walet yang hinggap sebentar di pundaknya, Ia mulai membagikan seluruh yang Ia punya dalam dirinya untuk membantu orang-orang tak berdaya, burung Walet yang sebenarnya ingin bepergian ke Mesir pun tertahan oleh kebaikan hati Pangeran Bahagia dan membantu mewujudkan permintaan sang Patung mulia itu. 

"Namun, kamu tahu Cinta, akhir teramat sedih untuk keduanya dilewati karena ketamakan manusia yang sok berkuasa. Tidak, aku tidak akan menyebutkan apa itu, kamu bisa mencari tau dengan membacanya, walau sungguh, hanya Tuhan-lah yang Maha Adil di atas dunia ini yang mampu memberikan balasan yang pantas untuk kebaikan keduanya.

"Kisah kedua ialah The Nightingale and The Rose (Burung Bulbul dan Bunga Mawar) sungguh, kisah kedua ini, juga amat menusuk hati, oh, manusia, entah apa yang menyebabkan kalian begitu sombongnya, kamu tahu Cin, kali ini, cerpen kedua berkisah tentang seorang Pelajar yang jatuh cinta, namun gadis yang disukai hanya menyukai mawar merah, padahal dirinya tak memiliki itu, jadilah, burung Bulbul yang mendengar kisah sedih si Pelajar terenyuh hatinya, sembari mendendangkan lagu dan memulai pencariannya untuk setangkai mawar merah, dan pengorbanan yang amat menyakitkan harus dilampauinya untuk membantu si Pelajar, padahal tentu saja, siapalah Ia yang seorang hewan yang takkan berarti apapun bantuannya untuk manusia yang takkan pernah tau apa itu makna dari sebuah perjuangan.

“Cerpen ketiga berjudul The selfish Giant (Raksasa yang Egois), diceritakan bahwa ada Raksasa yang  memiliki taman yang indah, namun Ia tak mengizinkan anak-anak bermain di sana, karena keegoisannya musim semi tak menghampiri kebunnya, dan penyesalanpun tiba, tatkala melihat beberapa anak-anak bermain di sebuah pohon, dan terdapat seorang anak kecil yang kesulitan menggapai pohon besar di hadapannya dan membuatnya menangis karena hal itu. Melihat itu, tersentuh hati Sang Raksasa, Ia akhirnya membiarkan taman terbuka dan mulai dijadikan tempat bermain bagi anak-anak, dan kebunnya pun kembali indah. Namun, hal yang menjadi misteri bagi Si Raksasa ialah setelah hari pertama dibukanya taman untuk anak-anak, seorang anak yang berhasil meruntuhkan keegoisannnya kala itu tak lagi datang.

“Keempat, kisah ini tentang The Devoted Friend (Teman yang Setia/Sejati), satu lagi kisah yang menyayat hati tentang sebuah pengorbanan seorang teman. Dikisahkan oleh seekor Tikus Air Tua dan teman-teman hewannya mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans memiliki “teman sejati” bernama Miller, sungguh membaca kisah ini membuat Aya amat simpati pada kepolosan hati Hans, dan membuat Aya amat jengkelnya pada si Tuan Kaya Miller yang hingga akhir masih saja menganggap dirinya ialah “teman sejati” Hans kecil, padahal tiada kejujuran dari setiap kebaikan yang diberikannya, selain hanya menginginkan imbalan yang setimpal.

“Cerpen fabel kelima ialah The Remarkable Rocket (Roket yang Luar Biasa), mengisahkan sebuah kerajaan yang tengah berpesta untuk pernikahan sang Pangeran dengan seorang putri cantik. Segala macam kembang api berlomba memeriahkan pesta, mulai dari yang mungil hingga yang besar, dan akhirnya memperlihatkan sang Roket yang Luar Biasa yang mengoceh tak karuan, akibat ocehannya yang berkepanjangan tentang betapa penting dan hebat dirinya, membuat sang Roket justru tak dapat menunjukkan keluarbiasaanya itu akibat ulahnya sendiri yang begitu sombong tak terelakkan dan hanya menjadi kesia-siaan belaka.

“Cerpen keenam berjudul The Sphinx Without a Secret, mengisahkan seorang Gerald yang jatuh cinta pada seorang wanita misterius bernama Lady Alroy, Gerald yang tengah memperjuangakan cinta, sering berkirim surat pada Lady Alroy, dan akhirnya karena kemisteriusan wanita itu, membuatnya pergi selama sebulan, dan sekembalinya Gerald, Ia tak dapat menemui  wanita itu lagi, karena ternyata Lady Alroy mengidap penyakit paru-paru dan akhirnya meninggal dunia membawa dunia fantasi yang diukirnya.

“Dan cerpen terakhir yaitu The Birthday of The Infanta. Infanta adalah seorang Putri raja Spanyol, di ulang tahunnya yang begitu meriah, segenap rakyat dan semua bunga, tanaman, dan pohon di taman istana ikut memeriahkan acara. Dan seorang anak kecil yang dipanggil untuk melakukan pertunjukan, Ia menari disertai keriuhan rakyat yang menontonnya, bahkan sang Putri raja memberikan mawar putih untuknya, yang membuatnya berpikir bahwa sang putri menyukainya. Singkat cerita, anak kecil itu kembali ke istana, dan sadarlah Ia siapa dirinya sebenarnya, tatkala melihat bayangan diri yang bak monster menakutkan dan mulai menyadari bahwa keriuhan yang didapat sebenarnya bukan karena sebuah kekaguman namun justru menertawakannya. Menyadari hal itu, membuat dirinya jatuh, dan perlahan jantungnya berhenti berdetak.

“Sungguh, tujuh cerpen yang mampu mengoyak hati ini, dan membuat Aya tak henti merenungi diri, telahkah diri ini menjadi manusia seutuhnya, sudahkah cinta tulus itu diberikan pada sesama, ah… manusia! Wuah … udah larut aja ya Cin, alamat nggak tidur nih!”

Dan kamu tahu, sesuai dugaan, Cinta udah tertidur dengan nyamannya, aish… dasar, selalu saja… eh, kok rasa dejavu ya?! Ah, sudahlah!

#TugasRCO 
#Tugas2Level4 
#OneDayOnePost 

Rabu, 16 Mei 2018

Celoteh Cinta untuk RCO di Masa Depan


“Ayaaa… teror masih berlanjut, dan sekarang Mapolda Riau jadi sasaran. Ya Allah, apa sih maunya orang-orang tak beradab itu? Buat rusuh aja! Mana, sekarang kita juga diperlihatkan dengan keadaan Palestina yang kian mencekam! Allahu, sungguh telah amat dekat kiamat itu!” terdengar suara penuh emosi diselingi kecemasan di seberang sana. Yah, kembali Cinta membuat kejutan, di tengah asyiknya Aya menikmati kelonggaran aktivitas kerja Rabu ini, tiba-tiba si gawai yang tengah diberi energi, berdering nyaring memperdengarkan lantunan syahdu milik Raef.

“Iya, Cin. Apapun tujuan mereka, siapapun para penebar teror itu, mereka ingin memecah kedamaian, ingin umat manusia gusar, tapi, tentu saja itu tidak akan membuat kita takut, tidak akan bukan?! Dirimu sendiri kemarin yang bilang begitu, di sini, jadi, cukuplah pihak yang berwenang mengatasinya, dan tugas kita untuk membuat sekeliling agar tidak panik, ikut mendamaikan, ikut meluruskan, dan yang paling penting berserah pada-Nya, semoga semua hal yang terjadi di atas dunia fana ini, segera mendekati akhirnya, dan kita diberi kekuatan menjalaninya. Aamiin!”

“Iya, Ay, kamu bener! Oh iya, tumben nih, telponnya diangkat, lagi senggang ya?” kembali gadis menggemaskan itu memperdengarkan tawanya, seolah lupa pada amarahnya yang baru saja.

“Iya, Cinta, ada acara sih sebenarnya, tapi, males ikutan, jadinya jaga gawang aja di ruangan, lagian refresh sejenaklah menjelang Ramadan besok!”

“Oh iya, berarti bisa ngobrol dong ya?”

Ampun nih anak, bukannya udah dari tadi celotehanya ya?!

“Trus apa kabar RCO-mu tuh Ay, udah kelar? Lulus nggak?”

“Hahaha… inget aja lu Cin, belum. Tanggal 19 nanti berakhir, tgl. 20 pengumuman, InsyaAllah. Wuah, tentang hal itu, Aya kembali menggunakan kemaksimalan bolos nih, di setiap level kayaknya. Heu, emang ya, sukar banget bagi waktu!”

“Ya ampun, udah sering begadang gituh, masih suka bolos juga? Lu ngapain aja emangnya Ay?”

“Ampun deh ya, menjelang Ramadan gini, agenda jadi makin full dari biasanya. Ah, ya udah deh, Aya lanjut baca ya, mumpung ada masa nih!”

“Eits, tunggu dulu, Cinta masih mau nanya nih, trus di level terakhir ini, tugasnya apaan?”

“Aigoo, nih anak yo! Kita diwajibkan baca buku biografi tokoh Indonesia dan buku bahasa asing untuk level terakhir ini, untuk tugasnya, kita diwajibkan nulis review-nya dalam bentuk puisi untuk buku biografi, dan ringkasan minimal 150 kata untuk buku bahasa asing, selain itu, kita juga ditugaskan untuk menuliskan kesan, pesan, dan saran untuk pengembangan RCO di masa depan!” bisa kamu bayangkan, Aya ngomong gitu dalam satu nafas, heuh… untung nggak panjang.

“Wow, keren tuh, biografi ya? Ah, itu kenapa kamu baca buku tentang Buya Hamka ya Ay? Dan bahasa asing? Wuih, kereeennn. Kamu baca apa? Eh, nggak ding, nanti juga ditulis ya?! Untuk tugas lainnya itu, boleh ikut kasih krisan nggak?!”

Masih lanjut aja celotehannya, Please, Miss. Cinta!”

“Okay, jadi, menurut Cinta nih ya, RCO ini udah keren banget sesuai namanya, reading challenge odop. Benar-benar buat challenged, dan lagi, manfaatnya besar banget, buktinya di kamu Ay. Iya sih, kamu emang suka baca, tapi kan rekormu nggak pernah sekeren pas ikutan RCO yang pernah sampai ratusan halaman dalam sehari. Cinta pernah mergokin kamu seharian baca, bahkan sampe sering banget begadang, walau yah, nggak baik sih emang, tapi, beriring masa, kamu mulai bisa me-manage waktu bukan? Nggak lagi suka begadang, sekalipun kamu baca tengah malam, tapi itu karena kamu udah tidur di awal waktu. Dan lagi nih, referensi bacaan kamu juga makin bertambah, pengenalan dengan berbagai genre, sekalipun kamu mungkin nggak suka atau bahkan nggak pernah baca sekalipun, tapi tetap kamu baca, karena tertantang. Bener toh?!”

Bener juga sih, apa yang diomongin nih anak!

“Untuk sarannya nih, iya sih, RCO masa ini udah keren banget. PJ-nya te-o-pe-be-ge-te deh, challenge-nya juga keren bingits, saran dari Cinta sih, supaya makin ketje nih RCO, mungkin bisa gini nih, setiap peserta RCO, para challenger di-sunnahkan menulis review bacaan sesuai passion-nya mereka masing-masing, ini khusus bacaan di luar kewajiban. Kan, pasti ada yang baca lebih dari dua buku yang diwajibkan. Asyikkan tuh pasti, menambah referensi dan setidaknya jadi sedikit tahu genre apa yang paling banyak menjadi bahan bacaan. Bisa jadi penelitian juga tuh, eh?! Hahaha… lanjut ya, saran selanjutnya untuk perkembangan RCO di masa depan. Untuk meringankan beban para PJ, dan agar semua ikut berpartisipasi aktif dan mengurangi jumlah eliminasi, bisa tuh, jelang pergantian level, diberikan masa untuk diskusi untuk challenge selanjutnya, para peserta bisa ikut bermusyawarah menentukan, dan tentu saja, harus menghormati apapun keputusan yang diberikan. Toh, semuanya udah dewasa pasti, jadi InsyaAllah diskusinya akan berjalan alot, dan lagi pasti seru toh, saling mendengarkan apa yang diinginkan. Hihihi… kayaknya itu aja deh sarannya, kalau kebanyakan ntar nggak ketampung, dan makin ngelantur yang ada.”

Kamu tahu?! Setelah bicara begitu, seperti biasa, tuh anak, nyelonong ae pergi. Panggilan langsung diputus, ya ampuuunnn bikin greget deh!

#TugasRCO
#Tugas3Level4
#OneDayOnePost

Minggu, 13 Mei 2018

Cinta Bicara Terorisme


“Hai Ay!”

Hello Cin, are you okay?

I’m not okay! Kamu tahu Ay, Cinta benar-benar tak tahan lagi ingin bicara kasar, selama ini Cinta selalu berusaha untuk tidak menanggapi, cukup membawanya dalam doa tulus sepanjang masa, tapi, tidak kali ini, Cinta tidak bisa! Cinta harus bicara!”

Baru kali ini, Aya melihat betapa seriusnya Cinta, selama ini, gadis itu selalu datang dengan wajah cerianya, atau sesekali mimik sedihnya, namun saat ini, kalian tahu?! Cinta terlihat berbeda, perasaannya yang campur aduk itu, terlihat tajam, rasa marah, kejengkelan, sedih, sungguh tak mampu Aya ukir lebih dalam. Hanya mendengar dan mendengar apa yang ingin dicelotehkannya di masa ini.

“Sebentar lagi Ramadan, bulan yang teramat suci bagi umat Islam akan menghampiri, tapi, lihatlah, hal itu ternoda, amat ternoda dengan segala hal yang terjadi di Indonesia, Negara tercinta ini. Belum usai duka yang ditabur dari peristiwa rusuhnya Mako Brimob, kini rakyat Indonesia harus kembali berduka, amat berduka untuk hal yang telah lama menghantui, bom bunuh diri kembali terjadi, tiga gereja di Surabaya menjadi sasaran, muslim disinyalir ialah tersangka kejadian tak bertanggung jawab ini.”

“Duka Indonesia kembali hadir di tengah umat Islam akan segera merayakan bulan yang suci, pelaku bom bunuh diri yang dinamai teroris itu, yang diklaim sebagai muslim. Sungguh tidak pantas, mereka menyebut diri ialah ‘Muslim’, dan bom bunuh diri sebagai ‘jihad’. Tidak, sangat tidak pantas! Karena Muslim bukan Teroris dan Teroris bukanlah Muslim! Tidak tahukah mereka? Islam ialah agama rahmatan lil alamin, Islam ialah agama yang cinta damai, Islam menjunjung tinggi jihad sebagai jalan perjuangan menuju-Nya, namun jihad yang mereka lakukan, bukanlah jihad yang dimaksudkan dalam kalamullah. Bom bunuh diri yang menewaskan insan tak berdosa, insan yang bukanlah musuh sejati Islam, bukanlah jalan jihad yang sesungguhnya.”

“Baiklah, kata kasar itu harus keluar, siapapun dalang dari semua kejadian tak beradab ini, mereka bukanlah manusia, melainkan iblis berwujud manusia, karena hanya kaum iblislah yang tengah berjuang merusak umat manusia, iblislah yang begitu membenci kedamaian, iblislah yang amat senang bila melihat manusia bertikai. Tapi, harap mereka tahu, bahwa sia-sia apa yang mereka lakukan, umat manusia, masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia, bukanlah boneka kehidupan yang akan mampu mereka bodohi. Jika mereka bisa berpikir cerdas, seharusnya penyesalan tiada akhirlah yang akan tertimpa pada diri mereka, para teroris itu, kenapa? Karena, peristiwa bom bunuh diri, tidak akan mampu memecah belah umat manusia, justru sebaliknya, kerukunan beragama akan semakin menguat, tidak akan runtuh persahabatan antara muslim dan nonmuslim karena perbuatan keji mereka. Tidak akan!”

“Apapun upaya biadab yang mereka lakukan untuk memecah kedamaian, sungguh terkutuklah mereka itu. Tiadalah surga yang mereka impikan akan terhadiahi, tiadalah kehormatan diri akan menghiasi, justru hanya akan ada sumpah serakah untuk segala hal tak bertanggung jawab yang mereka lakukan, hanya ada doa orang teraniaya yang akan menghantarkan mereka pada laknatullah. Naudzubillah, astaghfirullah, semoga kedamaian tetaplah terpancar di hati, para korban mendapat pengampunan dan kasih-Nya, keluarga korban mampu berdamai dengan duka panjang mereka, dan hidayah mampu hadir dalam diri para teroris itu. Aamiin!”


#onedayonepost 
#odoperbicara 
#odoperbicaraterorisme 
#terorisbukanislam 
#islambukanteroris   
#islamrahmatanlilalamin 
#islamagamacintadamai 
#ramadandamai

Kamis, 10 Mei 2018

Puisi Cinta untuk Buya Hamka


Abdul Malik Karim Amrullah, namamu.
Buya Hamka, panggilan akrabmu.
Sosok ulama dan sastrawan pelipur sanubariku.

Buya Hamka,
Membaca kisahmu buat cinta itu semakin tumbuh,
Mengetahui perjuanganmu buat kekaguman semakin membuncah.

Buya Hamka,
Betapa luhur pekertimu,
Indah lisanmu,
Buatku makin meneladanimu.

Buya Hamka,
Ingin rasanya diri ini juga menjadi anak kesebelasmu,
Memanggilmu ayah dan belajar hidup bersamamu.

Sungguh, pantaslah dirimu dapatkan dia,
Siti Raham yang begitu tulus berbagi kasih hingga akhir hayatnya.
Siti Khadijah yang merawatmu penuh cinta.

Buya Hamka,
Tak peduli betapa kejamnya kau disiksa,
Tak peduli betapa kecewanya kau difitnah,
Sungguh elok pribadimu, memperjuangkan segalanya.

Buya Hamka,
Kan kusematkan selalu dakwahmu,
Kan ingat selalu humor inspiratifmu,
Kan kusemai syiar luar biasamu,
Pada Dunia yang takkan pernah melupakanmu.


#TugasRCO
#Tugas1Level4
#OneDayOnePost

Rabu, 09 Mei 2018

Dakwah Tempat Impian Sebuah Pertemuan


Jum'at, 09 Februari 2018.
Hari yang penuh barokah itu,
Menjadi semakin spesial berkat seorang Ibu,
Beliau layaknya Ibu bagiku,
Mempertemukan jiwa rapuh ini dengan seseorang yang buatku tersipu.
Di dalam istana indah Ibu,
Aku dan kau,
Bercakap ringan tentang banyak hal di balik wajah maluku,
Niqab ini amat sungguh membantu,
Menyembunyikan betapa gugupnya aku dengan berpegang pada genggaman Ibu.
Entahlah bagaimana denganmu,
Walau delapan bulan kita bersama arungi waktu,
Dalam komunitas ODOJ yang selalu membuat sendu,
Hari itu, seolah pertama kali bagiku bersua denganmu.

Ahad, 25 Maret 2018.
Hari yang telah lama kunanti itu tiba,
Butuh waktu sebulan lebih bagi jiwa,
Memutuskan akhiri kesendirian raga,
Ibu dan dua kakakku telah bersedia,
Menanti kesiapan diri meminang bidadari surga.
Masih tak bisa kutepis betapa ragu itu melanda,
Bagaimana bisa kau yang cantik jelita lagi muda,
Akan menerima pinangan dari seorang yang biasa,
Niqab itulah jawabannya,
Kenapa aku semakin gulana.
Hingga akhirnya,
Keputusan besar itu tiba,
Kau dengan anggukan manja,
Membuat sanubari tersenyum indah hayatinya.

Ahad, 06 Mei 2018.
Hari bersejarah selanjutnya bagi dua hati yang merindu-Nya,
Lewat dakwah mereka dipertemukan,
Hal yang selalu menjadi impian,
Dalam merajut asa bersama menuju firdaus-Nya.

Notes: The Last Special untuk kakak sepupu ^_^

Selasa, 08 Mei 2018

Dakwah Jalan Jodohku

jalandakwah.info

Indah dunia buatku terpana,
Betapa sungguh kuasanya Engkau Wahai Sang Pencipta,
Beragam makhluk yang kau cipta,
Hanya imanlah pembandingnya.

Masa berlalu kian buatku malu,
Dosa menumpuk kian jadi benalu,
Hanyalah Engkau tempat mengadu,
Mengharap ampunan dan kasih-Mu.

Wahai Rabb, Sang Penggenggam cinta,
Usia ini telah sampailah masa,
Beribu harapan pertanyakan kehidupannya,
Kapankah pelabuhan hati kan jumpa jodohnya.

Dakwah, jalanku lampiaskan asa,
Limpahkan cinta dan anugerah dunia,
Kerinduan menyempurna agama,
Tinggallah doa harapan jiwa.

Jawaban sampailah sudah,
Pertemuan indah layaknya surga,
Janji suci siap ditempah,
Bersama ridho-Mu kami tepatinya.

Notes: Masih berlanjut spesial untuk kakak sepupu ^_^

Senin, 07 Mei 2018

Di Jalan Dakwah Kami Bertemu



Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda dan pemudi harapkan ridho-Nya,
Berjalan penuh cinta dalam tali erat-Nya,
Berjuang menemukan warna indah dunia-Nya,
Berlabuh jiwa raga pada bathiniah-Nya.

Kami, aku dan dia tak henti bermuara dalam cinta-Nya,
Bermodal pasrah disertai proses penyempurnaan jiwa,
Mengharap iba pada kasih-Nya,
Pertemukan jodoh yang mulai pertanyakan keberadaannya.

Segala ilmu telah mengisi,
Proposal telah dibumbuhi,
Penantian siap melabuhi,
Pertemuan indah hiasi.

Akhirnya, di jalan dakwah kami bertemu,
Jalan para syuhada yang telah bercengkerama di taman surga-Nya.
Sungguhlah indah skenario-Nya,
Tautkan dua hati yang sabar menanti indah akhiratnya.

notes : Puisi untuk kakak sepupu yang telah menemukan tambatan hati lewat jalan-Nya ^_^ Don't baper yak ;-)

Jumat, 04 Mei 2018

Resensi Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika


Judul   : Bulan Terbelah di Langit Amerika 
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Tebit : Mei 2014 
Tebal : 344 Halaman 
ISBN : 978-602-03-0545-5 

Sinopsis: 
11 September 2001, Peristiwa tak bertanggung jawab itu terjadi, sebuah burung besi besar menghantam sebuah menara kembar, Gedung World Trade Center (WTC) New York, Amerika Serikat.

Delapan tahun berlalu, diperlihatkan secara bergantian pada sosok Hanum dan Rangga yang sesuai skenario indah-Nya, harus meninggalkan Wina dan bertolak ke New York, Amerika Serikat. Tujuan Negara yang sama namun dengan misi yang berbeda, menimbulkan perseteruan tak berkesudahan bagi keduanya, di lain sisi Rangga yang sebenarnya ingin menikmati liburan bersama Hanum disela kesibukan paper keduanya dengan tema The Power of Giving in Business harus terpaksa kecewa, karena Hanum yang begitu fokus pada penelitian untuk artikel barunya yang cukup mendebarkan berjudul “Would world be better without Islam?".

Pencarian narasumber di mulai, Hanum dan Rangga yang tak henti berselisih faham akhirnya menjejakkan kaki pada area Ground Zero Memorial. Naasnya saat kunjungan itu, demonstrasi penolakan pembangunan masjid di atas tanah bersejarah yang memilukan itu mengalami kerusuhan, Hanum yang tengah mewawancarai pemimpin demo Michael Jones yang kehilangan istrinya Anna, terpaksa mengakhiri dan ikut terjepit dalam kerusuhan yang makin tak terelakkan, menyebabkan Ia tak bisa menghubungi Rangga yang menunggu di luar sana.

Perpisahan tak terelakkan terjadi, walau Rangga begitu mengkhwatirkan istrinya namun, pertemuannya dengan Phillipus Brown dan presentasi paper kedua harus dilakukan. Hanum sendiri memilih berlindung dalam sebuah masjid, hingga dipertemukan pada sosok kurator museum bernama Julia Collins yang tadinya sempat dijumpainya bersama Rangga. Julia ternyata ialah Azima muslim mualaf yang juga merupakan keluarga korban WTC, salah satu narasumber yang diajukan oleh Gertrud Robinson atasannya di tempatnya bekerja sebagai jurnalis, Heute ist Wunderbar, sepanjang perjalanan, Azima membuat Ia tak henti merutuki diri, karena ternyata Ibu satu anak itu lebih  mencintai Islam dibanding dirinya, dari Azima terungkap segala fakta mengenai pengaruh Islam bagi Amerika, dari Azima, hanum belajar sejarah yang selama ini terkubur tentang Islam. Salah satunya penemuan Amerika.

Awalnya penolakan yang diberikan, namun tatkala melihat kegigihan Hanum dan keinginan putrinya Sarah, Azima pun menyetujui menjadi narasumber, dengan syarat Hanum tetap memanggilnya Julia tatkala di depan ibu tercinta yang seorang nasrani dan amat tidak menyukai pilihannya menjadi mualaf. Nyonya Hyacinth Collinsworth, ibunda tercintanya itu mengalami alzheimer, beberapa tahun setelah kepergian sang suami. Karena hal itulah, Azima kini ialah Julia Collins dan melepas hijabnya. Namun, begitu, walau menjadi orang asing karena status muslimnya dan peristiwa hebat yang merenggut nyawa suaminya Abe yang hingga delapan tahun berlalu tak tahu di mana jasadnya. Seorang Azima menyembunyikan keislamannya lewat wig yang dikenakannya, dan hal itu menambah malu Hanum yang saat itu bahkan tak melakukan kewajibannya sebagai muslimah sejati.

Rangga yang kini telah berada di Washington DC, menghadiri konferensi Phillipus Brown, seorang miliarder dermawan yang menjadi alasan utamanya meninggalkan wina dan berada di Amerika Serikat, selain untuk penyelesaian paper keduanya, juga harus menjalankan misi dari Prof. Reinhard yang mengharapkan pemilik perusahaan sukses ini berkenan mengisi kelas Etika Bisnis di kampusnya. Walau masih dengan kegalauan tak terkira, Rangga tetap menghadiri konferensi dan melakukan presentasinya. Ia juga sempat mempertanyakan pertanyaan dari artikel yang akan ditulis hanum pada seorang Sr. Phillipus Brown, “would world be better without Islam?”

Menjelang kepergian Hanum bersama keluarga Azima ke DC, Ia berjumpa kembali dengan Michael Jones, yang ternyata mengidap penyakit gagal ginjal, pembicaraan mendalam tak terelakkan hingga perpisahan kembali terjadi. Setibanya di DC berjumpa kembali dengan Rangga, Hanum yang sudah lelah membiarkan suaminya menggantikan perannya untuk memberikan laporan pada Gertrud. Hingga, hal tak terduga kembali menghampiri Rangga. 

Akhir kisah dan menjawab segala pertanyaan Azima, Michael Jones, dan yang terutama Hanum untuk artikelnya, Phillipus Brownlah orangnya. Seseorang yang sangat menginspirasi ini ternyata dulunya atasan Anna (Istri Michael Jones yang juga sahabat karibnya) dan Abe (Ibrahim Hussein, suami Azima dan ayah Sarah (Amalia Hussein)). Segala pertanyaan yang menusuk hati para keluarga korban 9/11 WTC, disampaikan jawabannya oleh Phillipus Brown dalam sebuah penganugerahan untuk dirinya di CNN TV Heroes yang juga dihadiri Rangga, Hanum, Azima, Sarah, Nyonya Haycinth Collins, dan anak angkat Phillip dan para tamu undangan lainnya. Hingga akhirnya hadiah pernikahan berupa cincin berlian indah dengan ukiran Azima-Ibrahim 11 September 2nd anniversary, yang dititipkan Abe pada bosnya itu, menemui pemiliknya, Azima Hussein.

Kelebihan : 
Novel ini ditulis dari dua sisi penulis, Hanum dan Rangga sebagai POV 1, kisahnya yang kaya dengan pengetahun tentang sejarah Islam, menguak segala tabir yang sempat menjadi pertanyaan dan keraguan, sungguh, takkan menyesal untuk membacanya bahkan berulang kali. Penuh dengan pesan moral bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan beragama. Mengenalkan betapa Islam ialah rahmatan lil alamin, dan betapa Islam sesungguhnya bukanlah teroris yang digemborkan hingga kini.

Kekurangan : 
Terdapat beberapa istilah asing yang bagi orang awam sangat sulit dipahami. Dan memperlihatkan pengaruh besar terhadap perubahan yang terjadi pada Amerika Serikat yang ditalangi oleh sosok Nabi, memanglah membanggakan dan patut disyukuri, namun, membiarkan patung relief para Nabi menjadi tontonan dalam setiap gedung berpengaruh di Amerika bukanlah sikap muslim yang seharusnya dimiliki. 

Mengakhiri resensi ini, bisa saya katakan bahwa bagi kamu yang ingin lebih mengenal bagaimana sosok muslim dalam bersosialisasi, mengetahui lebih mendalam tentang beberapa peristiwa dunia yang terkait erat dengan Islam, serta menjawab keraguan tentang agama mulia ini, maka sangat saya sarankan kamu untuk membaca novel yang luar biasa ini.


#TugasRCO 
#Tugas3Level3 
#OneDayOnePost

Would World Be Better Without Islam? (Bulan Terbelah di Langit Amerika antara Novel dan Film)


Would world be better without Islam? Tema yang diusung dalam Novel National Best Seller yang diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sekuel sebelumnya dari 99 Cahaya di Langit Eropa ini mengangkat peristiwa 11 September 2001 yang lama menjadi momok mengerikan yang mengkreditkan Islam sebagai teroris. Tentu saja, akan ada banyak hal berbeda yang terdapat pada film yang berasal dari novel, tidak dapat dipungkiri, itu jualah yang terjadi pada film Bulan Terbelah di Langit Amerika yang dibuat dua sekuel ini. 


Film yang disutradarai Rizal Mantovani ini, diawali dengan pesta ulang tahun putri kecil bernama Sarah dan Abe sang ayah menghadiahi gadis mungil itu Al-quran, namun di tengah acara Abe yang akhirnya diketahui bernama Ibrahim Hussein menerima telepon mengenai pesawat dan paket yang ada padanya. Peristiwa besar itupun terjadi, sebuah pesawat menabrak gedung termegah di AS di kala Abe juga memiliki pekerjaan yang mengharuskannya mengunjungi menara kembar New York, hingga akhirnya Ia dicurigai sebagai salah satu teroris yang merubuhkan gedung WTC yang merenggut sekitar 3000-an jiwa yang merubah secara keseluruhan kehidupan istrinya Azima atau Julia Collins dan anaknya Sarah Hussein. 

Sejatinya dalam novel yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini, kisah di awali dengan suasana bandara Portland yang memperlihatkan dua sosok pria Arab yang cukup mencurigakan, yang disinyilalir bersama ketiga teman lainnya, berlima mereka membajak pesawat, dan menabrakkannya ke  gedung World Trade Center New York City, AS. Dengan Abe dan rekannya bernama Jo yang setelahnya diketahui ialah Anna menjadi salah satu korban peristiwa bersejarah tersebut. Ibrahim Hussein meninggalkan istri dan sarah yang saat itu masih bayi.

Perbedaan mencolok lainnya ialah sosok tokoh Hanum sendiri, dalam novel dikisahkan bahwa Istri Rangga Almahendra ini masih belum memberanikan dirinya untuk berhijab. Namun dalam film Ia telah mantap dengan pilihannya. Di sekuel sebelumnya 99 Cahaya di Langit Eropa diceritakan Hanum bertemu Fatma Pasha dan anaknya, dari merekalah Ia mendapatkan hidayah, juga pekerjaan, dan tentu saja untuk hijab hanya ada dalam versi filmnya, karena pada kenyataannya dalam novel Hanum tetaplah seorang muslimah yang belum bersiap dengan salah satu kewajibannya itu. Namun, demikian perjuangannya untuk Islam tetaplah mengimaninya, terbukti dalam novel dikisahkan betapa Ia sangat menghindari hal-hal yang menyimpang dari Islam dalam pekerjaan jurnalisnya. Dan hal ini tak dikisahkan dalam film karena di awal pertemuan kita dengan sosok Hanum, penonton dihadiahi pertemuan kilat Hanum dan bosnya, Gertrude dalam penugasan dirinya untuk menulis sebuah artikel berjudul “Apakah Dunia akan lebih baik tanpa Islam?”, dan Sarah Hussein dan Azima atau Julia Collins sebagai narasumber.

Lain halnya dengan Rangga, dan dua sahabat karibnya Khan dan Stefan. Pada Novel Rangga yang mendapat ide untuk paper The Power of Giving-nya berkat Stefan yang memperlihatkan artikel koran tempat Hanum bekerja, Heute ist Wunderbar mengenai Sr. Philipus Brown seorang miliarder New York yang sangat dermawan, dalam film justru Profesor Reinhard yang langsung memintanya untuk menemui Sang Dermawan itu. Jadilah Rangga dan Hanum dengan misi berbeda berangkat dari Wina menuju New York. 

Perbedaan yang paling mencolok lainnya ialah dalam Film justru Stefan yang menjadi rekan Rangga untuk menjalankan misi menemui Sr. Philipus Brown agar bersedia bersamanya ke Wina atas permintaan Prof. Reinhard untuk mengisi kelas Etika Bisnis di kampus.  Dan memunculkan sosok jasmine sebagai kekasih Stefan yang di novel tak tercantum. Karena, memang hanya mereka berdualah, Rangga dan Hanum yang berangkat ke New York City, AS. Selain itu, sosok Ibu Julia Collins, seorang nasrani yang amat tidak menyetujui pernikahan dan pilihan Julia alias Azima menjadi mualaf yaitu nyonya Hyacinth Collinsworth baru dimunculkan dalam film sekuel lanjutan Bulan Terbelah di Langit Amerika 2.


Terlepas dari beragam perbedaan yang sebenarnya hal itu bisa saja terjadi mengingat durasi dan segala keterbatasan pengarapan sebuah film, nilai yang diusung dari keduanya tetaplah menyentuh bagi pembaca juga penontonnya. Hal yang hingga kini masih membekas ialah tatkala menyadari seorang Julia Collins dengan nama Islamnya Azima Hussein tak sepenuhnya membenci Islam karena merenggut suami tercinta dan harus menerima segala kritik pedas mengenai agama pilihannya, di luar Ia terlihat membuka hijabnya, namun ternyata saat pertanyaan itu muncul dari Hanum, terjawablah bahwa sesungguhnya cinta dan imannya masihlah untuk Islam, Ia tak seutuhnya melepas hijabnya, rambut yang terurai itu hanyalah sebuah wig.

Film dan novel walaupun berbeda namun dengan apik begitu mengundang emosi tak terkendali, perjuangan Hanum berburu narasumber, perpisahan Hanum dan Rangga yang menimbulkan keresahan, sosok suami Anna yaitu Michael Jones yang membenci Islam karena menewaskan istrinya, hingga akhirnya Sr. Philipus Brown yang memberikan jawaban dari semua pertanyaan, yang ternyata amat mengenal Anna dan Abe, korban 11 September 2001.

Membaca dan menonton Bulan Terbelah di Langit Amerika dan sekuel keduanya, membuat saya harus mengapresiasi, pantaslah novel ini menyandang gelar sebagai National Best Seller Tahun 2014 yang sebelumnya juga mendapatkan penghargaan sebagai Novel Indonesia Terfavorit versi Anugerah Pembaca Indonesia Tahun 2014. Untuk filmnya sendiri, walau hanya mampu menjadi nominasi di segala kategori dalam perhelatan penghargaan perfilman Indonesian Box Ofiice Movie Awards 2016 dan hanya menambatkan piala untuk Nino Fernandez sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik, sudah cukup menjadi film yang membanggakan dengan nilai keislaman yang indah.

Membaca novelnya, membuat saya pribadi memikirkan banyak hal, betapa kuasanya Islam untuk Amerika, berbagai hal yang musti kita ketahui sebagai muslim, dihadirkan lewat novel ini, juga filmnya. Pesan yang sangat terpatri dan terlukiskan indah dalam novel dan film Bulan Terbelah di Langit Amerika ialah, “Demi matahari dan cahaya siangnya. Demi bulan apabila mengiringinya. Sungguh beruntung orang yang senantiasa menyucikan jiwa. Pancarkan Islam. Tebarkan salam. Sinarkan Kedamaian. Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.  Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai kamu sekalian.” 

Hanya satu yang menjadi kontroversi bagi saya selaku muslim, dianggap sebuah kebanggaan tatkala patung Nabi Muhammad Shallahu Wa Alaihi Wasallam dan dua Nabi lainnya di Mahkamah Agung AS, dan berbagai tempat lainnya, memang di sana disebutkan itu ialah apresiasi mereka untuk Rasulullah sebagai teladan tertinggi tuk sebuah keadilan dalam suatu Negara, namun, tetap saja hal itu sebuah kekeliruan terbesar yang harusnya diprotes keras umat Islam.

#TugasRCO3  
#Tugas2Level3  
#OneDayOnePost

Nb. By the way, tadinya mau sharing sama Cinta, soalnya dia juga nonton, eh, tuh anak masih lelap tidurnya.

Menata Kerinduan pada-Mu ya Rasulullah


“Ay, kamu kenapa? Matamu bengkak dan selaput putih itu berubah merah, kamu habis nangis ya?” kembali suara nyaring Cinta memasuki kamar miniku. Hah, gadis ini selalu saja nyelonong, bikin kaget.

“Hu’um!” entahlah, yang jelas Aya sangat tidak bernafsu untuk bersenda gurau dengannya, I’m so sorry Cin.

“Wuah … ada masalah seriuskah?” kembali gadis penuh kejutan ini bertanya tak lupa memperlihatkan bibir manyunnya yang menggemaskan. Jika saja Aya tak terhipnotis bacaan beberapa hari ini, mungkin Aya akan menimpali ekpresi serius Cinta yang amat lucu itu dengan tawa.

“Cinta ingat, Aya pernah cerita tentang RCO?” tanyaku akhirnya tak tahan juga menjelaskan rasa keingintahuan yang telah tak terbendung itu.

“Ingat dong, kenapa? Apa kali ini, pesertanya diwajibkan membaca buku sedih gituh?!” asli kali ini, Aya sedikit terlepas dari hipnotis yang telah merenggut jiwa itu, memperlihatkan senyum tipis demi menanggapi pertanyaan polos Cinta.

“Hmmm … maybe yes, maybe no!” jawab aya sekenanya.

Mendengar  Aya yang masih enggan berkisah, gadis itu melirik buku di hadapan kami, dua buku tebal dengan genre berbeda, “Ya ampun, mungkinkah kamu membaca dua buku ini? Tidakkah ini buku yang berat? Walau Cinta yakin kamu akan tetap melahapnya dengan nikmat!”

Akhirnya, demi menuntaskan apa yang harus aya selesaikan demi tugas RCO (Reading Challenges Odop) di level ketiga ini, jadilah Aya mengalirkan apa yang seharusnya menjadi jawaban dari pertanyaan Cinta, 

“Iya, kamu benar Cin, dua buku ini sangatlah berat, hampir menguras energi, emosi juga waktu bagi Aya. Seperti yang terlihat, salah satunya ialah buku sejarah, tertulis pada cover-nya, sejarah lengkap kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Kenapa Aya membacanya? Karena salah satu tugas RCO di level ini, membaca buku sejarah dan menuliskannya dengan menjawab beberapa pertanyaan. Pertama, sejarah apa yang diceritakan? Tentu saja, seperti yang telah tampak, buku Ar-Rahiq Al-Makhtum: Sirah Nabawiyah ini menjelaskan secara gamblang sejarah kehidupan Rasulullah, diawali dengan paparan mengenai bangsa Arab dan dinamika kehidupan kehidupan pra-Islam. Mulai dari sejarah pemerintahan, norma hidup, serta gambaran agama, kepercayaan, dan keyakinan yang ada. Hingga akhirnya diperkenalkan pada nasab Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, tentang keluarga dan orangtua, tentang kelahiran Rasulullah, hingga keajabaian yang terjadi pada masa penyusuan di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperlihatkan betapa Rasul terakhir kita ini ialah anak istimewa karena selalu membawa keberkahan. Menjadi yatim piatu di usia amat sangat muda, tinggal dalam pengasuhan kakek, lalu berganti pada paman. Dan di mulailah masa kenabian yang mencekam bathin.”

“Kamu tahu Cinta, di awal, Aya sudah disuguhi peristiwa yang membuat air mata mengalir tanpa bisa dicegah, selain keresahan Rasulullah saat pertama kali menerima wahyu, namun akhirnya damai bersama kasih istri tercinta Khadijah binti Khuwailid, hal yang membuat pilu ialah perjalanan dakwah itu sendiri. Kamu mungkin pernah menonton perihal perjuangan umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang harus rela disiksa demi keyakinan pilihan mereka, namun walau penyiksaan demi penyiksaan terus tertambatkan, tak membuat mereka mengingkari janji pada-Nya. Justru semakin kuat iman itu, semakin jelas surga tergapai bagi mereka. Tinggal bersama paman yang berbeda keyakinan namun juga tak menghalangi membuat Rasulullah sedikit terlindungi, namun semua itu sirna tatkala sang Paman harus kembali menghadap-Nya diringi linangan penyesalan hati Nabi karena tak jua bisa mendengar syahadat dari beliau menjelang ajalnya, dan masa duka semakin terasa tatkala Ummu Khadijah pun harus mencapai akhir hidupnya di dunia.”

“Perjuangan untuk Rasulullah dan umatnya dalam menjalani keyakinan yang langsung turun dari-Nya, berlangsung tak berkesudahan, hijrah ke Madinah menjadi solusi, dan perang demi perang tak terelakkan, kaum Quraisy yang begitu bengis selalu menjadi musuh utama dalam dakwah penyebaran Islam, dan sekali lagi bathin ini harus menangis, tatkala diperlihatkan betapa cintanya para sahabat pada Rasulullah, betapa kuat iman mereka, betapa surge-Nya telah menjadi hadiah yang berharga hingga perjuangan yang melelahkan dan menguras darah hingga kehilangan keluarga bahkan harus saling memusuhi tak menjadi soalan. Hingga … detik-detik terakhir bersama Rasulullah tak terelakkan lagi, dan … menjadi masa berkabung nan berkepanjangan. Di akhir buku indah ini dituturkan kisah singkat mengenai istri-istri nabi serta akhirnya sebagai pelengkap secara ringkas dijelaskan mengenai kesempurnaan fisik dan kemuliaan akhlak Rasulullah yang akan selalu terpatri di hati ini.”

“Kedua, tentang perbandingan dengan buku sejarah lainnya yang mengangkat dengan teori beerbeda. Sungguh, membaca buku ini, sudah cukup bagi aya untuk membaca berbagai referensi mengenai riwayat Rasulullah, Syekh shafiyurrahman al-Mubarakfuri selaku penulis menjabarkan berbagai riwayat di setiap kisah yang dituliskan, tentu saja, aya harus berfikir keras memahami setiap isi riwayat yang tertulis, namun bukankah demikian sejarah yang ada?! Tidak akan cukup satu riwayat saja untuk menuliskan sebuah sejarah apalagi jika itu adalah sejarah mengenai junjungan alam yakni Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.”

“Pernyataan Aya sebelumnya, juga menjadi jawaban dari seberapa pentingnya kita membaca sejarah, sebagaimana telah diketahui bersama, sejarah ialah sangat penting bagi kehidupan dunia, “dengan sejarah kita bisa melihat masa depan” itulah kutipan yang tertulis oleh Agung Pribadi dalam bukunya Gara-Gara Indonesia, yang sebelumnya merupakan buku yang pertama kali aya baca saat mengikuti kelas RCO. Dan untuk mengetahui satu sejarah, kita harus mampu membaca berbagai referensinya, karena masih banyak sejarah-sejarah tersembunyi yang musti kita jelajahi demi pengetahuan sejarah yang lebih baik dan mengarah pada kebenaran hakiki, walau yah, tentu, perlu perjuangan tak kenal lelah, walau tetap saja, kesempurnaan sejarah takkan benar-benar kita dapati, namun sejatinya dapat kita amati dan menjadikan pelajaran untuk kehidupan yang lebih baik. Khususnya sebagai muslim, patutlah kita bersyukur karena untuk mengetahui apa yang terjadi pada alam semesta, Allah telah menceritakannya segalanya lewat firman-Nya dalam kitab suci Al-Quran.”

”Membaca Sirah Nabawiyah ini, membuat jiwa raga iri pada para sahabat, semakin rindu untuk berjumpa dengannya makhluk teladan yang amat dicinta-Nya. Yah, benar, tak seharusnya aya begini lagi, sudah cukup pembahasannya dari tadi, semoga perjuangan dakwah kecil kita bisa tetap terus tertanam dalam sanubari, dan terealisasi atas ridho-Nya. CIn, kamu masih mendengarkan?!”

Tersadar, Aya telah mengoceh panjang kali lebar tanpa mendengar suara cerewet Cinta, dan benar saja, gadis tukang tidur itu, kini pulas bersama mimpi indahnya dan dua buku tebal dalam dekapan eratnya, Ya Allah, apa yang dipikirkan gadis ini? Apa buku itu terlihat seperti guling baginya, eh, tunggu, berarti dari tadi aya bicara sendiri dong?! Aish, gadis ini, selalu saja! Ah, biarlah! 

#TugasRCO3 
#Tugas1Level3 
#OneDayOnePost


Nb: Buku kedua ialah novel yang difilmkan dan mendapat penghargaan.

Rabu, 02 Mei 2018

Para Kekasih Allah


“Hasan?! Akhirnya kamu pulang juga sayang!” seru Mama senang, senyum manis hinggap di bibirnya yang merah.

“Maaf Ma. Hasan hanya ingin berganti pakaian, sekaligus membawa beberapa helai untuk berganti nanti!” tanpa melihat perubahan yang terjadi pada paras Mama, aku berlalu menuju kamar yang terletak di lantai dua.

Selesai berganti dan mengemasi beberapa pakaian dan barang lainnya yang mungkin aku perlukan nantinya, aku langsung bergegas keluar dan bermaksud kembali ke rumah sakit. Tapi, ternyata Mama masih berada di ruang keluarga yang terletak dekat tangga rumahku, Ia duduk di sofa sambil menonton TV.

“Hasan, tunggu! Mama mau bicara!” ternyata beliau menyadari keberadaanku yang akan segera meninggalkan rumah, mama mengalihkan tatapannya padaku, menunjukkan ketegasan dan keseriusannya. Akupun menurut dan duduk di sofa sebelahnya.

“Mama tahu kamu melakukan ini semua, karena dia tidak memiliki keluarga yang dapat merawatnya. Tapi, bukan berarti kamu lupa dengan masa depan kamu sendiri. Ingat Hasan, sebentar lagi kamu akan menjadi orang besar, apa artinya gelar yang kamu dapat jika kamu tidak dapat memanfaatkan itu semua, hanya karena kesibukan yang sia-sia ini. Mama…”

“Maaf  Ma, tapi...”

“Mama belum selesai bicara Hasan. Heh … entah apa yang diperbuat gadis itu hingga kamu berubah seperti ini, kamu…”

“Ma, sekali lagi Hasan mohon maaf, tapi Hasan mohon Ma, tolong singkirkan prasangka buruk mama tentang Sandra. Ini semua tidak ada kaitan apapun dengan dia. Tenang saja Ma, Hasan tidak hanya akan menjadi orang besar di kota ini, tapi juga di negara ini. Insya Allah Ma, Hasan akan berjuang keras menjadi orang yang mama inginkan. Hasan sudah membuktikan pada mama, walaupun Hasan tidak berada di rumah melainkan di rumah sakit menemani Sandra, tapi Hasan tidak pernah lalai dengan kuliah Hasan. Bahkan sembari menemani Sandra, Hasan menyelesaikan skripsi Hasan, hingga Hasan akan mendapatkan hasil dari semuanya”

“Dan sekarang Mama bilang kesibukan Hasan ini sia-sia?! Mama salah besar! Justru melihat kondisi Sandra yang tak kunjung membaik, memotivasi Hasan untuk menyelesaikannya. Hasan mohon maaf Ma, atas semua kelancangan Hasan. Assalamu’alaikum!” aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Akhirnya aku meninggalkan Mama yang entahlah apa yang terjadi padanya setelah ucapanku itu. ‘Ya Allah, astaghfirullahal’azim! Maafkan hamba Robbi, berikanlah hidayah-Mu pada mama hamba, mudah-mudahan ini semua akan segera berakhir. Aamiin!’

***
Sumber Gambar : google.com

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, yang ada dipikiranku hanya Sandra.

“Eh, tunggu! Berhenti Lo!” seru salah satu preman yang berbadan besar bak Aderai. Para preman yang terdiri dari lima orang itu menghampiri gadis cantik yang melewati mereka.

“Ada apa yah? Emang nih jalan kenapa? Lagi ada perbaikan?” tanya gadis yang kini telah dikepung oleh preman-preman itu yang tak lain adalah Sandra dengan mimik tenangnya.

“Alah .... banyak bacot Lo! Serahin semua barang yang Lo punya ma kita, Cepetan!” kali ini preman yang badannya dipenuhi tato bersuara.

“Emangnya barang-barang gue buat apaan?” tanya Sandra lagi, tetap dengan mimik wajah yang tenang.

“Yah, buat beli makanan ama rokok! Banyak tanya banget sih Lo! UDAH SERAHIN! Sebelum kita berbuat kasar!” jawab preman bermata besar, tampak kemarahan yang sangat di wajahnya, tapi, hal itu tidak membuat Sandra takut.

“Ooo … buat makan ama rokok. Trus kalo udah habis, kalian bakalan ngerampas lagi?! Kasian banget sih! Cuma buat begitu aja, kalian harus ngelakuin hal yang membuat kalian dibenci ama orang-orang. Enggak takut makanannya nggak berkah?” sahut Sandra prihatin.

“Iiihhh … Sial banget sih Lo jadi cewek!” hampir saja tas Sandra mau dirampas sama preman bermata besar, tapi keburu dicegah sama preman yang bawaannya tenang dari tadi, beda sama teman-temannya yang lain.

“Apaan sih Lo? Ngapain juga Lo belain cewek yang jelas-jelas mainin kita?!” seru preman bermata besar itu kesal dan dianggukkan sama yang lain.

Tanpa menghiraukan teman-temannya yang kesal, preman yang bawaannya tenang itu, berkata pada Sandra

“Sorry, Lo bener. Kita mang ngelakuin hal yang salah, tapi mau gimana lagi? Siapa sih yang mau nerima kita? Tampang amburadul, nggak cocok jadi artis. Kerja? Ijazah aja nggak punya, gimana mau punya sekolah aja kagak. Jadi, wajar dong kalo kita ngelakuin hal ini! Mau jadi pengamen? Udah kebanyakan, lagian mau mangkal di mana? Kasian kan pengamen lain yang areanya kita ambil. Mau jadi pedagang? Sama! Udah banyak, lagian kita ogah digusur-gusur. Mana nggak ada modal buat dagang. Jadi…”

“Eh Tong! Kenape Luh malah curhat? Ember Luh! Preman lembek!” potong preman yang bertubuh kecil yang dari tadi diam, akhirnya buka suara, tidak tahan mendengar pengakuan temannya yang menurutnya terlalu itu.

“Okay! Gue punya solusi buat kalian! Gue bakalan ngasih kalian kerjaan, asalkan kalian emang bener-bener udah kapok jadi preman!” tawar Sandra, haru juga mendengar penjelasan panjang lebar si Preman Tenang itu.

“Alah … Udah! Kita nggak butuh kerjaan, yang kita butuh makanan dan rokok!” preman bermata besar itu merampas tas Sandra.

“Eits … Tunggu! Tenang aja gue bakalan ngasih kalian duit kok, kasian banget sih!” akhirnya Sandra mengambil beberapa helai uang seratus ribu dari tasnya dan memberikannya pada preman bermata besar itu.

“HAH … SATU JUTA! SERIUS LO!” seru mereka kompak.

“Yah serius lah, daripada kalian ngerampas mulu, dibenci ama orang-orang?! Mending tuh duit gue kasih, lagian kalian kan lebih butuh daripada gue!” jawab Sandra.

“Terima kasih! Terima kasih banyak ya!” mereka serempak berlutut di depan Sandra.

“Eh, eh, eh, apaan nih! Aduh, kalian enggak perlu ngelakuin ini, mending kalian sujud syukur, makasih sama Allah, karena Allah masih sayang sama kalian, buktinya Allah ngasih rezeki buat kalian melalui gue!” tanpa ba-bi-bu lagi, mereka langsung bersujud di jalan dan menguraikan air mata syukurnya dan meratapi kesalahan yang selama ini mereka perbuat.

“Alhamdulillah! Jadi, gimana? Masih enggak butuh kerjaan?” tanya Sandra, setelah melihat mereka sudah tenang kembali.

“Sekali lagi, kami mohon maaf dan makasih untuk semuanya!” tak ada lagi sikap kasar, wajah menyeramkan. Berganti dengan mata yang masih merah akibat tangisan mereka, wajah sesal bercampur haru, meliputi paras mereka.

“Aduh! Ya udah deh, kalian ikut gue, ayo!” ajak Sandra. Dengan wajah cerah sekaligus bingung, mereka pun mengikuti langkah Sandra menuju rumahnya.

“Hah … Ini rumah Lo???” tanya mereka kanget melihat rumah yang lebih indah dan luas dari istana presiden.

“Iya. Udah ah, yuk masuk!”  ajak Sandra kepada para preman yang masih memasang wajah tak percayanya.

Mereka pun masuk dan lagi-lagi mereka hanya bisa membelalakkan mata dan tak lupa juga dengan mulut yang terbuka lebar.

“Wow … rumah yang luas dan rapi. Amazing!” seru mereka kompak.

“Ternyata walau preman, bahasa inggris kalian boleh juga!” tawa Sandra, menyadarkan ketakjuban mereka.

“Aneh banget, Lo nggak terlihat seperti anak orang kaya, penampilan Lo sederhana, bawaan Lo juga, nyantai abis!” sahut yang bertubuh kecil, disertai anggukan oleh yang lain.

“Kalau gini sih, gue baru percaya kalau Lo bisa ngasih kita kerjaan!” seru yang bermata besar. Mendengar ocehan-ocehan mereka, Sandra hanya menanggapinya dengan senyum.

“Eh, sorry nih, mereka emang gitu. Kalau bicara nggak mikir-mikir dulu! Sorry ya, nggak bermaksud kok!” mendengar gaya bicara si Tubuh Besar bak Aderai itu, teman-temannya tertawa.

“Eh, Bung! Sejak kapan Luh jadi alim gini?”

“Hehe … Sejak … Sejak hari ini kali?!”  spontan, mendengar jawaban si Tubuh Besar, Sandra dan yang lainnya tertawa, dia pun ikut tertawa walau tahu yang ditertawai adalah dirinya.

Sandra! Sandra! Dengan mengingat kehidupan lo waktu masih sehat, membuat gue jadi senyum-senyum sendiri. lo gadis unik, lo punya cara tersendiri untuk menolong orang yang emang membutuhkan. Karena lo, manusia yang tadinya bengal, dibenci banyak orang, kini menjadi pekerja keras, disanjung banyak orang, mereka sukses dengan pekerjaan yang lo berikan. Lo enggak cuma memberikan uang, tapi juga pekerjaan, keterampilan untuk masa depan yang lebih cerah. Andai aja, semua manusia di dunia ini kayak lo, enggak kan ada lagi kemiskinan, kesengsaraan, semua sama derajatnya, walau berbeda pekerjaan dan pangkat.

***
Assalamu’alaikum!” salamku pada anak-anak pengamen yang sedang berkumpul.

Wa’alaikumsalam! Kak Hasan?” jawab mereka kompak.

“Kak, kita kangen nih sama kak Sandra! Kak Sandra masih di rumah sakit ya?” tanya Santi, pengamen cilik dengan wajah lelahnya.

“Iya cantik, makanya kakak ke sini, mau ngajak kalian ngejenguk kak Sandra! Kalian…”

“Kita mau kak, nggak apa-apa deh, kita nggak ngamen. Ayo!” sahut Santi lagi, memotong ucapanku.

“Iya kak. Ayo! Ayo!” seru yang lainnya.

“Iya. Iya. Masuk gih ke mobil! Semangat banget sih?!” jawabku akhirnya

Aku benar-benar terharu sekali, mereka adalah anak-anak yang sudah dianggap keluarga bagiku dan Sandra. Kami selalu mengisi hari-hari kami dengan belajar apapun di rumah Sandra. Bahkan Sandra pun telah mengetahui bakat dari masing-masing mereka. Sandra telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan masa depan mereka kelak.

Aku senang dapat mendampinginya menjalankan semua kegiatan sosial, terkadang aku malu tak bisa berbuat banyak seperti yang dilakukan Sandra. Dia bisa dengan ikhlas melakukan apapun untuk orang-orang yang memang sangat memerlukan bantuan. Telah banyak masyarakat miskin yang terbantu dan sukses akibat pertolongannya.

Semua harta peninggalan keluarganya, dipergunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari membangun tempat-tempat yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki, hingga rumah-rumah layak huni yang diberikan cuma-cuma olehnya pada mereka yang tak memiliki tempat tinggal. Hartanya tidak pernah habis, karena memang selalu dimanfaatkan untuk beramal.

Dan satu hal yang membuat diri ini semakin kagum padanya adalah sebutan dirinya untuk orang-orang yang membutuhkan itu yaitu “Para Kekasih Allah”.

“Kenapa ya kak, kok kak Sandra bisa sakit gitu, padahal kan selama ini dia nggak pernah ngeluh sakit? Bahkan kalau dilihat kak Sandra tuh ceriaaa banget! Selalu bikin kita-kita senang!” tanya Dio, memecah keheningan dalam mobil.

“Kakak enggak tahu ganteng, tapi mungkin ini hadiah dari Allah, karena selama ini kak Sandra tuh selalu sibuk, kalau istirahat pun hanya sebentar, makanya kak Sandra tuh disuruh istirahat sama Allah. So, kita berdoa aja, mudah-mudahan kak Sandra sembuh dan bisa kembali mengisi hari-hari kita dengan keceriaannya. Setuju?!”

Mereka mengangguk dan perjalanan kembali hening dengan pikiran masing-masing. Aku yakin mereka sedang berdoa untuk kesembuhan Sandra.

Ya Allah, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Mu, ambillah penyakit Sandra. Rabb, kuatkanlah iman kami, tuntunlah hati kami agar selalu ingat pada-Mu. Aamiin!

***
Assalamu’alaikum!” salam kami saat memasuki kamar di mana Sandra dirawat.

Wa’alaikumsalam warahmatullah!” jawab suara dari dalam.

“Sandra? Alhamdulillah! Lo udah siuman!” betapa senangnya kami melihat Sandra yang telah lama koma, kini sadar.

“Ciuman? Hehe… Iya! Tau aja Lo, gue baru nyium bantal, tapi emang dasar rumah sakit, yang kecium bau obatnya. Kagak nahan deh!” seloroh Sandra

“Hehe… kak Sandra aneh banget. Padahal kan lagi sakit, tapi masih juga bisa bercanda!” Cindi berseru dengan senangnya.

“Yee…. Siapa juga yang sakit?! Wong, kak Sandra cuma numpang tidur, ternyata enggak enak ya, terlalu bersih. Udah gitu, bau obatnya enggak ketulungan, tajam banget!” canda Sandra lagi.

“Seneng deh kak Sandra udah kembali ceria! sahut Putri.

“Alhamdulillah! Oh ya, lupa. Ada yang bisa nolongin kak Sandra enggak?” tanya Sandra.

“Aku! Aku! Aku!” sahut para pengamen cilik itu dengan semangatnya.

“Iya, iya, ya udah, Santi, kakak minta tolong kamu selesain lukisan yang kakak buat ya, udah enggak sanggup lagi nih ngelukis! Dio sama Bagas tolong selesain gitar-gitar kecil yang kak rangkai, karena pada belum jadi semua, dan terakhir Cindi dan Putri kakak minta  tolong, kalian selesaikan boneka-boneka yang masih belum utuh itu, kasian tuh ada yang belum dikasih kepala, tangan, kaki, semuanya deh, alias belum ada sama sekali. Enggak apa-apa ya, sekali-sekali rumah sakit jadi tempat untuk menghasilkan karya-karya seni yang dahsyat dari tangan-tangan terampil hasil ciptaan Sang Maha ini! Lagian nih kamar lumayan gede! Tapi, jangan lupa, sampahnya dikumpulin trus dibuang ketempat sampah deh, trus bersih deh, trus selesai deh, trus udah deh! Trus…”

“Hihi… kak Sandra bisa aja. Okay! Kita bakalan ngelakuin apa yang kak Sandra minta! Semua ... siap! “ seru Bagas mengkomando teman-temannya, dan mereka pun mulai dengan tugasnya masing-masing.

Bro! Udah berapa lama nih gue enggak salat, udah banyak dosa gue, sekarang mumpung ada kesempatan gue pengen salat dhuha. Gue salat dulu ya!” Akupun melakukan hal yang sama dengan Sandra, salat dhuha, bedanya Sandra melakukannya dalam keadaan berbaring, sedangkan aku tegak berdiri.

Selesai salat, aku melihat adik-adik kecilku telah menyelesaikan tugasnya, bahkan mbok Nah, pembantu Sandra sudah berkumpul bersama kami.

Assalamu’alaikum, Den, maaf tadi mbok disuruh pulang sama neng Sandra, bau’ katanya. Hehe... Neng Sandra memang bisa saja!”

Wa’alaikumsalam warohmatullah, enggak apa-apa mbok!”

“Kak, tugas kita dah selesai nih, kak Sandra kok tidur ya?” tanya Cindi padaku.

“Tadi sih katanya mau salat, mungkin saking khusyuk-nya, jadi lama!” jawabku

“Wah, lukisan Santi bagus sekali!” seruku melihat lukisan yang berada di dekatnya.

“Yang bagus itu lukisannya kak Sandra, Santi hanya melukis bidadari yang berada di tengahnya ini!” jawabnya menunjuk lukisan bidadari cantik yang di sekelilingnya terdapat anak-anak cacat, orangtua-orangtua renta, para pengamen, pedagang dan preman.

“Kenapa Santi melukis bidadari cantik di tengah orang-orang itu?” tanyaku lagi.

“Kakak lihat, walaupun mereka cacat, sengsara, terlihat seram, tapi di bibir mereka memperlihatkan senyum yang tenang membawa kedamaian. Dan hal itu terlukis karena ada bidadari cantik di tengah-tengah mereka, yang menyejukkan hati mereka!” terang Santi.

“Yah, kamu benar sayang, enggak salah kak Sandra memilih kamu buat nyelesain lukisannya! Dio sama Bagas gitarnya mana?” tanyaku pada dua anak lelaki yang terlihat tenang sekali.

“Tadinya kami pikir kak Sandra membohongi kami, karena kami tidak melihat gitar-gitar kecil, tapi melihat bahan-bahan yang ada, terlintas dalam pikiran kami untuk membuat sebuah masjid. Tak disangka, masjid itu seperti sungguhan, sangat indah!” Dio memperlihatkan masjid yang memang terlihat nyata, seperti ingin rasanya masuk dan beribadah pada-Nya di dalam sana.

“Tapi, kenapa kak Sandra bilang gitar-gitar kecil ya?” tanyaku tak mengerti.

“Gitar-gitar kecil yang kak Sandra maksudkan adalah bahan-bahan yang dirangkainya sendiri, kaligrafi-kaligrafi kecil, mikrofon yang mungil, dan bahan-bahan lainnya. Gitar jika dipetik oleh ahlinya akan menimbulkan suara yang indah, begitupun bahan-bahan yang dirangkai oleh kak Sandra, bila disatukan akan menjadi sesuatu yang indah, Bagas yakin kak Hasan pasti ingin sekali masuk dan berzikir serta bershalawat di dalamnya, hingga menyejukkan hati bagi yang mendengarkan. Iya kan?” aku hanya bisa mengangguk.  

“Allahu Akbar! Kalian hebat! Hebat sekali! Lalu Cindi dan Putri bonekanya mana?”

“Ini!” serentak mereka berdua memperlihatkan hasil karya mereka.

“Loh, kakak kira boneka-boneka kecil yang biasa dijual di toko-toko boneka?!”

“Iya kak, kita juga berpikir begitu. Tapi ternyata boneka yang dimaksud adalah sepasang boneka yang persis seperti manusia, yang satu pria, yang satunya wanita. Tapi, mereka berada dalam keadaan tidak berbusana. Putri menyelesaikan yang pria, Cindi yang wanitanya. Melihat semuanya udah ada, kita langsung mengambil dan  memasangkannya, tapi saat mau dipasang mereka seperti nolak gitu, kayak waktu dipakein baju koko, baru turun dari lehernya, eh, langsung loncat. Jelas aja Putri kaget, karena penasaran, putri amati boneka manusia itu lekat-lekat, trus Putri ngelihat ada sesuatu yang bisa ngebuka bagian badannya. Putri baru tau kenapa itu semua terjadi, ada per dan beberapa alat lain yang menyebabkan boneka itu tidak bisa dipasangkan pakaian yang utuh! Akhirnya setelah Putri keluarkan isi yang ada dari kepala sampai kaki, baru deh dia bisa dipasangkan baju koko dan sarung serta pecinya!”

“Iya, Cindi juga kayak gitu, udah dikeluarin semua baru deh Cindi pakein baju gamis dan celana panjang serta jilbabnya, tak lupa kaos kakinya juga. Dari sini, kami mengambil kesimpulan bahwa, untuk berubah menjadi manusia yang beriman, kita harus berjuang melawan pengaruh-pengaruh buruk yang ada di sekitar dan bertekad dalam hati bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, dan akhiratlah tujuan dari kehidupan kita. Makanya hati dan tubuh itu harus dibaluti dengan sesuatu yang sesuai dengan syariat Islam!”

Subhanallah! Allahu Akbar!” aku tak bisa berkata apa-apa lagi, begitupun mbok Nah, dari bibir kami mengalir puji-pujian untuk Allah, yang telah menumbuhkan iman di hati kami.

“Kak, kok alat itu cuma ada garis-gris lurus yang bergerak tenang ya? Kan tadi ada gelombang-gelombang gitu?” tanya Dio.

Refleks aku melihat ke arah yang dimaksud  Dio, alat pengukur detak jantung, lalu menghampiri Sandra yang masih berada dalam keadaan salat. Tapi, dia tidak sedang salat, karena tak ada gerakan apapun yang dilakukannya, yah, Sandra sudah tidak bernafas lagi, detak jantungnya telah berhenti, dia telah kembali kepangkuan-Nya, “Innalillahiwainnailaihirojiun!” seruku, menyebabkan kamar itu berisik oleh isak tangis mereka yang ada didalam.

Bagas, Dio, Cindi, Putri, Santi, dan Mbok Nah, tak terkecuali aku, hanya  air mata yang keluar. Tak hanya air mata kesedihan, karena bidadari kami telah kembali pada-Nya, tapi juga air mata bahagia karena Ia kembali dalam keadaan husnul khotimah. Subhanallah! Allahu Akbar! Alhamdulillah!

“Kak!” dengan mata yang masih merah oleh tangis, Santi menghampiriku.

“Ada apa cantik?” aku heran melihat dia membawa lukisannya.

“Kakak lihat di atas lukisan ini ada yang mengembung, seperti kertas yang ditempelkan di sana!”

Aku mengambil lukisan itu, lalu memperhatikan sesuatu yang ganjil di sana, akupun meraba dan mencari celah agar bisa membukanya,

Subhanallah!” sekali lagi aku hanya bisa bertahmid pada-Nya, kertas yang ditempelkan itu menutup kalimat “Para Kekasih Allah”.

Hampir saja ingin kumasukkan ke dalam tong sampah, tapi melihat ada goresan-goresan tangan di kertas itu, aku membuka dan mulai membacanya,

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Kepada keluargaku,
Para kekasih Allah, mbok Nah, pakde dan mas Jo, serta bro Hasan.
Tanpa kalian, hidupku tiada arti, kuucap syukur alhamdulillah, karena cinta Allah yang begitu besar pada kita hamba-Nya. Kuucap istighfar astaghfirullahal’azim atas segala kekhilafan, kelalaian, dan perbuatan dosa.
Bro Hasan, terima kasih untuk semua kebaikanmu, kutitipkan semua titipan Allah yang ada padaku, para kekasih Allah, harta dan perusahaan. Sampaikan maafku untuk orangtuamu.
Mbok, pakde, dan mas Jo, terima kasih sandra ucapkan atas semua kesabaran dan kebaikan kalian. Kuserahkan rumah dan segala isinya pada kalian keluargaku tercinta.
Adik-adikku serta para kekasih Allah, janganlah pernah mengeluh, teruslah berjuang untuk menggapai ridho-Nya.
Ku berdoa pada Allah, semoga semua hamba-Nya mendapat hidayah dan semoga kita semua kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin ya robbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

                                                                                         Yang Tercinta,                                                                                                   Alexandra Keyzia.



#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5