Rabu, 31 Januari 2018

Jangan Sakit, Berat! Kamu Enggak Akan Kuat, Aku Juga!

Sakit itu enggak enak banget, enggak bisa apa-apa. Mata berat, kepala pusing, bawaannya lemeeesss aja. Butuh sesuatu? harus minta tolong dulu! Mau jalan? mesti dipegangin! Intinya, sakit itu amat menyiksa dan wajib-kudu-fardhu' 'ain dijauhin. Walau, sebenarnya juga kalau memang sudah nasibnya sakit, ya, sakit ya!

Jadi ingat zaman sekolah, ada teman sekelas yang nyangka Aku itu botak, loh kok bisa? Iya, karena dalam sebulan ada saja absen sakitnya, jadi jilbab yang Aku pakai dikira buat nutupin kebotakan. Miris banget ya. Cuma bisa ketawa aja kalau ingat hal itu, padahal sakitnya enggak parah banget kok.


Trus, kalo enggak parah kenapa suka absen? Yah, itu karena kebetulan Aku punya sistem imun atau daya tahan tubuh yang lemah, karenanya enggak bisa terlalu lelah, juga paling cepat terjangkit virus. Jadi, kalau kamu sakit jangan dekat-dekat ya. Please banget!

Tapi, sebenarnya, sakit itu juga merupakan hadiah ya? Karena dengan begitu kita jadi ingat buat istirahat, untung-untung ngurangin dosa, Aku suka melayang-layang pikirannya entah kemana kalau udah dikasih sakit, jangan ditiru, bahaya!

Yah, dengan sakit, seenggaknya kita jadi bisa muhasabah diri, lebih mengingat kematian yang kapanpun akan bertamu, dan enggak terlalu terpaku dengan kehidupan dunia yang cuma perantara ini.

#onedayonepost
 #odopbatch5

Detak Nadiku

Ibu,
Peri cinta dari langit biru,
Bidadari kehidupan di setiap rindu,
Malaikat hati yang menyentuh kalbu.

Ayah,
Nahkoda cinta di hati yang merekah,
Pilot kehidupan di setiap resah,
Malaikat jiwa yang mempesona indah.

Kakak,
Raja kehidupan yang menjadi tuntunan kelak,
Adam cinta yang tak dapat mengelak,
Pribadi sempurna yang telah menggapai Tuhannya bijak.

Adik,
Jiwa cilik yang memanja telak,
Titik cinta yang memuncak,
Kerikil kehidupan yang kurangkai kelak.    
             
-nurhidayatunnisa-

#onedayonepost
#odopbatch5

Senin, 29 Januari 2018

Dirimu Tidaklah Sendiri


Untukmu, yang tengah dirundung kepiluan hati, kepedihan tiada tara, kesakitan yang teramat sangat, hingga terpikir untuk mengakhiri hidup ini. Kami mohon padamu, jangan lakukan! Jangan pernah! Percayalah, kami di sini, kan selalu bersamamu, mendampingimu menghadapi kejamnya dunia, memperlihatkan indahnya surga dunia yang belum sempat kau cicipi.

Sungguh, hilangkanlah pikiran negatif itu, bila engkau adalah korban kejahatan biadab, korban pelecehan, bullying, broken home, atau bahkan sosok yang harus dihadapkan dengan penyakit mental akibat perlakuan tak menyenangkan di masa lalu dan kini. Percayalah, DIA kan membantumu mengatasi semuanya, kami akan selalu bersamamu hadirkan kembali senyum indah nan menawan darimu.

Tunjukkan pada mereka yang berbuat hina padamu, bahwa engkau takkan menyerah, bahwa engkau takkan goyah, tolong tunjukkan pada mereka semua, biarpun mereka telah merusakmu dulu, namun kini engkau bisa hadapinya, engkau bisa kembali tersenyum dan mencerahkan dunia. Tunjukkanlah.

Jangan biarkan mereka merasa menang, jangan biarkan mereka merajalela, berbuat kejahatan yang tak pantas, biarkan mereka melihat bahwa engkau bersama-Nya dan hidup ini hanyalah persinggahan yang kan membawamu ke Firdaus-Nya. Yakinkanlah.

Bila peristiwa tak senonoh itu, penyakit yang tak terhenti itu hadir dalam anganmu, tepislah segera, ingatlah orang-orang yang menyayangimu, bersenda guraulah dengan mereka, haturkan segala resahmu pada insan tercinta, jalanilah hidup dengan hal positif yang kan menjernihkan pikiran dan hatimu.

Percayalah, engkau tidak sendiri. Kami tidak akan membiarkan kepahitan hidup membelenggumu, sungguh. Tersenyumlah kembali agar dunia ini kembalikan indahmu.

#onedayonepost
#odopbatch5

Minggu, 28 Januari 2018

Manusia Zaman Now

Gak asyiknya jadi penulis itu, saat kita update status yang terkesan sedih gitu, dikira lagi galau, update status yang menggembirakan, disangka lagi happy, Aamiin. Padahal, tuh status buat bahan tulisan, tapi emang dasarnya manusia, walau udah dibilang gitu, tetap aja gak percaya.

Hah... peduli amatlah, si amat aja gak peduli. Ada yang namanya amat? Jadi, yah, terserah ajalah orang mau ngomong apa. Oh iya, sebenarnya sih... 

"Ayaaa... Sibukkah?"

"Nggak perlu teriak gitu Cinta! Kenapa? Tumben nanya?"

"Eh, gak ada sih, pengen ngobrol aja."

Hmmm... yakin ngobrol doang?


"Jadi, gini ceritanya..." Lah kok...

"Cinta tuh miris banget ngeliat manusia zaman now, mereka tuh ya..."

Wuah, keren tuh bahasa, gak biasanya bahas yang berat-berat begini?

"Latah banget! Apa-apa dijadiin status, sesuatu yang viral ditiru, latah banget gak tuh? Iya sih, Cinta akuin, manusia Indonesia tuh pada kreatif, dan lagi kalau gak ada yang update hal yang sama, gak viral ya? Tapi, kan gak gitu juga kali. Contohnya aja nih, Dilan tuh! Ngomong-ngomong, kemarin Fahri sekarang Dilan, besok apa lagi coba?"

Nih, anak ngomong apa sih?


"Belum lagi video curhat yang gak jelas juntrungannya, buat apa coba cari-cari perhatian dengan begituan? Haus banget pengen terkenal. Belum lagi para manusia latah itu? Iya sih, Cinta tau, justru yang lagi viral di dunia maya ini tuh, malah jadi ladang dakwah, banyak yang memanfaatkannya untuk jadi tema menebar kebaikan, tapi, tetep aja ngeselin."

Hmmm... Dalem nih bahasan!

"Kalau emang pengen terkenal, pengen ada kerjaannya gitu, biar gak bosan! Ya udah, ikut aja komunitas sosial yang bisa buat diri kita tuh, lebih manfaat gitu buat orang lain. Atau gatel pengen update status terus setiap hari? Ya, dilihat aja sekeliling kita, apa kira-kira yang bisa kita share-in, buat bantu orang-orang di sekitar kita. Gimana bener gak? Gitu aja kok repot?"

Udah? Gitu aja? Gak pamit gitu? Lagian bukannya tadi katanya mau ngobrol ya? Ini mah apaan coba? Dia aja yang ngomong panjang kali lebar dari tadi, selesai ngomong kabur, seenggaknya salam gitu? Eh, tapi emang sih tadi di awal gak salam juga ya? Ah... molla...

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Jumat, 26 Januari 2018

Tangisan Langit

Di siang yang senja,
Langit menangis dengan derasnya,
Bumi pun kena imbasnya.
                                    
Seonggok rumah yang ramai,
Ramai oleh tangisan langit,
Ramai oleh tangan yang tak henti berlari,
Ramai oleh timba yang seakan ingin menjerit,
Berlomba bersama aliran tangis yang makin menguasai.

Tangan dan timba beriringan,
Bersatu menghapus tangisan langit,
Yang melahap seonggok rumah tanpa belas kasih.

Langit tak lagi menangis,
Namun bumi masih basah,
Seonggok rumah pun masih terlahap,
Tangan dan timba masih mengais.

Hingga siang pun berubah senja,
Bumi kembali mengering,
Rumah tak lagi dilahap,
Tangan dan timba pun gembira.

Gembira tuk waktu yang  tak jelas,
Hingga langit kembali melahap deras,
Dan seonggok rumah pun habis terbawa arus,
Tangan dan timba pun tak kuasa menghapus.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Kamis, 25 Januari 2018

MANUSIA

Engkau lemah tapi sok berkuasa,
Engkau mudah lelah tapi sok kuat,
Engkau selalu khilaf tapi tak menyadari,
Engkau tahu tapi tak melaksanakan,
Engkau tak tahu tapi tak peduli.

Manusia
Perilakumu tak bisa digambarkan,
Hatimu terkadang tak satu rasa,
Gerakannmu selalu tak menentu,
Pikiranmu sesuai dengan apa yang engkau dengar,
Matamu tak bisa diam,
Wajahmu tak terbaca.

Manusia
Engkau tahu kehidupan dunia ini hanyalah sementara,
Engkau tahu kehidupan akhiratlah keabadian yang akan dituju,
Engkau tahu segala gerak-gerikmu ada yang mengawasi,

Tapi, Manusia
Engkau tetap saja lebih cinta dunia dari pada akhirat,
Engkau tak peduli dengan kekekalan akhirat,
Engkau merasa bahwa dirimu dapat berbuat apa saja sesukamu,
Tanpa peduli pada pengawasan-Nya.

Wahai manusia
Engkau sibuk dengan duniamu,
Dan lupa bahwa engkau kan meninggalkannya,            
Dan bahwa engkau akan hidup kekal di akhirat.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Rabu, 24 Januari 2018

Hening

Sumber Gambar : Pencarian Google

Ada apa hati,
Kenapa engkau begitu sunyi kini,
Adakah yang terlewatkan olehmu,
Hingga kau begitu layu.

Ada apa cinta,
Kenapa engkau begitu gundahnya,
Adakah yang menyakitimu,
Hingga kau begitu sendu.

Raga dan jiwa ini tak berpadu,
Silih berganti membuat duka,
Mengapa begitu,
Tidakkah ingin kembali ceria.

Kau tahu hati,
Cinta ikut layu bersamamu kini,
Raga dan jiwa pun larut dalam sunyi,
Dunia menjadi sepi.

Kini, pagi tak secerah mentari,
Siang tak sekilau matahari,
Malam tak sesejuk embun,
Dunia mulai tertekan.

Cinta tak lagi bersuka cita,
Kini hanya ada kesunyian,
Hanya ada duka yang membara,
Membuat hidup sirna dari bahagia.

Mengapa,
Mengapa harus begini,
Mengapa harus begini,
Mengapa,

Rindu begitu menyayat di jiwa,
Tapi, tiada guna,
Cinta begitu gulana,
Meratapi hidupnya,

Ada apa,
Apa yang terjadi,
Mengapa hati dan cinta begitu terluka,
Mengapa raga dan jiwa diam menepi.

#Onedayonepost
#Odopbatch5

Selasa, 23 Januari 2018

Si Ambivert Sang Penuh Tanda Tanya

Sumber Gambar : Pencarian Google

Kali ini lupakan tentang Cinta sejenak, karena yang akan berkisah kini ialah Aku, anak kedua dari enam bersaudara. Bagi yang baru kenal, pasti akan beranggapan diri ini ialah pendiam, namun untuk yang sudah paham siapa diri, akan punya banyak tanggapan yang jauh dari kata introvert. Yah, itulah aku, bukan si introvert ataupun ekstrovert, aku sosok ambivert yang penuh dengan tanda tanya alias misterius. Bahkan aku sendiri tak tau siapa aku, bagaimana sosokku sebenarnya, seperti apa sifatku sejatinya, eh?

Misterius, tepatnya ialah tak bisa ditebak, asyik dong ya, eh? Hiii… maaf! Jadi inti dari misterius yaitu… tak bisa ditebak, loh? Okay, okay sorry, maksudnya tak bisa ditebak seperti halnya, misal, apa yah? Aduh, mendadak lupa, maaf yah, salah satu sifat yang gak bisa hilang di diri ini, pelupa. Yah… kenapa misterius karena emang gak bisa ditebak sih, selalu saja ada hal mengejutkan dariku, tidak ada satupun orang yang bisa tahu apa yang sebenarnya terlukis di wajahku, apa yang terpikir sejatinya di benakku, penipu tingkat berat ini mah, eh?

Untuk yang baru kenal, akan bilang bahwa aku ini tuh pendiam, kenapa? Sebenarnya sih tergantung orangnya ya. Kalau orang yang baru kukenal itu asyik, aku juga bakalan gitu, tapi, kalau orang yang baru kutemui ialah sosok yang pelit banget ngomong, yah udah aku ikutan jadi pendiam juga dong, gak mungkinkan aku ngomong sendiri? Maaf yah, masih waras, lah? Intinya sih, balik ke insannya masing-masing ya.

Ngomongin pendiam, aku jadi ingat kejadian masa kuliah, ceritanya, aku punya geng beranggotakan empat orang, entah kenapa sejak sekolah hingga kuliah aku ikut perkumpulan selalu anggotanya empat orang bahkan hingga kini aku dan tiga temanku, kami berempat termasuk geng jomblo, eh? intinya selalu gengnya tuh empat orang gitu, tapi kalau dikumpulin empat teman masa sekolah, empat teman waktu kuliah, dan sekarang empat jomblo, banyak juga tuh, eh? Hiii…

Balik kisah masa kuliah ya, jadi dulu itu, ada cowok lugu banget, kayaknya takut sama cewek gitu, jadilah kami berempat yang terkenal usil ini ngedeketin, mulai dari ngajak dia ngobrol, selalu ngekor dia di kampus, kecuali toilet ya, catet! Pokoknya selalu memperlihatkan diri kami padanya. Haaa… Ajaibnya, setelah apa yang kami lakukan itu, dia gak jadi seorang penyendiri lagi, dan hal ini juga kami lakuin ke teman cewek yang tergolong pendiam. Jadi, pemirsa, eh? Menjadi usil itu gak selalu negatif kok.

So, kenapa ambivert? Karena emang aku orangnya, yah… bukan sosok penyendiri, buat aku mau ngumpul-ngumpul okay, mau jalan-jalan okay banget. Hiii… Tapi jangan heran, kalau misalnya aku kadang menikmati kesendirian dikala ramai. Soal bicarapun, kalau lagi mood ngomong yah lanjut, namun bila tiba masanya aku diam, maklumin ya, karena terkadang diam itu emas. Ingat sang penuh tanda tanya!

Lalu kapan si ambivert ini punya hal yang berkesan dalam hidup? Puji syukur tiada tara pada-Nya, karena hidup ini selalu memberikan banyak pelajaran, ilmu, hal yang bermanfaat, hal yang menyenangkan untukku, dan yang paling penting selalu diberikan waktu untuk hijrah yang sebenar-benarnya hijrah. Keep istiqomah.

Masa kuliah diberi kesempatan untuk mengenal teman-teman dakwah dan penulis, hah… jadi kangen! Bahkan di masa sekarang masih diijinkan bersama insan dakwah dan penulis lainnya yang selalu mengisi kekosongan, yang paling utama ialah dilahirkan dari sosok ibu luar biasa yang kan selalu menjadi panutanku untuk belajar sabar, ikhlas, dan tegar dalam menghadapi tantangan dunia ini, juga ayah yang berjiwa besar, penuh perhatian, dan tak pernah bosan mengingatkan kami.

  Masih teringat jelas saat keluarga akhirnya tahu bahwa aku menulis, asyik sendiri sih sampai lupa cerita... Jadi, kisahnya, kami sekeluarga lagi berkumpul gitu, si Abang punya tugas kliping, saat dia membolak-balik koran, tiba-tiba berseru keras, "Ini kan Yuk Nia!" kompak, semuanya ngerubungi, usut punya usut, cerpen yang aku kirim ternyata diterbitin, awalnya gak ada ngasih foto, secara gak nyaman gitu, tapi redakturnya minta, jadilah tak kirim fotoku yang terlihat separuh gitu, eh ternyata masih dikenali aja.  padahal cerpennya biasa aja loh, yang penting ada ya! Eh? 

Tapi, itu kisah lama, karena setahun kemarin aku gak ada nulis sama sekali, hiatus. yah, moga tahun ini bisa kirim karya lagi, yang paling penting nulis gitu, makanya ikutan komunitas ODOP, biar semangat nulisnya terpacu, dan gak molor lagi. Semangaaattt… Oh iya, dengan ikut komunitas menulis ini juga merupakan salah satu pengalaman yang paling berkesan untukku. Terima kasih ODOP.

#TantanganODOP1
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

Senin, 22 Januari 2018

About Nha

Sumber Gambar : Pencarian Google

Na adalah seorang gadis yang tengah beranjak dewasa or bahkan telah dewasa, yah, mengingat umur yang tak lagi muda dan bahkan pantas untuk segera mengakhiri masa sendirinya,  menganggap diri ialah seorang gadis yang mampu hidup sendiri tanpa orang terkasih mendampinginya, masih berpikir bahwa Ia adalah seseorang yang belum mampu untuk hidup berumah tangga, selalu hidup dalam mimpi khayalnya yang tak pernah berhenti bersuara dalam hati dan pikirannya.
Na adalah seorang gadis yang masih selalu menyimpan rasa duka di hatinya, yang tak mampu melihat kepercayaan yang diberikan seseorang padanya, sosok yang saat ini masih belum menggapai cinta di hatinya, insan yang, entahlah, begitu sulit cinta menyentuh sanubarinya.
Na adalah seorang gadis yang selalu berjuang menjadi anak yang berbakti pada orang tua,  yang selalu mencoba untuk menjaga hasratnya demi kepentingan orang tua, Na mampu keraskan asa di hati demi kebahagiaan orang tua, anak yang selalu berusaha untuk selalu bemanfaat bagi orang tua, Na seorang anak yang selalu berupaya tuk terlihat tegar di depan orang tua, Na seorang anak yang sanggup menjadi penopang keluhan orang tuanya.
Na adalah seorang gadis yang mempunyai banyak adik sebagai amanahnya, Na seorang kakak yang selalu berupaya menjadi yang terbaik bagi adik-adiknya, sosok kakak yang selalu ingin dapat diandalkan adik-adiknya, Na seorang kakak yang selalu berjuang menjadi panutan teladan bagi adik-adiknya, seorang kakak yang terus berusaha menjadi kakak, teman dan orang tua bagi adik-adiknya.
Na adalah seorang gadis yang selalu merindukan ‘dia’ seseorang yang sempat termiliki olehnya sebagai saudara, seorang saudara yang selalu terlindungi oleh ‘dia’, sosok saudara yang selalu diperhatikan oleh ‘dia’, saudara yang bahkan saat kritis masih terpikirkan oleh ‘dia’, Na seorang saudara yang masih dan ‘kan selalu merindukan dan mencintai ‘dia’
Na adalah seorang gadis yang tak lagi muda, yang punya segudang impian namun entah kapan 'kan menghampirinya, sosok yang masih perlu banyak belajar arti hidup sesungguhnya, insan dunia yang masih fakir ilmu agamanya, manusia ciptaan-Nya yang masih terus berusaha istiqomah berada pada tali-Nya.

#onedayonepost
#ODOPBatch5

Selasa, 16 Januari 2018

For You Emak

Tulisan ini kudedikasikan untuk Emak-emak kece luar biasa, para Ummi yang sedia menjadi ibu rumah tangga yang siap untukku teladani. Kenapa tiba-tiba nulis ini? Faktor utamanya sih karena beberapa teman yang sekarang sudah jadi ibu, dan bersedia memberi pelajaran pada temannya yang singlelillah ini, hehehe… Okay kita mulai ya.
Betapa banyaknya wanita yang setelah menikah dan menjadi ibu memilih berhenti dari pekerjaannya untuk mendedikasikan diri sebagai irt full bekerja di rumah dari sebelum matahari terbit hingga terbenam, walau begitu banyak ocehan tak menyenangkan yang harus ditelan mentah-mentah, seperti, misalnya: "sarjana kok Cuma jadi irt?" atau "gak bersyukur banget sih, udah dapat kerjaan malah berhenti?" ini lebih parah lagi, "kilahnya mau jadi irt, emang bakalan sanggup?" udah ya, segitu aja, aku nulis itu malah sakit banget nih hati.
Untuk mereka yang belum mengetahui arti penting menjadi ibu rumah tangga memang akan selalu sirik sih, padahal, jika saja mereka faham betul bahwa irt adalah profesi mulia bagi seorang wanita, mungkin akan malu sendiri, apalagi Emak-emak sekarang sudah sangat produktif, kenapa? Karena walau selalu berada di rumah mengerjakan segala hal, dan terkadang tidak punya banyak waktu luang untuk melakukan hal yang digemari, namun tetap bisa menjadi ibu yang kreatif.
Bisa kita lihatkan gimana antusiasme para bunda berbisnis di rumah, bahkan terkadang aku tuh surprise banget karena dengan seabreg kerjaan yang musti dilakukan masih bisa aja gitu punya waktu buat berniaga?! Jempol buat para Emak keren di dunia. Betapa mulianya dirimu Bunda, sudah mengerjakan segala hal ditambah berbisnis pula, sungguh beruntung kami memilikimu.
Disisi lain, ada pula beberapa teman yang juga sudah menjadi ibu tetap memilih bekerja kantoran, dan hal ini juga kadang dikritisi! Hah, manusia… gak kerja diocehin, kerja juga diomongin. Bagi Bunda yang tetap memilih untuk bekerja, lain lagi omelan tak mengenakkan yang harus didengar, ini nih contohnya: "aduh, kesian anaknya ditinggal kerja, ibu macam apa itu?" atau yang ini nih, "itu suaminya gimana sih, kok istri kerja dibiarin aja, trus yang ngurus anak-anak siapa?" ngeselinnya lagi sampai bawa-bawa orangtua, "gak kesian apa sama ortu? Udah renta gitu disuruh jagain anak?" dan lain sebagainya, makin gak enak nih hati, sabar ya bunda cantik solehah.
Terlepas dari segala omongan yang tak bertuan itu, untukmu para Ummi cansol, tetaplah menjadi ibu terbaik untuk anak-anakmu, yang akan menghantarkan mereka menuju gerbang kebaikan dunia maupun akhirat, sungguh menjadi ibu itu tidaklah mudah, dan menjadi irt itu ialah amat mulia. Moga kelak jiwa yang masih sendiri ini dapat mengikuti jejak perjuanganmu wahai wanita mulia kebanggaan surga.



Rabu, 10 Januari 2018

Kisah Cinta di 2018


2017 akhirnya berlalu begitu saja, Cinta yang entah kemana rimbanya, menghilang tanpa suara…
"Ayaaaa…." Suara ini? inikan?! "hai cantik kangen ya sama Cinta?"
Gadis ini selalu begitu, muncul dengan segala surprise-nya, kau tahu maksudku, seperti yang sudah-sudah, bila Cinta muncul itu artinya Ia punya sesuatu untuk dikisahkan, dan itu benar, keceriaan yang sesaat tadi ditampilkan berubah curam, kisah bermula ketika bunda mencarikan jodoh untuk anak gadisnya, pertemuan itupun terjadi, pertukaran info mengenai diri dan keluarga mengalir deras.
Cinta yang dulunya cuek kini berpasrah demi kebahagiaan keluarga, menjalani hal yang sebelumnya tabu bagi diri; bertemu, berkomunikasi, bepergian hingga akhirnya keresahan tiba dan akhir dari kepasrahan menghampiri. Saat pria itu menghubungi, basa-basi mengawali, dan tibalah masa di mana Cinta akhirnya memberanikan diri mempertanyakan kesiapan menuju hari yang kan menggenapkan setengah dien-nya.
 Bukan tanpa alasan gadis ini mempertanyakannya, tapi karena lelaki itulah yang selalu memancing percakapan tentang hal sakral tersebut, meski sebenarnya Cinta pun masih belum memiliki jawaban yang pasti apakah akan menjalaninya dengan sosok yang baru dikenalnya itu, akhirnya jawaban pun diberikan, pemuda gagah itu memberanikan diri mengungkapkan apa yang terasa di hati.
Mendengarnya Cinta pun lega karena akhirnya tak lagi kan meragu, namun dengan mata sebening kaca menahan tangis, gadis manja ini mengkhawatirkan keluarga terutama bunda bila mengetahui apa yang menjadi keputusan dari pembicaraan mereka, hingga kini gadis yang selalu mengutamakan keluarganya ini masih belum mampu berkata yang sebenarnya tentang hal yang dibicarakannya dengan sosok yang selalu ditanya kehadirannya itu.
"Apa yang harus Cinta lakukan Aya? Lelaki itu bilang sebenarnya dia masih belum memiliki kesiapan, dia ingin menjalaninya saja dulu tanpa memikirkan akan seperti apa nantinya, selama ini dia hanya bercanda membahas pernikahan, karena sejatinya dia masih belum yakin untuk menjalaninya." Tanpa terduga air mata yang selalu coba kutahan akhirnya mengalir, padahal gadis tangguh ini, menangis saja tidak, dia masih mampu mempertahankan air mata itu untuk tidak jatuh.
Bukan kesedihan hati karena masih belum menemukan jodohnya, melainkan kepedihan hati keluarga bila tahu seperti apa sosok yang selalu mereka pertanyakan itulah yang menjadi beban di hati Cinta, karena sejatinya Ia tak pernah berharap selain pada-Nya, cinta di hatinya hanya untuk Allah, Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.

Sabtu, 06 Januari 2018

ANTARA KEMATIAN DAN KELAHIRAN

Kematian dan kelahiran ialah dua hal mutlak yang terjadi di dunia, disatu sisi kematian menghampiri, kelahiran menyusul, ada saat di mana kematian tak terduga orang terkasih menghantam jiwa, bertepatan dengan kelahiran seorang bayi mungil nan suci yang menggetarkan hati. Lalu, sebagai manusia apa bisa dikata? teringat ucap seorang kawan, ‘lucu ya kita, pagi berkabung siangnya bersuka cita?.'
Bicara kematian, setiap yang bernyawa akan mengalaminya. Kematian adalah puncak menuju kehidupan yang abadi, kehidupan akherat yang telah menunggu untuk dihuni setiap makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Tak ada yang tahu kapan Ia akan mengalaminya, kapan orang-orang terkasih akan pergi meninggalkannya di dunia yang hanya sementara tapi begitu disanjung ini.
Seperti halnya diri yang selalu membaca tentang kematian, yang tak henti bibir ini bersenandung tentangnya, selalu berusaha menjadi insan yang menguatkan insan lain yang dirundung kesedihan akibat kematian keluarga, sahabat, tetangga yang disayangi. Hingga akhirnya mengalami hal yang sama, kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam kehidupan karena kematian yang datang begitu cepat menurutnya.
Merasakan sendiri bagaimana ditinggal pergi untuk selamanya oleh insan tercinta sangatlah berbeda saat diri ini hanya menjadi pendengar, pemberi kekuatan pada insan yang tertimpa musibah kematian. Rindu yang menyayat hati, kenangan tentangnya, keinginan menggebu untuk melihatnya lagi, hingga tanpa sadar meminta kehadirannya kembali.
Begitupun kelahiran, untuk menuju kehidupan abadi, kau harus menjalani kehidupan dunia, mengalami fase panjang kehidupan yang sudah digariskan-Nya. Dunia tempat persinggahan, kehidupan yang kan menentukan tempat terakhirmu diakherat kelak, apakah surga atau neraka tujuan akhirmu.