Selasa, 23 Januari 2018

Si Ambivert Sang Penuh Tanda Tanya

Sumber Gambar : Pencarian Google

Kali ini lupakan tentang Cinta sejenak, karena yang akan berkisah kini ialah Aku, anak kedua dari enam bersaudara. Bagi yang baru kenal, pasti akan beranggapan diri ini ialah pendiam, namun untuk yang sudah paham siapa diri, akan punya banyak tanggapan yang jauh dari kata introvert. Yah, itulah aku, bukan si introvert ataupun ekstrovert, aku sosok ambivert yang penuh dengan tanda tanya alias misterius. Bahkan aku sendiri tak tau siapa aku, bagaimana sosokku sebenarnya, seperti apa sifatku sejatinya, eh?

Misterius, tepatnya ialah tak bisa ditebak, asyik dong ya, eh? Hiii… maaf! Jadi inti dari misterius yaitu… tak bisa ditebak, loh? Okay, okay sorry, maksudnya tak bisa ditebak seperti halnya, misal, apa yah? Aduh, mendadak lupa, maaf yah, salah satu sifat yang gak bisa hilang di diri ini, pelupa. Yah… kenapa misterius karena emang gak bisa ditebak sih, selalu saja ada hal mengejutkan dariku, tidak ada satupun orang yang bisa tahu apa yang sebenarnya terlukis di wajahku, apa yang terpikir sejatinya di benakku, penipu tingkat berat ini mah, eh?

Untuk yang baru kenal, akan bilang bahwa aku ini tuh pendiam, kenapa? Sebenarnya sih tergantung orangnya ya. Kalau orang yang baru kukenal itu asyik, aku juga bakalan gitu, tapi, kalau orang yang baru kutemui ialah sosok yang pelit banget ngomong, yah udah aku ikutan jadi pendiam juga dong, gak mungkinkan aku ngomong sendiri? Maaf yah, masih waras, lah? Intinya sih, balik ke insannya masing-masing ya.

Ngomongin pendiam, aku jadi ingat kejadian masa kuliah, ceritanya, aku punya geng beranggotakan empat orang, entah kenapa sejak sekolah hingga kuliah aku ikut perkumpulan selalu anggotanya empat orang bahkan hingga kini aku dan tiga temanku, kami berempat termasuk geng jomblo, eh? intinya selalu gengnya tuh empat orang gitu, tapi kalau dikumpulin empat teman masa sekolah, empat teman waktu kuliah, dan sekarang empat jomblo, banyak juga tuh, eh? Hiii…

Balik kisah masa kuliah ya, jadi dulu itu, ada cowok lugu banget, kayaknya takut sama cewek gitu, jadilah kami berempat yang terkenal usil ini ngedeketin, mulai dari ngajak dia ngobrol, selalu ngekor dia di kampus, kecuali toilet ya, catet! Pokoknya selalu memperlihatkan diri kami padanya. Haaa… Ajaibnya, setelah apa yang kami lakukan itu, dia gak jadi seorang penyendiri lagi, dan hal ini juga kami lakuin ke teman cewek yang tergolong pendiam. Jadi, pemirsa, eh? Menjadi usil itu gak selalu negatif kok.

So, kenapa ambivert? Karena emang aku orangnya, yah… bukan sosok penyendiri, buat aku mau ngumpul-ngumpul okay, mau jalan-jalan okay banget. Hiii… Tapi jangan heran, kalau misalnya aku kadang menikmati kesendirian dikala ramai. Soal bicarapun, kalau lagi mood ngomong yah lanjut, namun bila tiba masanya aku diam, maklumin ya, karena terkadang diam itu emas. Ingat sang penuh tanda tanya!

Lalu kapan si ambivert ini punya hal yang berkesan dalam hidup? Puji syukur tiada tara pada-Nya, karena hidup ini selalu memberikan banyak pelajaran, ilmu, hal yang bermanfaat, hal yang menyenangkan untukku, dan yang paling penting selalu diberikan waktu untuk hijrah yang sebenar-benarnya hijrah. Keep istiqomah.

Masa kuliah diberi kesempatan untuk mengenal teman-teman dakwah dan penulis, hah… jadi kangen! Bahkan di masa sekarang masih diijinkan bersama insan dakwah dan penulis lainnya yang selalu mengisi kekosongan, yang paling utama ialah dilahirkan dari sosok ibu luar biasa yang kan selalu menjadi panutanku untuk belajar sabar, ikhlas, dan tegar dalam menghadapi tantangan dunia ini, juga ayah yang berjiwa besar, penuh perhatian, dan tak pernah bosan mengingatkan kami.

  Masih teringat jelas saat keluarga akhirnya tahu bahwa aku menulis, asyik sendiri sih sampai lupa cerita... Jadi, kisahnya, kami sekeluarga lagi berkumpul gitu, si Abang punya tugas kliping, saat dia membolak-balik koran, tiba-tiba berseru keras, "Ini kan Yuk Nia!" kompak, semuanya ngerubungi, usut punya usut, cerpen yang aku kirim ternyata diterbitin, awalnya gak ada ngasih foto, secara gak nyaman gitu, tapi redakturnya minta, jadilah tak kirim fotoku yang terlihat separuh gitu, eh ternyata masih dikenali aja.  padahal cerpennya biasa aja loh, yang penting ada ya! Eh? 

Tapi, itu kisah lama, karena setahun kemarin aku gak ada nulis sama sekali, hiatus. yah, moga tahun ini bisa kirim karya lagi, yang paling penting nulis gitu, makanya ikutan komunitas ODOP, biar semangat nulisnya terpacu, dan gak molor lagi. Semangaaattt… Oh iya, dengan ikut komunitas menulis ini juga merupakan salah satu pengalaman yang paling berkesan untukku. Terima kasih ODOP.

#TantanganODOP1
#Onedayonepost
#ODOPbatch5

10 komentar:

  1. wow, ternyata Mbak Nia orgnya misterius.. hiii, serem (hehehe)

    mau baca donk cerpen yg diterbitinnya, Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaa... hati-hati ya kang, bisa gentayangan nih.
      wah, boleh kang, pasti bakalan kena komentar nih, secara belum dibenerin ebi-nya, di post cerpen tuh kang tiga-tiganya.

      Hapus
  2. wiih kece, diam-diam menghanyutkan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiii... hati-hati deket laut ya kak, entar hanyut. #eh

      Hapus
  3. Ambivert itu menguntungkan loh. Sama ekstrov oke sama introv cocok

    BalasHapus
  4. Jadi ambivert tuh kadang ngerasa "random banget ya gue" tapi nyaman 😆 haha

    BalasHapus
  5. Kenapa geng selalu berempat? Mungkin kalau berempatpuluh itu namanya RT/RW hehehehe...

    Semangat terus ODOP-nya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaa... bener kak 😂 mau jadi RT/RW nya? #eh
      Semangaaattt... 😇

      Hapus