Jumat, 26 Januari 2018

Tangisan Langit

Di siang yang senja,
Langit menangis dengan derasnya,
Bumi pun kena imbasnya.
                                    
Seonggok rumah yang ramai,
Ramai oleh tangisan langit,
Ramai oleh tangan yang tak henti berlari,
Ramai oleh timba yang seakan ingin menjerit,
Berlomba bersama aliran tangis yang makin menguasai.

Tangan dan timba beriringan,
Bersatu menghapus tangisan langit,
Yang melahap seonggok rumah tanpa belas kasih.

Langit tak lagi menangis,
Namun bumi masih basah,
Seonggok rumah pun masih terlahap,
Tangan dan timba masih mengais.

Hingga siang pun berubah senja,
Bumi kembali mengering,
Rumah tak lagi dilahap,
Tangan dan timba pun gembira.

Gembira tuk waktu yang  tak jelas,
Hingga langit kembali melahap deras,
Dan seonggok rumah pun habis terbawa arus,
Tangan dan timba pun tak kuasa menghapus.

#Onedayonepost
#ODOPbatch5

4 komentar:

  1. Keren y.
    Sayang saya tak pernah bisa memaknai puisi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama belajar memahami puisi ya kak.

      Hapus
  2. Ini cerita tentang apa ya... nggak sampai saya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hujan yang mengakibatkan banjir.
      Huah... masih perlu belajar banyak, puisiku ternyata tak terfahami. T_T

      Hapus