Sabtu, 10 Februari 2018

Celotehan Sang Mawar


"Heh ... Lihat itu, sepulang bekerja langsung tidur, seolah pekerjaan yang dilakukan sangatlah berat!" Terdengar suara Mawar dari luar kamar.

Mendengarnya tak pelak membuat Berry jadi tertawa "Mawar, mawar, apa begitu bencinya kau dengan gadis tomboi itu?"

"Aku bukannya benci, hanya tak habis pikir saja, apa sih yang sudah dilakukannya, hingga setiap kali masuk kamar selalu tidur?" Timpal Mawar membela diri.

"Oh benar juga, Berry kamu kan selalu bersamanya, jadi, pasti tau apa yang sudah dilakukan gadis pemalas itu? Tidak seperti Seeand yang hanya sesekali!"

"Hei, Mawar jaga ucapanmu, saya memang tidak sering bepergian bersamanya, tapi bukan berarti saya tidak tau apa yang dilakukannya?" Jengkel juga Seeand mendengar ucapan Mawar.

"Tapi, biarpun begitu, saya tak sepertimu, jangankan disentuh, dilirik saja tak pernah!" 

"Enak saja, jaga bicaramu itu Seeand, kamu itu ... "

Mendengar sepertinya akan terjadi keributan, Kaffah pun akhirnya memperdengarkan suara merdunya "Sudah-sudah, jangan bertengkar tidak baik!"

"Ah, Kaffah, kami tidak sedang bertengkar, hanya saja Seeand membuat kemarahanku ini makin melambung!"

"Itu karena kamulah yang lebih dulu memancing emosiku, aku kan dari tadi hanya diam!"

"Sudah! Hentikan! Nanti gadis kita itu terbangun!" kembali Kaffah bersuara dengan nada tegasnya.

"Maaf Kaffah! Tapi, aku benar-benar salut padamu, bagaimana bisa kau selalu berbaik hati pada si pemalas itu, padahal lihat saja, dia tak pernah bersikap layaknya seorang wanita, mana pernah sesekali dia memperhatikanku, juga Seeand, dia selalu hanya bepergian kalau tidak dengan Berry pasti Tiger.

"Dia juga bahkan hanya sesekali memperhatikamu, masih beruntung seminggu sekali dia bersamamu, tapi selepas itu? kembali dia hanya membiarkanmu bersama yang lainnya di kamar!"

"Mawar, tidak semua yang kau lihat itu benar, terkadang di malam hari dia bersamaku, melihat dan memperhatikanku, sesekali mengeluarkan air mata! Sebagaimana kita ketahui, begitulah iman, kadang surut, kadang naik, yang bisa dilakukan hanya menjalani dan selalu mengingat-Nya!"

Sunyi, semua terpana mendengar Kaffah yang begitu tulus membela gadis yang sudah amat lama menjalani hidup bersama mereka.

"Jadi, Mawar, jangan bersedih hati, percayalah, suatu saat dia pasti akan memperhatikanmu, juga Seeand! Hanya saja sekarang dia masih enjoy dengan keasyikannya menjadi pribadi tomboi!"

"Naaa ... bangun! Udah mau maghrib!" Terdengar suara bariton dari balik pintu kamar.

"Iya, Pa!" 

Astaghfirullah! Sudah berapa lama ana tertidur? Tapi, kok rasa-rasanya ana mendengar ada semacam perdebatan yang terjadi di kamar ya? Mustahil, gak mungkin, benda mati bisa ngomong? Quran, tas, bahkan bunga mawar diluar? Ah, sudahlah pasti hanya mimpi!

#onedayonepost
#odopbatch5

10 komentar:

  1. Ini materinya siapa ya mba Nia? Uncle Ik kah...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren ... saya belum muncul idenya utk itu

      Hapus
    2. Heee ... Sebenarnya saat Uncle Ik post cerpennya, trus saya baca, jadi terinspirasi deh ^_^
      Dan kebetulan baru sempat sekarang nge-postnya.
      Alhamdulillah, walau masih ala kadarnya sih :D

      Hapus
  2. Hmmm... smg sy terinspirasi juga ya. Cuma mungkin sy terlaku mainstream.. kaya merasa nggak logis aja mereka2 berbicara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Hiii ... untuk jadi penulis eh maksudnya "tukang ngetik" kita terpaksa harus keluar jalur logika mbak 😇 dengan catatan tidak menulis SARA 😂

      Hapus
    2. Kalo ini materi tadi malaam ya ....

      Hapus
  3. Wah surealis mba Nia hehehe,eh bener ga ya? Keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuah ... saya belum faham istilah itu bunda. Heee...
      Alhamdulillah. Makasih bunda 😇
      Bunda juga keren banget 😘

      Hapus