Sabtu, 03 Februari 2018

Manusia Misterius

“Maaf Mbak, tapi tiketnya hanya tersisa satu, gimana?!” pertanyaan yang memaksa seorang gadis harus memperlihatkan  wajah kecewanya.

“Ya udah deh, nggak apa-apa, makasih Mbak!” walau terlihat miris gadis itu tetap menunjukkan senyum manisnya.

“Hai, Saya punya tiket nganggur, untuk kamu saja mau ya?! Rencana mau ngasih surprise ke teman malah saya yang ketiban surprisenya. Nih ambil saja!” belum sempat kumendengar lisan gadis yang kini masih terdiam speechless itu, tiba-tiba terdengar suara yang cukup mendebarkan jantungku sesaat.

“Caca, dapat tiketnya cinta?” seru suara itu dari arah belakang kami.

“Eh, Iya Kak!” sambil mengangguk penuh arti padaku gadis yang ternyata bernama Caca itu mendekati gadis yang walau terkesan tomboy namun entah kenapa terlihat anggun di hatiku.

“Loh kok Caca duduk di situ?!” pertanyaan yang meluncur dari lisan yang kembali membuat debaran aneh untukku.

“Sesuai tiket Caca Kak” sambil memperlihatkan tiket yang dimilikinya. Sepertinya tiket yang kuberikan padanya ada di tangan kakaknya yang hingga kini masih belum kuketahui namanya.

Walau masih berkelabung dengan tanda tanya yang memuncah di pikirannya, gadis yang cukup menghipnotisku itu duduk dan yah, alhasil kami duduk berdampingan siap menonton film yang akan segera di mulai. Entah kenapa kumerasakan sepertinya gadis itu ingin bertanya sesuatu padaku, namun karena situasi jadinya baik aku maupun dia terdiam siap menonton film yang akan ditayangkan.

Film yang kami tonton bukanlah film action, ataupun film komedi, namun film yang kami tonton adalah film bernuansa islami, film yang mampu memupukkan kembali keimanan di hati, film yang kuberharap dapat sinarkan kembali cahaya-Nya di jiwaku dan juga kami semua yang sedang hikmatnya menikmati sajian adegan yang ditayangkan.

Bioskop yang sunyi itu, perlahan senyap dengan sautan suara tangis yang menggema tiada akhir, bahkan hingga film telah usai, bagaimana dengannya, gadis di sampingku itu, kuyakin ia juga menitikkan air mata yang tak bisa dihentikannya, namun tangis itu terdengar tegar bagiku, entahlah seakan jiwa dan hatiku ikut damai bersama ketenangan yang dipancarkannya. Namun, sesuatu yang membuatku speechless kembali dihadirkannya.

“Ini uang tiketnya, terima kasih!” saking speechlessnya refleks aku menerima uang yang diberikannya tanpa kata, yang akhirnya tersalurkan lewat adiknya Caca.

“Maaf ya Bang, Kak Rara emang gitu orangnya, nih buat abang!” sahut Caca memberikan kertas yang bertuliskan alamat media sosial (pin BBM, FB, twitter, IG, hingga blog).

“Itu punya kak Rara jangan lupa diinvite ya!” serunya lagi yang membuatku akhirnya mengeluarkan semua ueng-uneg di hati.

“Apa maksudnya ini Caca, dan gimana bisa kamu langsung memberikan semuanya itu pada orang yang baru kenal, bahkan kamu belum tahu nama saya kan? Apa kamu tidak takut? Juga, saya bisa memaklumi apa yang dilakukan kakak kamu, saya akan menerimanya karena saya tidak ingin berdebat, dan sepertinya kakak kamu juga tidak ingin berlama-lama dengan problem tiket ini, namun apa maksudnya semua ini?” tanyaku pada Caca yang hampir tak berkedip menatapku.

“Nama abang siapa?” dari sebanyak-banyaknya kalimat yang keluar dari lisanku hanya itu yang menjadi responnya? Gadis luar biasa!!!

“Farhan, Muhammad Farhan Adzim”

“Okey Bang Farhan, pernahkah maling ngaku?” kembali pertanyaan yang entah apa maksudnya dilontarkan gadis muda nan cantik itu padaku.

Maybe nggak!” jawabku sekenanya.

“Boleh pinjam handphone-nya?” entah hipnotis atau apa, aku dengan sukarela memberikannya dan sepertinya Caca membuka barcode bbm-ku. Benar-benar sesuatu gadis ini!

Sejak peristiwa tak terduga di bioskop sebulan yang lalu itu, aku yang masih sendiri ini mulai dekat dengan seseorang, yah, dengan seorang adik yang amat mencintai kakaknya, amat menyayangi, begitu mengagumi hingga aku mampu gambarkan sosoknya dalam kanvas karya kilat. Dari Caca kutahu semua yang dialaminya.

Tentu saja jika kau ingin mengetahui seseorang tanyai dia dengan segala yang ingin kau ketahui tentangnya, karena itu, aku yang punya segala akun medsos Rara, gadis yang suara dan penampilannya masih terngiang jelas di pikiranku, layaknya seorang stalker hampir tiap detik aku memeriksa apa yang ter-update dari akun medsos Rara. Dan akhirnya keberanian itu muncul, setelah mendengar segala kisah dan mengumpulkan semua yang kuketahui tentangnya, aku mulai mendekati Rara secara ekstrim.

Aku tak lagi hanya chat dengan Caca, namun juga Rara, aku tak hanya bertanya pada Caca (walau sebenarnya tanpa bertanya pun Caca siap sedia selalu menceritakan segala yang dilakukan kakaknya sehari-hari) namun juga pada Rara, dulu sangat mudah bagiku mendekati seorang gadis, bahkan hanya dengan melihat penampilanku saja, para gadis itu dengan serta merta akan mengikuti dan mencoba merayuku.

Bukannya sombong, tapi aku sendiri juga tak mengerti, apa mereka hanya melihat tampilan luar saja? Seperti Caca yang tanpa berpikir panjang, langsung berserah padaku akan kakaknya, pernah hal itu kutanyakan padanya, yang ada aku malah dimarahi habis-habisan, untungnya hanya lewat chat jadi aku hanya perlu membacanya, walau begitu aku tetap menyakini dan mengaguminya yang begitu tulus pada kakaknya. Tiada rahasia diantara kita, itulah yang terjadi padaku dan Rara.

Setidaknya aku memberitahukan segala yang kuketahui dari Caca pada Rara, bila dengan Caca aku hanya lebih sering melakukan chatting, maka dengan Rara aku lebih sering mendengar suaranya, tak bisa juga dikatakan sering, namun untuk membesarkan hatiku sudah cukup dengan hanya terkadang dalam seminggu dapat mendengar suaranya sekali dua kali.

Sesuai penampilannya saat pertama kali kami dipertemukan, Rara adalah sosok pribadi simple, santai dan amat sederhana, sesekali dia akan hadir dengan banyak guyonan, sesekali dia hadir dengan sesuatu yang mendebarkan. Rara masih menjadi sosok yang penuh misteri bagiku, sosok yang masih terdengar menyimpan banyak tanda tanya di hatiku, sosok yang selalu berusaha terlihat tegar padahal kuyakin banyak luka terselip dalam jiwanya.

Pernah suatu kali aku berdebat hebat dengan Rara, aku menanyakan perihal orang yang suka sekali menyimpan kesedihannya seorang diri, sosok pribadi yang selalu berusaha tersenyum disetiap luka yang dihadapi, aku salut dengan sosok itu, aku sedikit kagum pada mereka yang mampu tegar dalam setiap keadaan, namun bukankah lebih baik berbagi luka agar sembuh sedikit demi sedikit, walau tidak menyeluruh, tapi bukankah setidaknya mengurangi sedikit beban yang terasa dalam kehidupan?

Entah apa yang terjadi Rara sedikit terdengar marah mendengarnya, dari situ aku yakin dia salah satu sosok misterius itu, walau begitu dengan tenang dia mengungkapkan segalanya, yah, kali ini bukan candaan yang keluar dari lisan Rara, bukan cerita kisah penuh perjuangan insan di sekitarnya, namun kali ini akhirnya aku mendengar apa yang terdapat dalam hatinya, walau bukan problem yang dihadapi melainkan argument atas pernyataan pedasku untuknya.

Jangan berpikir aku melakukan itu dalam sebuah chat, karena kali ini, kami benar-benar bertatap muka satu sama lain, Rara harus mengikuti sebuah kegiatan kantornya yang dilakukan di kotaku, dan acara itu dilakukan di hotel yang kutangani, jadilah kami memiliki waktu untuk bersua. Dan hari itulah perdebatan ini di mulai, entah apa yang merasukiku hingga aku menyerang Rara dengan hal yang menyakitkan hatinya.

“Tidak semua orang dengan sukarela membagi luka, karena bagi mereka cukup hanya DIA tempat berbagi segala rasa, aku mengerti kita adalah makhluk sosial, dan karena hal itu kita tak bisa hidup sendiri, kita butuh seseorang, kita butuh sebuah keluarga, membangun persahabatan, saling berbagi dalam suka maupun duka, namun yang namanya manusia, ada yang tertutup dan terbuka, ada sosok yang begitu mudah menceritakan segala kisah hidupnya, segala rasa di hatinya, namun ada juga yang merelakan semua pada-Nya, hanya bisa berbagi kebahagiaan, memberi dan menerima.

Jangan pernah menjudge seseorang atas sikap yang dimilikinya, hanya karena memasrahkan segala pada-Nya, bukan berarti sosok itu begitu sombong, dan tak percaya pada manusia lainnya, hanya karena ingin menjaga hati dari segala prasangka yang timbul atas segala curahan hati bukankah lebih baik hanya mengadu pada-Nya yang lebih mengetahui segala isi hati melebihi insan yang memilikinya? Kenapa tidak berpikir positif saja atas segala tindak tanduk sosok yang tertutup? mungkin saja karena ingin menjaga hati, ingin menjaga kekerabatan antar keluarga dan orang-orang disekitarnya, sosok itu lebih memilih DIA untuk segala rasa dihati!”

Walau belum begitu mengerti dengan apa yang diyakini Rara, namun aku tak ingin merusak persahabatan kami, jadilah aku hanya mendengar dan mencoba untuk mengerti, toh, suatu saat aku berharap dan menyakini bahwa Rara akan menjadi sosok yang sedikit lebih terbuka, aku setuju dengannya bahwa hanya DIA tempat mengadu, namun bukan berarti kita harus mengabaikan kehadiran orang lain yang mungkin saja bisa sedikit meringankan beban di hati.

#onedayonepost
#odopbatch5

10 komentar:

  1. Salam kenal mba Isnania :) semangat odopnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak.
      Semangaaattt... ^_^

      Hapus
  2. wuih, panjang dan gurih.. mantap 👍 terus menulis..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah 😇
      Terimakasih Kang, walau ini mah belum semantap tulisannya Kang Dwi 🙈
      Semoga bisa terus konsisten nulis. Mohon bimbingannya Kang 😇

      Hapus
  3. Mbak Isnania keren. Udah jago banget nulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah 😇
      Terimakasih udah didoain, moga beneran jago ya 😆 Kak Rusdi juga terus menulis biar makin jago 😇

      Hapus
  4. Panjang... Suka ih.
    Semangat menulis, ya... 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah 😇
      Gak bosen karena panjang gitu Kak?
      Semangaaattt...
      Mohon bimbingannya juga Kak Lail 😇

      Hapus