Rabu, 14 Februari 2018

Mawar Yang Penasaran

“Hai Berry, sepertinya kamu begitu bahagia, apa karena juraganmu itu tidak lagi tidur sepulang bekerja?” tanya Mawar dari balik kaca kamar.

Mendengarnya Berry jadi tertawa “Juragan? Siapa? Gadis manis kita itu? Hahaha … Mawar, Mawar, kenapa? Kau merindukannya ya?”

Seeand yang mendengar ucapan Berry jadi ikut mengompori “Wah … Mawar akhirnya kamu jatuh cinta ya?”

“Hush … Kamu itu Seeand, kalau bicara itu pikirkan dulu kenapa? Siapa juga yang jatuh cinta?” jawab Mawar yang entah kenapa makin memerah.

“Yang diucapkan Seeand ada benarnya juga, buktinya kamu memikirkan gadis itu Mawar!  Makanya, kalau membenci sesuatu itu jangan berlebihan, begitupun bila mencintai, karena justru akan terjadi kebalikannya. Seperti kamu ini, karena terlalu membenci pemilik kamar ini, kamu malah jadi jatuh cinta padanya!” petuah Kaffah akhirnya untuk Mawar kembali diperdengarkan.

“Aduh, Kaffah, siapa juga yang jatuh cinta, dan perlu diingat, aku tidak membencinya, bukankah sudah kubilang berkali-kali tentang hal itu? Lagipula, aku tidak ingin kecewa. Kalau aku jatuh cinta padanya, yang ada aku akan selalu merasakan patah hati yang tak terbendung. Sudahlah, jadi Berry, maukah kamu berbagi kebahagiaan?” kembali pembelaan diri harus diutarakan Mawar.

Kasihan melihat Mawar yang begitu penasaran, jadilah Berry akhirnya mengungkapkan kisah yang membuatnya tak henti tersenyum sepanjang hari, “Baiklah, sebenarnya tadi itu di tempat kerjanya, Ana harus menghadiri rapat bagian, nah, di sana ada kejadian lucu sebelum rapat.”


“Wah, Kak Ima bawa donat, pas banget Ana lagi lapar!” 

“Mau?” 

“Mau Ma, makasih ya!” 

“Yah, Ibu, Kok dimakan? Ana nggak dapat deh!” 

“Hahaha… Maaf Na, Ibu juga lapar!”

“Aduh, Pak Wo mana nih? Kok belum dibuka juga ruang rapatnya?”

“Sabar Fi, bentar lagi juga datang. Nah, tuh, datang kan? Panjang umur Pak Wo!”

“Manga? Lamo manunggu? Salah sia? Indak ado yang ma agiah tau den ko nan rapat bagian ko!”

“Waduh, satu bagian kena marah sama Pak Wo! Hahaha… Woi sia tuh nan tangung jawab?”

"Berkat kemarahan Pak Wo yang merupakan salah satu CS disana, rasa lapar yang menggerogoti seluruh karyawan yang ikut rapat itu hilang sejenak." cerita Berry mengakhiri kisahnya.

Masih dengan tawa renyahnya, Mawar menimpali “Wah, Pak Wo itu CS? Keren ya, bisa juga marah sama karyawan?”

“Tentu saja, tidak peduli orang itu atasan kita atau bukan, kalau salah ya, wajib ditegur kan?” Kaffah kembali mengingatkan.

“Hehehe … Iya, Kaffah. Lalu, Berry apa yang terjadi saat rapat?” ternyata Mawar masih saja penasaran, wajar sih, karena kondisinya yang hanya bermuram durja di pekarangan rumah, membuatnya selalu ingin tahu kejadian di luar sana.

Demi menjawab rasa penasaran Mawar, Berry kembali berkisah, “Tidak ada hal yang menarik, hanya membicarakan mengenai pekerjaan, tapi, di akhir rapat sempat heboh sejenak.”

“Jadi, bisa ya kita pulang jam 14.30?”

“Jam 14.15 Pak, jemput anak!”

“Hahaha… Kak Ima, kenapa gak jam 14.10 aja!”

“Oh benar juga Fi! Jam 14.10 Pak!”

Mendengar akhir kisah itu, tak hanya Mawar yang tertawa, Seeand, Kaffah bahkan Tiger yang selalu hanya menjadi silent reader memenuhi kamar dengan suara tawa mereka yang riuh.

“Loh! Kok Ana ke kamar? Ah ya, ada yang mau diambil! Eh, tapi … Apa ya? Aish, dasar pelupa!” Ana yang baru saja masuk kamar kembali keluar karena tak mengingat tujuan awalnya.

Jadilah, kembali tawa membahana di dalam dan luar kamar Ana. “Dasar pelupa!”

#INICERITAKOMEDIKU
#Tantanganke-4
#onedayonepost
#odopbatch5

0 komentar:

Posting Komentar