Kamis, 15 Februari 2018

Senyuman Indah Bunda

Bulan dan bintang yang menerangi kegelapan kembali keperaduannya, mengalihkan tugas pencahayaan bumi kepada matahari. Matahari yang telah cukup waktunya untuk beristiharat, kembali kerutinitasnya seperti biasa. Ayam jantan berkokok dengan semangatnya, menyerukan kemenangan kepada manusia yang masih terlelap di atas kasurnya yang empuk berselimut tebal menghangatkan dirinya di pagi yang beku.
         
Bunda yang telah anggun dengan sigapnya menyerbu kamar anak gadisnya yang masih tertutup rapat dan hening, pintu dibuka dan terlihatlah 3 gadis remaja yang masih asyik dengan mimpinya. Gorden garis-garis hijau dan pink yang masih bertengger menutupi suasana di luar yang telah terang, perlahan ditarik membuka, dan cahaya serta udara dingin beriringan masuk ke dalam kamar yang juga bercat hijau, dan awan-awan putih serta langit biru  yang tergambar di dinding.

Walau begitu, masih belum ada yang rela untuk membuka mata dan menyapa bundanya dengan ceria, dengan senyum yang menambah daya tarik setiap mata, bunda mulai bersenandung ria menyanyikan lagu daerahnya yang merdu, namun tetap tak pernah disukai anak-anaknya. Hingga mata yang masih bersikukuh menutup itu, terbuka dan bertenggerlah senyum indah dari ketiga putrinya kompak.

Tanpa dikomando, ketiganya berlarian menuju kamar mandi, si kakak yang lebih dahulu bangkit dari kasurnya memimpin berada di kamar mandi yang ada di kamar mereka, putri yang kedua langsung melesatkan kaki menuju kamar mandi yang ada di kamar bunda yang tak jauh dari keberadaan mereka, dan si bungsu yang selalu tak pernah bisa mengalahkan kakak-kakaknya, terpaksa dengan rela ke kamar mandi dapur yang lumayan jauh dari kamar mereka.

Tinggallah bunda dengan rutinitasnya seperti biasa, merapikan kasur yang berantakan serta menyediakan pakaian yang harus digunakan putri-putrinya yang begitu dicintainya walau sering membuatnya lelah. Setelah terlebih dahulu menyiapkan sarapan untuk para putrinya di pagi yang tak pernah berubah itu.

Tia yang cantik dengan seragam SMA-nya, kembali mendahului adik-adiknya duduk bergabung dengan bunda yang setia menunggu. Rara dengan balutan seragam SMP semakin terlihat manis, walau aura tomboi masih saja tak bisa lepas dari dirinya menyusul, dan akhirnya Uti, si bungsu yang kalem menghampiri bunda dengan rambut yang masih tergerai, seperti biasa sebelum sarapan bunda tak bosan-bosannya mengikat lalu memasangkan jilbab Uti dengan lembutnya.

Sumber Gambar : dakwatuna.com

Semua kemanjaan diri lenyap, tatkala ketiga bersaudara itu berada di sekolahnya yang berdekatan. Tia, harus dengan rela bergabung dengan teman-teman yang membuatnya jenuh, tingkah laku mereka yang kekanak-kanakan dan suka mencari perhatian, terkadang membuatnya ingin teriak. Apalagi anak-anak cowok di kelasnya yang tak hentinya mencari perhatian para cewek di kelas, ditambah anak-anak cewek yang kecentilan. Padahal mereka berada di kelas unggulan sekolahnya.

Rara terlebih lagi, Ia harus dengan rela sabar menghadapi teman-temannya yang selalu bergantung padanya, walau terkesan tomboi, tapi Rara tak bisa acuh pada setiap wajah yang memelas padanya. Dan pada akhirnya, Ia hanya akan dengan pasrah membiarkan teman-temannya menempel dan mencontoh apa yang menjadi jawabannya atas tugas yang diberikan guru mereka.

Uti yang begitu lugu, harus selalu rela air matanya mengalir karena ulah teman-temannya di kelas yang begitu usil mengganggu dan menyakiti hatinya. Penampilan Uti yang selalu terkesan rapi dan beda dari teman-temannya yang lain, selalu jadi bahan cemoohan teman sekelasnya.

Dan malam itupun tiba, malam di mana segala yang mengganjal di hati tercurahkan dengan lancarnya, seiring dengan derasnya air mata yang mengalir ke wajah tiga bersaudara di kamar yang sengaja di gelapkan itu. Hanya mereka, awan dan langit yang terpancar dari dinding kamar, gorden kesayangan, serta kegelapan malam di kamar yang tahu rahasia kehidupan yang tercurah dari kisah yang mengalir saat itu.

Uti, mengawali kisah sedihnya yang setiap hari harus dialaminya tanpa sempat memperlihatkan senyumnya di kelas. Begitupun Rara dengan jiwa tomboinya yang khas, mencurahkan segala kejengkelan hatinya setiap kali berada di kelas. Dan kisah Tia mengakhiri kepiluan hati yang tercurah malam itu, betapa Ia ingin segera mengakhiri semua kehidupan yang menjemukan di kelasnya.

Senyum kepedihan bertengger di bibir kemerahan putri bunda terkasih, hingga sebuah kalimat terlontar dari sang kakak tertua mengakhiri kisah kelam di kegelapan malam saat itu, “Semua demi kebahagiaan bunda. Demi, karena, dan untuk bunda, biarlah kepedihan hati ini terangkai. Namun, senyum indah dapat tetap kita nikmati di wajah sejuk bunda. Hingga kita kan berada di waktu yang indah, tersenyum bersama bunda dan juga ayah tercinta yang telah mendahului kita!”

#onedayonepost
#ODOPbatch5

7 komentar:

  1. Kenapa banyak yang tidak nyaman di sekolah ya ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf bu guru, terkadang memang ada siswa yang membuat sekolah jadi tidak nyaman bukan?
      Terlepas dari hal itu, tenang saja, anak-anak itu akan mampu menghadapinya, dan peran guru amat penting di sini agar mereka nyaman dan merasa mendapatkan perhatian ^_^

      Hapus
  2. Sedih mba Nia, anak2 yg dibesarkan org tua tunggal ataupun broken home terkadang bisa lebih kuat menjalani semua gangguan dan cenderung tak membagi kisahnya dgn ibu atau ayah mereka karna khawatir menambah beban. Keren mba Nia ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bun, mereka jadi sangat peka, yah, semoga saja anak-anak pilihan ini dapat memilih jalan yang benar untuk pelampiasan masalah mereka, dan bisa lebih dekat dengan ortu.

      Hapus