Jumat, 30 Maret 2018

Inginkanmu

Kematian meninggalkan kerinduan,
Kehidupan penuh akan kenangan,
Hingga ajal menjemput kembali ke haribaan.

Wahai engkau yang bersama-Nya kini,
Al-fatihah untukmu tulus dari hati.

Wahai engkau sang belahan jiwa ini,
Harap bersua kembali,
Harap semua hanyalah mimpi,
Harap engkau masih di sini,
Itulah hal yang selalu terpatri.


Yah, diri ini amatlah tahu,
Hal itu tak pantas bersemu,
Sebuah kesalahan yang harus diakhiri,
Karena hanya akan membuat engkau dan diri tersakiti.

Namun, apalah daya diri,
Rindu kian bersemai di hati,
Inginkan dirimu yang tak lagi di sisi.

Duri, Jum'at, 30 Maret 2018
-nurhidayatunnisa-

Sabtu, 24 Maret 2018

Perjuangan Baru Untukmu ODOP-ers

Alhamdulillah dan barakallah,  dua kata yang terucap saat pengumuman kelulusan ODOP Batch 5 itu akhirnya dipublish. Sungguh semuanya ialah yang terbaik, lulus maupun tidak, amat terbaiklah insan yang berjuang di dunia literasi, bersemangat menduniakan literasi dan meliterasikan dunia.

Lulus ataupun belum di ODOP bukanlah sesuatu yang menjadi ukuran kesuksesan untuk diri, namun sebuah pembelajaran, penambah semangat tuk terus bergiat menuliskan yang ingin kita torehkan hingga menjadi hadiah terbaik untuk kehidupan abadi kelak.

Sungguh hal luar biasa, saat diri bisa berkumpul, bersua walau hanya lewat chat WA bersama para alien literasi ODOP yang tak kalah amazing dengan tulisan menggugah mereka, menambah warna kehidupan dengan saling berbagi, saling menyemangati, mengakrabkan diri layaknya keluarga yang akan selalu membersamai di hati.

Kelulusan Odop Batch 5


Terkhusus para Alien Mars, para Penanggung Jawab Kang Dwi Septiyana, Mbak Alif Kiky, Yuk Arin Gudesma, dan Mbak Lailatul Isbach, terima kasih untuk semua kebersamaan, terima kasih untuk setiap tetes ilmu yang tercurahkan, terima kasih. Sungguh terima kasih yang tak terhingga. Dan maafkan segala khilaf yang mungkin saja terukir tanpa diri ini sadari.

Para Alien Mars, pejuang literasi dari berbagai daerah dan profesi, guru, ibu rumah tangga, karyawan, mahasiswa, hingga pelajar. Terima kasih yang tak terhingga wahai Alien Mars insan terbaik yang memenuhi relung hati dengan segala hal indah yang takkan terlupa.

Bu Guru Desi Kusnendari, Bunda Nabhan Putria Lexiana, Ummi Aliyya Izzatun Nisa, Mama Azlan Selvi Ariani, Uni Dika Paramudika Handayani, Teh Sasa Herrisa Azhalia Wijaya, Teh Cahyawati, Kak Lina Fauziyah, Kak Nanda Ananda Musdalifah, Kak Akew Ake Aulia Fitriana, Kak Rusdi, Kak Rafi Muhammad Rafiyudin, dan Kak Ilham Rahmanto. Juga Mbak Gum Gumi Navya guru bahasa arab yang sempat memebrsamai kami.

Terima kasih dan maafkanlah diri yang amat sangat cerewet ini, sekali lagi terima kasih dan maaf yang tak terhingga. Sungguh semuanya ialah insan terbaik di ranah literasi ini.

Tak peduli diri masih di ODOP atau belum, jangan pernah menyerah untuk menulis, teruslah menorehkan tinta kebaikan, semangat ng-ODOP.

One day one post terbaik! 

#maafkan
#edisibaper
#tulisannyasoseriusbangetya
#aduhmalusendiribacanya
#onedayonepost
#odopbatch5
#kelulusan

Oh iya, lupa! Perjuangan masih panjang, sebagian sih sepertinya sudah bisa menentukan akan memilih jalur mana, sementara diri ini masih harus bersemedi dulu, milih fiksi atau nonfiksi #euh

Minggu, 18 Maret 2018

Entah Mengapa...

Sumber Gambar : www.google.com

Gadis bodoh itu lagi-lagi merintih tanpa tahu kenapa,

Mengulurkan air mata di wajahnya yang bak lautan lara,

Menangis dalam kesunyian yang senyap membara.

Entah mengapa...

Sabtu, 17 Maret 2018

Berpisah Untuk Bersama

Siapa yang menyukai perpisahan? Tentunya tidak ada bukan?! Namun, namanya kehidupan dunia, berpisah ialah hal mutlak yang harus dihadapi, untuk berjumpa kembali di kehidupan abadi kelaknya.

Berjumpa lalu berpisah, dan setelahnya kembali bersama, siapa yang tak inginkannya? Karena itu, Mestilah bersabar mengarunginya! Seperti halnya kata salah satu PJ Mars ODOP Kang Dwi Septiyana "Perpisahan itu tak menyedihkan, yang menyedihkan bila habis itu saling lupa"

Berpisah untuk hal yang bersifat berat, seperti ditinggal pergi insan terkasih tuk selamanya di dunia ini, tentulah kan selalu menyimpan sendu di hati, rindu yang kan selalu dengan setia tertanam di sanubari, air mata yang kian mengalir deras tatkala merindunya kembali.

www.hipwee.com

Namun, kembali hanya dapat ikhlaskan apa
yang sudah terjadi, DIA lebih mencintai, DIA lebih menyayangi, DIA lebih merindui, insan yang mencintai diri-Nya lebih dari diri ini. Dan diri ... hanya bisa mengirim doa dan selalu tak lupa pada-Nya, meminta ridho-Nya, berjalan di tali-Nya, berharap diri kembali bersua bersama insan tercinta, juga DIA.

Perpisahan yang tidak terlalu berat ialah, berpisah namun kan kembali bersua, tatkala kini berpisah, menjalani hubungan jarak jauh alias LDR (Lama Di Rantau eh Long Distance Relationship maksudnya) yang tak terkira, namun hal itu, tiadalah butuh Dilan tuk memikulnya, karena dunia telah punya jawabannya. Yah, teknologi ialah jembatannya.

Jadi, tak perlu kau bersedih, bila perpisahan menghampiri, seperti halnya tertuang sebelumnya dalam tulisan Berpisah? Laa Tahzan! Ya, walau merindu itu berat, tak hanya Dilan yang mampu, dirimu pun diriku kan mampu hadapi, InsyaAllah! Yang terberat ialah melawan hawa nafsumu sendiri, karena hal itulah jihad yang paling utama bagimu wahai diri.

Drama Sepakbola Piala AFC 2018

www.topskor.id

Rabu, 14 Maret 2018 bertepatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, diadakanlah pertandingan babak penyisihan grup H Piala AFC 2018 antara Persija melawan Song Lam Nghe An (SLNA) yang akhirnya dengan penuh drama dimenangkan oleh tim besutan Stefano Cugurra, Persija dengan skor 1-0.

Ya... tunggu! Jangan terlalu serius gituh, kita jadi merinding nih, sapa dulu kek, mana you juga nggak nulis lagi kemarin?! Oh iya, lupa, maaf! Maaf! kembali bersama saya nurhidayatunnisa biasa dipanggil Aya or Ya, kali ini... Nggak perlu gitu juga kali Ya! Ouwh, jadi nyesel nyuruh dirimu nyapa! Hiii ... maaf, kali aja ada pendatang baru gituh?! Ya udah, back to topic!

Jadi ceritanya, Hari Rabu yang biasanya menjadi hari tersibuk buat Aya, bersyukur banget di hari itu, bisa pulang lebih cepat dari biasanya, why? Karena agendanya di majuin dan Aya cuma bisa ikut pas penutupan aja. Lah, kok? Heee ... iya, jadi hari itu, kebetulan kerjaan lagi numpuk enggak bisa ditinggal, berbenturan dengan agenda di luar yang ternyata dipercepat mulainya.

"Tidak mengapalah, yang penting niatnya, dan bisa tetap silaturahim!" Itu katanya tetua di pertemuan kita, yah, buat menghibur Aya sih itu, tapi benar juga kan?! Berhubung Aya pulang di masa yang tak seperti biasanya, Ibu pun bertanya dengan herannya, "Cepat balek Yuk? Biase malam ndak?" Dan Aya pun hanya bisa tersenyum saja menjawabnya ^_^

Bukannya enggak sopan, cuma entah kenapa hari itu nih kelapa eh kepala, minta diberikan perhatian lebih alias berat banget. Dan Ibu yang sepertinya mengetahui hal itu, langsung menyuruh anak gadisnya ini istirahat. Tapi, kepala yang super berat itu, malah membuat mata enggak bisa terpejam hingga akhirnya malam sudah menunjukkan pukul delapan lewat.

Bosan dengan sakit yang manja banget itu, Aya keluar kamar, eh, ternyata si Abang lagi nonton sepakbola yang main Persija lawan tim dari Vietnam SLNA, melihat kayaknya asyik banget, jadi lupa, padahal tadi mau nyari obat, malah ikutan nimbrung depan televisi, dan si dedek cantik kami lewat, ngeliatin kakaknya yang pucat tapi masih enjoy aja nonton.

"Ih, badan ayuk panas!" Itulah kalimat yang keluar sesaat setelah si bidadari ngecek suhu tubuh kakaknya dengan telapak tangan layaknya seorang dokter, Aya sih, cuma senyum aja nanggapinnya. si Abang juga cuek, secara lagi fokus nonton.

Nah, drama layaknya pertandingan sepakbola di mulai, menuju akhir pertandingan skor masih 0-0. Kalau katanya komentator, tim SLNA sepertinya memilih bermain bertahan dan mengulur waktu karena dengan mempertahankan skor imbang mereka sudah bisa dipastikan mendapat poin tuk menjadi pemenang grup.

Dan ternyata benar, tim Vietnam itu bermain dengan sangat membosankan dan penuh drama, bikin darah mendidih, rasanya pengen banget ngejitakin mereka. Sabar Ya! Akhirnya pelatih Stefano Cugurra, memasukkan pemain senior Persija Bambang Pamungkas, masuknya si Bapak, merubah atmosfir pertandingan yang mulai memanas itu.

Beberapa kali sundulan dan operan BP hampir saja membuahkan gol, salut deh, walau sudah berumur tetap saja permainannya luar biasa, yah, faktor pengalaman kali ya?! Walau demikian drama mengulur waktunya tim Vietnam tetap berlanjut, dan hal itu menyebabkan para pemain Persija jadi terpancing, dan beberapa kali terpaksa melakukan hal yang membuat mereka harus menerima kartu kuning.

Hingga akhirnya, pada injuiry time, menit 90+3, gol cantik dipersembahkan oleh pemain Persija, Addison Alves, akhirnyaaaa... ^_^ Dan hal tak terduga terdengar, komentator pun berucap "karma berlaku sepertinya", kira-kira begitulah ucap komentator, kenapa? 

Karena setelah Persija mencetak gol, giliran tim Macan Kemayoran ini yang mengulur waktu dan tim SLNA Vietnam yang kebakaran jenggot mencoba mencetak gol balasan, walau perjuangan itu harus berakhir saat wasit meniup pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Memang yah, begitulah permainan sepakbola adanya, tidak hanya kehidupan saja yang penuh drama. Memang cocok mereka jadi aktor, ingat kan? Aya juga pernah menyinggung hal ini, di sini

Karma berlaku bagi siapapun itu, baik atau buruknya hal itu terucap, namun, benar adanya ya?! Karena terkadang manusia suka lupa, seolah merasa hidupnya akan selalu di atas, jadi semena-mena, hingga akhirnya, saat diri berada di bawah, barulah menyesali.

Kamis, 15 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (10) Epilog - Akhir Perjalanan Rasa Itu.

Bagian 10 (Epilog – Akhir Perjalanan Rasa Itu)

Setelah perpisahan tanpa kata yang terjadi antara Abbas dan Cahya, Keesokan harinya gadis itu langsung memboyong Fitra mengunjungi keluarganya di Sumatera, sebulan sudah sekembalinya Cahya ke kampung halaman, wanita itu selalu terlihat ceria dan sangat menyenangkan, namun Fitra tahu sahabat tercintanya itu masih memikirkan Abbas yang hingga kini tetap eksis di dunia tarik suara dengan lagu-lagu dakwahnya.

Masih terekam jelas dalam ingatan Fitra, tiga hari menjelang pernikahan Meyta dan hafidz, Cahya membawanya mengunjungi suatu tempat yang justru membuatnya tak henti menundukkan kepala,

“Cahya … dari sekian banyaknya tempat wisata, kenapa Lo ngajakin gue ke sini? ”

“Eh, kenapa ya? Yah, nggak papa sih, hitung-hitung buat muhasabah diri gitu?!”

“Ish … kamu tuh ya!”

Begitulah Fitra, bila sudah bingung, bahasanya suka berubah-ubah, dan Cahya sebagai orang terdekat sudah mafhum dengan hal itu.

Tak hanya itu, Fitra juga mengingat pembicaraan mereka di sana mengenai pernikahan yang akan segera berlangsung. Saat itu, Ia tak habis pikir, kenapa Cahya tidak menemani Meyta menjalani prosesi adat jelang pernikahan, yang hanya dijawab gadis itu dengan senyuman.

Gadis Jawa namun terkesan gaul itu juga tak mengira bahwa pernikahan dua sejoli yang berjumpa di Aceh itu, tak sepenuhnya mengikuti syariat, karena walau telah memisahkan tamu pria dan wanita, namun masih menggunakan hiburan seperti halnya mengundang Abbas. Dan kembali hanya senyuman yang bisa diberikan Cahya sebagai jawaban atas segala rasa penasaran Fitra yang sepertinya tidak akan pernah terpecahkan.

Tak hanya Fitra yang mengingat hari itu, Cahya pun selalu teringat namun dengan alasan yang berbeda. Karena kehadiran Abbas yang begitu mengusik hati, Ia baru mampu keluar memenuhi misi utamanya ke Aceh. Ia pun sebenarnya tak terlalu yakin apa alasannya membawa Fitra ke sana. Namun, satu yang pasti, Ia pergi ke tempat duka itu agar lebih dekat dengan-Nya, walau entah kenapa Ia justru memilih Areal Pemakaman Massal Daerah Ulee Lheue untuk dikunjungi. Dan satu hal yang hingga kini masih terngiang dalam pikirannya, perkataan penjaga makam yang justru mengingatkannya pada Abbas.

http://kelilingaceh.blogspot.co.id/

“Walau sudah begitu banyak bapak melihat orang berduka yang mengunjungi kuburan massal ini, namun melihat anak menatap jauh seolah memikul beban berat itu, mengingatkan bapak pada Habib muda yang baru saja mampir ke sini, saat bapak bertanya kenapa Ia begitu? Kau tahu nak! Dia bilang, dia datang untuk menjernihkan pikiran. Ia bahkan berucap bahwa nanti setelah dia, pasti akan ada yang datang! Mendengar itu bapak hanya menggeleng dan membiarkannya saja. Ya, jelas saja ada, karena tempat ini selalu ramai dikunjungi.”    

Terlepas dari segala ingatannya tentang Abbas, Cahya justru semakin giat menulis dan telah menghasilkan beberapa karya yang memukau banyak hati pembacanya, utama para remaja, segala yang terjadi padanya dan Abbas tanpa sadar Cahya mengemukakan lewat novelnya.

Ia juga menuliskan kisah mereka dalam bentuk buku motivasi yang sekaligus menjadi obat baginya. Karena itu, jika bicara hikmah, maka pertemuan mereka berdua telah memberikan hikmah terbesar bagi keduanya. Karena pertemuan itu, Abbas jadi punya banyak inspirasi untuk lagunya, begitupun Cahya yang mulai meraih mimpinya sebagai penulis yang dapat memberikan perubahan terbaik bagi pembacanya.

Seiring berjalannya masa, Cahya mulai menguasai hatinya, Ia tak lagi terlalu pusing dengan kehadiran Abbas di media, karena kesibukannya di dunia sastra dan dia sendiri juga makin sering tampil di segala media. Begitupun Abbas yang memilih pasrah pada-Nya karena jika Ia dan Cahya memang telah digariskan untuk bersama maka mereka akan bertemu di singgasana pernikahan berjuang bersama menuju Jannah-Nya.

~ End ~


Cerita sebelumnya bagian 1 > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya bagian 2 > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya bagian 3 > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya bagian 4 > Saat Rasa Itu Datang
Cerita sebelumnya bagian 5 > Tentangnya
Cerita sebelumnya bagian 6 > Dia Itu Ternyata...
Cerita sebelumnya bagian 7 > Speechless
Cerita sebelumnya bagian 8 > Untukmu
Cerita sebelumnya bagian 9 > Akankah Kita Bersama?


#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

Rabu, 14 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (9) Akankah Kita Bersama?

Bagian 9 (Akankah Kita Bersama?)

Karena merasa risih dengan tatapan itu, Cahya pun tak peduli dengan Abbas yang seolah tak menyadari ulahnya, Ia memilih pergi menjauh, berjalan tak tentu arah di luar gedung walimatul ursy Meyta dan Hafidz. Fitra yang ternyata menyusulnya langsung memeluk gadis yang sudah menuju kepala tiga itu, seolah mengerti akan perasaan sahabatnya dan mulai menyatukan puzzle kehidupan Cahya selama di Kota Serambi Mekah itu, fahamlah Ia siapa sosok yang dimaksud Cahya, fahamlah Ia mengapa Abbas melakukan hal itu.

Karena entah Cahya tahu atau tidak, Abbas mulai menyuarakan hatinya lewat media sosial yang dimilikinya dan tentunya hampir seluruh fans-nya mengetahui bahwa Ia telah menemukan sosok yang amat menginspirasinya, dengan setia Abbas melayani setiap pertanyaan dan tentu saja tetap menghargai privasi Cahya untuk tak menyebut nama juga profesi wanita yang telah hampir secara keseluruhan mempengaruhi aktifitasnya selama di Aceh. Fitra yang seolah menyadari kehadiran seseorang, akhirnya melepaskan pelukannya dan membiarkan sosok itu mendekat,  berlalu meninggalkan dua insan yang terpaut hatinya itu tanpa kata.

Cahya yang masih belum menyadari kepergian Fitra yang tergantikan dengan kehadiran Abbas, terduduk diam memandang langit dengan segala yang hadir di pikirannya, Abbas hanya dapat pasrah memandangi kebisuan gadis yang tak muda lagi itu dan ikut memandang langit yang sama. Barulah sekitar beberapa menit Cahya pun menoleh ke kirinya dan tersadarlah Ia bahwa Abbas selama ini menyertai kediamannya. Abbas pun ikut menoleh saat menyadari Cahya telah kembali ke alam nyatanya.

www.google.com

“Sudah lebih tenang Bu Cahya Putri Satria?” seru Abbas mengusir kebisuan di antara mereka. Cahya hanya bisa menganggukkan kepalanya menanggapi keceriaan Abbas yang sebenarnya masih menggantung itu, tanpa kata beranjak dari tempat duduknya dan memilih berjalan kembali ke gedung.

Kini gantian Abbas yang terdiam melihat kepergian Cahya Putri Satria yang hari itu mengenakan gamis yang baru pertama kali dilihat Abbas dikenakannya, jauh dari sisi tomboi yang selama ini melekat di jiwa Cahya. Dan jika ingin jujur Cahya pun tak dapat menampik jika hari itu penampilan Abbas sama menariknya dengan penampilan sang pengantin pria yang begitu memukau.


Duhai Rabb,
Rasa yang tiba-tiba hadir ini membuatku buta,
Rasa yang begitu menyiksa ini membuatku lupa,
Rasa yang seharusnya hanya untukmu ini menguasai jiwa,
Rasa ini, cinta ini, membuat dia menjauh seolah diri ialah aib.

Yah, apa yang kulakukan sangatlah salah!
Seharusnya aku menunggu lebih lama,
Seharusnya aku memberi waktu untuknya,
Seharusnya aku lebih bersabar untuk berserah.

Jika begini, akankah kami bersama?
Akankah Engkau tautkan aku dan dia?
Akankah Engkau ridhoi kami bersua?
Akankah ku tuju Firdaus-Mu dengannya?

~ Bersambung ~


Cerita sebelumnya bagian 1 > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya bagian 2 > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya bagian 3 > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya bagian 4 > Saat Rasa Itu Datang
Cerita sebelumnya bagian 5 > Tentangnya
Cerita sebelumnya bagian 6 > Dia Itu Ternyata...
Cerita sebelumnya bagian 7 > Speechless
Cerita sebelumnya bagian 8 > Untukmu


#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

Selasa, 13 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (8) Untukmu

Bagian 8 (Untukmu)

***
“Maafkan saya ya Mbak, dan terimakasih sudah membela saya.” ucap Meyta tulus dibalik pelukan mereka setelah tangisnya mereda. Belum sempat Cahya menjawab, ketukan pintu kamarnya terdengar, menandakan ada tamu yang ingin menemuinya. Seolah tau siapa yang datang, Cahya menguatkan Meyta untuk meninggalkan kesedihannya terlebih dahulu.

“Ada apa lagi, masih belum cukup dengan ocehan kamu yang menyakiti Meyta tadi?” sambar Cahya langsung saat membuka pintu dan mendapati Abbas yang baru disadari gadis itu kini terlihat santai dengan kaus dan celana jeans yang bertolak belakang dengan penyamarannya pertama kali.

“Afwan Cahya, saya benar-benar minta maaf, sungguh saya tidak bermaksud untuk menyakiti hati teman kamu, saya hanya ingin mengingatkan saja. Yah, saya tau cara saya salah karena itu saya minta maaf, Meyta masih ada kan?” Setelah mendengarkan ucapan Abbas yang sebenarnya masih menyisakan kejengkelan di hatinya, Cahya mengalihkan tatapan ke Meyta yang sudah bisa menguasai diri dan kini tengah berada tepat di depan Abbas.

“Iya saya tau kok, Kak Abbas tidak perlu minta maaf, karena Kak Abbas benar soal tadi. Dan maaf ya, saya jadi terlihat rendah di mata Kak Abbas juga Mbak Cahya.” sambil masih menguatkan hatinya Meyta menolehkan penglihatannya pada kedua insan yang sepertinya masih diliputi banyak tanda tanya akan hubungan keduanya.

“Meyta…” sahutan itu berhasil keluar dari lisan keduanya, dan membuat Meyta seperti menyadari sesuatu, namun sebelum mengungkapkannya Abbas kembali mengeluarkan suara.

“Baiklah saya bersedia menyanyi di acara pernikahan kamu, dan kamu tidak perlu membayar saya untuk hal itu, okay deal?” ucapan Abbas membuat Meyta langsung memeluk Cahya yang menatap tak percaya pada Abbas yang juga memandanginya dan segera berlalu.

***
Untuk pertama kalinya, Cahya mendengarkan suara Abbas secara langsung, dan entah kenapa dia semakin jatuh pada setiap lirik yang dinadakan Abbas, fahamlah Ia kini kenapa saat itu lelaki yang tengah tampil ini menyinggung soal dakwah bil nada, karena dialah penyanyi religi pendatang baru Indonesia yang mampu menyihir mata para wanita, tak terkecuali Fitra yang ikut bersamanya hadir dalam pernikahan Meyta. 

Yah, karena bosan dengan liburannya di tanah jawa, dan merindukan Cahya jadilah Fitra menyusul dan sangat bersyukur karena dapat melihat secara langsung sosok yang diceritakannya pada Cahya.

www.pixabay.com

Dan sesuatu yang ingin dilupakan kembali menyerang hati Cahya, saat Abbas menyanyikan sebuah lagu yang liriknya mengenai wanita shalihah perindu surga dan tatapannya lama tertuju pada Cahya. Walau para tamu undangan tak menyadari hal itu, namun tidak Fitra yang seolah meminta penjelasan atas apa yang dilakukan Abbas pada sahabatnya itu.

Hubungan Cahya dan Abbas masih belum sepenuhnya seperti saat pertama kali mereka bertemu, karena setelah kejadian minggu lalu itu, mereka tak lagi bersua walau berada di hotel yang sama, bahkan Fitra tak tau bahwa di depan kamar sahabatnya itu merupakan kamar Abbas.

~ Bersambung ~


Cerita sebelumnya bagian 1 > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya bagian 2 > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya bagian 3 > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya bagian 4 > Saat Rasa Itu Datang
Cerita sebelumnya bagian 5 > Tentangnya
Cerita sebelumnya bagian 6 > Dia Itu Ternyata...
Cerita sebelumnya bagian 7 > Speechless


#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

Senin, 12 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (7) Speechless!

Bagian 7 (Speechless!)

Tanpa menghiraukan segala kejadian yang terjadi padanya dan Abbas, Cahya memberanikan diri menuju kamar Abbas yang ternyata penghuninya telah berada di luar dan hal itu memicu teriakan tanpa suara dari Meyta yang berlari menuju sosok idaman para wanita asia itu.

Assalamu’alaikum Kak Abbas kan? Perkenalkan saya Meyta anak aceh yang suka sangat dengan lagu-lagu kakak” sahut Meyta setelah berhasil menghentikan langkah Abbas.

Wa’alaikumsalam! Iya saya Abbas, salam kenal Mbak Meyta.” balas Abbas sambil melirik ke sekelilingnya khawatir akan ada yang mendengar mereka dan akhirnya speechless saat mendapati Cahya berada di belakangnya.

“Oh ya, itu Mbak Cahya teman saya yang menginap di sini, mungkin kakak mengenalnya. Dan, panggil saja Meyta, karena saya bahkan lebih muda dari Kak Abbas!” seru Meyta yang sepertinya tidak menyadari situasi tegang di antara kedua kenalannya.

“Ah ya, saya tau. Maaf, saya mau sarapan dulu, mari!” balas Abbas sambil melangkahkan kakinya ke lift untuk turun menuju restoran hotel. dan akhirnya Meyta yang sedikit bertanya-tanya karena melihat kediaman Cahya dan kecanggungan Abbas memilih mengapit Cahya dan mengajaknya juga ke restoran.

***
“Boleh gabung Kak?” sahut Meyta kepada Abbas yang tengah memandangi sarapannya. Sama halnya seperti apa yang dilakukannya pada Cahya, Meyta langsung memilih duduk di depan Abbas dan menuntun Cahya yang masih diam untuk duduk di sampingnya.

“Jadi gini Kak, saya itu sebenarnya ingin menanyakan suatu hal yang penting sama Kak Abbas.” kembali Meyta menyuarakan lisannya dan tak mempedulikan orang-orang di sekelilig mereka. “Seminggu lagi saya akan menikah, saya juga calon suami akan sangat bersyukur kalau Kak Abbas bersedia menyanyi di acara pernikahan kami, bagaimana, apa Kak Abbas bisa?”

“Seminggu lagi kamu akan menikah? Dan sekarang kamu berkeliaran seorang diri di sini? Menemui seorang pria yang bahkan baru pertama kali kamu temui?!” Pertanyaan atau tepatnya pernyataan Abbas membuat Meyta speechless hingga senyum yang tadinya terus menempel di wajah mungilnya musnah berganti kesedihan yang tidak bisa digambarkan Cahya, demi melihat perubahan mimik itu, Cahya pun akhirnya mengeluarkan suara yang dari tadi ditahan.

http://www.ummi-online.com

“Ya seminggu lagi Meyta akan menikah, dan harap kamu ingat dia tidak sendiri, dia bersama saya, dan dia menemui kamu karena hal penting bukan hanya sekedar say hello pada idolanya.” Entah kekuatan dari mana hingga Cahya menjadi sosok yang lebih tegas dari hari-hari sebelumnya dia bersama Abbas, dan hal itu membuat tak hanya Abbas namun juga Meyta dan orang-orang yang masih berada di restoran menoleh takjub padanya. Dan itu belum semuanya karena setelah mengatakan hal itu, Cahya menarik Meyta yang sudah mulai berkaca-kaca pergi menjauh dari Abbas dan tatapan ingin tahu para tamu hotel.

~ Bersambung ~


Cerita sebelumnya bagian 1 > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya bagian 2 > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya bagian 3 > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya bagian 4 > Saat Rasa Itu Datang
Cerita sebelumnya bagian 5 > Tentangnya
Cerita sebelumnya bagian 6 > Dia Itu Ternyata...

#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

Minggu, 11 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (6) Dia Itu Ternyata...

Bagian 6 (Dia Itu ternyata...)

Assalamu'alaikum! Maaf Bu Cahya Putri Satria, saya mengganggu waktunya sejenak, boleh saya masuk?” Tanpa menunggu persetujuan Cahya, wanita yang terlihat lebih muda darinya itu melenggang masuk dan duduk di sofa serta meminum air yang memang telah tersedia di meja. 

Jadilah Cahya hanya dapat melihat dan menunggui wanita itu kembali bersuara, “Ayo dong Mbak, kok malah bengong sih, saya Meyta, sobat Mbak di Aceh ini. Oh ya, sebelumnya saya sungguh minta maaf karena terlalu sibuk dengan persiapan nikah jadi tidak sempat menjemput dan bahkan mbak malah tidak jadi menginap.”

Barulah setelah mendengar penjelasan Meyta, Cahya sedikit sadar dan kembali ke alam nyatanya, “Ah ya, sekarang Mbak inget wajah kamu cinta, and it’s okay, toh yang jelas sekarang Mbak enggak telantar kan?”

“Oh ya, Mbak tau tidak di mana kamarnya kak Abbas?” tanya Meyta yang membuat Cahya yang saat itu tengah minum tersedak dengan hebatnya, dan setelah menormalkan kondisinya Cahya kembali fokus pada pendengarannya.

“Maksud kamu kak Abbas yang mana?” tanya Cahya untuk lebih meyakinkan dirinya. Enggak mungkin Meyta kenal Abbas kan?

“Abbas penyanyi religi baru Indonesia yang hampir mengguncang seluruh Indonesia bahkan Asia Mbak, serius Mbak tidak tau?” jelas Meyta menyipitkan mata sipitnya hingga berhasil membuat matanya tertutup sempurna.

Abbas penyanyi baru? Yang tadi diceritain Fitra? Jadi penyanyi itu namanya juga Abbas? “Kenapa tiba-tiba kamu nanyain gituh? Emangnya dia ada di sini?” tanya Cahya lagi dan berhasil membuat Meyta makin bingung.

“Ya Allah, Mbak sungguh tidak tau tentang kak Abbas? Sebentar ya saya browsingin dulu!” Secepat kilat Meyta telah beradaptasi dengan gawainya dan menunjukkan foto Abbas, juga lagu-lagunya yang membuat Cahya hampir saja tak bisa bernafas saking kagetnya.


chordsmain.blogspot.co.id

“Jadi ini yang namanya Abbas? Sejak kapan dia jadi penyanyi? And oh ya, kamu ngapain nyariin dia?” kembali lagi Cahya bertanya.

Allahu! Yah, karena saya nge-fans sama kak Abbas makanya saya cariin!” Senyum merekah Meyta membuat Cahya makin bergidik ngeri, setelah mengingat betapa ekspresi Meyta sangat mirip dengan Fitra saat bicara tentang Abbas yang ternyata seorang penyanyi terkenal.

Allahu! Cinta kamu bakalan nikah enggak lama lagi, ngapain juga kamu nyari-nyari dia? Hafidz tau kamu nge-fans sama Abbas? Oh ya, baru mbak ingat, kamu ngapain berkeliaran begini, bukannya kamu mesti di rumah dan mengikuti prosesi adat menjelang pernikahan?” lagi, Cahya kembali bertanya.

“Cuma keluar sebentar, udah izin kok! Loh ada yang salah Mbak? Saya kan nyariin kak Abbas buat yah, kali aja dia mau nyanyi di acara walimahan kami, dan ya! Kak Hafidz tau saya mengidolakan Kak Abbas karena calon suami saya itu juga sama. Jelas Mbak?” jawab Meyta seolah itu adalah jawaban terakhirnya dari segala macam pertanyaan Cahya.

Jelas saja Meyta merasa kesal, dia yang tadinya bertanya pada Cahya, malah harus menjawab segala pertanyaan Cahya, wanita Sumatera yang berdomisili di Jawa dan telah lama menjadi teman chatting-nya di medsos.

Demi melihat wajah tidak bersemangatnya Meyta, Cahya pun akhirnya berdiri dan menuntun gadis itu menuju kamar Abbas yang terletak tepat di depan kamarnya. Yah, setelah kejadian malam itu, Abbas dan Cahya kembali ke kamar masing-masing tanpa suara yang ternyata menuju arah yang sama.

~ Bersambung ~


Cerita sebelumnya bagian 1 > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya bagian 2 > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya bagian 3 > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya bagian 4 > Saat Rasa Itu Datang
Cerita sebelumnya bagian 5 > Tentangnya

#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

Sabtu, 10 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (5) Tentangnya


Bagian 5 (Tentangnya)


Sumber Gambar : khotbahjumat.com

“Ada apaan sih Say, nih hari waktu istirahat aku ngederin omelan-omelan enggak jelas yang beberapa hari ini terus terngiang di telingaku, faham tak?” sanggah Fitra di depan Handphone-nya yang kini terpampang wajah bingung Cahya.

Sorry kalau aku ganggu Cin, tapi beneran aku hilang fokus nih, harusnya hari ini tuh aku mulai peloncoan-ku di Negeri Serambi Mekah ini, tapi wajah arab tuh orang malah nongol mulu di pikiran.” sahut Cahya menjelaskan kebingungan pikirannya.

“Itu artinya kamu lagi jatuh cintrong, owalah hal kayak gini aja dipusingin, please deh ya, kita nih udah berumur, bukan abg yang masih harus bingung dengan hatinya, kamu tuh udah cukup dewasa untuk tahu apa yang kamu inginkan, faham?” kembali wejangan khas Fitra mengalun di pagi yang baru memperlihatkan wajah mataharinya.

Pantas saja Fitra mengomel karena waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi saat Cahya mengeluh tentang hati dan pikirannya, dan lagi hari itu adalah hari libur pertamanya setelah beberapa hari lembur kerja. Cahya yang saat itu masih belum memberitahukan nama dan seperti apa sosok Abbas pada Fitra, harus siap mendengarkan curahan hati Fitra yang justru ikutan mellow.

“Daripada trus menggalau ngederin curahan hati loe yang sepele itu, mending kamu dengerin aku ya, ini tuh tentang penyanyi religi pendatang baru yang akhir-akhir ini tuh lagi menasional lagu-lagunya di belantika musik Indonesia, dan tau kagak? Tuh orang masih single dan parasnya itu arab banget, yang pasti kalah deh semua artis-artis Indonesia sekarang nih, apalagi Korea!” ocehan Fitra justru membuat Cahya makin tak bisa mengalihkan pikirannya dari bayangan Abbas, namun dia tetap memilih diam untuk mendengar celotehan sahabat yang sudah bagai keluarganya itu.

“Tuh penyanyi emang luar biasa perfect banget! Banget! Asli aku tuh masih gak bisa move on dari suaranya dia, dari lagu-lagunya dia, apalagi tampang arabnya itu … asli buat jatuh cinta banget Say! Hah, aku yakin kalau kamu ngeliat tuh orang, pasti yang sekarang ada di pikiran kamu bakalan musnah berkeping-keping.” kembali Fitra mengoceh tanpa menyembunyikan senyum yang merekah dan memperlihatkan gigi putihnya yang cantik.

“Hush! Enggak ada kali manusia perfect, seperfect-perfect-nya manusia tuh pasti ada celanya juga, dan lagian kamu tuh lupa apa sama Gilang calon suami kamu? Sampai malah jatuh cinta sama orang yang bahkan cuma kamu lihat di TV doang, dan lagian apa kamu lupa kalau mengagung-agungkan manusia itu enggak boleh banget, musyrik tau!” jelas Cahya mengingatkan Fitra tuk kembali pada keyakinannya.

“Aku tau banget kali, aduh please deh ya Say, aku tuh bukannya memuja-mujanya gimana gituh, aku tuh cuma salut aja kali, karena di usianya yang terbilang muda itu, yah bisa dibilang seumuran kita mau berdakwah lewat lagu religinya, yang justru sekarang tuh makhluk kayak dia nih langka banget. Itu aja kok! Dan inget ya, aku tuh enggak pernah lupa sama Gilang dan aku tau banget dengan perasaan aku kalau Gilang ialah jodoh yang diturunkan-Nya untukku, faham?” jawaban Fitra mampu membuat Cahya tersenyum bangga pada sohibnya itu.

Jadilah hari itu, Fitra yang awalnya ingin mengistirahatkan jiwa dan pikirannya seolah lupa dan masih berkutat dengan Cahya yang setia mendengarkan segala ocehannya. Lucu memang, karena awalnya Cahya yang ingin curhat malah kebalik mendengarkan curahan hati Fitra yang berputar-putar mengenai penyanyi religi baru, Gilang, kerjaan yang tentunya tak tertinggal mengenai bos paling setianya yang tidak beda jauh dengan Fitra kalau soal bawel-membawel.

Walau tak dapat mencurahkan segala yang mengganjal di hatinya, setidaknya Cahya bersyukur mendengar Fitra mengoceh karena dia sendiri jadi lupa dan lebih plong, bahkan dapat tertawa setiap kali melihat ekspresi Fitra yang beragam. Baik Cahya maupun Fitra masih asyik di dunia mereka hingga akhirnya Cahya menoleh sejenak menuju pintu kamarnya yang memperdengarkan bunyi ketukan, alhasil Cahya pun dengan berat hati menghentikan perbincangan seru mereka, tepatnya sih aktifitas mendengarkan curhatan Fitra dan beralih melangkah tuk bertemu tamunya.

~ Bersambung ~

Cerita sebelumnya (bagian 1) > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya (bagian 2) > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya (bagian 3) > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya (bagian 4) > Saat Rasa Itu Datang

#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5


Jumat, 09 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (4) Saat Rasa Itu Datang


Bagian 4 (Saat Rasa Itu Datang)

Assalamu’alaikum! Bu Cahya Putri Satria, boleh saya duduk di sini?” sapa Abbas yang tak menyangka akan bertemu dengan wanita yang sebenarnya masih menyisakan sedikit kenangan indah di pikiran dan sepertinya kini tengah menari-nari indah di hatinya.

Wa’alaikumsalam! Oh, Tuan dengan misi penting, silahkan!” Demi mendengar julukan Cahya untuknya, Abbas pun tak dapat menghentikan tawanya yang kini tatapan yang tadinya diberikan pada Cahya beralih padanya namun seperti halnya Cahya, Abbas pun masih berada di dunianya yang lupa akan sekeliling.

“Oh, penyamarannya dilepas, mungkinkah di sini tidak akan ada yang mengenali?” tanya Cahya saat Abbas berhasil menguasai perasaannya untuk berhenti tertawa.

“Tidak begitu juga, tapi saya lelah dengan penyamaran, dan yah, saya hanya bisa berserah pada-Nya untuk hal yang akan terjadi nantinya. Dan … oh ya, nama saya Abbas!” jelas Abbas sambil tak lupa memperkenalkan namanya kepada wanita di depannya yang kini memperhatikannya dengan lebih seksama pada wajahnya.

Abbas memang telah melepas jenggot palsu dan kumis yang dikenakan sebelumnya namun masih menyisakan kacamata besar dan jenggot tipis yang melekat di dagu, Cahya yang menyadari Abbas melihat langsung pada mata besarnya mengalihkan pandangan pada piring Abbas yang lebih sedikit terisi dibanding piringnya.

“Okay Pak Abbas, mari silahkan makan!” ajak Cahya yang membuat Abbas kembali ke dunia nyata dengan menyantap makanannya dan sesekali menyesali apa yang telah diperbuatnya.

Yah, Cahya tak pernah sepenuhnya menatap langsung padanya, saat mereka berbincang pertama kalinya di pesawat, walau penampilan Cahya juga bukan seperti akhwat (muslimah) kebanyakan yang diketahui dengan jilbab serta gamis lebar mereka, saat itu di pesawat dan seperti halnya saat ini, Cahya lebih terlihat santai dengan jilbab yang tidak terlalu lebar namun tetap syar'i dengan menutup hal yang memang harus ditutup, pakaian yang dikenakannya hanyalah kaos panjang dan rok lebar serta sepatu kets yang menambah kesan tomboi pada dirinya.

Sepertinya bukan hanya Abbas yang menyesali perbuatannya karena Cahya pun kembali ke dunia pikirannya dan merutuki mata yang melihat keseluruhan wajah Abbas yang berperawakan arab.

Sumber Gambar : kabarmakkah.com

Setelah apa yang terjadi saat makan malam baik Abbas maupun Cahya hingga waktu yang menunjukkan pukul tengah malam, masih tak dapat memejamkan mata, dan memilih untuk qiyamul lail (salat tahajud) lebih awal dari biasanya, Cahya yang biasa melaksanakannya tak lama sebelum subuh, memilih melakukannya saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari.

Demikian juga Abbas yang biasanya qiyamul lail  pada pukul dua pagi, memilih melaksanakannya lebih awal dan jadilah pada masa itu di balik kamar mereka masing-masing, salat sunnah tahajud didirikan di masa yang sama.

~ Bersambung ~

Cerita sebelumnya (Bagian 1) > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya (Bagian 2) > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya (Bagian 3) > Dia - Cahya

#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5