Sabtu, 03 Maret 2018

Kisah Kami Untukmu

Hari itu, saya terbangun (walau sedikit takjub juga karena saya bisa tertidur), entah kapan tepatnya, pagikah? Siangkah? Malamkah? Sungguh saya tak tau, yang teringat hanyalah, mata ini tak mampu alihkan pandangannya pada hamparan puing-puing rumah yang memenuhi tanah tandus di sini, mayat-mayat berserakan tanpa tau siapa, saya pun terkenang ummi dan abi.

Walau rasa takut itu ada, walau hal yang seperti ini sudah biasa (yah, sudah biasa), namun tetap saja kekhawatiran bahwa suatu saat, sayalah yang akan menjadi bagian dari mereka, tergeletak tak berdaya di tanah konflik ini. Satu persatu mayat berdarah namun penuh senyum saya hampiri, menyelimuti mereka dengan apa saja yang bisa menutupi, tak lupa berdoa semoga DIA mengampuni dan menghadiahkan surgaNYA.

Lelah hati menangis, namun tak jua saya dapati keberadaan keluarga, bingung, frustasi, segala rasa putus asa menyelinap, ditambah tak ada siapapun di sekitar, yah, seolah sesuatu akan menghantam kembali, hingga tak lagi saya temukan sesosok manusia yang masih hidup berkeliaran, mungkinkah memang tak ada lagi? Lalu di mana abi dan ummi?



Hingga akhirnya saya tersentak dengan kedatangan puluhan perwira bersenjata, tertawa penuh kemenangan, seolah kehidupan kami hanyalah permainan bagi mereka, tak sedikitpun tampak penyesalan, rasa iba, walau setitik saja, tak ada! Langkah kaki mereka mulai menjauh, saya keluar dari persembunyian.

Tidak, saya bukannya pergi berlindung dalam rumah yang takjubnya masih utuh, namun justru ikut berbaring bersama para jenazah, melumuri pakaian dengan darah mereka yang masih segar, yah, begitulah cara kami bertahan bila mendapati diri dalam kepungan para pesuruh yang mengagungkan pimpinan mereka yang melihat kami seolah ancaman.

Ketakutan kembali datang, akhirnya kata menyerah itu harus saya ikuti, tak dapat menemukan keluarga tercinta, saya berlari sekuat tenaga, siapa tahu para perwira gagah namun entah mengapa tak punya hati itu akan kembali menghampiri, tak mengapa tak bertemu insan tercinta, siapa sangka masih ada, namun bila tiada, semoga kembali berjumpa bersamaNYA.

  
”Oh Tuhan, apa yang terjadi? Siapa dia yang menindihku dengan kuasanya?  Sakit wahai Tuan! Sungguh sakit kurasa! Kenapa ini? Kemana suaraku pergi? Mengapa tuan ini begitu kuatnya? Apa yang dilakukannya padaku? Ibu, Ayah, di mana aku? Siapa tuan ini sebenarnya? Apa ini? Dia menjilatiku? Mencumbu tubuhku?

“Oh Tuhan, tidak! Tolong hentikan, Tuan! Mengapa kau lakukan ini padaku? Aku hanya seorang anak kecil! Tuhanku, mengapa kau biarkan tuan jahat ini melakukan hal hina pada tubuh mungilku? Mengapa? Apa salahku Tuhan? Apa salahku? Tidak, tuan ini? Tuan ini menjilati tangisku, TIDAK! TOLONG HENTIKAN!

“Apa ini? Rantai? Pantas saja aku tak bisa bergerak, tanganku, kakiku, demi kepuasan nafsu birahinya, orang besar tak tau diri ini tak membiarkan aku bergerak. Walau mataku ditutup, tetap saja aku bisa merasakan diriku dirantai, lalu, mulutku? Ia juga menutupnya, melakbannya? Pantas saja aku tak bisa bersuara? Oh Tuhan, mengapa harus aku? Aku lebih memilih menjadi mayat di sepanjang jalan kota kami, daripada harus mengalami hal yang tak bisa kutanggung ini!”

  
“Hanna? Kau menangis nak? Apa yang terjadi?” Suara kekhawatiran bunda menyadarkanku, entah sejak kapan beliau berada dalam kamar mungil namun nyaman ini.

“Oh? Tidak mengapa Bun, Hanna baik-baik saja!” Jawabku sambil tak henti mengusap air mata yang membasahi wajah dengan bantuan bunda.

“Aduh, enggak usah bohong sama bunda, tangismu saja sudah menjelaskan!” Yah, benar! Bodoh sekali, jika aku berpikir bunda takkan tahu.

“Ada teman yang mengirimi Hanna beberapa kisah anak-anak di medan konflik Bun, namun baru baca separuhnya saja sudah tak kuat!” Kembali air mata menetes tanpa dapat kutahan, membalikkan badan, membelakangi bunda juga laptopku.

Bunda memelukku, menepuk punggungku dengan lembut sambil membaca kisah yang kumaksudkan, bagaimana aku tahu? Karena bunda kini ikut menangis. 

"Lalu bagaimana nasib anak-anak ini sekarang?" Tanya bunda cukup tegar terdengar, namun hanya gelengan yang bisa kuberikan.

#CerpenTokohTakBiasa
#Tantanganke-6
#onedayonepost
#odopbatch5

4 komentar:

  1. Aku sedih banget tahu saudara kita di tanah konflik harus kehilangan kehormatannya :(

    BalasHapus
  2. T_T
    Semoga kita selalu tak lupa berdoa untuk mereka dan membantu dengan yang bisa kita berikan. Berharap suatu saat bisa langsung membantu ke sana.

    BalasHapus