Rabu, 07 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (2) Pertemuan Dengannya

Bagian 2  (Pertemuan Dengannya)

Walaupun pria itu sudah meminta maaf tapi ternyata ibu yang duduk di sebelahnya tidak ingin terganggu lagi dan meminta kesediaan Cahya untuk berganti tempat duduk, walau sempat menolak halus namun tetap dipaksa, jadilah Ia kini duduk dengan seseorang yang sebenarnya tampan atau malah teramat tampan jika saja melepas kacamata besar dan jenggot yang teramat panjang juga kumis yang Cahya yakin itu semua palsu.

Lama mereka berada dalam kesunyian, Cahya yang seorang penulis itu seolah menyadari sesuatu dan secara terang-terangan bertanya pada pria di sebelahnya dan berhasil membuat pria tersebut hampir saja memuntahkan semua makanan yang ada di mulutnya.

“Maaf Anda lagi dalam penyamaran ya? Wah, keren! Anda siapa? Seorang agen? Polisi? Anak pejabat? Artis? Dan pastinya bukan teroriskan?” pertanyaan Cahya akhirnya dijawab pria tersebut dengan melirik ke sekeliling tepatnya di sebelah kiri Cahya karena dia sendiri berada di posisi yang sebenarnya cukup menguntungkan untuk seseorang yang melakukan penyamaran.

Sambil membuka semua penyamarannya dan berharap Cahya akan berhenti menatapnya dengan penuh kecurigaan juga ketertarikan yang tak mampu dihapuskan wanita itu, pria yang ternyata adalah Abbas, penyanyi religi baru Indonesia itu memperlihatkan wajah aslinya, dan ternyata di luar dugaannya Cahya masih tak mengenalinya. Padahal Abbas sendiri ingat pada Cahya yang sempat bermain drama bersama temannya di bandara tadi.

Sumber Gambar : google.com

“Wah, ternyata benar anda dalam aksi penyamaran! Okelah silahkan kembali gunakan semua itu, nanti bakalan ada yang tahu, bisa bahaya, dan misi anda bisa gagal bahkan sebelum anda sempat ketujuan.” asli speechless, Abbas yang walau amat sangat heran dan bahkan ingin rasanya Ia memperkenalkan diri pada wanita di sebelahnya itu, namun setelah terngiang di telinga ocehan manajernya terpaksa Abbas mengikuti saran Cahya dan kembali mengenakan atribut penyamarannya.

“Wah keren, sorry saya masih belum bisa mengontrol perasaan saya, biasanya hal-hal seperti ini hanya ada dalam khayalan saya, dalam tulisan-tulisan saya dan sekarang hal ini nyata. Wah ... beneran speechless.” kembali pernyataan Cahya itu makin membuat Abbas hanya bisa menggelengkan kepala, seolah menyadari siapa gadis itu sebenarnya.

“Kamu Penulis?” tanya Abbas akhirnya supaya Cahya hilang fokus dari penyamarannya dan sepertinya itu berhasil, bahkan tanpa ditanya gadis itu dengan senang hati masuk ke dunianya sendiri menggunakan bahasanya sehari-hari. Yah, Cahya siap melontarkan mimpi-mimpinya yang membuat Abbas hanya bisa tertegun mendengarkan tanpa dapat menyela.

“Iya, kok kamu tau sih, tapi yah, emang sih aku tuh tampang penulis ya! Aku, Cahya Putri Satria Penulis buku-buku fenomenal yang legendaris yang akan selalu mengisi rak-rak buku manusia bumi yang suka baca dan tentunya selalu berharap pada perubahan serta always tak bosan untuk memperbaiki diri, selalu berada di dekat-Nya, and mengingat-Nya, pokoknya menjadi sosok yang dirindukan surga, kan enggak asyik kalau aku sendiri yang masuk surga, hehehe…. becanda! Enggak usah terlalu serius dengerinnya ya,

“Aduh gimana dong aku masih mau bicara banyak nih, jadi gini ya, aku tuh seneng banget sama dakwah, tapi enggak tahu cara yang baiknya tuh gimana? Lihat aja sekarang nih, aku yakin banget kamu pasti mau ketawa, iya kan? Makanya sebenarnya aku tuh selalu berusaha ngerem keinginan untuk bicara, tapi karena kamu yang sepertinya pengen tau banget jadinya yah, aku jelasin. Aku akan berusaha sekuat tenaga biar tulisan dakwah aku itu menyalip setiap hati manusia bumi dan akhirnya manusia di bumi ini tuh kenal dengan-Nya and hidup dalam kebersamaan yang indah,

“Makanya sekarang nih aku pergi menjelajah ke Negeri Serambi Mekah karena aku tuh selalu salut sama kota itu yang hukum-hukumnya erat dengan Islam, and aku juga kepengen banget tau perkembangan islam di sana, kehidupan insan-Nya, and utamanya aku bisa dapet ilham untuk tulisan aku,

“Aku juga berharap bisa kembali menundukkan kepala ini untuk selalu melihat seperti apa aku, apakah aku udah bener dalam akidah? Apakah aku udah bener dalam segala tindakanku di jalan dahwah yang kupilih ini? Apakah aku … ah sudahlah, aku nggak mau ngomong lagi, maaf ya permisi!” Selepasnya Cahya dari lontaran emosinya, Ia pun bergegas meyusuri lorong pesawat menuju toilet meninggalkan Abbas yang seketika meraih pena dan note-nya menuliskan segala yang tiba-tiba keluar membuncah setelah mendengar curahan hati Cahya.

~ Bersambung ~

Cerita sebelumnya (bagian 1) > Awal Pertemuan

#Cerpen10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

20 komentar:

  1. Aku kok nggak bisa bikin tulisan sekeren ini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, tulisan receh begini juga kak T_T
      Kak Rusdi tuh tulisannya keren ^_^

      Hapus
  2. Sepertinya itu penulis anak zaman now banget ya ... bayangan saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiii... efek gaya bahasanya ya mbak?
      Tapi, benarkah demikian?

      Hapus
  3. Wah cahya orangnya terbuka bgt dalam hal mimpinya ya, semangat cahya, bgmn kisah selanjutnya, next...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat terbuka, tapi cukup dalam hal itu saja ;-)
      Semangat juga Trio Aji-Aji ^_^
      Semoga kelanjutannya tidak mengecewakan.

      Hapus
  4. "Pertemuan dengannya"
    Waahh.. si Abbas bakal jd org penting nih buat si Cahya..
    Next mbak nia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang penting? Hmmm... iyakah? ;-)
      Terimakasih, siap dilanjutkan.
      Semoga tidak mengecewakan ya ^_^

      Hapus
  5. Si Abbas ya ini mr perfect nya? Hhe next mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget nih ;-)
      Siap. Semoga ntar gak kecewa ya ^_^

      Hapus
  6. Si Cahya banyak ngoceh ya Mb Nia,,hehehehh
    Lanjutkan mb...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heee... Iya Mbak Arin, sampai puyeng nulisnya :D
      Semoga tidak mengecewakan nantinya ya ^_^

      Hapus
  7. bacanya mengingatkan sy pada Mr. and Mrs. Smith...

    BalasHapus
  8. Hahaha... lucu banget ini Cahya 😆

    Yg pas Cahya ngoceh ke Abbas, saya ngebacanya sampe nahan napas 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi saya yang nulisnya Umm :D
      Untungnya sekali ini saja kok nahan napasnya #ups.

      Hapus
  9. Bentar, mau istigfar dulu. Itu ngocehnya 😂
    Astagfirullah.. Panjang banget.. Wkwk XD

    BalasHapus