Kamis, 08 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (3) Dia - Cahya


Bagian 3 (Dia - Cahya)

***
Dia terlihat cantik dengan pemikirannya,
Dia terlihat anggun dengan hatinya,
Dengan lisannya yang menggemaskan jiwa,
Dengan tutur katanya yang melelehkan raga,
Dia tetaplah insan yang selalu damai bersama cinta-Nya.

Dia yang tengah dirundung cinta,
Namun tak tahu cara mengekplorasinya,
Dia yang tengah merindu-Nya,
Namun tak tahu cara terbaik mengungkapkannya,
Itulah dia dengan segala cinta di hatinya tuk DIA yang selalu dirindunya

Kembali Abbas melihat coretannya setelah dua puluh empat jam yang lalu, saat Ia masih asyik mendengarkan lisan wanita yang namanya melekat dengan indah di akal pikirannya, Cahya Putri Satria wanita dengan penuh mimpi dalam meraih-Nya, wanita yang mengekplorasikan keinginannya dengan cara terbaiknya, wanita yang mampu sedikit menggugah hatinya untuk menulis sebuah lagu mengenai kerinduan yang mendalam pada-Nya yang Abbas sendiri sebenarnya tak mampu curahkan secara nyata di khalayak ramai.

Sumber Gambar : google.com

Untuk sesaat Abbas kehilangan kesadarannya karena teringat kembali saat di mana Cahya bercerita sekembalinya dari toilet, dengan mata yang masih sedikit menyisakan kaca-kaca transparan di balik selaput matanya yang hitam dan besar, wanita itu mengisahkan bagaimana perjuangannya dalam meraih mimpi-mimpinya, dan masih terus berusaha untuk memperjuangkan mimpi indahnya itu, dan akhirnya memperlihatkan senyum terindah yang pernah dilihat Abbas, karena lontaran kicauan Abbas setelah mendengarkan kisah Cahya selama perjalanan mereka saat itu.

Saya yakin kamu akan berhasil dan selalu berhasil dalam dakwah bil qalam kamu, dan saya juga akan berjuang dengan dakwah bil nada saya’ hampir saja statusnya sebagai penyanyi diketahui Cahya saat itu, hingga suara pramugari yang meminta penumpang kembali mengenakan seat belt karena penerbangan telah mencapai tujuannya menghapus keingintahuan Cahya.

Seperti halnya Cahya yang bertujuan melakukan riset demi tulisannya, Abbas pun punya maksud mencari inspirasi untuk lagu religi berikutnya, dan kebersamaan mereka membuatnya menghasilkan beberapa lagu dari segala kicauan gadis unik itu yang masih melekat di pikirannya, Abbas benar-benar mensyukuri jalan yang digariskan padanya karena pertemuannya dengan Cahya, walau kini Ia tak tau apa yang dilakukan wanita pemimpi itu. Karena baik dia maupun Cahya tak ada yang teringat untuk memberikan kartu nama, dan bahkan Cahya masih tak tau namanya.

***
“Iya Cinta, nih aku lagi makan, iya alhamdulillah akhirnya aku dapat juga hotelnya, walau terkesan mahal sih! Iya, iya, canda doang juga, udah ya, enggak baik makan sambil ngomong, okay! Selamat malam, selamat makan and Assalamu’alaikum Cinta!” Suara Cahya yang tengah berbincang dengan Fitra mampu menyihir banyak mata yang berada di ruang makan hotel, namun Cahya sepertinya tak menggubris tatapan-tatapan itu karena wanita itu kini sibuk dengan piring yang penuh makanan yang kini tengah ada di hadapannya, hingga akhirnya sapaan seseorang yang dikenal berhasil membuatnya menghentikan aksinya.

~ Bersambung ~

Cerita sebelumnya (Bagian 1) > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya (Bagian 2) > Pertemuan Dengannya

#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

16 komentar:

  1. Asik nih. Penasarana sama yang nyapa cahya.
    Mungkinkah abbas? Ah nggak mungkin.

    BalasHapus
  2. Aha! Petualangan dimulai, keep going keep struggle cahya 😍

    BalasHapus
  3. Saya juga kalo kenalan di perjalanan, udah banyak cerita tapi tak pernah ingat simpan nomornya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebiasaan kebanyakan manusia ya bu guru? ^_^

      Hapus
  4. Next mbak nia...
    Penasaran sama lanjutannya..

    BalasHapus
  5. Waaah Abbas jatuh cinta pada pandangan pertama sama Cahya ya 😆🤣

    BalasHapus
  6. Ehem, kok saya yang speechless yah 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya sama... :D
      #barusadarpasudahkelarbuatcerbungnya

      Hapus
  7. Ada yg pandangan pertama 😆

    BalasHapus
  8. Unik ya antara penyanyi dan penulis 😆

    BalasHapus