Jumat, 09 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (4) Saat Rasa Itu Datang


Bagian 4 (Saat Rasa Itu Datang)

Assalamu’alaikum! Bu Cahya Putri Satria, boleh saya duduk di sini?” sapa Abbas yang tak menyangka akan bertemu dengan wanita yang sebenarnya masih menyisakan sedikit kenangan indah di pikiran dan sepertinya kini tengah menari-nari indah di hatinya.

Wa’alaikumsalam! Oh, Tuan dengan misi penting, silahkan!” Demi mendengar julukan Cahya untuknya, Abbas pun tak dapat menghentikan tawanya yang kini tatapan yang tadinya diberikan pada Cahya beralih padanya namun seperti halnya Cahya, Abbas pun masih berada di dunianya yang lupa akan sekeliling.

“Oh, penyamarannya dilepas, mungkinkah di sini tidak akan ada yang mengenali?” tanya Cahya saat Abbas berhasil menguasai perasaannya untuk berhenti tertawa.

“Tidak begitu juga, tapi saya lelah dengan penyamaran, dan yah, saya hanya bisa berserah pada-Nya untuk hal yang akan terjadi nantinya. Dan … oh ya, nama saya Abbas!” jelas Abbas sambil tak lupa memperkenalkan namanya kepada wanita di depannya yang kini memperhatikannya dengan lebih seksama pada wajahnya.

Abbas memang telah melepas jenggot palsu dan kumis yang dikenakan sebelumnya namun masih menyisakan kacamata besar dan jenggot tipis yang melekat di dagu, Cahya yang menyadari Abbas melihat langsung pada mata besarnya mengalihkan pandangan pada piring Abbas yang lebih sedikit terisi dibanding piringnya.

“Okay Pak Abbas, mari silahkan makan!” ajak Cahya yang membuat Abbas kembali ke dunia nyata dengan menyantap makanannya dan sesekali menyesali apa yang telah diperbuatnya.

Yah, Cahya tak pernah sepenuhnya menatap langsung padanya, saat mereka berbincang pertama kalinya di pesawat, walau penampilan Cahya juga bukan seperti akhwat (muslimah) kebanyakan yang diketahui dengan jilbab serta gamis lebar mereka, saat itu di pesawat dan seperti halnya saat ini, Cahya lebih terlihat santai dengan jilbab yang tidak terlalu lebar namun tetap syar'i dengan menutup hal yang memang harus ditutup, pakaian yang dikenakannya hanyalah kaos panjang dan rok lebar serta sepatu kets yang menambah kesan tomboi pada dirinya.

Sepertinya bukan hanya Abbas yang menyesali perbuatannya karena Cahya pun kembali ke dunia pikirannya dan merutuki mata yang melihat keseluruhan wajah Abbas yang berperawakan arab.

Sumber Gambar : kabarmakkah.com

Setelah apa yang terjadi saat makan malam baik Abbas maupun Cahya hingga waktu yang menunjukkan pukul tengah malam, masih tak dapat memejamkan mata, dan memilih untuk qiyamul lail (salat tahajud) lebih awal dari biasanya, Cahya yang biasa melaksanakannya tak lama sebelum subuh, memilih melakukannya saat waktu menunjukkan pukul satu dini hari.

Demikian juga Abbas yang biasanya qiyamul lail  pada pukul dua pagi, memilih melaksanakannya lebih awal dan jadilah pada masa itu di balik kamar mereka masing-masing, salat sunnah tahajud didirikan di masa yang sama.

~ Bersambung ~

Cerita sebelumnya (Bagian 1) > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya (Bagian 2) > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya (Bagian 3) > Dia - Cahya

#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

15 komentar: