Rabu, 14 Maret 2018

Miss Dreamer and Mr. Perfect (9) Akankah Kita Bersama?

Bagian 9 (Akankah Kita Bersama?)

Karena merasa risih dengan tatapan itu, Cahya pun tak peduli dengan Abbas yang seolah tak menyadari ulahnya, Ia memilih pergi menjauh, berjalan tak tentu arah di luar gedung walimatul ursy Meyta dan Hafidz. Fitra yang ternyata menyusulnya langsung memeluk gadis yang sudah menuju kepala tiga itu, seolah mengerti akan perasaan sahabatnya dan mulai menyatukan puzzle kehidupan Cahya selama di Kota Serambi Mekah itu, fahamlah Ia siapa sosok yang dimaksud Cahya, fahamlah Ia mengapa Abbas melakukan hal itu.

Karena entah Cahya tahu atau tidak, Abbas mulai menyuarakan hatinya lewat media sosial yang dimilikinya dan tentunya hampir seluruh fans-nya mengetahui bahwa Ia telah menemukan sosok yang amat menginspirasinya, dengan setia Abbas melayani setiap pertanyaan dan tentu saja tetap menghargai privasi Cahya untuk tak menyebut nama juga profesi wanita yang telah hampir secara keseluruhan mempengaruhi aktifitasnya selama di Aceh. Fitra yang seolah menyadari kehadiran seseorang, akhirnya melepaskan pelukannya dan membiarkan sosok itu mendekat,  berlalu meninggalkan dua insan yang terpaut hatinya itu tanpa kata.

Cahya yang masih belum menyadari kepergian Fitra yang tergantikan dengan kehadiran Abbas, terduduk diam memandang langit dengan segala yang hadir di pikirannya, Abbas hanya dapat pasrah memandangi kebisuan gadis yang tak muda lagi itu dan ikut memandang langit yang sama. Barulah sekitar beberapa menit Cahya pun menoleh ke kirinya dan tersadarlah Ia bahwa Abbas selama ini menyertai kediamannya. Abbas pun ikut menoleh saat menyadari Cahya telah kembali ke alam nyatanya.

www.google.com

“Sudah lebih tenang Bu Cahya Putri Satria?” seru Abbas mengusir kebisuan di antara mereka. Cahya hanya bisa menganggukkan kepalanya menanggapi keceriaan Abbas yang sebenarnya masih menggantung itu, tanpa kata beranjak dari tempat duduknya dan memilih berjalan kembali ke gedung.

Kini gantian Abbas yang terdiam melihat kepergian Cahya Putri Satria yang hari itu mengenakan gamis yang baru pertama kali dilihat Abbas dikenakannya, jauh dari sisi tomboi yang selama ini melekat di jiwa Cahya. Dan jika ingin jujur Cahya pun tak dapat menampik jika hari itu penampilan Abbas sama menariknya dengan penampilan sang pengantin pria yang begitu memukau.


Duhai Rabb,
Rasa yang tiba-tiba hadir ini membuatku buta,
Rasa yang begitu menyiksa ini membuatku lupa,
Rasa yang seharusnya hanya untukmu ini menguasai jiwa,
Rasa ini, cinta ini, membuat dia menjauh seolah diri ialah aib.

Yah, apa yang kulakukan sangatlah salah!
Seharusnya aku menunggu lebih lama,
Seharusnya aku memberi waktu untuknya,
Seharusnya aku lebih bersabar untuk berserah.

Jika begini, akankah kami bersama?
Akankah Engkau tautkan aku dan dia?
Akankah Engkau ridhoi kami bersua?
Akankah ku tuju Firdaus-Mu dengannya?

~ Bersambung ~


Cerita sebelumnya bagian 1 > Awal Pertemuan
Cerita sebelumnya bagian 2 > Pertemuan Dengannya
Cerita sebelumnya bagian 3 > Dia - Cahya
Cerita sebelumnya bagian 4 > Saat Rasa Itu Datang
Cerita sebelumnya bagian 5 > Tentangnya
Cerita sebelumnya bagian 6 > Dia Itu Ternyata...
Cerita sebelumnya bagian 7 > Speechless
Cerita sebelumnya bagian 8 > Untukmu


#Cerbung10Episode
#Tantanganke-7&8
#BismillahLulus
#onedayonepost
#odopbatch5

2 komentar: