Jumat, 27 April 2018

Takdir Cinta Ratna


Sekawanan rerumputan bergoyang kompak dengan hembusan angin yang mengibaskan jilbab Ratna dengan cantiknya, setidaknya itulah yang dilihat Fahri di siang yang teduh sebulan yang lalu. Yah, sebulan yang lalu. Namun, tak mampu dilupakan oleh pemuda yang tak pernah sedikitpun tertarik dengan wanita hingga Ratna muncul di depan matanya dan membuat Ia merasakan sesuatu yang tak biasa di hati dan pikirannya.

“Assalamu’alaikum!” salam Ratna sambil mengetuk pintu yang lumayan besar di hadapannya.

“Wa’alaikumsalam!” terdengar suara dari dalam hingga pintu dibuka, dan hal yang tak disangka itu pun datang.

Fahri terdiam seketika melihat seorang muslimah yang berdiri di depannya begitu anggun dengan balutan gamis bunga-bunga pink dan jilbab lebar putih yang menambah sejuk setiap mata yang menatapnya.

Melihat kediaman itu, Ratna yang mengerti langsung membuka suara. “Maaf, saya Ratna, keponakan jauh Tante Lina dari Palembang. Apa beliau ada?” tanya Ratna yang menoleh ke arah kiri rumah, tampaklah olehnya sebuah Honda Jazz terparkir cantik di depan bagasi.

“Ratna?! Oh iya, maaf. Mari silahkan masuk!” sambut Fahri sambil memberikan jalan buat Ratna masuk ke rumah mewah orang tuanya itu. Ia benar-benar tak peduli pada sikap gadis itu yang saat bicara padanya tak sedikitpun memandangi wajahnya yang hampir seluruh gadis di kompleks perumahannya begitu terkagum-kagum pada ketampanannya. Karena Ia sendiri justru kagum pada gadis yang ternyata sepupu jauhnya itu.

Melihat Fahri yang masih saja berdiri menatapi dirinya, Ratna akhirnya kembali bersuara tanpa menoleh pada sepupunya yang aneh menurutnya itu, “Tante Lina ada kan di rumah? Kalau tidak ada, lebih baik saya pulang saja, Ass...!”

Belum sempat Ratna melengkapi salamnya, Fahri langsung mengatakan hal yang melegakan hati keduanya. “Eh iya, gak papa. Maaf, sebentar aku akan panggil Bunda, silahkan duduk dulu! mau minum apa? nanti biar aku pesan sama mbok Nah!” ucapnya masih tak beranjak memandangi Ratna.

Gerah juga hati Ratna menyadari dirinya jadi pusat perhatian, akhirnya gadis itu menanggapi sikap Fahri yang masih saja membuatnya bingung, “Terima kasih, cukup air putih saja!”

Memori pertama kalinya Ia berjumpa dengan gadis Palembang yang sengaja berlibur ke Bandung untuk istirahat sejenak dari kesibukan kuliahnya itu masih terekam kuat dalam pikirannya, tersadar dengan sikapnya yang aneh membuat Fahri suka senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya, hingga bila hal itu kepergok oleh Bunda, maka Bunda yang tetap cantik walau di usianya menginjak 47 tahun itu akan berseru, Pasti ingat Ratna ni, iya kan?! Anak Bunda lagi jatuh cinta!” dan setelah mengatakan hal itu, beliau akan langsung kembali kerutinitasnya, melangkahkan kaki ke butik yang berada di samping rumah. 

Hingga Fahri hanya akan menjawab lewat hatinya, ya Bun, aku tak bisa melupakannya. Dia telah membuatku merasakan indahnya cinta. Kapankah engkau akan kembali cinta?

***
 “Waduh yang suko ngelamun, hati-hati gek imannyo lari ke Ampera” kelakar Cindy pada Ratna yang akhir-akhir ini sering melamun tak jelas. Kalau memang Anti lah nak melengkapi keislaman Anti tuh, yo diomongke be langsung dengan murabbiyah Anti. Daripado tiap hari macam wong tak makan setahun nampak ane, risau tau tak ane ni dengan sikap Anti yang tak lemak nian dipandang mato ni. La cukup ane ni bersabar njingok Anti macam ni”*

Astaghfirullah, Afwan Ukh, ana pun tak nak nian macam ni. Tapi, entahlah risau nian hati. Tak tahu ngapo?!”* jawab Ratna yang membuat Cindy makin geleng-geleng kepala dibuatnya.

“Kalau Anti sendiri tak tau, cak mano pulo ane nak ngasih solusi? Sudahlah, cak ini be, datangi murabbiyah Anti, keluarkan segalo risau hati tu samo beliau, okay Sis?* sambil mengacungkan jempolnya pada Ratna yang akhirnya tak tahan untuk tertawa.

“Ya Allah Ukh, Anti tuh selalu buat ana tak henti bersyukur, alhamdulillah, jazakillah, Ukh.” pelukan hangat antara dua muslimah sejati yang sama-sama berasal dari Palembang, namun mengemban pendidikan di Kota Bertuah itu mengharukan setiap mata yang tak sengaja melihatnya.

Lah ade ape ni, bepelukan macam teletubbies je...” seru Mery, muslimah yang memang berasal dari Riau kepada  sahabat yang begitu akrab itu.

Iyo Ukh, tau betul Anti kami baru be nonton teletubbies. Jadi ngikut pulo, mau ikutan, ayo!” sahut Cindy meladeni candaan Mery, walau sudah sejak SMA tepatnya hampir lima tahun lebih di Riau namun bahasa daerahnya tak pernah lepas dari setiap ucapannya, beda dengan Ratna yang selalu mencoba mengkondisikan bahasanya dengan lawan bicaranya.

***
Seiring bergulirnya waktu, tiba saatnya di mana Ratna akan segera mengakhiri masa kebingungan yang selama ini dirasakannya, yah, pernikahan akan segera menghampirinya. Setelah menceritakan segala resah di hati, akhirnya, sang murobbi pun memberikan taaruf* sebagai solusi baginya. Masih teringat olehnya bagaimana taaruf itu berjalan dengan begitu hikmatnya. Sang Ikhwan* adalah teman satu kelasnya saat masih duduk di bangku SMA, dan ikhwan itu juga yang dulu begitu menyita perhatiannya karena akhlak dan kemiripan wajahnya dengan almarhum kakaknya tercinta.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Ukh. Ane benar-benar tak menyangka akan bertemu Anti dalam keadaan seperti ini, subhanallah, Allahu Akbar, sungguh tak ada satu manusia pun yang dapat mengetahui rahasia Allah dalam kehidupannya. Semoga ini merupakan awal yang baik bagi kita, Aamiin.” Sapa Firman mengawali taaruf yang tak hanya mendebarkan hati keduanya tapi juga Ustad Abdullah dan Melda yang mendampingi mereka.

Ratna yang biasanya selalu mendominasi setiap diskusi yang dihadirinya, kini hanya diam membisu tak tahu apa yang harus dikatakan, karena hatinya begitu gembira, hatinya cerah secerah mentari pagi yang menjernihkan mata. Namun, Ia tak ingin kebahagiaan itu terlihat oleh Firman juga ustad Abdullah, salam Firman pun hanya mampu dijawabnya lewat hatinya yang tak henti bersyukur

‘Cukuplah Allah yang tahu apa yang kurasa kini, Alhamdulillah, segala puji bagimu Rabb, sungguh indah perjalanan hidup yang Engkau gariskan pada hamba.Akhirnya Ratna hanya mengangguk menanggapi sapaan insan yang sebentar lagi akan menjadi imam dalam rumah tangga kecilnya.

Namun, kebahagiaan yang dirasanya kini tak berlangsung lama, karena sehari sebelum acara walimahan itu akan segera diadakan, Firman tak kunjung memberi kabar, muslim beriman yang telah menyentuh hati tulus seorang Ratna hilang ditelan bumi. Hingga akhirnya Ustad Abdullah, murabbi Firman yang juga telah dianggap abi bagi Ratna datang menyampaikan kabar yang merobek kebahagiaan yang sempat terasa di hati muslimah yang mempesona setiap insan di sekitar karena akhlaknya yang begitu mulia.

“Ratna, anakku tercinta. Maafkan abi, tak tega hati ini menyampaikan berita yang hanya akan menyakiti hatimu, hati kita semua. Tapi, ini adalah suratan takdir dari-Nya yang harus engkau hadapi dengan segala kesabaran dan ketawakalan pada-Nya. Engkau takkan menikah dengan Firman nak, karena mutarabbiku itu gugur di medan syahid. Tepatnya sehari setelah peristiwa taaruf yang indah itu, dirinya terpanggil untuk pergi bersama teman lelaki yang lain demi menegakkan syariat IslamIa sama sekali tak terlibat dengan peperangan di sana tapi Ia hanya berniat untuk berdakwah. Namun karena kebutaan pemerintah, Ia disangka teroris dan Ia pun tertembak mati saat majelis mereka digerebek oleh aparat yang menjalani perintah tak berakal itu.” Banjir air matapun tak dapat lagi terhindar, baik Ustad Abdullah maupun teman-teman di sekitaran Ratna. 

Namun, tak demikian dengan Ratna, tak ada tampak setetes pun air mata mengalir dari matanya yang sendu itu. Bahkan dengan segala ketegaran Ia menanggapi penjelasan abi angkatnya itu. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Subhanallah, Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang telah merancang kehidupan yang indah ini. Abi, tak perlu engkau ucapkan maaf pada Ratna, justru Ratna sangat berterima kasih pada abi karena telah mempertemukan kembali Ratna dengan Akhina Firman. Ratna sangat bersyukur abi, karena Ratna sempat melewati peristiwa yang indah bersama beliau dan hal itu takkan pernah terlupakan bagi Ratna. Tak ada yang perlu disesali, kita harus ikhlas menerima semua ini, apalagi Akhina Firman kembali dalam keadaan syahid dan itu adalah hadiah terindah dalam kehidupan dunia ini, begitukan abi?!”

Senyum ketulusan bertengger di bibirnya yang merah, melihat wajah yang begitu bercahaya itu, orang-orang yang tadinya menitikkan air mata kesedihan, kini ikut tersenyum indah dan tak banyak juga yang kembali membanjiri wajahnya dengan air mata kebahagiaan. Bahkan teman-teman wanita yang mendengarkan berita duka itu berhamburan memeluk Ratna, memberikan kekuatan pada muslimah sejati yang luar biasa itu, tak ketinggalan Melda, murabbiyah Ratna yang juga ikut andil dalam kenangan terindah Ratna bersama Firman memeluknya dengan erat dan tak henti-hentinya menyemangati Ratna. Hingga, Ratna tak dapat lagi membendung harunya yang akhirnya meluap berganti air mata yang deras mengalir di wajah mulusnya.

***
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada kehidupannya, baik hari ini, esok ataupun lusa. Seperti halnya Ratna yang tak mengerti mengapa Ia masih saja didandani bak pengantin yang akan melakukan pernikahan. Yah, semua undangan telah hadir, bahkan kini dirinya telah berada di depan cermin yang cukup besar, tampaklah olehnya muslimah cantik yang begitu memikat hati. Subhanallah, Alhamdulillah, betapa indahnya penciptaanmu Rabbi,”

Begitu khusyuknya Ratna mensyukuri atas apa yang ada pada dirinya di cermin yang tak pernah berbohong itu, sahutan Cindy yang begitu hangat padanya pun tak mendapat respon, “Ya Allah, Ukhtiku ini ngelamun lagi, hello Ukh, Assalamu’alaikum!” sedikit keras dan tepat di telinga Ratna.

“Eh ya, wa’alaikumsalam warohmatullahsenyum keheranan pada wajah Ratna membuat Cindy tak dapat menahan tawanya, saking besarnya hingga Mery pun masuk dan tanpa dikomando Ia pun ikut tertawa. Melihat itu, Ratna hanya geleng-geleng kepala tak mengerti atas kelakuan dua sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara baginya itu.

Afwan Ukh, Ane bahagiaaaaaa banget hari ini. Hehe.. harusnyo kan Anti yang lebih bahagia yo. Congratulation Ukh, barakallah!” seru Cindy dibarengi anggukan oleh Mery.

“Bahagia apo bahagia?! Tolonglah Ukh, jelaskan kenapo acara walimahan ini tetap diteruskan, dan siapo Ikhwan yang akan ana dampingi itu?” tanya Ratna akhirnya.

Mendengar pertanyaan itu, baik Cindy maupun Mery tak ada yang mampu menjawabnya, dan akhirnya jawaban yang cukup melegakan datang dari murobbiyah Ratna tercinta.

“Ratna sayang, afwan karena kami berbuat tanpa bermusyawarah terlebih dulu denganmu. Tapi kami yakin, engkau takkan menolak semua ini! Seperti halnya keluargamu, merekalah yang merancang semua ini, kau ingat saat aku, ayah dan ibumu, serta Ustad Abdullah, terburu-buru pergi meninggalkanmu bersama saudarimu yang lain?!” tak hanya Ratna yang mengangguk tapi Cindy dan Mery pun ikut menanggapi pertanyaan murobbiyah Ratna yang sudah seperti kakak bagi mereka.

“Ya kak, kami ingat!” seru mereka berdua, mendengar itu baik Ratna maupun Melda tak dapat menahan senyuman yang akhirnya bertengger di wajah keduanya.

Mengalirlah cerita Melda, mengenai saat-saat pertemuan keluarga Ratna dengan keluarga Ikhwan yang tak lain adalah sepupu jauh ibu Ratna. Rombongan yang akan menjadi besan keluarga Ratna itu datang dari Bandung, mereka sengaja datang untuk menghadiri walimahannya Ratna namun setelah mendengar penuturan Ustad Abdullah yang masih tak dapat membendung tangisnya itu, salah satu insan yang berada di sana, yang tadinya begitu tertutup dan terlihat tak bersemangat, menguraikan hal yang menyebabkan kalimat tahmid pada-Nya berkumandang oleh seluruh insan yang berada di sana.

Anak muda yang sedikit mirip dengan Ratna itu menuturkan kesiapan dirinya untuk menikahi Ratna dan mencurahkan segala perasaan yang telah lama tersimpan rapi di hatinya, yaitu rasa cinta yang tulus kepada Ratna karena Allah SWT. Subhanallah! Dan rasa itu jugalah yang menjadi alasan kenapa Ratna harus menjalani taaruf sebagai jawaban dari kebingungan hatinya. Yah, tanpa disadarinya gadis yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu terkadang juga memikirkan pemuda bandung yang menjadi teman berliburnya masa itu.

***
Cinta, tiada yang tahu Ia akan berlabuh ke mana, akan mengarah ke mana. Akibat apa yang akan terjadi olehnya, dan bagaimana kondisi insan yang mendapati anugerah cinta. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi hambanya, namun bukan berarti manusia menjalani kehidupan tanpa usaha dan doa pada-Nya. Tidak akan berubah nasib suatu kaum, sebelum Ia mengubah nasibnya sendiri. Untuk mendapatkan apa yang telah digariskan Allah pada kehidupan, wajib bagi diri ini untuk tak berhenti bertawakal dan berserah diri pada-Nya. Dan memilih kehidupan yang dibutuhkannya, serta tak salah memilih jalan untuk setiap penyelesaian masalah kehidupannya.

Setidaknya itulah yang kini disadari dan begitu disyukuri oleh Fahri, peristiwa pertemuannya dengan Ratna menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi dirinya. Fahri yang dulu tak pernah aktif dalam organisasi dakwah baik sekolah maupun kampusnya, setelah mengenal Ratna yang hanya lebih dari seminggu itu menumbuhkan kerinduan di hatinya pada Islam yang ternyata menyejukkan jiwanya.

Ya Allah, ku tak tahu harus berucap apa selain hanya syukur yang tiada tara pada-Mu, Alhamdulillah, atas Ridho-Mu hamba bertemu dengan muslimah yang membawa hamba pada tali-Mu, ukhuwah Islam yang indah, cinta yang Engkau anugerahkan padaku untuknya, merubah diri yang tadinya hanya sibuk dengan dunia, menjadi ingin sekali segera bertemu dengan-Mu dan tentu saja bersamanya Rabbi. Ridhoilah pernikahan kami ini, kekalkanlah kami dengan Iman dan Islam di hati hingga di kehidupan yang abadi di akherat kelak. Aamiin ya rabbal ‘alamin”.



#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

Ket. Bahasa :

“Waduh yang suko ngelamun, hati-hati gek imannyo lari ke Ampera” (Waduh, yang suka melamun, hati-hati nanti imannya lari loh ke Ampera)

Kalau memang Anti lah nak melengkapi keislaman Anti tuh, yo diomongke be langsung dengan murabbiyah Anti. Daripado tiap hari macam wong tak makan setahun nampak ane, risau tau tak ane ni dengan sikap Anti yang tak lemak nian dipandang mato ni. La cukup ane ni bersabar njingok Anti macam ni” (kalau memang kamu sudah ingin melengkapi keislamanmu, ya dibicarakan saja langsung dengan pembimbingmu. Daripada tiap hari terlihat seperti orang tak makan setahun, risau tahu enggak, enggak enak banget ngeliatnya. Sudah cukup sabar aku melihatmu seperti ini)

AstaghfirullahAfwan Ukhana pun tak nak nian macam ni. Tapi, entahlah risau nian hati. Tak tahngapo?!” (maaf saudariku, aku pun tidak ingin seperti ini, tapi entah kenapa hati ini risau sangat. Enggak tahu kenapa?!)

“Kalau Anti sendiri tak tau, cak mano pulo ane nak ngasih solusi. Sudahlah, cak ini be, datangi murabbiyah Anti, keluarkan segalo risau hati tu samo beliau, okay Sis?” (kalau kamu sendiri aja enggak tahu, gimana aku mau ngasih solusi? Sudahlah, begini saja, datangi kakak pembimbingmu, keluarkan segala kerisauan hati itu sama beliau)

Murabbi/murabbiyah = kakak pembimbing dalam sebuah halaqah (majelis ilmu)
Mutarabbi = yang mengikuti halaqah
Ikhwan = Laki-laki
Akhwat = Perempuan
Taaruf = proses perkenalan
Akhina = saudara seiman laki-laki

Selasa, 24 April 2018

Mak Comblang itu Bernama Mami

TEMA : TOKOH ORANG TERDEKAT YANG PALING DIKAGUMI

Doc. Pribadi

Seperti biasanya di setiap pagi dunia, tak bosan diri ini mendengarkan seruan khas ibunda membangunkan anak gadisnya tuk bersiap menyambut matahari yang masih malu-malu menyinari bumi, “Zaaa… banguuun! Katanya mau bantuin Mami nyuci baju hari ini?!” ya ampun, iya. Aku kan udah janji semalem! Jadilah, raga yang memang telah terjaga ini, melipir ke luar kamar dan bersiap dengan aktifitasnya hari itu.

“Mami mau ke mana? Cantik bener?” pertanyaan yang tidak perlu sebenarnya, karena jelas semalam Mami udah cerita agenda beliau untuk hari ini.

“Aduh, kamu itu beneran anak mami bukan sih? Maminya cantik aja masih ditanyain! Lupa ya, kan emang udah dari lahir cantik begini!” waduh, salah fokus nih.

“Iya, Mom. I’m so sorry! Dengan segala hormat, silahkan meninggalkan singgasana Ratu kami yang mulia!” akhirnya itulah kata yang terucap, biar enggak panjang celotehnya. Hah! Speechless deh.

Setelah mengumbar tawa dan senyuman memikatnya, Mami meninggalkanku seorang diri. Yups, aku anak satu-satunya, punya orangtua super sibuk di luaran sana, biarpun begitu, aku patut bersyukur karena mereka masih selalu menyempatkan diri untuk bersua denganku di pagi hari, dan pulang saat mata ini belumlah terpejam, kami juga punya waktu tuk liburan bersama. Hanya saja, hari ini Daddy sedang ada tugas luar kota selama seminggu, jadilah kami hanya berdua, dan harus dicatat, today, I must work at home alone! Nasib jadi anak tunggal!

Di sepanjang kesendirian yang super menyibukkan padahal libur, eh, justru karena libur ya?! Setelah selesai dengan cucian yang dibantu sama si mesin cuci, beberes rumah, dan masak. Akhirnya jiwa dan raga ini memilih beristirahat menonton drama crime yang menjadi dambaan.

“Ya Allah, anak mami ini, tontonannya kok ya yang sadis begitu? Mau jadi apa kamu nak?” tanpa sadar Mami sudah berada di belakangku.

Astaghfirullah! Mami ngagetin ih! Kok enggak manggil or ngetok pintunya sih?”

Allahu, mami udah manggil and ngetok beberapa kali sayaaang, dan lagi kamu kan kalo udah di depan lappy suka lupa sama sekeliling! Udah ah, mami mau istirahat dulu, dan kamu … berhenti nonton film itu! Okay my baby girl?!” 

*** 
Mom, kemarin kok Za lihat mas Zikri sama mbak Fitra ya? Kenalan di mana? Bukannya enggak pernah ketemu gitu?” tanyaku di hari santai kami.

“Aduh, kamu kepo banget sih! Iya, mereka Mami yang pertemukan, gimana? Cocokkan?!” kembali Mamiku tercinta ini buat speechless.

“What are you doing Mom? Eh, salah. Why?” saking bingungnya aku sampai salah tingkah begini. Euh!

Aigooo! Emangnya kenapa? Ada yang salah gitu? Atau jangan-jangan kamu suka sama Zikri ya?”

Astaghfirullah! Mommy apaan sih, ngaco aja. Aku masih sekolah dan enggak akan pernah pacaran. Titik! Lagian, enggak mungkin juga aku suka sama masku sendiri!”

“Yeee… siapa juga yang nyuruh kamu pacaran! Yah, suka sebagai adik enggak masalah toh? Hmmm… okay, balik ke pertanyaan kamu ya, kenapa mami ngelakuin itu? Karena suka aja, mami sudah beberapa kali ketemu sama Fitra, kamu juga kan?! Harusnya kamu ngerti dong kenapa? Fitra itu cantik, baik, ramah, penurut, pekerja keras lagi, pokoknya perfect deh, cocok sama Zikri yang tampan, pekerja keras juga, dan yang paling utama shalih!” Kalau kamu bisa bayangkan, Mami bicara begitu dengan matanya bersinar cerah, menembus ke relung hati, bisa juga ibundaku tercinta ini jadi mak comblang! Wah, harus waspada nih, bisa-bisa malah aku entar yang dijodohin! Atau mungkin malah kamu?

Baru saja aku dan Mami berceloteh malam itu, terdengar suara ketukan pintu. Jadilah, raga ini mengalah dan membiarkan sang kaki melangkah ke depan meninggalkan Mami yang kembali disibukkan dengan sulamannya.

“Mas Zikri? Masuk Mas, mau ketemu mami ya?” asli lagi-lagi aku speechless! Baru juga diomongin udah nongol orangnya.

Malam itu, tidak seperti biasanya, mas Zikri memperlihatkan mata sendunya, dan entah kenapa membuat hati ini iba. Namun, mami tak membiarkanku membersamai mereka, setelah sedikit berbasa-basi, seolah Mami mengetahui ada sesuatu dengan kakak sepupuku yang hari itu mengenakan kaos biru lengan panjang dan celana hitamnya, memintaku undur diri ke kamar meninggalkan keduanya. Benar, aku masuk kamar, tapi tentu saja aku menguping pembicaraan dua orang dewasa itu.

Prihatin, jengkel, marah, intinya emosi dalam diri ini sangatlah tidak stabil setelah berhasil mendengarkan kisah mas Zikri. Salah satu insan favoritku itu, sama halnya denganku tak ingin berpacaran, jadilah, setelah sudah sangat memantapkan hati, beliau mendatangi keluarga mbak Fitra meminta restu untuk meminang. Awalnya bahagia tertera di wajah saat mendengar sang ayah merestui, namun tidak dengan ibunda. Ibu yang usianya terpaut lima tahun lebih tua dari Mami, membeberkan beberapa syarat yang sebenarnya sangat sulit untuk dipenuhi oleh pria idaman itu. Wuah, beneran bikin jengkel, astaghfirullah!

Tak butuh waktu lama, selepas mengantarkan kepergian mas Zikri, Mami langsung bersiap menuju TKP. Awalnya, Mami ingin pergi seorang diri, tapi aku memaksa ikut, jadilah beliau mengizinkan. Di tempat kejadian, tepatnya di rumah yang lebih mirip istana dengan segala peralatan rumah tangga serba emas dan berkilau itu, Mami langsung bicara tanpa basa-basi seperti biasanya. Jika kamu ingin tahu, mbak Fitra persis diriku, Ia adalah anak tunggal dan memiliki bunda yang super protektif. Tidak hanya itu, tante Ratu ini sangat menjunjung tinggi kebersihan, jadi, dikalau beliau datang ke rumah, maka otomatis kami harus merelakan waktu untuk membersihkan setiap sudut rumah, karena entah bagaimana, tante Ratu akan mengetahui debu walau hanya setitik. Keren banget kan? Sesuai namanya. Ratu! Berbeda dengan sang bunda, mbak Fitra persis sang ayah, baik, ramah, sangat asyik diajak bicara. Jadi, wajar sih, kalau Mami menjodohkan dua sejoli favoritku ini.

Kembali pada permasalahan mereka, Mami bicara dengan sangat lugasnya, persis saat Ia bicara depan para ibu yang mengikuti pelatihan PKK, “Mbak, bukankah kita sudah sepakat untuk menjodohkan mereka? Lalu kenapa mbak malah membuat semuanya menjadi rumit? Apa kurangnya Zikri, anak seorang ulama besar di kota ini, pekerjaannya tidak sebanding dengan Fitra, tapi bukankah yang penting halal?! Ia juga bahkan akan segera mengikuti jejak abi-nya menjadi ulama tersohor di sini. Bukankah, akhlak yang paling utama yang kita cari untuk calon pendamping anak kita mbak? Untuk harta? Rezeki sudah diatur Allah, pasti ada saja nantinya untuk mereka. Tapi, apa? Mbak malah bilang kerjanya dia enggak jelas, mbak malah minta mas kawin puluhan juta hanya dalam waktu sepekan, maksud mbak apa? Mbak bahkan meminta dia berhenti dan menyuruhnya masuk ke perusahaan mas Fajar, bukannya itu justru merendahkan harga dirinya mbak?” Aku memang tidak di sana, yah, seperti halnya di rumah, saat ini pun, Mami hanya memperbolehkanku ikut, tapi tidak masuk dalam kelompok pembicaraan, namun, suara tinggi Mami yang terdengar sendu cukup terdengar di telingaku yang saat ini kembali menguping dari jarak yang lumayan dekat sebenarnya, hanya lima meter.

Tidak hanya aku yang terdiam, mbak Fitra yang seorang dokter, hari itu terlihat anggun dengan daster tidurnya, om Fajar dengan kemeja tidur biru yang serasi dengan tante Ratu, ikut terdiam mendengar curahan Mami tatkala mendatangi istana megah itu di kala penghuninya telah hampir terlelap dalam mimpi indah mereka.

Namun, aku keliru, tante Ratu langsung membuka suara setelah beberapa menit mencerna ucapan Mami memotong om Fajar yang juga ingin bicara, “Ratih, saya tidak pernah menyepakati apapun, saya hanya berbuat yang semestinya saya lakukan sebagai ibu Fitra. Saya merasa bertanggung jawab untuk menerima calon pendampingnya, tidak ada salahnya dong, kalau saya sedikit menguji pria shalih itu?” Wuah … tidakkah kamu meradang mendengarnya? Ingin rasa hati menimpali, tapi, tentu saja, tak baik untuk Mami, dan lihatlah, kini mbak Fitraku yang cantik itu mulai menitikkan air matanya. Hah, aku tahu tante Ratu begitu karena sangat menyayangi anak semata wayangnya, tapi, lihatlah, beliau justru melukai hati tulus yang tengah mencinta itu.

Astaghfirullah! Mbak, hanya Allah yang pantas menguji kita. Apalah diri ini yang begitu fakir sebenarnya. Bertahun-tahun kita saling mengenal, haruskah mbak buat hubungan ini renggang? Lihatlah mbak, lihat Fitra, tidakkah mbak memikirkan apa yang sebenarnya diinginkannya, tidakkah mbak bisa mendengar suara hatinya untuk sekali iniii saja mbak, biarkan gadis ini memilih, biarkan Ia menjalani hidupnya. Saya tahu, mbak adalah ibu Fitra, justru karena itu, sekali lagi, sebagai seorang ibu untuknya, tolong dengarkan hatinya, jangan hanya memikirkan ego mbak saja.” tidak hanya gadis cantik yang kini berada dalam dekapan erat ayahnya semakin kuat menahan tangis, aku, yang seorang diri ini, melelehkan air mata tanpa terasa. Syukurku padamu ya Rabb, Engkau berikan seorang ibu yang amat mulia untukku.

Mungkin kamu bertanya-tanya, ke mana om Fajar? Hanya menjadi tameng untuk menenangkan mbak Fitra? Jujur, aku juga begitu penasaran. Tapi, di akhir pembicaraan serius ini, ayah mbak Fitra yang juga merupakan sahabat Daddy, memperdengarkan lisannya, “Sudah cukup, bukankah kita telah usai membicarakan hal ini, harus berapa banyak lagi Fitra menangis malam ini? Seperti perkataannya Ratih, buang ego-mu itu Rat, bukankah justru kau yang sangat menantikan seorang menantu yang shalih, jadi cukup ingat itu, dan lupakan nafsu duniamu yang hanya akan membawa murka-Nya!” Setuju! Kamu tahu, entah kenapa saat mendengar om Fajar berbicara tegas begitu, aku justru berkhayal bahwa beliau adalah Daddy yang tengah menceramahi Mami. Hahaha… dasar, anak enggak tau diri ya. Maaf, Mom!

Selepas drama pilu tengah malam itu, diiringi pelukan hangat Mami, tante Ratu, dan mbak Fitra tentunya, kami pulang membawa kedamaian hati. Tentu tidak mudah bagi tante Ratu untuk mendengarkan Mami juga om Fajar, tapi, setidaknya pembicaraan amat serius ini, bisa sedikit memutihkan hati beliau. Dan bisa menjadi obat untuknya setidaknya kali ini bisa menjadi seorang ibu yang akan mau mendengarkan suara hati anak tercintanya.

Mommy sama om Fajar keren ih, Keiza sampai meleleh loh tadi!” seruku mengawali pembicaraan kami dalam mobil di tengah perjalanan menuju rumah.

“Ya ampun, kamu nguping ya? Tapi, meleleh kenapa? Perasaan tadi Mami biasa aja deh ngomongnya, enggak lagi ceramah yang menyanyat hati gitu?! Beda sama om Fajar yang emang udah rajanya” sahut Mami menimpali dengan sedikit gurauan dan tetap menatap jalanan yang kini tengah sepi.

“Aduh, lupa! Harusnya Za enggak usah ngomong, euh, nyesel deh!” seiring ucapanku yang juga gurauan itu, jadilah kami memperdengarkan tawa di tengah perjalanan yang mencekam sih sebenarnya. Maklum udah tengah malam. Kalau saja Daddy tahu, bisa-bisa kami yang kena ceramah malam ini! 

#Tugas3 
#TokohOrangTerdekatYangPalingDikagumi 
#Fiksi 
#onedayonepost 
#odopbatch5

Kamis, 19 April 2018

Why Me?!


"Kenapa kamu selalu mengganggu Caca? Kenapa kamu selalu buat Caca nangis? Apa salah Caca? Apa? Kenapa Romi? Kenapa?’"

Astaghfirullah!” setelah sadar dari mimpi buruk untuk kesekian kalinya, aku mendapati bunda yang sudah terbiasa, membuka pintu kamarku dan mendekat.

“Kamu mimpi Caca lagi? Sudahlah, lebih baik sekarang kamu berwudhu, masih ada waktu untuk lail” kembali Bunda menenangkanku untuk yang kesekian kalinya juga.

Selalu begitu, ya Allah, hamba bersyukur karena Engkau selalu membangunkan hamba untuk lewati masa yang indah ini, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini ya Rabb? Astaghfirullah!

***
“Mas Romi, liat mbak-mbak yang di depan, gimana kalau kita aja yang gantiin, kasian kan, mataharinya udah terik banget.” seru Syarif, membuatku harus berpaling pada dua mahasiswi yang dimaksudnya, di tengah asyiknya meminta sumbangan untuk korban banjir.

“Oh ya udah, ayo!” sahutku akhirnya.

“Terima kasih, semoga diridhoi Allah. Aamiin!” terdengar suara salah satu mahasiswi yang akan segera kami hampiri.

Suara itu? 

“Assalamu’alaikum Mbak, minta sumbangan juga ya?” tanya Syarif pada dua mahasiswi berjilbab yang sudah berada di depan kami.

Sepertinya bukan dari kampusku?

Wa'aikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, iya, alhamdulillah banyak juga nih!” jawab mahasiswi yang mengenakan almamater organisasi yang sama dengan kami, hanya saja sepertinya memang dari kampus yang berbeda. 

Alhamdulillah, gimana kalau mbak minta sumbangannya di bawah pohon itu aja, lebih adem kan?” sahut Syarif lagi. 

Nekat juga nih anak. 

“Maaf mbak, saya tidak bermaksud apa-apa kok, hanya tidak semestinya saja dua akhwat berada di tengah persimpangan, di bawah terik matahari yang begitu menyegat ini.” jelas Syarif pada dua wanita yang menatap heran padanya. 

Jazakallahu khairan! Kalau begitu, silahkan mengambil posisi kami, kebetulan sudah cukup untuk hari ini.” jawab mahasiswi dengan balutan jilbab dan baju kaos hijau serta rok panjang hitam yang membuatku terpikir akan sesuatu. 

Suara dan mata itu? Astaghfirullah!

“Mas? Mas Romi?” tanya Syarif dengan melambai-lambaikan tangan di depan wajahku. 

“Ya, kenapa? Loh, dua mahasiswi yang ada di sini tadi udah pergi?” tanyaku pada Syarif. 

“Udah Mas! Wah, masku lagi jatuh cintrong nih!” sindir Syarif padaku. 

What? Cintrong? Apaan tuh?” tanyaku lagi, menyembunyikan rasa malu yang menggumpal. 

Astaghfirullah, bisa-bisanya aku berbuat seperti ini, kembali tersihir setelah sekian lamanya hal itu tak menghampiriku lagi.

***
Loh, itu kan mahasisiwi yang beberapa hari kemarin aku temui dengan Syarif?! 

Assalamu’alaikum Mbak Siska, sibuk banget nih kayaknya, tak bantuin yo.” sapaku pada ibu muda yang kini telah berhasil dengan prestasi kepenulisannya. Dan karena ingin meraih impianku seperti yang telah dicapai Mbak Siska dan beberapa insan di kota ini, aku tergerak untuk ikut dalam organisasi, di sini aku punya banyak teman dari berbagai kalangan dan kampus, banyak pengalaman yang kudapat, dan tentunya pelajaran tentang hidup.

Setelah Mbak Siska menjawab salam dan mempersilahkan, aku membantunya membersihkan ruangan yang penuh dengan buku, beberapa bekas plastik dan botol minum. Yah, hari ini seleksi penerimaan anggota baru, pria dan wanita tempatnya terpisah.

Alhamdulillah, bersih juga, sekarang apa yang kamu inginkan Romi?” tanya Mbak Siska mengagetkanku, tau aja ya Mbakku satu ini. 

“Boleh liat daftar peserta yang ikut seleksi tadi nggak Mbak, please!” harapku padanya.

“Kamu yakin, sebanyak ini?!” tanya Mbak Siska lagi sambil menggenggam lampiran surat pendaftaran yang lumayan banyak.

“Yakin Mbak!” jawabku dan mulai memeriksa satu per satu daftar yang menumpuk di depanku. Banyak juga ya peminatnya, tadi yang pria juga sebanyak ini sih, alhamdulillah!

Alhamdulillah, ketemu!” seruku bahagia, tak lupa mencatat alamat dan nomor handphone-nya juga alamat email-nya. Benar saja, dia bukan dari kampusku.

“Siapa sih? Loh, ini kan Icha! Kenapa? Kamu naksir sama dia?” tanya Mbak Siska kembali mengagetkanku.

“Mbak aneh aja deh, kalau pun itu terjadi, semoga aku udah siap untuk jadi imam yang baik untuk wanita itu. Jadi mbak kenal dia?” sahutku.

“Iya, Icha kan adik tingkat Mbak, sebenarnya udah dari setahun yang lalu dia ingin masuk, tapi belum sempat, baru sekarang dia bisa.” jelas Mbak Siska.

“Coba dari setahun yang lalu ya Mbak, kan sama dengan Romi.” godaku pada Ibu muda ini. Setelah berterima kasih dan salam, aku pun pergi meninggalkan Mbak Siska yang tersenyum penuh arti. Terserahlah, yang penting kini aku dapatkannya. Alhamdulillah.

***
Assalamu’alaikum, Bude!” salam dari depan pintu.

Wa’alaikumsalam warohmatullah, Siska? Ayo masuk!” seru Bunda pada Mbak Siska.

“Bu Fatimah?” tanya seseorang yang bersama Mbak Siska.

“Ririn?” tanya bunda balik. “Masyaallah, sudah lama tidak bertemu, makin cantik saja.” seru Bunda setelah menyadari pandangannya.

"Alhamdulillah, Ibu juga awet muda banget.” sahut Ririn menimpali godaan Bunda.

“Iya, tau aja Lu Rin? Pa kabar?” sahutku di belakang Bunda, sedikit mengagetkan tiga wanita cantik di hadapanku.

“Tahu dong, Ririn gituh! Alhamdulillah baik bro, tapi kenape Lu yang keliatan tuaan yah?” goda Ririn padaku.

“Terlalu banyak pikiran nak Ririn!” timpal Bunda.

“Mikirin siapa, Icha?” tanya Mbak Siska mengagetkan kami.

“Icha? Kenapa?” sahut suara dari luar. “Maaf, Icha tadi mampir ke toko depan, ada yang mau dibeli. Assalamu’alaikum Ibu!” kembali gadis yang membuatku speechless itu berseru mencairkan suasana yang hening.

Wa’alaikumsalam! Oh jadi ini yang namanya Icha, cantik ya Rom?” jawab Bunda menambah rasa kagetku.

“Bisa bicara sebentar?” tanyaku akhirnya langsung pada Icha tanpa menghiraukan tatapan penuh arti bunda dan mbak Siska bercampur tatapan penuh tanya Ririn.

“Ehm, yah, ok!” sahutnya yang sedikit bingung dengan suasana sekitarnya.

“Kayaknya pernah ketemu deh?! Ah, iya! Di persimpangan jalan Sudirman kan?” tanya Icha memulai kebisuan di antara kami, aku hanya duduk di luar diam mengenang masa lalu dengannya. Bunda, Mbak Siska, dan Ririn mungkin lagi nguping di dalam.

Ririn teman sekelasku saat sekolah dasar sama dengan Caca or Icha, setelah aku menemukan segala tentangnya, aku hanya bisa menatap status dan catatan-catatannya di jejaring sosial juga blog wanita yang sekian lama menghantui pikiranku itu. Dua belas tahun lalu, saat kami duduk di kelas dua sekolah dasar, aku adalah ketua kelas yang sebenarnya baik dan juara kelas.

Tapi, dengan Caca, diri ini bagaikan penjahat yang selalu menghantuinya. Caca adalah gadis lugu di kelas saat itu, dia mempunyai mata dan suara yang mampu menyihir mata dan telinga yang mendengarnya. Bila aku secara tak sengaja menatap matanya, entah bagaimana raga ini akan merasakan cahaya yang mencerahkan hingga ingin sekali menghampirinya, bila mendengar suaranya, jiwaku akan terasa terbawa angin nan mendamaikan hatiku.

Itulah, kenapa aku selalu mengganggunya, karena aku tak pernah bisa lepas dari mata dan suaranya, walau sebenarnya aku juga tidak tega melihatnya menangis karena ulahku. Tapi, ternyata itu tak berlangsung lama, Caca tiada lagi saat semester kedua di kelas dua sekolah dasar menghampiri kami, tanpa kabar berita, yang kami tahu dia pindah sekolah, tanpaku tahu alasannya.

“Kamu tidak ingat dengan saya?” tanyaku akhirnya.

“Bukannya tadi saya sudah bilang ya, kita pernah bertemu kan?! Tapi yang bicara teman kamu.” jawab Caca mengingatkanku akan kebodohan yang terjadi saat itu.

“Berarti Kamu tidak mengingat saya sama sekali!” seruku. Perihnya hati ini. Ternyata sia-sia semua yang kulakukan atau justru karena begitu bencinya Ia hingga lupa padaku?

“Maksudnya?” tanya Caca tak mengerti.

Akhirnya inilah saatnya, bismillah.

“Kamu pernah sekelas dengan Ririn waktu sekolah dasar kan?” tanyaku dan dianggukkan olehnya. “Apa kamu ingat dengan ketua kelasnya?” tanyaku lagi. Kali ini, sengaja ku berdiam sesaat.

“Yah, namanya Romi, dia yang selalu buat saya menangis di kelas, tanpa saya tahu alasannya. Hehe… menyedihkan memang, dicela, diganggu, tanpa tahu salah kita apa?!" sahutnya. Terlihat sekilas matanya menerawang.

Maafkan saya, Cha!

“Apa kamu benci sama dia?” tanyaku lagi.

“Benci? Saya tidak punya alasan untuk benci, karena yah, anak kecil, paling karena tidak tau mau ngapain dan melihat ada mangsa yang menurutnya enak dikerjain, ya udah! Saya cuma tidak habis pikir saja, kenapa saya? Tapi, di luar itu, saya menyadari kok, saya memang anak cewek yang cengeng, badannya doang gede tapi otaknya kecil banget! Hehe… maaf?!” jelasnya lagi dan sepertinya merasa salah tingkah karena aku tak menimpali candaannya.

“Maaf, lalu kenapa kamu pindah?” akhirnya keluar juga pertanyaan yang sekian lama menghantui pikiranku itu.

“Karena orang tua saya! Kami sekeluarga pindah keluar kota, jadi yah, mau tidak mau saya juga harus pindah sekolah. Oh iya, tahu dari Ririn ya?!” sahutnya, sungguh malunya diri ini, ternyata gadis kecilku itu pindah bukan karena ulahku.

“Bukan karena ketua kelas itu?!” tanyaku mempertegas hati ini.

“Bukan! Tapi, walau begitu saya bersyukur juga sih, karena akhirnya tidak ada lagi yang buat saya menangis, yah, alhamdulillah di sekolah dasar tempat saya pindah muridnya baik-baik.” serunya lagi.

Alhamdulillah!” sahutku akhirnya.

Ya Rabbi, ternyata gadis kecil yang selalu kubuat menangis itu tak pernah benci padaku, betapa malunya diri ini, karena pertanyaan itu, 12 tahun harus selalu bermimpi buruk tentangnya, padahal, benar, ANAK KECIL!

“Tapi, saya masih suka penasaran juga sih, kenapa ya ketua kelas itu suka sekali buat saya menangis?” tanya Icha, membuyarkan lamunan indahku. Tatapannya masih saja terarah ke depan. Yah, dia tak pernah melihat ke arahku, setidaknya, itu yang kurasa karena begitupun aku.

“Mungkin, karena dia ingin kamu selalu memikirkannya.” jawabku sekenanya.

***
Romi kecil terpesona dengan gadis tinggi langsing, yang berada di kelasnya, dia tidak mengerti kenapa gadis itu bisa membuatnya tak berpaling, mata dan suaranya selalu terngiang di pikiran dan hatinya, padahal, dia kan masih anak kecil, haruskah dia merasakan apa yang dirasa oleh hati-hati orang dewasa? Karena hal itu, Ia selalu mengingkarinya dengan mengganggu gadis itu, dengan beragam cara hingga membuat gadis kecil nan tinggi itu meneteskan beberapa butir air mata di wajah lugunya.

“Wah, si kutilang lagi belajar tulisan cina nih, padahal nulis bahasa indonesia aja masih compang camping kayak cakar ayam” godanya sambil mengambil kertas coretan yang berada di hadapan gadis bermata dan bersuara indah itu.

“Romi! Balikin, kamu apa-apaan sih, kenapa kamu jahat gitu sama Caca? Lagian, tulisan Caca bagus kok, kamu tuh yang tulisannya kayak cakar ayam” seru gadis cina sebelah gadis yang digoda Romi yang kini tengah menangis.

“Ih, cengeng, ye… si kutilang cengeeeeeng!”seru Romi kecil makin senang menggoda.

“Caca, udah dong. Jangan nangis lagi, kamu tuh harus kuat, sekarang kita ke tempat ibu Aisyah yuk, kita aduin Romi biar Romi dimarahin. Ayo!”

Sepeninggal dua gadis itu, terlihat raut wajah Romi yang merasa bersalah, tapi, kembali ditepisnya tatkala ada teman wanita yang menghampiri,

"Kamu kenapa sih Rom, selalu saja mengganggu Caca? Nanti kalau orangnya pergi baru deh nyesel"

"Hah! Ngapain juga, kamu tuh Rin, yang bakal kesepian!"

#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5