Senin, 02 April 2018

Dongeng Seorang Wanita

Sumber Gambar : google.com

(TANTANGAN FIKSI : DESKRIPSI)

Tersebutlah sebuah kisah, tentang seorang wanita penyuka tosca, blue, dan warna yang menyejukkan mata lainnya. Pengkoleksi drama dan film bergenre islami, crime, triller, mistery, fantasy juga sedikit humor. Buku yang tertata di lemari gantung kamarnya ialah segala jenis tulisan, mulai dari buku keagamaan, politik, sejarah, bisnis, hingga novel petualangan juga fantasi. Tak terlalu menyukai kerapihan pun punya sifat pemalas, pembosan, juga pelupa. Tak pernah terlalu pusing dengan penampilan juga tak menyukai hal berbau kewanitaan seperti halnya high heels, bunga, apalagi make-up yang seharusnya menjadi dambaan. Penikmat murrotal dan musik, seperti nasyid, pop, jazz, dan segala hal yang menyejukkan. Tak pernah lagi menyentuh minuman dingin dan makanan pedas, sejak mendapatkan ultimatum larangan. Serta yang paling utama sangat anti pada penikmat rokok. Tomboi namun feminim, manja namun keras kepala. Itulah dia dengan segala keanomaliannya.

Dua puluh delapan tahun mengarungi kehidupan dengan segala khayal yang menetap indah dalam sanubari. Pemimpi besar yang entah kapan kan realisasikan dalam nyatanya. Terlalu asyik dalam mimpi indah dunia. Lupakan kenyataan yang cemburu pada khayalnya. Seakan kehidupan dunia, taklah dapatkan perhatian jiwa. Karena terlalu khusyuk dalam dunia fantasinya. Pantaslah jika kemarahan terlampiaskan padanya. Karena menyiakan hidup pada hal yang tidak teramat nyata. Entah apa gerangan yang terpikirkan olehnya. Hingga lupa akan tujuan utama kehidupan diberikan-Nya.

Delapan belas tahun, menjadi seorang adik yang amat disayang kakak laki-lakinya. Bak perekat ampuh, tiada yang dapat pisahkan mereka. Berbagi suka duka bersama, laiknya kan hidup berdua selamanya. Hingga ajal memisahkan kebersamaan yang baru saja kan hampiri indah mimpinya. Kemanjaan pun tak dapat elakkan dirinya, walau telah sepuluh tahun kepergian sang belahan jiwa. Tentu tak mudah baginya untuk bangkitkan semangat jiwa. Mengubur mimpi indah dalam kubangan rindu yang selalu merasuki qalbunya. Tinggallah doa yang terus terpanjatkan untuk dia yang dicinta, yang lebih dulu menghadap DIA yang lebih mencintainya. Harap perjumpaan kembali kan dihadiahi-Nya pada jiwa yang selalu merindu DIA juga dirinya. Itulah pengharapan besar yang selalu terukir dalam setiap ibadahnya.

Na, panggilan masa kecilnya. Yuk Nia, panggilannya kini, di usia yang mulai menua. Menjadi anak tertua untuk empat adik yang butuh teladan bagi hidup mereka. Walau kemanjaan tetaplah melekat dalam raganya. Seorang wanita dengan segala ketidakmampuan diri, tak pernah bisa lepas dari genggaman orang tua. Seorang gadis yang tak lagi muda, punya ciri khas, yang selalu terucap setiap kali ditanya tentangnya. Gadis yang terkadang diam, jika Ia ingin diam. Usil jika kebosanan mulai menghampiri jiwa. Penuh kejutan dengan segala hal tak terduga kan dilakukannya. Tak bisa ditebak, misterius, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk DIA dan kehidupannya.


#Tugas1
#Fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

10 komentar:

  1. Yuk Nia saya ganti panggilan dr mba ke yuk 😁

    BalasHapus
  2. Sama dong nggak suka pake make up. Bedak tipis doangan saya mah

    BalasHapus
  3. Rapinyaaa~~~ *o*)/
    Runut pun~ ><
    Enak sekali buat dibaca, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si Gawai yang buat rapi ;-)
      Kalau tulisan asli dijamin gak kebaca Teh :D

      Hapus
  4. Yuk Nia 😆 Aku senyum senyum sendiri sekaligus terharu bacanya,

    BalasHapus
  5. Jadi manggilnya yuk nia..😊

    BalasHapus