Minggu, 08 April 2018

Kau Bagi Mereka

Sumber Gambar : google.com

(TANTANGAN FIKSI : DESKRIPSI)

Kau si kutilang (kurus, tinggi, langsing), julukanmu masa sekolah. Kata mereka, kau adalah seorang teman yang sangat pendiam, cengeng, dan terkadang terlihat culun. Di masa putih merah, kau dengan beraninya menjual assesoris anak perempuan, katamu benda cantik itu, buatan bunda. Ada gelang tangan, bando kain, dan tempat pensil yang juga dari kain. Anehnya, kau sangat lihai berjualan, membuat mereka terbuai rayuan. Terlupalah pikiran bahwa kau seorang yang kata mereka sungguh tak banyak bicara di kelas maupun saat istirahat. Terlupalah kau yang baru kemarin menangis karena dituduh menyontek oleh dia, teman yang duduk di sampingmu, salah seorang murid terpintar, hanya karena nilaimu lebih baik darinya. Bahkan teman sekelasmu juga melupakan betapa culunnya dirimu dengan rambut kuncir dua dan kaos kaki yang panjangnya hingga mencapai lutut. Semua itu terlupa, karena kemahiranmu berdagang.

'Kau paling cuek, paling santai, paling sabar, paling cool, paling bikin gemes, paling bikin greget.' Itulah yang ditulis teman masa kuliahmu, karena surprise di kala kehadiranmu di kediamannya. 'Cuek bukanlah dalam arti negatif,' lanjut temanmu lainnya. Karena justru sebaliknya, kau ialah makhluk paling care yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Kau cuek pada hal yang mengenai diri. Simple, santai dalam berpenampilan dan kehidupan. Tak pernah menggubris lisan-lisan tak bertanggung jawab yang bicara negatif atas duniamu. Itu jugalah yang menjadi alasan kenapa mereka, teman kuliahmu, merasa gemes dan greget karena sikap 'santai'mu. 'Sungguh langka orang sepertimu,' pikir mereka, karena dirimu selalu memberikan kejutan yang membawa ingatan bahwa kau adalah makhluk misterius dan paling susah ditebak jalan kehidupannya.

'Suaranya sangat lembut, bahkan pernah tak terdengar. Namun, secara tak terduga, terkadang Ia mengeluarkan suara tinggi yang mengganggu pendengaran' Itulah hal yang diutarakan tentangmu oleh rekan sejawat. Wuah ... berapa banyak jenis kepribadianmu?! Apakah di setiap masa kau sangat berbeda?! Sebegitu anomalikah dirimu? 'Dia itu, punya mata yang teramat besar, bila dipanggil dan melihat, jangan kaget ya! Matanya akan membuatmu takut, terlihat seolah dirinya marah, padahal tentu saja ... tidak! Dipadu dengan senyuman termanis yang mengalihkan dunia. Anehnya dia sangat pelit untuk mengumbar senyum pada lawan jenis, padahal senyum itu ibadah ya?! Tapi, bukannya sudah semestinya Ia begitu?! Agar tak menimbulkan fitnah, dan menambah dosa bagi diri dan yang membayangkannya.' Kembali rekan kerjamu yang lain mengeluarkan unek-unek-nya mengenai fisik dan keseharianmu.

Kau pasti penasaran, apa kata keluarga tentangmu bukan?! Tak perlu malu, akui saja! Kau itu anak yang tak pernah mengungkapkan apa yang diinginkan, bahkan bila ditanya pun kau hanya menyerahkan pilihan. Bukan tak berpendirian, namun memang karena kau tak ingin terlalu pusing memikirkan. Benar! Itu perkataan ayah bunda tercinta tentangmu. Ayah bunda bilang, kau anak sulung rasa bungsu, karena kemanjaan dan segala ketakmampuan dirimu dalam bertindak sebagai wanita. Namun, dibalik segala kekurangan, kau ialah buah hati yang membuat mereka selalu tegar dan sabar. Menjadi tempat berkeluh kesah dengan santai tanpa malu. Penopang kehidupan di kala kesusahan menyerbu. Berbagi kerinduan bila teringat 'dia' yang telah pergi, dan dua adikmu yang tengah merantau jauh ke kota seberang.

Begitupun bagi adik-adikmu, betapa mereka sangat tahu. Kau memang tinggi, berbadan tegap, bermata seram dengan senyuman menawan. Namun, kau tak bisa hadirkan kemarahan. Bila kau marah, kau justru tersenyum dan membuat mereka tertawa. Bila sudah begitu, kau hanya diam bahkan sesekali ikut menertawakan dirimu yang tak bisa lampiaskan amarah yang menyerang kejiwaan. Sungguhkah dirimu makhluk-Nya paling sabar? Atau memang karena punya prinsip marah hanyalah kesiaan?! Dan untuk buah hati ayah bunda lainnya, yang berada di kota orang, mereka kata, walau kau jarang menyapa dengan kilah kesibukan, tetaplah tak lupa kau beri wejangan dengan caramu yang mengasyikkan nan membuat mereka ketagihan.

The last, satu catatan penting bagi mereka, insan yang telah mengenalmu lama, ialah betapa sangat pelupanya engkau hingga membuat mereka tak bisa berkata-kata (speechless!)

#Tugas1
#Deskripsi
#Fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5.

12 komentar: