Selasa, 24 April 2018

Mak Comblang itu Bernama Mami

TEMA : TOKOH ORANG TERDEKAT YANG PALING DIKAGUMI

Doc. Pribadi

Seperti biasanya di setiap pagi dunia, tak bosan diri ini mendengarkan seruan khas ibunda membangunkan anak gadisnya tuk bersiap menyambut matahari yang masih malu-malu menyinari bumi, “Zaaa… banguuun! Katanya mau bantuin Mami nyuci baju hari ini?!” ya ampun, iya. Aku kan udah janji semalem! Jadilah, raga yang memang telah terjaga ini, melipir ke luar kamar dan bersiap dengan aktifitasnya hari itu.

“Mami mau ke mana? Cantik bener?” pertanyaan yang tidak perlu sebenarnya, karena jelas semalam Mami udah cerita agenda beliau untuk hari ini.

“Aduh, kamu itu beneran anak mami bukan sih? Maminya cantik aja masih ditanyain! Lupa ya, kan emang udah dari lahir cantik begini!” waduh, salah fokus nih.

“Iya, Mom. I’m so sorry! Dengan segala hormat, silahkan meninggalkan singgasana Ratu kami yang mulia!” akhirnya itulah kata yang terucap, biar enggak panjang celotehnya. Hah! Speechless deh.

Setelah mengumbar tawa dan senyuman memikatnya, Mami meninggalkanku seorang diri. Yups, aku anak satu-satunya, punya orangtua super sibuk di luaran sana, biarpun begitu, aku patut bersyukur karena mereka masih selalu menyempatkan diri untuk bersua denganku di pagi hari, dan pulang saat mata ini belumlah terpejam, kami juga punya waktu tuk liburan bersama. Hanya saja, hari ini Daddy sedang ada tugas luar kota selama seminggu, jadilah kami hanya berdua, dan harus dicatat, today, I must work at home alone! Nasib jadi anak tunggal!

Di sepanjang kesendirian yang super menyibukkan padahal libur, eh, justru karena libur ya?! Setelah selesai dengan cucian yang dibantu sama si mesin cuci, beberes rumah, dan masak. Akhirnya jiwa dan raga ini memilih beristirahat menonton drama crime yang menjadi dambaan.

“Ya Allah, anak mami ini, tontonannya kok ya yang sadis begitu? Mau jadi apa kamu nak?” tanpa sadar Mami sudah berada di belakangku.

Astaghfirullah! Mami ngagetin ih! Kok enggak manggil or ngetok pintunya sih?”

Allahu, mami udah manggil and ngetok beberapa kali sayaaang, dan lagi kamu kan kalo udah di depan lappy suka lupa sama sekeliling! Udah ah, mami mau istirahat dulu, dan kamu … berhenti nonton film itu! Okay my baby girl?!” 

*** 
Mom, kemarin kok Za lihat mas Zikri sama mbak Fitra ya? Kenalan di mana? Bukannya enggak pernah ketemu gitu?” tanyaku di hari santai kami.

“Aduh, kamu kepo banget sih! Iya, mereka Mami yang pertemukan, gimana? Cocokkan?!” kembali Mamiku tercinta ini buat speechless.

“What are you doing Mom? Eh, salah. Why?” saking bingungnya aku sampai salah tingkah begini. Euh!

Aigooo! Emangnya kenapa? Ada yang salah gitu? Atau jangan-jangan kamu suka sama Zikri ya?”

Astaghfirullah! Mommy apaan sih, ngaco aja. Aku masih sekolah dan enggak akan pernah pacaran. Titik! Lagian, enggak mungkin juga aku suka sama masku sendiri!”

“Yeee… siapa juga yang nyuruh kamu pacaran! Yah, suka sebagai adik enggak masalah toh? Hmmm… okay, balik ke pertanyaan kamu ya, kenapa mami ngelakuin itu? Karena suka aja, mami sudah beberapa kali ketemu sama Fitra, kamu juga kan?! Harusnya kamu ngerti dong kenapa? Fitra itu cantik, baik, ramah, penurut, pekerja keras lagi, pokoknya perfect deh, cocok sama Zikri yang tampan, pekerja keras juga, dan yang paling utama shalih!” Kalau kamu bisa bayangkan, Mami bicara begitu dengan matanya bersinar cerah, menembus ke relung hati, bisa juga ibundaku tercinta ini jadi mak comblang! Wah, harus waspada nih, bisa-bisa malah aku entar yang dijodohin! Atau mungkin malah kamu?

Baru saja aku dan Mami berceloteh malam itu, terdengar suara ketukan pintu. Jadilah, raga ini mengalah dan membiarkan sang kaki melangkah ke depan meninggalkan Mami yang kembali disibukkan dengan sulamannya.

“Mas Zikri? Masuk Mas, mau ketemu mami ya?” asli lagi-lagi aku speechless! Baru juga diomongin udah nongol orangnya.

Malam itu, tidak seperti biasanya, mas Zikri memperlihatkan mata sendunya, dan entah kenapa membuat hati ini iba. Namun, mami tak membiarkanku membersamai mereka, setelah sedikit berbasa-basi, seolah Mami mengetahui ada sesuatu dengan kakak sepupuku yang hari itu mengenakan kaos biru lengan panjang dan celana hitamnya, memintaku undur diri ke kamar meninggalkan keduanya. Benar, aku masuk kamar, tapi tentu saja aku menguping pembicaraan dua orang dewasa itu.

Prihatin, jengkel, marah, intinya emosi dalam diri ini sangatlah tidak stabil setelah berhasil mendengarkan kisah mas Zikri. Salah satu insan favoritku itu, sama halnya denganku tak ingin berpacaran, jadilah, setelah sudah sangat memantapkan hati, beliau mendatangi keluarga mbak Fitra meminta restu untuk meminang. Awalnya bahagia tertera di wajah saat mendengar sang ayah merestui, namun tidak dengan ibunda. Ibu yang usianya terpaut lima tahun lebih tua dari Mami, membeberkan beberapa syarat yang sebenarnya sangat sulit untuk dipenuhi oleh pria idaman itu. Wuah, beneran bikin jengkel, astaghfirullah!

Tak butuh waktu lama, selepas mengantarkan kepergian mas Zikri, Mami langsung bersiap menuju TKP. Awalnya, Mami ingin pergi seorang diri, tapi aku memaksa ikut, jadilah beliau mengizinkan. Di tempat kejadian, tepatnya di rumah yang lebih mirip istana dengan segala peralatan rumah tangga serba emas dan berkilau itu, Mami langsung bicara tanpa basa-basi seperti biasanya. Jika kamu ingin tahu, mbak Fitra persis diriku, Ia adalah anak tunggal dan memiliki bunda yang super protektif. Tidak hanya itu, tante Ratu ini sangat menjunjung tinggi kebersihan, jadi, dikalau beliau datang ke rumah, maka otomatis kami harus merelakan waktu untuk membersihkan setiap sudut rumah, karena entah bagaimana, tante Ratu akan mengetahui debu walau hanya setitik. Keren banget kan? Sesuai namanya. Ratu! Berbeda dengan sang bunda, mbak Fitra persis sang ayah, baik, ramah, sangat asyik diajak bicara. Jadi, wajar sih, kalau Mami menjodohkan dua sejoli favoritku ini.

Kembali pada permasalahan mereka, Mami bicara dengan sangat lugasnya, persis saat Ia bicara depan para ibu yang mengikuti pelatihan PKK, “Mbak, bukankah kita sudah sepakat untuk menjodohkan mereka? Lalu kenapa mbak malah membuat semuanya menjadi rumit? Apa kurangnya Zikri, anak seorang ulama besar di kota ini, pekerjaannya tidak sebanding dengan Fitra, tapi bukankah yang penting halal?! Ia juga bahkan akan segera mengikuti jejak abi-nya menjadi ulama tersohor di sini. Bukankah, akhlak yang paling utama yang kita cari untuk calon pendamping anak kita mbak? Untuk harta? Rezeki sudah diatur Allah, pasti ada saja nantinya untuk mereka. Tapi, apa? Mbak malah bilang kerjanya dia enggak jelas, mbak malah minta mas kawin puluhan juta hanya dalam waktu sepekan, maksud mbak apa? Mbak bahkan meminta dia berhenti dan menyuruhnya masuk ke perusahaan mas Fajar, bukannya itu justru merendahkan harga dirinya mbak?” Aku memang tidak di sana, yah, seperti halnya di rumah, saat ini pun, Mami hanya memperbolehkanku ikut, tapi tidak masuk dalam kelompok pembicaraan, namun, suara tinggi Mami yang terdengar sendu cukup terdengar di telingaku yang saat ini kembali menguping dari jarak yang lumayan dekat sebenarnya, hanya lima meter.

Tidak hanya aku yang terdiam, mbak Fitra yang seorang dokter, hari itu terlihat anggun dengan daster tidurnya, om Fajar dengan kemeja tidur biru yang serasi dengan tante Ratu, ikut terdiam mendengar curahan Mami tatkala mendatangi istana megah itu di kala penghuninya telah hampir terlelap dalam mimpi indah mereka.

Namun, aku keliru, tante Ratu langsung membuka suara setelah beberapa menit mencerna ucapan Mami memotong om Fajar yang juga ingin bicara, “Ratih, saya tidak pernah menyepakati apapun, saya hanya berbuat yang semestinya saya lakukan sebagai ibu Fitra. Saya merasa bertanggung jawab untuk menerima calon pendampingnya, tidak ada salahnya dong, kalau saya sedikit menguji pria shalih itu?” Wuah … tidakkah kamu meradang mendengarnya? Ingin rasa hati menimpali, tapi, tentu saja, tak baik untuk Mami, dan lihatlah, kini mbak Fitraku yang cantik itu mulai menitikkan air matanya. Hah, aku tahu tante Ratu begitu karena sangat menyayangi anak semata wayangnya, tapi, lihatlah, beliau justru melukai hati tulus yang tengah mencinta itu.

Astaghfirullah! Mbak, hanya Allah yang pantas menguji kita. Apalah diri ini yang begitu fakir sebenarnya. Bertahun-tahun kita saling mengenal, haruskah mbak buat hubungan ini renggang? Lihatlah mbak, lihat Fitra, tidakkah mbak memikirkan apa yang sebenarnya diinginkannya, tidakkah mbak bisa mendengar suara hatinya untuk sekali iniii saja mbak, biarkan gadis ini memilih, biarkan Ia menjalani hidupnya. Saya tahu, mbak adalah ibu Fitra, justru karena itu, sekali lagi, sebagai seorang ibu untuknya, tolong dengarkan hatinya, jangan hanya memikirkan ego mbak saja.” tidak hanya gadis cantik yang kini berada dalam dekapan erat ayahnya semakin kuat menahan tangis, aku, yang seorang diri ini, melelehkan air mata tanpa terasa. Syukurku padamu ya Rabb, Engkau berikan seorang ibu yang amat mulia untukku.

Mungkin kamu bertanya-tanya, ke mana om Fajar? Hanya menjadi tameng untuk menenangkan mbak Fitra? Jujur, aku juga begitu penasaran. Tapi, di akhir pembicaraan serius ini, ayah mbak Fitra yang juga merupakan sahabat Daddy, memperdengarkan lisannya, “Sudah cukup, bukankah kita telah usai membicarakan hal ini, harus berapa banyak lagi Fitra menangis malam ini? Seperti perkataannya Ratih, buang ego-mu itu Rat, bukankah justru kau yang sangat menantikan seorang menantu yang shalih, jadi cukup ingat itu, dan lupakan nafsu duniamu yang hanya akan membawa murka-Nya!” Setuju! Kamu tahu, entah kenapa saat mendengar om Fajar berbicara tegas begitu, aku justru berkhayal bahwa beliau adalah Daddy yang tengah menceramahi Mami. Hahaha… dasar, anak enggak tau diri ya. Maaf, Mom!

Selepas drama pilu tengah malam itu, diiringi pelukan hangat Mami, tante Ratu, dan mbak Fitra tentunya, kami pulang membawa kedamaian hati. Tentu tidak mudah bagi tante Ratu untuk mendengarkan Mami juga om Fajar, tapi, setidaknya pembicaraan amat serius ini, bisa sedikit memutihkan hati beliau. Dan bisa menjadi obat untuknya setidaknya kali ini bisa menjadi seorang ibu yang akan mau mendengarkan suara hati anak tercintanya.

Mommy sama om Fajar keren ih, Keiza sampai meleleh loh tadi!” seruku mengawali pembicaraan kami dalam mobil di tengah perjalanan menuju rumah.

“Ya ampun, kamu nguping ya? Tapi, meleleh kenapa? Perasaan tadi Mami biasa aja deh ngomongnya, enggak lagi ceramah yang menyanyat hati gitu?! Beda sama om Fajar yang emang udah rajanya” sahut Mami menimpali dengan sedikit gurauan dan tetap menatap jalanan yang kini tengah sepi.

“Aduh, lupa! Harusnya Za enggak usah ngomong, euh, nyesel deh!” seiring ucapanku yang juga gurauan itu, jadilah kami memperdengarkan tawa di tengah perjalanan yang mencekam sih sebenarnya. Maklum udah tengah malam. Kalau saja Daddy tahu, bisa-bisa kami yang kena ceramah malam ini! 

#Tugas3 
#TokohOrangTerdekatYangPalingDikagumi 
#Fiksi 
#onedayonepost 
#odopbatch5

6 komentar: