Rabu, 04 April 2018

Mata Menyeramkan versus Senyum Mematikan

(TANTANGAN FIKSI : DESKRIPSI)

pixabay.com

Ayuk! Jagelah lagi, tak nak begawe apo?” teriakan di pagi hening dibarengi ketukan pintu yang memekakkan telinga. Berselang beberapa detik, pintu kamar terbuka, keluar seorang wanita lengkap dengan handuk yang telah asyik bertengger di pundak. “Astaghfirullah! Itu mato kenapo? Begadang lagi? Ya Allah, punyo anak gadis tak pacak nian nyenangke! Ado bae buat masalah!” Si Gadis yang sedang disesali itu, hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, dan ngibrit ke kamar mandi yang terletak di kamar utama. Sang bunda yang tiap pagi harus mengurus si sulung bak anak bungsu, terlihat tengah asyik dengan jahitannya. Hingga tak menyadari, anak gadis yang membuat dirinya emosi, telah siap dengan seragam dinasnya, lengkap dengan sneakers yang sudah seperti belahan jiwa. Lelah sudah lisannya berpetuah, melihat penampilan si sulung yang sangat aneh menurutnya. Bersyukur tak perlu menahan lama keinginannya tuk kembali memberi wejangan yang tak bosan tertutur, Pak Jek, datang menjemput. Si gadis yang begitu enjoy dengan fashion-nya yang berbeda selera dengan sang bunda, bergegas menyalami dan pamit pada bunda tercinta.  

Dua puluh menit perjalanan tanpa perbincangan berarti, akhirnya berlabuh ke tujuan. Setelah berterima kasih dan membayar ongkos ojeknya, gadis yang dipanggil ayuk itu, berjalan menuju lift dengan senyum terpapar indah, melewati kawanan pasien yang sejak subuh telah mengantri. “Pagi Kak!” sapa Nanda, salah satu CS (cleaning service) yang tengah bekerja, saat si gadis dengan tinggi semampai tiba di lantai empat, menuju ruangan kerja yang berada di ujung lorong, dekat dengan pantry. Tentu saja keramahan sangat diutamakan dalam dunia kerja terutama di rumah sakit, baik sesama karyawan dan terutama sikap terhadap pasien. Setelah membalas salam dan berbasa-basi sekedarnya, si gadis yang dipanggil kakak itu, sampai di ruangan, menurunkan ransel, menaruh nametag di jilbab dongkernya, membenarkan letak kacamata yang memiliki alasan berbeda kenapa harus bertahan untuk digunakannya. Tak lupa mengambil pena dan disematkan pada kantong seragam yang masih saja terasa risih bagi jiwa tomboinya. Langkah kaki membawanya kembali ke lantai satu, menuju lapangan rumah sakit yang telah dipenuhi para karyawan untuk melaksanakan kewajiban apel pagi setiap senin hingga jum’at. “Ya ampun, anak gadis udah kayak emak-emak aja, masih pagi udah nguap gituh? Kenapa? Begadang nonton korea?” Masih dengan sisa kantuk yang menyerang, si gadis hanya cengengesan saja menanggapi sambil menuliskan namanya pada absen apel pagi itu. Pluit dibunyikan salah satu security, menandakan apel akan segera dilaksanakan, semua karyawan membentuk barisan. Pemimpin apel yang hari itu ialah kabid Pelayanan, siap memberikan wejangan dan hal-hal yang terjadi dalam rumah sakit tercinta. 

“Hm, ada apa nih Aya? Ebiet G ade pagi-pagi?” seruan terdengar dalam ruangan yang di setiap mejanya terdapat tumpukan dokumen. 

“Oh? Enggak kenapa-napa Pak!” Jawab si gadis yang dipanggil Aya, memperlihatkan sedikit senyuman dan kembali berkutat dengan dokumen yang lebih meminta perhatiannya. Berhubung hari itu, tidak ada laporan dan amprahan yang harus dibuat, jadilah komputer dimanfaatkan dengan memperdengarkan beragam lagu sebagai pengusir kesepian ruangan yang terdiri dari Aya, dan dua ibu pegawai. Bapak yang ternyata hanya sekedar mampir itu, kembali ke haluannya meninggalkan ruangan kecil yang seluruh penghuninya terlihat sangat sibuk. Aya yang dikenal sebagai gadis yang legowo saja dengan segala keadaan, sama sekali tak pernah terganggu dengan sedikit kekacauan, dan tak terlalu memusingkan kerapihan. Hal itu terbukti dengan keadaan meja yang amat berantakan. Kertas-kertas yang menanti untuk dimusnahkan berserakan di bawah kursinya. Ditambah sisa-sisa anak hekter yang dilepas dari dokumen dan disingkirkan ke bawah meja, menambah sakit mata bagi yang melihat betapa sangat kacaunya sekeliling gadis yang masih saja sibuk bekerja. Walau, sudah menjadi hal lumrah akan terjadi, tiap kali Aya mulai disibukkan dengan dokumen rumah sakit yang siap untuk di arsipkannya. Tetap saja terkadang tanpa sadar, kakak pegawai yang berada tepat disebelahnya, menyeletuk dengan berkata, ‘Penulis emang gitu ya!, kacau banget!’ Dan gadis yang dikomentari itu, hanya akan kembali memperlihatkan senyuman menawan sebagai jawaban dari segala kekacauan yang diperbuat raganya. 

“Ya, ada drama terbaru nggak? Eh, ralat, drama terbaru romantis yang cocok buat emak-emak!” Demi mendengar pertanyaan itu, tawa membuncah mengalahkan suara Tulus yang melantunkan lagunya berjudul gajah dalam beberapa menit. Hal yang juga sudah sangat diketahui, bahwa seorang Aya menyukai segala jenis drama selain yang bergenre romantis. Dan walau Ia selalu berkilah bahwa dirinya tak lagi punya waktu untuk menonton, tetap saja tanpa sadar lisannya dapat menjawab pertanyaan bila itu berhubungan dengan drama korea terutama. Dan walau jiwanya bukan penggemar drama romantis, namun hardisk yang merupakan gudang segala film dan drama download-annya, juga menyimpan hal yang tak pernah menarik hatinya itu. Karena selain dirinya sang penggemar film dan drama, adik perempuannya yang kini merantau juga demikian. Kakak yang seruangan dengannya, amat memahami siapa gadis disampingnya itu. Dia tahu gadis yang tak pernah lelah bermimpi menjadi penulis itu lebih menyukai hal yang menantang dan mendebarkan, seolah hidupnya amat membosankan. Bahkan, kacamata yang digunakannya ialah sebagai hiasan tuk menutup mata besarnya dan tentu saja lingkaran hitam yang menambah seram. Dan semua itu, ialah permintaan ibunda tercinta, yang tak ingin anak gadisnya terlihat semakin aneh di luaran sana.


#Tugas1
#Deskripsi
#Fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

19 komentar:

  1. Hei mba Nania ... salam kenal dari saya. Mba Nania sepertinya sudah malang melintang di dunia bloger ya ... keren keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Kenal juga bunda ^_^
      Sudah lama tak mendengar panggilan indah itu
      Aduh... masih newbie ini mah bun.

      Hapus
  2. Hei mba Nania ... salam kenal dari saya. Mba Nania sepertinya sudah malang melintang di dunia bloger ya ... keren keren

    BalasHapus
  3. Yuk Niaaa jd pengen nginep di rumah ayuk n nonton korea bareng πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mari ^_^
      Tapi, sekarang udah jarang nonton sih, Umm.

      Hapus
  4. apa nama pekerjaan gadis itu?

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Bunda juga keren banget ^_^

      Hapus
  6. The best 😍😍

    BalasHapus
  7. Mba Nia mau dong drakornya😍

    BalasHapus
  8. Bagusnya deskripsinya...😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Terima kasih Mbak :-)
      Masih perlu banyak belajar lagi ini mbak.
      Mohon bimbingannya ya mbak Lia ^_^

      Hapus
  9. Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Makasih Mbak Wid :-)
      Mohon bimbingannya ya mbak ^_^

      Hapus