Sabtu, 14 April 2018

Merajut Kenangan Bersama Rambo dan Cinta (2) Kisah Rambo dan Cinta

Tema Hewan Peliharaan

Bagian 2 (Kisah Rambo dan Cinta)

Udara sejuk di luar tak begitu mengganggu seorang nenek yang duduk anggun pada bangku rotan, menghadap jendela yang ada di dapur, tempat favorit baginya mengisi kekosongan jiwa yang begitu lama hinggap tak tertahankan. Di luar sana, terhampar luas lautan yang airnya begitu jernih menggoda, sepanjang tepian sungai besar itu terpapar dengan jelasnya, para manusia dengan segala aktivitasnya, ada yang mencuci pakaian, mencuci perangkat dapur, bahkan ada beberapa anak yang menikmati berenang di lautan luas nan menyejukkan, tidak hanya itu saja, sebagian lagi terlihat memandikan gembala mereka, ah, bukannye telah sedie tempat khusus tuk memandike ternak?! Tapi, tengoklah, masih juge bebal nian budak-budak tuh malah dibawenye ternak ke tengah laut?* Keluhan itu keluar dari lisan renta nenek berbaju biru dengan sarung batik yang menambah anggun penampilannya setelah menatap sekilas pemandangan di hadapannya. Tapi, bukan pemandangan indah yang tak pernah membosankan itu, melainkan sepasang sapi dan kerbau yang tepat berada di bawah tatapannyalah yang menjadi pusat perhatian nenek bersongkok putih itu.

Makdeee*… Rara dataaang!” seruan dari luar diiringi langkah kaki yang berlari hingga teriakannya berpadu dengan suara lantai papan yang bergetar menambah bising.

Astaghfirullah! Tak perlu teriak, apolagi lari-lari mak itu sayang, gek campak kau!”* Nenek yang dipanggil makde itu beranjak dari duduknya, mendekap si kecil yang berlari lincah di rumah panggungnya.

Ndak akan jatuh kok makde! Oh iya, makde liat apa sih? Rara penasaran deh, liat juga ah…” masih dengan berlari kecil, gadis mungil nan menggemaskan itu berhenti tepat di tempat favorit neneknya, kembali terpana melihat pemandangan sungai yang di ujung sana terlihat gundukan bukit-bukit yang menambah asri desa kecil yang selalu dirindukannya.

Makde, itu Rambo dan Cinta kan? Wuah, mereka romantis sekali ya?!” sahutnya lagi, menyadari ada dua hewan berbeda spesies berada tepat di bawah dapur.

Mendengar ocehan cucunya itu, membuat Nenek yang kini telah kembali pada posisi favoritnya tertawa renyah “Romantis? Aduhai, baru tujuh tahun lah tau apo itu romantis?!” kembali tawanya menggema.

“Tapi, Makde, kenapa Pakde* menamai mereka Rambo dan Cinta? Aih, Rara geli deh nyebutnya!” kembali gadis bermata sipit itu berceloteh membuat sang Nenek kembali tertawa.

Tawa, itulah yang selalu dirindunya tiap kali cucu kesayangannya itu datang menghampiri. Gadis cerdas dengan segala keingintahuannya itu, tak pernah bosan membuat hatinya berbunga-bunga. Jadilah, nenek berkisah tentang Rambo dan Cinta dengan terlebih dahulu menyeruput kopi pahitnya dengan khusyuk.

Sumber Gambar : google.com

Sapi putih mulus nan anggun itu, diberi nama Rambo karena Kakek sangat menyukai film Rambo. Awal perjumpaan kakek dengan sapi kesayangannya itu ialah sesuatu yang masih menjadi misteri, karena Rambo ditemukan tergeletak dengan kaki kiri belakangnya yang bersimbah darah tepat di bawah rumah dengan penuh kenangan ini. Saat itu, di pagi buta yang menusuk tulang, kakek berjalan di belakang rumah, tak sengaja penglihatan tuanya mengantarkan Ia pada sesosok sapi putih yang akhirnya diberi nama Rambo itu. Kakek merawat kaki Rambo yang terluka, membersihkannya, sungguh telah jatuh hatinya untuk tak melepas Rambo. Hingga pergantian masa menghampiri.

Tepat sebulan setelah Rambo pulih, kakek mengajak Rambo berkeliling desa, ke ladang juga kakek membawa serta sahabat tercintanya itu. Hari itulah, Rambo terdiam di suatu tempat mengeluarkan suara yang tak seperti biasanya, kakek yang masih sibuk di ladang menghampiri dan seperti halnya pertemuannya dengan Rambo, kakek melihat Cinta, kerbau mungil itu terkapar persis seperti Rambo dulunya, tapi, beruntungnya makhluk mungil ini tidak terluka, hanya saja seperti tak berdaya, lemah. Jadilah, kakek mengumpulkan rumput dan memberikannya langsung ke mulut Cinta. Ah ya, kenapa Kakek menamai kerbau mungil itu dengan nama tak biasa? Karena setelah keadaannya pulih, kerbau yang sepertinya juga menarik perhatian si Rambo ini, dibersihkannya kerbau itu oleh kakek, saat itulah beliau menyadari sesuatu yang ganjil pada tubuh sahabat keduanya itu, pada bagian perutnya terdapat sebuah ukiran lambang love yang tentu saja hal itu sangat mengherankan bahkan sangat langka bukan?!

***
“Terima kasih sudah mau kembali ke desa ya sayang, Om dan keluarga yang lain surprise tahu Rara akan datang!” pria empat puluhan yang tengah mengendarai mobil itu, melirik sekilas ke kirinya, berseru senang.

“Aduh, Om aneh deh, kok malah berterima kasih?! Tentu saja Rara akan pulang, keluarga Rara kan hanya ada di desa!” gadis yang baru tiba dari kota rantauannya itu, menjawab tanpa tak henti memperhatikan sekitar.

“Wuah … sudah lama Rara tidak pulang, rindu suasana desa. Ah ya, hampir saja lupa. Om, setibanya kita di desa tolong temani Rara ke kuburan Pakde ya! Hah, Rara sudah tak sabar ingin bercengkerama dengan Makde…!” ucapan antusias itu, harus terhenti, tatkala pria yang masih terlihat gagah di sebelah kanannya menghentikan mobil secara mendadak.

Untung saja, jalanan tengah lengang, mobil dipinggirkan lalu tatapan penuh iba pria yang dipanggil Om oleh Rara, mengingatkan gadis itu akan sesuatu yang selama ini amat menyakiti hatinya. Luka lama itu terbuka kembali, menyadarkannya apa maksud dari tatapan sendu Om-nya ini, mengertilah Ia kenapa ucapan terima kasih itu terlontar. Tahu gadis berusia dua puluhan itu sudah tak kuasa menahan tangisnya, beliau membuka pintu mobil dan keluar, membiarkan Rara melepas kesedihan dalam mobil van miliknya. Gadis itu akhirnya mengeluarkan tangis yang selama ini tertahan, mengalir deras bersama kenangan pahit yang menjadi alasan utamanya lama tak berkunjung ke desa, tanah kelahiran tercinta.

~ Bersambung ~

Keterangan bahasa*

ah, bukannye telah sedie tempat khusus tuk memandike ternak?! Tapi, tengoklah, masih juge bebal nian budak-budak tuh malah dibawenye ternak ke tengah laut?* (ah, bukannya telah disediakan tempat khusus untuk memandikan ternak?! Tapi, lihatlah, masih saja sangat keras kepala anak-anak itu membawa ternak ke tengah laut?)

“Tak perlu teriak, apolagi lari-lari mak itu sayang, gek campak kau!”* ( Tidak perlu teriak, apalagi lari-lagi begitu sayang, nanti kamu jatuh!)

Makde* (panggilan untuk nenek dari bahasa melayu sumsel)

Pakde* (panggilan untuk kakek dari bahasa melayu sumsel)


#Tugas2
#kenangan
#rumah
#kopi
#TemaHewanPeliharaan
#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

0 komentar:

Posting Komentar