Kamis, 05 April 2018

Sesaat Saja (1)


(TANTANGAN FIKSI : DESKRIPSI)

Diary, lagi-lagi aku hanya bisa membisu, padahal begitu banyak kesempatan untuk berbincang-bincang dengannya. Tapi, setelah melihat dia berada tak jauh dari tempat dudukku, tertawa lepas, bicara manja pada orang-orang di sekelilingnya, aku begitu menikmati hingga lupa pada niat awal untuk mengajaknya mengobrol walau hanya sementara saja.

“Dirga, Pak Sukri sudah menunggu di depan!” seru Ibu mengingatkan bahwa aku harus segera berangkat meninggalkan kota Pekanbaru.

“Iya Bu, sebentar!” sahutku.

Sejujurnya aku bersyukur karena pada akhirnya diri ini akan pergi ke luar kota. Aku dan dua bapak yang begitu kusegani akan memulai misi baru di Bengkalis. Salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Kami akan berada di sana untuk beberapa hari. Tapi, mengingat keberangkatan kali ini adalah untuk mengisi pelatihan yang diadakan salah satu dinas pemerintah Bengkalis, lagi-lagi aku hanya bisa mengusap dada. Sudah bisa dipastikan pesertanya adalah pengusaha kecil yang terdiri dari para ibu dan bapak di Kabupaten Bengkalis yang bergerak di berbagai bidang usaha. Walau begitu ini adalah kesempatan yang luar biasa, karena aku akan kembali mendapat pelajaran dan pengalaman yang berharga dari para pengusaha kecil di Bengkalis. 

Hari pertama pelatihan di mulai, benar dugaanku pesertanya adalah para Bapak dan Ibu pengusaha kecil dan menengah se-Kabupaten Bengkalis. Pada saat pembukaan, aku hanya sibuk mendengar pembawa acara dan memandang para panitia, entah mengapa mata ini enggan melihat ke peserta. Jangan memvonisku dulu, karena pada kenyataaannya aku salut pada peserta-peserta itu, wajah ceria dan optimis mereka untuk masa depan yang lebih baik sedikit banyaknya telah menyemangati diri ini. Hanya saja memang, pembawa acara dan panitia mengalihkan pikiran untuk memperhatikan mereka.

Dan pada akhirnya hari pertama ini diiringi dengan hujan yang tak henti mengguyur Bengkalis yang hijau, yah, hijau. Setidaknya itu yang terlihat, walau tetap saja ada cela yang mengecewakan, tapi Bengkalis masih lebih baik. Seperti biasa, hari pertama pelatihan di mulai dengan perkenalan. Eits, tunggu dulu! Ada suara yang terdengar manis di telingaku.


Bismillah, assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh! Perkenalkan nama saya Sachya, biasa di panggil Aya, Aya disini mewakili Ibu, beliau sedang ada kesibukan yang tidak bisa ditunda. Tapi, InsyaAllah sedikit banyaknya Aya mengetahui perjalanan usaha Ibu, mulai dari pemilihan bahan baku, produksi, pembungkusan, hingga pemasarannya. Terima kasih. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!” ucap Aya mengakhiri perkenalannya.

“Statusnya?” tanya Pak Muslim.

“Belum menikah Aya-nye Pak, masih single!” jawab beberapa Ibu dan bapak yang berada di kelas, gadis itu hanya tersenyum mengangguk.

Hei, bagaimana mungkin aku bisa kecolongan?! Bahkan bapak dan ibu peserta saja cukup mengenalnya. Lah, aku malah baru sadar kalo ternyata di kelas ini ada gadis ayu nan mengagumkan tepat di depanku.

Aya, penampilannya sederhana. Santai tapi sopan. Wajahnya cerah tanpa make-up, sangat natural. Mata tajam penuh makna yang mampu menyihir sekelilingnya tak berkedip menatap. Suara tegas namun masih terdengar manja di telinga, tapi menyejukkan.  Ada satu single lagi di kelas. Kali ini Ia adalah seorang pemuda lulusan salah satu Universitas di Jawa. Dia juga sama seperti Aya, datang untuk mewakili orang tua. Mas Priyo  namanya. Lebih tua di bandingkan Aku dan Aya.

Masih tentang Aya, pikiranku kembali melayang, tentang sikapnya saat perkenalan. Ia seperti enggan mengakui status single-nya. Apa karena Ia telah miliki seseorang ya? Atau hal itu tak begitu menarik untuk dia kemukakan di depan umum? Entahlah! Terlepas dari itu semua, sepertinya gadis ini menyenangkan untuk diajak ngobrol. Pak Muslim saja ketagihan ngobrol dengannya waktu istirahat, selesai shalat dan makan. Ditengah-tengah percakapan, terkuak kebenaran bahwa ternyata Aya tinggal di kota yang sama dengan yang ditinggali orang tua pak Muslim, di luar kota Bengkalis. Ia juga lulusan salah satu Universitas di Pekanbaru seperti aku.

“Bapak terakhir datang menjenguk orang tua itu lebaran dua tahun lalu, bagaimana sekarang perkambangannya?”

“Lama juga ya Pak, Aya sebenarnya juga lebih banyak di Pekanbaru, karena sibuk kuliah dan aktivitas luar kampus, ke Bengkalis saja, Aya langsung dari Pekanbaru, maklum baru saja di wisuda. Selepas urusan Ijazah Aya langsung kemari. Tapi, sepertinya kalau ditanya perkembangannya, lebih kepada mulai maraknya bermunculan supermarket seperti mall dan sebagainya, bank-bank, juga penduduknya yang udah padat banget menurut Aya, beda dengan Bengkalis.” tutur Aya dengan mata entah menerawang kemana.

“Yah, kalo itu memang sudah lumrahnya yo? Hmmm ... Sudah waktunya kembali melanjutkan pelajaran, mari Aya, Bapak-bapak, Ibu-ibu kembali ke tempat duduk masing-masing, back to study!” seru Pak Muslim

Dengan gelak tawa yang renyah mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, termasuk aku yang sedari tadi memang telah duduk di tempatku. Malu juga, cuma bisa memandang dan mendengarkan dari jauh, tapi asyik juga ya!

Waktu telah menunjukkan pergantiannya, sore mulai mengingatkan kami, bahwa pelatihan di hari pertama harus segera ditutup. Lama menanti jemputan, para peserta dan dua instruktur sibuk berceloteh tentang usaha mereka.

“Wah, apa masih lama ya?” tanya Pak Muslim entah pada siapa, tapi ada yang menyahut. Suara itu…

“Mungkin bisa salat dulu Pak, karena sepertinya memang agak lama!” jawab Aya dari dalam.

Sepertinya Ia pun baru selesai melaksanakan salat. Satu poin plus lagi, luar biasa. Oh iya, lupa! Tempat pelatihan dan penginapan lumayan jauh, kira-kira membutuhkan waktu lima belas hingga tiga puluh menit perjalanan dengan mobil.

~Bersambung~

#Tugas1
#Deskripsi
#Fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

17 komentar:

  1. Menanti kelanjutannya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... udah tak share mbak.
      Makasih Mbak Kiki ^_^

      Hapus
  2. Sudah berani bercerita dengan panjang luar biasa, saya tunggu lanjutan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Makasih Uncle :-)
      Jangan pernah bosen membimbing kami ya Uncle ^_^

      Hapus
  3. Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih mbak :-)
      Mbak Reni lebih keren lagi ^_^

      Hapus
  4. Yuhuu, panjang tapi asyikk banget mbakk😍

    BalasHapus
  5. Yuhuu, panjang tapi asyikk banget mbakk😍

    BalasHapus
  6. Ada apa dengan aya, kita saksikan berikutnya, yuk Nia ditunggu ya😍

    BalasHapus
  7. Aya ... Dapet salam dari Lia ... #lohh😂
    Lanjutt mbak Nia ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah disampaikan. #eh :D
      Siap dilanjutkan ^_^

      Hapus