Jumat, 06 April 2018

Sesaat Saja (End)



(TANTANGAN FIKSI : DESKRIPSI)

Hari kedua, pelatihan berlangsung khidmat. Hingga istirahat siang kembali bergema, seperti biasa pak Muslim menguasai keadaan. Beliau kembali berdiskusi kecil dengan Aya dan beberapa peserta. Selama menunggu peserta lainnya menyudahi makan dan salat. Aku pun sama dengan pak Muslim, Aya dan beberapa peserta yang telah selesai dengan istirahat kami. Bedanya, raga ini kembali hanya duduk berdua pak Sukri yang juga sibuk dengan peserta lain. Aku hanya menimpali ikut mengobrol sebisaku saja. Lainnya penglihatan ini sibuk dengan pemandangan yang tak jauh beda di hadapan.

"Bapak senang karena ternyata masih ada anak muda yang mau ikut pelatihan yang notabene selalu dipenuhi oleh Ibu-ibu dan Bapak-bapak, Aya sudah berapa kali ikut pelatihan usaha?" tanya Pak Muslim

"Waduh, ini kali ketige Sita bertemu Aya di pelatihan Pak!" sahut Bu Sita, salah satu peserta yang dekat dengan Aya, satu kamar dan Ibu yang selalu mengoceh sesukanya.

"Hehehe…. Iya Ibu! Sudah lima kali Pak, empat di Bengkalis, sekali di Jawa. Alhamdulillah Pak, awalnya juga Aya enggan untuk ikut. Ibu pertama kali mengajak Aya saat masih kuliah. Aya bersyukur banget Pak, karena banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang Aya dapat dari pelatihan yang diikuti, bahkan Aya pernah menjawab bahwa diri ini akan menjadi pengusaha saat dosen menanyakan perihal masa depan. Hehehe… yang jelas sih sekarang masih nganggur, eh enggak lah ya, tapi, pengacara!"

"Iya, pengangguran banyak acara!" sahut Pak Tresno menimpali guyonan Aya.

Kembali perbincangan itu diakhiri dengan gelak tawa. Duh, kapan sih aku berani ikut masuk dalam keakraban yang menyenangkan itu, sepertinya aku hanya berani di hati saja, karena pada akhirnya tak juga lidah ini mengobrol dengan Aya. Waktu terus berjalan, tak seperti materi pelatihan yang mulai mencapai puncaknya. Dari hari ke hari aku masih saja terdiam dengan selalu lengket dengan Pak Sukri, dan beberapa peserta. Hingga hari ini yang hampir saja dapat ku akhiri kebisuan diri. Waktu istirahat tiba, aku keluar menerima telepon, begitu juga dengan Pak Muslim. Dan tanpa disadari, Aya juga sedang menerima telepon, sepertinya dari Ibu.

"Assalamu’alaikum Ma, Iya…"

Entah apa lagi yang dibicarakan dengan ibu tercintanya itu, karena Aya telah berada di posisi yang cukup jauh dari tempatku. Selang beberapa menit terlihat Aya berjalan-jalan dan kadang berhenti menikmati pemandangan menyegarkan di sekelilingnya setelah usai berbincang dengan ibu. Dan aku? Jangan Tanya! Aku malah sibuk memandanginya dan sesekali pura-pura sibuk dengan si gawai. Karena entah mengapa jiwa rasa takut, gadis yang penampilannya selalu terdapat unsur tosca itu kan menyadari tatapanku. Akhirnya Ia masuk melewati, tanpa menatap atau menegurku, seolah raga ini tak terlihat. Hei gadis! Tidakkah kau melihat ada pria tampan duduk manis di sini?! Kenapa kau hanya lewat dan masuk serta memperdengarkan suaramu yang mampu menyihir hati itu berceloteh dengan peserta lain dalam kelas?! Hah! benar-benar menyebalkan. Ada apa denganku? Ada apa denganmu miss. Aya?!

***
Sesalku masih terselip karena peristiwa kemarin, walau demikian jiwa ini masih berharap, hari ini kan lebih baik. Aamiin.

"Tuhkan Ibu, ditinggal lagi deh!" suara kesal di luar hotel. Aya.

"Bu Rani, Bu Sita, Aya! Wah ada yang kesel nih?!" goda Pak Muslim.

"Tidak apa-apa Aya, toh nanti perginya juga sama kami, tidak akan terlambat!" sahut Pak Sukri menyemangati sambil melirikku, entah apa maksudnya, apa mungkin Pak Sukri menyadari perasaanku ya?!

"Nah itu  mobilnya datang, Ayo!" ajak Pak Muslim

"Ayo Aya, yang senyum dong!" goda Bu Sita.

Mungkin Aya sudah bosan kali ya jadi yang terakhir terus. Siapa suruh setia nungguin Ibu Sita! Hehehe… Tapi, berkah untukku karena akhirnya kembali semobil dengan gadis yang membuat diri ini begitu penasaran dengannya. Alhamdulillah!

"Ape kabar mantu Ibu pagi ini?!" tanya Ibu Sita padaku.

Satu lagi kehebohan yang ada pada bu Sita, semua yang single dibilang mantu, tidak hanya aku. Aya dan mas Priyo juga kena batunya.

"Alhamdulillah, baik Bu!" jawabku.

Terdengar tawa renyah Aya di belakang, kesalnya hilang. Gadis yang masih menyimpan misteri bagi diriku itu, duduk di belakang berdua dengan Bu Rani. Karena kesal hingga Ia memilih duduk di belakang, sedangkan aku diapit bu Sita dan pak Muslim di tengah. Pak Sukri tetap nyaman di bangku sebelah sopir.

"Ibu Sita yo, semua dibilang mantu!" sahut Aya.

Dan sungguh, refleks atau apa? Aku menoleh ke belakang, tersenyum dan menimpali godaan Aya pada bu Sita. Asli, speechless! Setelah itu aku tidak berani lagi menoleh ataupun mengeluarkan suara dalam perjalanan, begitupun Aya. Karena tak lagi terdengar suaranya setelah kejadian sesaat itu. Bagaimana tidak, wajah kami yang sama-sama tersenyum sangat dekat, untungnya hanya kami berdua yang menyadari. Keakraban sesaat, tapi cukup menghipnotisku untuk terus tersenyum malu mengingatnya. Tapi, kembali hanya sesaat saja, karena pada intinya setelah kejadian itu tidaklah ada yang berubah. Aya hanya sibuk dengan  peserta dan dua instrukturnya. Yah, Aya, gadis tinggi berpenampilan santai itu, sama sekali tak menganggapku ada. Hah! Entahlah!

~ End ~

Cerita sebelumnya > Sesaat Saja (1)

#Tugas1
#Deskripsi
#Fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

15 komentar:

  1. Ini pake POV 2 ya?
    Kerenlah.
    Tdak diragukan lagi kapasitasnya sebagai calon penulis masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. POV 1(Aku) Tapi, yah, mengisahkan orang lain bukan dirinya.
      Alhamdulillah. walau bingung, kerennya entah di mana? Hehehe...
      Aamiin.
      Masih perlu banyak-banyak belajar lagi diri ini daeng.
      Masih sangat fakir ilmu.

      Hapus
  2. Wah kirain masih panjang cerita Aya nya, ternyata cuma 2 episode, ga dilanjut lg Yuk Nia?,😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Maafkeun bunda.
      Sesuai judulnya 'sesaat' jadi kisahnya 'cukup sekian dan terima kasih' Hehehe... maaf ^_^

      Hapus
  3. Aku suka tulisannya mbk nia ini panjang"... kyk mudah bgt milih diksi.
    Udh melahap banyak buku kyknya😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih 😇
      Padahal diksinya masih biasa aja ya 🙈 masih harus banyak belajar dan baca nih.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Makasih Kak Rafi 😇

      Hapus
  5. Balasan
    1. Aduh, maaf ya mbak 🙏
      Kisahnya sampai di sini saja.
      Hehehe...

      Hapus
  6. Yah.. Kirain bakal bersatu mereka..😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... enggak berjodoh sepertinya mbak Lia 😂

      Hapus
  7. Balasan
    1. Waduh, mbak Wid juga?
      Maafkeun, dilanjut dengan kisah lainnya saja ya mbak 😇🙏

      Hapus