Minggu, 15 April 2018

Surat Cinta Untuk Kak Laisa


Assalamualaikum, Kak Lais, apa kabar di sana? Semoga kebahagiaan abadi sungguh kau gapai, di mana pun kini kau berada. Aku yakin kau kini tengah menikmati peranmu sebagai Bidadari Surga. Kak, kau pasti bingung, kenapa aku menulis surat ini? Memangnya ke mana akan kukirimkan? Haha… jangan khawatir Kak, aku hanya ingin menuliskannya saja. Aku ingin berbagi kisah bersamamu, hanya itu! Oh iya, sampaikan salamku untuk kakak kami tercinta ya, Ia adalah pemuda gagah yang selalu jadi panutan kami, Ia akan selalu ada di hati kami, kenangan indah tentangnya kan selalu kami bawa hingga akhir dunia kami. Tentu, hal itu juga pasti berlaku untuk Profesor Dalimunte, Ikanuri dan wibisana, serta Yashinta. Tak terkecuali Mamak, Intan, Delima, Juwita, para iparmu, juga warga Lembah Lahambay yang pastinya mereka akan selalu merindukanmu.

Kak Laisa, kau tahu aku tak henti menangis teringat kisah luar biasamu, jika aku di sana dan bersamamu, atau menjadi adikmu, ah, aku pasti akan sangat menghormati dan meneladanimu. Seperti yang kusinggung sebelumnya kak, kami juga sempat dititipkan Allah seorang kakak luar biasa persis sepertimu. Ia pergi meninggalkan duka mendalam yang sepertinya akan selalu membekas hingga perjumpaan kembali nantinya. Kau tahu kak, Dia juga mengidap penyakit kanker yang mematikan, para dokter ahli itu, tak ada yang sanggup mengobatinya, mereka menyerah, sama sepertimu. Baiklah, aku tidak akan bersedih, aku tidak akan menangis, aku berjanji padamu kak. Karena tujuan diri menuliskan surat ini, sebagai apresiasiku atas perjuangan hebatmu.

Kak Lais, selepas kepergian kakak gagah kami, aku menjadi sepertimu dan dirinya, akulah yang kini harus berperan sebagai kakak untuk empat adikku. Jika kau punya Prof. Dalimunte, yang selalu sibuk dengan penelitian laboratoriumnya, sibuk menganalisis fenomena alam semesta. Aku punya adik yang juga bekerja di laboratorium, dia gadis cantik nan menawan, secerdas Prof. Dalimunte, Ia selalu menempati peringkat pertama masa sekolahnya, sesekali peringkat kedua bila down menghampirinya. Tapi, dia bekerja di laboratorium kimia, sebagai lulusan kimia, Ia menjadi sarjana sains yang kini mengabdikan dirinya meneliti segala zat kimia yang tentu saja berbahaya bagi kesehatannya. Ah, semoga dia baik-baik saja di rantauannya sana. Aku juga punya adik 'nakal' seperti ‘duo sigung nakalmu’ Ikanuri dan wibisana. Pemuda gagah satu ini, terkenal badung, dan sangat susah untuk diminta bantuannya persis ‘si kembar yang nakal’. Bedanya, bila ‘si kembar’ sangat tertarik pada hal berbau otomotif, maka adikku yang juga merantau ini, tengah kuliah di bidang komputerisasi, meraih mimpinya untuk menjadi seorang programmer. Dan kau benar, mereka si anak ’nakal’ tidak seutuhnya demikian, mereka hanya butuh diperhatikan, mereka hanya ingin melakukan apa yang mereka yakini benar, karena terbukti, saat usia telah beranjak dewasa, mereka ‘si anak nakal’ justru bisa menjadi andalan.

Kak Lais, aku salut pada Yashinta si bungsu yang begitu gesit namun keras kepala. Yashinta yang begitu cekatan dengan rekor mendaki 27 gunung di seluruh dunia, begitu tinggi kepeduliannya pada dunia ekologi, amat mencintai alam. Aku juga punya seorang adik sepertinya. Bedanya, pemuda gagah yang persis seperti kakak tertua kami ini mencintai alam dalam dunia geografinya. Ia sangat tertarik untuk meneliti kejadian-kejadian atau musibah yang terjadi di muka bumi, Ia bercita menjadi pakar geografi dengan meniti karir di BMKG. Tentu saja, perjalanannya masih amat panjang karena Ia masihlah seorang pelajar kelas tiga SMA.

Adik terakhirku, percaya atau tidak, Ia adalah reinkarnasi kakaknya yang amat biasa ini. secara fisik dan sifat, kami nyaris sama. Hal itu, terbukti saat Ia melihat foto diriku di masa usianya, dia menatap tak percaya bahwa aku sangat mirip dengannya (heh, harusnya kan kalimatnya ‘dia yang mirip denganku’)  Ia gabungan ‘si kembar’ (Ikanuri dan Wibisana) dan Yashinta, Ia sangat tidak menyukai sekolah persis ‘duo sigung nakal’, Ia juga sangat keras kepala namun juga perasa persis Yashinta, usianya baru memasuki sembilan tahun. Bicara tentang ‘si kembar’, jujur aku sangat speechless, bagaimana bisa ada dua saudara yang sama sekali bukan kembar, tapi bisa lebih dari si kembar.

Perjuangan Mamak dan dirimu Kak Lais, sungguh tak henti membuatku menangis, peristiwa paling menyakitkan dan tanpa henti dapat kutahan air mata ialah saat Ikanuri kecil begitu luwesnya berkata kasar tentang ‘Kau Bukan Kakak kami’. Oh, sungguh, hal itu sangat menyakitiku, apalagi dirimu, tapi, tidak! Begitu indah hatimu Kak Laisa, kau ikhlas memaafkan mereka yang tulus meminta maaf atas perbuatan mereka di masa lampau. Segala pengorbanan untuk adik-adikmu, Prof. Dalimunte (kau rela berhenti sekolah untuknya), Ikanuri dan Wibisana (Kau bahkan hampir saja kehilangan nyawa, karena harus menyelamatkan mereka dari kepungan Tiga Ekor Harimau ‘Sang Siluman’ penguasa gunung kendeng), dan terakhir Yashinta yang kala itu sakit dan membuat seluruh rumah panik, dirimu rela menerobos hujan, untuk menemui kakak mahasiswa KKN yang katanya mahasiswa kedokteran dan akhirnya berhasil memberikan pengobatan. Tapi, hasilnya kakimu harus beberapa kali di urut Wak Burhan akibat terkilir setelah apa yang kau lakukan di malam hujan lebat saat itu.

Kak Laisa, mengakhiri surat panjang yang entah bermakna atau tidak ini, izinkan aku menyimpan kisah perjuangan hebatmu dalam ‘Bidadari-Bidadari Surga’ ini ya, pinjamkan diri hati tulusmu yang selalu hanya ada untuk keluarga, mungkin terlalu besar bila harus menjadi orang berpengaruh sepertimu di Perkebunan Strawberry, cukup berikan kekuatan untukku terus menuliskan kisah yang akan dapat menyentuh qalbu. Terakhir, semoga jiwa ini bisa menjalani amanah, tidak hanya sebagai kakak, tapi, juga ibu, ayah, dan sahabat untuk adik-adikku. Semoga sepertimu, raga ini juga bisa sedikit meringankan beban ayah dan ibu dalam kehidupan keluarga besar kami.

***

“Kak Aya? Kenapa menangis?” tanya seorang gadis mungil, melihatku yang tanpa sadar ternyata meneteskan air mata setelah usai menulis surat ini.

“Annaaa… di sini kau rupanya?! Ayo, ikut kakak, kita harus pergi sekarang!” seruan dari belakangnya, dan hal itu berhasil mengalihkan perhatiannya sejenak padaku yang kini tengah berjuang mengendalikan emosi tak terkendali ini.

“Iya, Kak Entah!” jawabannya berhasil membuatku sedikit tersenyum.

“Apa kalian akan pergi ke pernikahannya Om Ambo Uleng?” tanyaku akhirnya.

“Oh, iya Kak! Apa kakak akan ikut bersama kami? Eh, tapi…” sebelum sempat Ia meneruskan kalimatnya, aku langsung menjawab.

“Tidak Elsa, kakak akan menyusul, ada tempat yang harus kak Aya kunjungi dulu!” sahutku memotong ucapannya yang sepertinya juga menyadari mataku yang merah.

“Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu Kak! Sampai jumpa di sana!” akhirnya Elsa seolah mengerti bahwa aku ingin sendiri, langsung menarik adiknya Anna yang masih menatap ingin tahu padaku.

Bye Kak Aya! Sampai jumpa! ” akhirnya Anna menyerah, meninggalkanku dan mensejajari langkah kaki Elsa.

Kakek Gurutta, setelah segala perjuanganmu di Kapal Blitar Holland, dan akhirnya kini menikahkan Ambo Uleng dengan kekasih hatinya. Sungguh kaulah panutan liar biasa lainnya. lihatlah Anna pasti senang sekali Om kelasi favoritnya menikah. Bersyukur aku mengenalmu, Kak Lais, dan terutama 'kakak kami tercinta'. Oh, rindu.


#TugasRC-ODOP'3
#Tingkat2
#onedayonepost
#odopbatch5

12 komentar:

  1. kalau Yasinta itu siapanya Kak Lais, Mbak? wah keren bisa menaklukkan 27 gunung.... Kalau sudah selesai baca, dan sekiranya menuh2in rak buku, bilang ke saya ya mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adiknya kak Lais juga (paling bungsu) Alhamdulillah, udah kelar dua hari yang lalu ^_^ #silahkandijemputbukunya :D

      Hapus
  2. Wah... Ini keren.. Ku pikir tadi surat aja.. Ternyata ada terusannya ya?

    BalasHapus
  3. aku nonton film ini di rumah sakit, dan nangis...

    BalasHapus
  4. wahhh...aku mau dunk mbak baca bukuny. pinjem ya. aku belum punya yang in...hehehe

    BalasHapus