Jumat, 27 April 2018

Takdir Cinta Ratna


Sekawanan rerumputan bergoyang kompak dengan hembusan angin yang mengibaskan jilbab Ratna dengan cantiknya, setidaknya itulah yang dilihat Fahri di siang yang teduh sebulan yang lalu. Yah, sebulan yang lalu. Namun, tak mampu dilupakan oleh pemuda yang tak pernah sedikitpun tertarik dengan wanita hingga Ratna muncul di depan matanya dan membuat Ia merasakan sesuatu yang tak biasa di hati dan pikirannya.

“Assalamu’alaikum!” salam Ratna sambil mengetuk pintu yang lumayan besar di hadapannya.

“Wa’alaikumsalam!” terdengar suara dari dalam hingga pintu dibuka, dan hal yang tak disangka itu pun datang.

Fahri terdiam seketika melihat seorang muslimah yang berdiri di depannya begitu anggun dengan balutan gamis bunga-bunga pink dan jilbab lebar putih yang menambah sejuk setiap mata yang menatapnya.

Melihat kediaman itu, Ratna yang mengerti langsung membuka suara. “Maaf, saya Ratna, keponakan jauh Tante Lina dari Palembang. Apa beliau ada?” tanya Ratna yang menoleh ke arah kiri rumah, tampaklah olehnya sebuah Honda Jazz terparkir cantik di depan bagasi.

“Ratna?! Oh iya, maaf. Mari silahkan masuk!” sambut Fahri sambil memberikan jalan buat Ratna masuk ke rumah mewah orang tuanya itu. Ia benar-benar tak peduli pada sikap gadis itu yang saat bicara padanya tak sedikitpun memandangi wajahnya yang hampir seluruh gadis di kompleks perumahannya begitu terkagum-kagum pada ketampanannya. Karena Ia sendiri justru kagum pada gadis yang ternyata sepupu jauhnya itu.

Melihat Fahri yang masih saja berdiri menatapi dirinya, Ratna akhirnya kembali bersuara tanpa menoleh pada sepupunya yang aneh menurutnya itu, “Tante Lina ada kan di rumah? Kalau tidak ada, lebih baik saya pulang saja, Ass...!”

Belum sempat Ratna melengkapi salamnya, Fahri langsung mengatakan hal yang melegakan hati keduanya. “Eh iya, gak papa. Maaf, sebentar aku akan panggil Bunda, silahkan duduk dulu! mau minum apa? nanti biar aku pesan sama mbok Nah!” ucapnya masih tak beranjak memandangi Ratna.

Gerah juga hati Ratna menyadari dirinya jadi pusat perhatian, akhirnya gadis itu menanggapi sikap Fahri yang masih saja membuatnya bingung, “Terima kasih, cukup air putih saja!”

Memori pertama kalinya Ia berjumpa dengan gadis Palembang yang sengaja berlibur ke Bandung untuk istirahat sejenak dari kesibukan kuliahnya itu masih terekam kuat dalam pikirannya, tersadar dengan sikapnya yang aneh membuat Fahri suka senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya, hingga bila hal itu kepergok oleh Bunda, maka Bunda yang tetap cantik walau di usianya menginjak 47 tahun itu akan berseru, Pasti ingat Ratna ni, iya kan?! Anak Bunda lagi jatuh cinta!” dan setelah mengatakan hal itu, beliau akan langsung kembali kerutinitasnya, melangkahkan kaki ke butik yang berada di samping rumah. 

Hingga Fahri hanya akan menjawab lewat hatinya, ya Bun, aku tak bisa melupakannya. Dia telah membuatku merasakan indahnya cinta. Kapankah engkau akan kembali cinta?

***
 “Waduh yang suko ngelamun, hati-hati gek imannyo lari ke Ampera” kelakar Cindy pada Ratna yang akhir-akhir ini sering melamun tak jelas. Kalau memang Anti lah nak melengkapi keislaman Anti tuh, yo diomongke be langsung dengan murabbiyah Anti. Daripado tiap hari macam wong tak makan setahun nampak ane, risau tau tak ane ni dengan sikap Anti yang tak lemak nian dipandang mato ni. La cukup ane ni bersabar njingok Anti macam ni”*

Astaghfirullah, Afwan Ukh, ana pun tak nak nian macam ni. Tapi, entahlah risau nian hati. Tak tahu ngapo?!”* jawab Ratna yang membuat Cindy makin geleng-geleng kepala dibuatnya.

“Kalau Anti sendiri tak tau, cak mano pulo ane nak ngasih solusi? Sudahlah, cak ini be, datangi murabbiyah Anti, keluarkan segalo risau hati tu samo beliau, okay Sis?* sambil mengacungkan jempolnya pada Ratna yang akhirnya tak tahan untuk tertawa.

“Ya Allah Ukh, Anti tuh selalu buat ana tak henti bersyukur, alhamdulillah, jazakillah, Ukh.” pelukan hangat antara dua muslimah sejati yang sama-sama berasal dari Palembang, namun mengemban pendidikan di Kota Bertuah itu mengharukan setiap mata yang tak sengaja melihatnya.

Lah ade ape ni, bepelukan macam teletubbies je...” seru Mery, muslimah yang memang berasal dari Riau kepada  sahabat yang begitu akrab itu.

Iyo Ukh, tau betul Anti kami baru be nonton teletubbies. Jadi ngikut pulo, mau ikutan, ayo!” sahut Cindy meladeni candaan Mery, walau sudah sejak SMA tepatnya hampir lima tahun lebih di Riau namun bahasa daerahnya tak pernah lepas dari setiap ucapannya, beda dengan Ratna yang selalu mencoba mengkondisikan bahasanya dengan lawan bicaranya.

***
Seiring bergulirnya waktu, tiba saatnya di mana Ratna akan segera mengakhiri masa kebingungan yang selama ini dirasakannya, yah, pernikahan akan segera menghampirinya. Setelah menceritakan segala resah di hati, akhirnya, sang murobbi pun memberikan taaruf* sebagai solusi baginya. Masih teringat olehnya bagaimana taaruf itu berjalan dengan begitu hikmatnya. Sang Ikhwan* adalah teman satu kelasnya saat masih duduk di bangku SMA, dan ikhwan itu juga yang dulu begitu menyita perhatiannya karena akhlak dan kemiripan wajahnya dengan almarhum kakaknya tercinta.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Ukh. Ane benar-benar tak menyangka akan bertemu Anti dalam keadaan seperti ini, subhanallah, Allahu Akbar, sungguh tak ada satu manusia pun yang dapat mengetahui rahasia Allah dalam kehidupannya. Semoga ini merupakan awal yang baik bagi kita, Aamiin.” Sapa Firman mengawali taaruf yang tak hanya mendebarkan hati keduanya tapi juga Ustad Abdullah dan Melda yang mendampingi mereka.

Ratna yang biasanya selalu mendominasi setiap diskusi yang dihadirinya, kini hanya diam membisu tak tahu apa yang harus dikatakan, karena hatinya begitu gembira, hatinya cerah secerah mentari pagi yang menjernihkan mata. Namun, Ia tak ingin kebahagiaan itu terlihat oleh Firman juga ustad Abdullah, salam Firman pun hanya mampu dijawabnya lewat hatinya yang tak henti bersyukur

‘Cukuplah Allah yang tahu apa yang kurasa kini, Alhamdulillah, segala puji bagimu Rabb, sungguh indah perjalanan hidup yang Engkau gariskan pada hamba.Akhirnya Ratna hanya mengangguk menanggapi sapaan insan yang sebentar lagi akan menjadi imam dalam rumah tangga kecilnya.

Namun, kebahagiaan yang dirasanya kini tak berlangsung lama, karena sehari sebelum acara walimahan itu akan segera diadakan, Firman tak kunjung memberi kabar, muslim beriman yang telah menyentuh hati tulus seorang Ratna hilang ditelan bumi. Hingga akhirnya Ustad Abdullah, murabbi Firman yang juga telah dianggap abi bagi Ratna datang menyampaikan kabar yang merobek kebahagiaan yang sempat terasa di hati muslimah yang mempesona setiap insan di sekitar karena akhlaknya yang begitu mulia.

“Ratna, anakku tercinta. Maafkan abi, tak tega hati ini menyampaikan berita yang hanya akan menyakiti hatimu, hati kita semua. Tapi, ini adalah suratan takdir dari-Nya yang harus engkau hadapi dengan segala kesabaran dan ketawakalan pada-Nya. Engkau takkan menikah dengan Firman nak, karena mutarabbiku itu gugur di medan syahid. Tepatnya sehari setelah peristiwa taaruf yang indah itu, dirinya terpanggil untuk pergi bersama teman lelaki yang lain demi menegakkan syariat IslamIa sama sekali tak terlibat dengan peperangan di sana tapi Ia hanya berniat untuk berdakwah. Namun karena kebutaan pemerintah, Ia disangka teroris dan Ia pun tertembak mati saat majelis mereka digerebek oleh aparat yang menjalani perintah tak berakal itu.” Banjir air matapun tak dapat lagi terhindar, baik Ustad Abdullah maupun teman-teman di sekitaran Ratna. 

Namun, tak demikian dengan Ratna, tak ada tampak setetes pun air mata mengalir dari matanya yang sendu itu. Bahkan dengan segala ketegaran Ia menanggapi penjelasan abi angkatnya itu. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Subhanallah, Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang telah merancang kehidupan yang indah ini. Abi, tak perlu engkau ucapkan maaf pada Ratna, justru Ratna sangat berterima kasih pada abi karena telah mempertemukan kembali Ratna dengan Akhina Firman. Ratna sangat bersyukur abi, karena Ratna sempat melewati peristiwa yang indah bersama beliau dan hal itu takkan pernah terlupakan bagi Ratna. Tak ada yang perlu disesali, kita harus ikhlas menerima semua ini, apalagi Akhina Firman kembali dalam keadaan syahid dan itu adalah hadiah terindah dalam kehidupan dunia ini, begitukan abi?!”

Senyum ketulusan bertengger di bibirnya yang merah, melihat wajah yang begitu bercahaya itu, orang-orang yang tadinya menitikkan air mata kesedihan, kini ikut tersenyum indah dan tak banyak juga yang kembali membanjiri wajahnya dengan air mata kebahagiaan. Bahkan teman-teman wanita yang mendengarkan berita duka itu berhamburan memeluk Ratna, memberikan kekuatan pada muslimah sejati yang luar biasa itu, tak ketinggalan Melda, murabbiyah Ratna yang juga ikut andil dalam kenangan terindah Ratna bersama Firman memeluknya dengan erat dan tak henti-hentinya menyemangati Ratna. Hingga, Ratna tak dapat lagi membendung harunya yang akhirnya meluap berganti air mata yang deras mengalir di wajah mulusnya.

***
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada kehidupannya, baik hari ini, esok ataupun lusa. Seperti halnya Ratna yang tak mengerti mengapa Ia masih saja didandani bak pengantin yang akan melakukan pernikahan. Yah, semua undangan telah hadir, bahkan kini dirinya telah berada di depan cermin yang cukup besar, tampaklah olehnya muslimah cantik yang begitu memikat hati. Subhanallah, Alhamdulillah, betapa indahnya penciptaanmu Rabbi,”

Begitu khusyuknya Ratna mensyukuri atas apa yang ada pada dirinya di cermin yang tak pernah berbohong itu, sahutan Cindy yang begitu hangat padanya pun tak mendapat respon, “Ya Allah, Ukhtiku ini ngelamun lagi, hello Ukh, Assalamu’alaikum!” sedikit keras dan tepat di telinga Ratna.

“Eh ya, wa’alaikumsalam warohmatullahsenyum keheranan pada wajah Ratna membuat Cindy tak dapat menahan tawanya, saking besarnya hingga Mery pun masuk dan tanpa dikomando Ia pun ikut tertawa. Melihat itu, Ratna hanya geleng-geleng kepala tak mengerti atas kelakuan dua sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara baginya itu.

Afwan Ukh, Ane bahagiaaaaaa banget hari ini. Hehe.. harusnyo kan Anti yang lebih bahagia yo. Congratulation Ukh, barakallah!” seru Cindy dibarengi anggukan oleh Mery.

“Bahagia apo bahagia?! Tolonglah Ukh, jelaskan kenapo acara walimahan ini tetap diteruskan, dan siapo Ikhwan yang akan ana dampingi itu?” tanya Ratna akhirnya.

Mendengar pertanyaan itu, baik Cindy maupun Mery tak ada yang mampu menjawabnya, dan akhirnya jawaban yang cukup melegakan datang dari murobbiyah Ratna tercinta.

“Ratna sayang, afwan karena kami berbuat tanpa bermusyawarah terlebih dulu denganmu. Tapi kami yakin, engkau takkan menolak semua ini! Seperti halnya keluargamu, merekalah yang merancang semua ini, kau ingat saat aku, ayah dan ibumu, serta Ustad Abdullah, terburu-buru pergi meninggalkanmu bersama saudarimu yang lain?!” tak hanya Ratna yang mengangguk tapi Cindy dan Mery pun ikut menanggapi pertanyaan murobbiyah Ratna yang sudah seperti kakak bagi mereka.

“Ya kak, kami ingat!” seru mereka berdua, mendengar itu baik Ratna maupun Melda tak dapat menahan senyuman yang akhirnya bertengger di wajah keduanya.

Mengalirlah cerita Melda, mengenai saat-saat pertemuan keluarga Ratna dengan keluarga Ikhwan yang tak lain adalah sepupu jauh ibu Ratna. Rombongan yang akan menjadi besan keluarga Ratna itu datang dari Bandung, mereka sengaja datang untuk menghadiri walimahannya Ratna namun setelah mendengar penuturan Ustad Abdullah yang masih tak dapat membendung tangisnya itu, salah satu insan yang berada di sana, yang tadinya begitu tertutup dan terlihat tak bersemangat, menguraikan hal yang menyebabkan kalimat tahmid pada-Nya berkumandang oleh seluruh insan yang berada di sana.

Anak muda yang sedikit mirip dengan Ratna itu menuturkan kesiapan dirinya untuk menikahi Ratna dan mencurahkan segala perasaan yang telah lama tersimpan rapi di hatinya, yaitu rasa cinta yang tulus kepada Ratna karena Allah SWT. Subhanallah! Dan rasa itu jugalah yang menjadi alasan kenapa Ratna harus menjalani taaruf sebagai jawaban dari kebingungan hatinya. Yah, tanpa disadarinya gadis yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu terkadang juga memikirkan pemuda bandung yang menjadi teman berliburnya masa itu.

***
Cinta, tiada yang tahu Ia akan berlabuh ke mana, akan mengarah ke mana. Akibat apa yang akan terjadi olehnya, dan bagaimana kondisi insan yang mendapati anugerah cinta. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi hambanya, namun bukan berarti manusia menjalani kehidupan tanpa usaha dan doa pada-Nya. Tidak akan berubah nasib suatu kaum, sebelum Ia mengubah nasibnya sendiri. Untuk mendapatkan apa yang telah digariskan Allah pada kehidupan, wajib bagi diri ini untuk tak berhenti bertawakal dan berserah diri pada-Nya. Dan memilih kehidupan yang dibutuhkannya, serta tak salah memilih jalan untuk setiap penyelesaian masalah kehidupannya.

Setidaknya itulah yang kini disadari dan begitu disyukuri oleh Fahri, peristiwa pertemuannya dengan Ratna menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi dirinya. Fahri yang dulu tak pernah aktif dalam organisasi dakwah baik sekolah maupun kampusnya, setelah mengenal Ratna yang hanya lebih dari seminggu itu menumbuhkan kerinduan di hatinya pada Islam yang ternyata menyejukkan jiwanya.

Ya Allah, ku tak tahu harus berucap apa selain hanya syukur yang tiada tara pada-Mu, Alhamdulillah, atas Ridho-Mu hamba bertemu dengan muslimah yang membawa hamba pada tali-Mu, ukhuwah Islam yang indah, cinta yang Engkau anugerahkan padaku untuknya, merubah diri yang tadinya hanya sibuk dengan dunia, menjadi ingin sekali segera bertemu dengan-Mu dan tentu saja bersamanya Rabbi. Ridhoilah pernikahan kami ini, kekalkanlah kami dengan Iman dan Islam di hati hingga di kehidupan yang abadi di akherat kelak. Aamiin ya rabbal ‘alamin”.



#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

Ket. Bahasa :

“Waduh yang suko ngelamun, hati-hati gek imannyo lari ke Ampera” (Waduh, yang suka melamun, hati-hati nanti imannya lari loh ke Ampera)

Kalau memang Anti lah nak melengkapi keislaman Anti tuh, yo diomongke be langsung dengan murabbiyah Anti. Daripado tiap hari macam wong tak makan setahun nampak ane, risau tau tak ane ni dengan sikap Anti yang tak lemak nian dipandang mato ni. La cukup ane ni bersabar njingok Anti macam ni” (kalau memang kamu sudah ingin melengkapi keislamanmu, ya dibicarakan saja langsung dengan pembimbingmu. Daripada tiap hari terlihat seperti orang tak makan setahun, risau tahu enggak, enggak enak banget ngeliatnya. Sudah cukup sabar aku melihatmu seperti ini)

AstaghfirullahAfwan Ukhana pun tak nak nian macam ni. Tapi, entahlah risau nian hati. Tak tahngapo?!” (maaf saudariku, aku pun tidak ingin seperti ini, tapi entah kenapa hati ini risau sangat. Enggak tahu kenapa?!)

“Kalau Anti sendiri tak tau, cak mano pulo ane nak ngasih solusi. Sudahlah, cak ini be, datangi murabbiyah Anti, keluarkan segalo risau hati tu samo beliau, okay Sis?” (kalau kamu sendiri aja enggak tahu, gimana aku mau ngasih solusi? Sudahlah, begini saja, datangi kakak pembimbingmu, keluarkan segala kerisauan hati itu sama beliau)

Murabbi/murabbiyah = kakak pembimbing dalam sebuah halaqah (majelis ilmu)
Mutarabbi = yang mengikuti halaqah
Ikhwan = Laki-laki
Akhwat = Perempuan
Taaruf = proses perkenalan
Akhina = saudara seiman laki-laki

4 komentar:

  1. Akhirnya kisah fiksi cinta yang di tunggu keluar juga, keren, ngalir ceritanya, isinya jg banyak makna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... bunda nabhan bisa aja nih.
      Alhamdulillah.

      Hapus