Kamis, 19 April 2018

Why Me?!


"Kenapa kamu selalu mengganggu Caca? Kenapa kamu selalu buat Caca nangis? Apa salah Caca? Apa? Kenapa Romi? Kenapa?’"

Astaghfirullah!” setelah sadar dari mimpi buruk untuk kesekian kalinya, aku mendapati bunda yang sudah terbiasa, membuka pintu kamarku dan mendekat.

“Kamu mimpi Caca lagi? Sudahlah, lebih baik sekarang kamu berwudhu, masih ada waktu untuk lail” kembali Bunda menenangkanku untuk yang kesekian kalinya juga.

Selalu begitu, ya Allah, hamba bersyukur karena Engkau selalu membangunkan hamba untuk lewati masa yang indah ini, tapi kenapa harus dengan cara seperti ini ya Rabb? Astaghfirullah!

***
“Mas Romi, liat mbak-mbak yang di depan, gimana kalau kita aja yang gantiin, kasian kan, mataharinya udah terik banget.” seru Syarif, membuatku harus berpaling pada dua mahasiswi yang dimaksudnya, di tengah asyiknya meminta sumbangan untuk korban banjir.

“Oh ya udah, ayo!” sahutku akhirnya.

“Terima kasih, semoga diridhoi Allah. Aamiin!” terdengar suara salah satu mahasiswi yang akan segera kami hampiri.

Suara itu? 

“Assalamu’alaikum Mbak, minta sumbangan juga ya?” tanya Syarif pada dua mahasiswi berjilbab yang sudah berada di depan kami.

Sepertinya bukan dari kampusku?

Wa'aikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, iya, alhamdulillah banyak juga nih!” jawab mahasiswi yang mengenakan almamater organisasi yang sama dengan kami, hanya saja sepertinya memang dari kampus yang berbeda. 

Alhamdulillah, gimana kalau mbak minta sumbangannya di bawah pohon itu aja, lebih adem kan?” sahut Syarif lagi. 

Nekat juga nih anak. 

“Maaf mbak, saya tidak bermaksud apa-apa kok, hanya tidak semestinya saja dua akhwat berada di tengah persimpangan, di bawah terik matahari yang begitu menyegat ini.” jelas Syarif pada dua wanita yang menatap heran padanya. 

Jazakallahu khairan! Kalau begitu, silahkan mengambil posisi kami, kebetulan sudah cukup untuk hari ini.” jawab mahasiswi dengan balutan jilbab dan baju kaos hijau serta rok panjang hitam yang membuatku terpikir akan sesuatu. 

Suara dan mata itu? Astaghfirullah!

“Mas? Mas Romi?” tanya Syarif dengan melambai-lambaikan tangan di depan wajahku. 

“Ya, kenapa? Loh, dua mahasiswi yang ada di sini tadi udah pergi?” tanyaku pada Syarif. 

“Udah Mas! Wah, masku lagi jatuh cintrong nih!” sindir Syarif padaku. 

What? Cintrong? Apaan tuh?” tanyaku lagi, menyembunyikan rasa malu yang menggumpal. 

Astaghfirullah, bisa-bisanya aku berbuat seperti ini, kembali tersihir setelah sekian lamanya hal itu tak menghampiriku lagi.

***
Loh, itu kan mahasisiwi yang beberapa hari kemarin aku temui dengan Syarif?! 

Assalamu’alaikum Mbak Siska, sibuk banget nih kayaknya, tak bantuin yo.” sapaku pada ibu muda yang kini telah berhasil dengan prestasi kepenulisannya. Dan karena ingin meraih impianku seperti yang telah dicapai Mbak Siska dan beberapa insan di kota ini, aku tergerak untuk ikut dalam organisasi, di sini aku punya banyak teman dari berbagai kalangan dan kampus, banyak pengalaman yang kudapat, dan tentunya pelajaran tentang hidup.

Setelah Mbak Siska menjawab salam dan mempersilahkan, aku membantunya membersihkan ruangan yang penuh dengan buku, beberapa bekas plastik dan botol minum. Yah, hari ini seleksi penerimaan anggota baru, pria dan wanita tempatnya terpisah.

Alhamdulillah, bersih juga, sekarang apa yang kamu inginkan Romi?” tanya Mbak Siska mengagetkanku, tau aja ya Mbakku satu ini. 

“Boleh liat daftar peserta yang ikut seleksi tadi nggak Mbak, please!” harapku padanya.

“Kamu yakin, sebanyak ini?!” tanya Mbak Siska lagi sambil menggenggam lampiran surat pendaftaran yang lumayan banyak.

“Yakin Mbak!” jawabku dan mulai memeriksa satu per satu daftar yang menumpuk di depanku. Banyak juga ya peminatnya, tadi yang pria juga sebanyak ini sih, alhamdulillah!

Alhamdulillah, ketemu!” seruku bahagia, tak lupa mencatat alamat dan nomor handphone-nya juga alamat email-nya. Benar saja, dia bukan dari kampusku.

“Siapa sih? Loh, ini kan Icha! Kenapa? Kamu naksir sama dia?” tanya Mbak Siska kembali mengagetkanku.

“Mbak aneh aja deh, kalau pun itu terjadi, semoga aku udah siap untuk jadi imam yang baik untuk wanita itu. Jadi mbak kenal dia?” sahutku.

“Iya, Icha kan adik tingkat Mbak, sebenarnya udah dari setahun yang lalu dia ingin masuk, tapi belum sempat, baru sekarang dia bisa.” jelas Mbak Siska.

“Coba dari setahun yang lalu ya Mbak, kan sama dengan Romi.” godaku pada Ibu muda ini. Setelah berterima kasih dan salam, aku pun pergi meninggalkan Mbak Siska yang tersenyum penuh arti. Terserahlah, yang penting kini aku dapatkannya. Alhamdulillah.

***
Assalamu’alaikum, Bude!” salam dari depan pintu.

Wa’alaikumsalam warohmatullah, Siska? Ayo masuk!” seru Bunda pada Mbak Siska.

“Bu Fatimah?” tanya seseorang yang bersama Mbak Siska.

“Ririn?” tanya bunda balik. “Masyaallah, sudah lama tidak bertemu, makin cantik saja.” seru Bunda setelah menyadari pandangannya.

"Alhamdulillah, Ibu juga awet muda banget.” sahut Ririn menimpali godaan Bunda.

“Iya, tau aja Lu Rin? Pa kabar?” sahutku di belakang Bunda, sedikit mengagetkan tiga wanita cantik di hadapanku.

“Tahu dong, Ririn gituh! Alhamdulillah baik bro, tapi kenape Lu yang keliatan tuaan yah?” goda Ririn padaku.

“Terlalu banyak pikiran nak Ririn!” timpal Bunda.

“Mikirin siapa, Icha?” tanya Mbak Siska mengagetkan kami.

“Icha? Kenapa?” sahut suara dari luar. “Maaf, Icha tadi mampir ke toko depan, ada yang mau dibeli. Assalamu’alaikum Ibu!” kembali gadis yang membuatku speechless itu berseru mencairkan suasana yang hening.

Wa’alaikumsalam! Oh jadi ini yang namanya Icha, cantik ya Rom?” jawab Bunda menambah rasa kagetku.

“Bisa bicara sebentar?” tanyaku akhirnya langsung pada Icha tanpa menghiraukan tatapan penuh arti bunda dan mbak Siska bercampur tatapan penuh tanya Ririn.

“Ehm, yah, ok!” sahutnya yang sedikit bingung dengan suasana sekitarnya.

“Kayaknya pernah ketemu deh?! Ah, iya! Di persimpangan jalan Sudirman kan?” tanya Icha memulai kebisuan di antara kami, aku hanya duduk di luar diam mengenang masa lalu dengannya. Bunda, Mbak Siska, dan Ririn mungkin lagi nguping di dalam.

Ririn teman sekelasku saat sekolah dasar sama dengan Caca or Icha, setelah aku menemukan segala tentangnya, aku hanya bisa menatap status dan catatan-catatannya di jejaring sosial juga blog wanita yang sekian lama menghantui pikiranku itu. Dua belas tahun lalu, saat kami duduk di kelas dua sekolah dasar, aku adalah ketua kelas yang sebenarnya baik dan juara kelas.

Tapi, dengan Caca, diri ini bagaikan penjahat yang selalu menghantuinya. Caca adalah gadis lugu di kelas saat itu, dia mempunyai mata dan suara yang mampu menyihir mata dan telinga yang mendengarnya. Bila aku secara tak sengaja menatap matanya, entah bagaimana raga ini akan merasakan cahaya yang mencerahkan hingga ingin sekali menghampirinya, bila mendengar suaranya, jiwaku akan terasa terbawa angin nan mendamaikan hatiku.

Itulah, kenapa aku selalu mengganggunya, karena aku tak pernah bisa lepas dari mata dan suaranya, walau sebenarnya aku juga tidak tega melihatnya menangis karena ulahku. Tapi, ternyata itu tak berlangsung lama, Caca tiada lagi saat semester kedua di kelas dua sekolah dasar menghampiri kami, tanpa kabar berita, yang kami tahu dia pindah sekolah, tanpaku tahu alasannya.

“Kamu tidak ingat dengan saya?” tanyaku akhirnya.

“Bukannya tadi saya sudah bilang ya, kita pernah bertemu kan?! Tapi yang bicara teman kamu.” jawab Caca mengingatkanku akan kebodohan yang terjadi saat itu.

“Berarti Kamu tidak mengingat saya sama sekali!” seruku. Perihnya hati ini. Ternyata sia-sia semua yang kulakukan atau justru karena begitu bencinya Ia hingga lupa padaku?

“Maksudnya?” tanya Caca tak mengerti.

Akhirnya inilah saatnya, bismillah.

“Kamu pernah sekelas dengan Ririn waktu sekolah dasar kan?” tanyaku dan dianggukkan olehnya. “Apa kamu ingat dengan ketua kelasnya?” tanyaku lagi. Kali ini, sengaja ku berdiam sesaat.

“Yah, namanya Romi, dia yang selalu buat saya menangis di kelas, tanpa saya tahu alasannya. Hehe… menyedihkan memang, dicela, diganggu, tanpa tahu salah kita apa?!" sahutnya. Terlihat sekilas matanya menerawang.

Maafkan saya, Cha!

“Apa kamu benci sama dia?” tanyaku lagi.

“Benci? Saya tidak punya alasan untuk benci, karena yah, anak kecil, paling karena tidak tau mau ngapain dan melihat ada mangsa yang menurutnya enak dikerjain, ya udah! Saya cuma tidak habis pikir saja, kenapa saya? Tapi, di luar itu, saya menyadari kok, saya memang anak cewek yang cengeng, badannya doang gede tapi otaknya kecil banget! Hehe… maaf?!” jelasnya lagi dan sepertinya merasa salah tingkah karena aku tak menimpali candaannya.

“Maaf, lalu kenapa kamu pindah?” akhirnya keluar juga pertanyaan yang sekian lama menghantui pikiranku itu.

“Karena orang tua saya! Kami sekeluarga pindah keluar kota, jadi yah, mau tidak mau saya juga harus pindah sekolah. Oh iya, tahu dari Ririn ya?!” sahutnya, sungguh malunya diri ini, ternyata gadis kecilku itu pindah bukan karena ulahku.

“Bukan karena ketua kelas itu?!” tanyaku mempertegas hati ini.

“Bukan! Tapi, walau begitu saya bersyukur juga sih, karena akhirnya tidak ada lagi yang buat saya menangis, yah, alhamdulillah di sekolah dasar tempat saya pindah muridnya baik-baik.” serunya lagi.

Alhamdulillah!” sahutku akhirnya.

Ya Rabbi, ternyata gadis kecil yang selalu kubuat menangis itu tak pernah benci padaku, betapa malunya diri ini, karena pertanyaan itu, 12 tahun harus selalu bermimpi buruk tentangnya, padahal, benar, ANAK KECIL!

“Tapi, saya masih suka penasaran juga sih, kenapa ya ketua kelas itu suka sekali buat saya menangis?” tanya Icha, membuyarkan lamunan indahku. Tatapannya masih saja terarah ke depan. Yah, dia tak pernah melihat ke arahku, setidaknya, itu yang kurasa karena begitupun aku.

“Mungkin, karena dia ingin kamu selalu memikirkannya.” jawabku sekenanya.

***
Romi kecil terpesona dengan gadis tinggi langsing, yang berada di kelasnya, dia tidak mengerti kenapa gadis itu bisa membuatnya tak berpaling, mata dan suaranya selalu terngiang di pikiran dan hatinya, padahal, dia kan masih anak kecil, haruskah dia merasakan apa yang dirasa oleh hati-hati orang dewasa? Karena hal itu, Ia selalu mengingkarinya dengan mengganggu gadis itu, dengan beragam cara hingga membuat gadis kecil nan tinggi itu meneteskan beberapa butir air mata di wajah lugunya.

“Wah, si kutilang lagi belajar tulisan cina nih, padahal nulis bahasa indonesia aja masih compang camping kayak cakar ayam” godanya sambil mengambil kertas coretan yang berada di hadapan gadis bermata dan bersuara indah itu.

“Romi! Balikin, kamu apa-apaan sih, kenapa kamu jahat gitu sama Caca? Lagian, tulisan Caca bagus kok, kamu tuh yang tulisannya kayak cakar ayam” seru gadis cina sebelah gadis yang digoda Romi yang kini tengah menangis.

“Ih, cengeng, ye… si kutilang cengeeeeeng!”seru Romi kecil makin senang menggoda.

“Caca, udah dong. Jangan nangis lagi, kamu tuh harus kuat, sekarang kita ke tempat ibu Aisyah yuk, kita aduin Romi biar Romi dimarahin. Ayo!”

Sepeninggal dua gadis itu, terlihat raut wajah Romi yang merasa bersalah, tapi, kembali ditepisnya tatkala ada teman wanita yang menghampiri,

"Kamu kenapa sih Rom, selalu saja mengganggu Caca? Nanti kalau orangnya pergi baru deh nyesel"

"Hah! Ngapain juga, kamu tuh Rin, yang bakal kesepian!"

#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

2 komentar:

  1. Romi ga boleh nakalin caca, nanti di strap bu guru, hehehhe, kirain berlanjut mba

    BalasHapus