Rabu, 02 Mei 2018

Para Kekasih Allah


“Hasan?! Akhirnya kamu pulang juga sayang!” seru Mama senang, senyum manis hinggap di bibirnya yang merah.

“Maaf Ma. Hasan hanya ingin berganti pakaian, sekaligus membawa beberapa helai untuk berganti nanti!” tanpa melihat perubahan yang terjadi pada paras Mama, aku berlalu menuju kamar yang terletak di lantai dua.

Selesai berganti dan mengemasi beberapa pakaian dan barang lainnya yang mungkin aku perlukan nantinya, aku langsung bergegas keluar dan bermaksud kembali ke rumah sakit. Tapi, ternyata Mama masih berada di ruang keluarga yang terletak dekat tangga rumahku, Ia duduk di sofa sambil menonton TV.

“Hasan, tunggu! Mama mau bicara!” ternyata beliau menyadari keberadaanku yang akan segera meninggalkan rumah, mama mengalihkan tatapannya padaku, menunjukkan ketegasan dan keseriusannya. Akupun menurut dan duduk di sofa sebelahnya.

“Mama tahu kamu melakukan ini semua, karena dia tidak memiliki keluarga yang dapat merawatnya. Tapi, bukan berarti kamu lupa dengan masa depan kamu sendiri. Ingat Hasan, sebentar lagi kamu akan menjadi orang besar, apa artinya gelar yang kamu dapat jika kamu tidak dapat memanfaatkan itu semua, hanya karena kesibukan yang sia-sia ini. Mama…”

“Maaf  Ma, tapi...”

“Mama belum selesai bicara Hasan. Heh … entah apa yang diperbuat gadis itu hingga kamu berubah seperti ini, kamu…”

“Ma, sekali lagi Hasan mohon maaf, tapi Hasan mohon Ma, tolong singkirkan prasangka buruk mama tentang Sandra. Ini semua tidak ada kaitan apapun dengan dia. Tenang saja Ma, Hasan tidak hanya akan menjadi orang besar di kota ini, tapi juga di negara ini. Insya Allah Ma, Hasan akan berjuang keras menjadi orang yang mama inginkan. Hasan sudah membuktikan pada mama, walaupun Hasan tidak berada di rumah melainkan di rumah sakit menemani Sandra, tapi Hasan tidak pernah lalai dengan kuliah Hasan. Bahkan sembari menemani Sandra, Hasan menyelesaikan skripsi Hasan, hingga Hasan akan mendapatkan hasil dari semuanya”

“Dan sekarang Mama bilang kesibukan Hasan ini sia-sia?! Mama salah besar! Justru melihat kondisi Sandra yang tak kunjung membaik, memotivasi Hasan untuk menyelesaikannya. Hasan mohon maaf Ma, atas semua kelancangan Hasan. Assalamu’alaikum!” aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Akhirnya aku meninggalkan Mama yang entahlah apa yang terjadi padanya setelah ucapanku itu. ‘Ya Allah, astaghfirullahal’azim! Maafkan hamba Robbi, berikanlah hidayah-Mu pada mama hamba, mudah-mudahan ini semua akan segera berakhir. Aamiin!’

***
Sumber Gambar : google.com

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, yang ada dipikiranku hanya Sandra.

“Eh, tunggu! Berhenti Lo!” seru salah satu preman yang berbadan besar bak Aderai. Para preman yang terdiri dari lima orang itu menghampiri gadis cantik yang melewati mereka.

“Ada apa yah? Emang nih jalan kenapa? Lagi ada perbaikan?” tanya gadis yang kini telah dikepung oleh preman-preman itu yang tak lain adalah Sandra dengan mimik tenangnya.

“Alah .... banyak bacot Lo! Serahin semua barang yang Lo punya ma kita, Cepetan!” kali ini preman yang badannya dipenuhi tato bersuara.

“Emangnya barang-barang gue buat apaan?” tanya Sandra lagi, tetap dengan mimik wajah yang tenang.

“Yah, buat beli makanan ama rokok! Banyak tanya banget sih Lo! UDAH SERAHIN! Sebelum kita berbuat kasar!” jawab preman bermata besar, tampak kemarahan yang sangat di wajahnya, tapi, hal itu tidak membuat Sandra takut.

“Ooo … buat makan ama rokok. Trus kalo udah habis, kalian bakalan ngerampas lagi?! Kasian banget sih! Cuma buat begitu aja, kalian harus ngelakuin hal yang membuat kalian dibenci ama orang-orang. Enggak takut makanannya nggak berkah?” sahut Sandra prihatin.

“Iiihhh … Sial banget sih Lo jadi cewek!” hampir saja tas Sandra mau dirampas sama preman bermata besar, tapi keburu dicegah sama preman yang bawaannya tenang dari tadi, beda sama teman-temannya yang lain.

“Apaan sih Lo? Ngapain juga Lo belain cewek yang jelas-jelas mainin kita?!” seru preman bermata besar itu kesal dan dianggukkan sama yang lain.

Tanpa menghiraukan teman-temannya yang kesal, preman yang bawaannya tenang itu, berkata pada Sandra

“Sorry, Lo bener. Kita mang ngelakuin hal yang salah, tapi mau gimana lagi? Siapa sih yang mau nerima kita? Tampang amburadul, nggak cocok jadi artis. Kerja? Ijazah aja nggak punya, gimana mau punya sekolah aja kagak. Jadi, wajar dong kalo kita ngelakuin hal ini! Mau jadi pengamen? Udah kebanyakan, lagian mau mangkal di mana? Kasian kan pengamen lain yang areanya kita ambil. Mau jadi pedagang? Sama! Udah banyak, lagian kita ogah digusur-gusur. Mana nggak ada modal buat dagang. Jadi…”

“Eh Tong! Kenape Luh malah curhat? Ember Luh! Preman lembek!” potong preman yang bertubuh kecil yang dari tadi diam, akhirnya buka suara, tidak tahan mendengar pengakuan temannya yang menurutnya terlalu itu.

“Okay! Gue punya solusi buat kalian! Gue bakalan ngasih kalian kerjaan, asalkan kalian emang bener-bener udah kapok jadi preman!” tawar Sandra, haru juga mendengar penjelasan panjang lebar si Preman Tenang itu.

“Alah … Udah! Kita nggak butuh kerjaan, yang kita butuh makanan dan rokok!” preman bermata besar itu merampas tas Sandra.

“Eits … Tunggu! Tenang aja gue bakalan ngasih kalian duit kok, kasian banget sih!” akhirnya Sandra mengambil beberapa helai uang seratus ribu dari tasnya dan memberikannya pada preman bermata besar itu.

“HAH … SATU JUTA! SERIUS LO!” seru mereka kompak.

“Yah serius lah, daripada kalian ngerampas mulu, dibenci ama orang-orang?! Mending tuh duit gue kasih, lagian kalian kan lebih butuh daripada gue!” jawab Sandra.

“Terima kasih! Terima kasih banyak ya!” mereka serempak berlutut di depan Sandra.

“Eh, eh, eh, apaan nih! Aduh, kalian enggak perlu ngelakuin ini, mending kalian sujud syukur, makasih sama Allah, karena Allah masih sayang sama kalian, buktinya Allah ngasih rezeki buat kalian melalui gue!” tanpa ba-bi-bu lagi, mereka langsung bersujud di jalan dan menguraikan air mata syukurnya dan meratapi kesalahan yang selama ini mereka perbuat.

“Alhamdulillah! Jadi, gimana? Masih enggak butuh kerjaan?” tanya Sandra, setelah melihat mereka sudah tenang kembali.

“Sekali lagi, kami mohon maaf dan makasih untuk semuanya!” tak ada lagi sikap kasar, wajah menyeramkan. Berganti dengan mata yang masih merah akibat tangisan mereka, wajah sesal bercampur haru, meliputi paras mereka.

“Aduh! Ya udah deh, kalian ikut gue, ayo!” ajak Sandra. Dengan wajah cerah sekaligus bingung, mereka pun mengikuti langkah Sandra menuju rumahnya.

“Hah … Ini rumah Lo???” tanya mereka kanget melihat rumah yang lebih indah dan luas dari istana presiden.

“Iya. Udah ah, yuk masuk!”  ajak Sandra kepada para preman yang masih memasang wajah tak percayanya.

Mereka pun masuk dan lagi-lagi mereka hanya bisa membelalakkan mata dan tak lupa juga dengan mulut yang terbuka lebar.

“Wow … rumah yang luas dan rapi. Amazing!” seru mereka kompak.

“Ternyata walau preman, bahasa inggris kalian boleh juga!” tawa Sandra, menyadarkan ketakjuban mereka.

“Aneh banget, Lo nggak terlihat seperti anak orang kaya, penampilan Lo sederhana, bawaan Lo juga, nyantai abis!” sahut yang bertubuh kecil, disertai anggukan oleh yang lain.

“Kalau gini sih, gue baru percaya kalau Lo bisa ngasih kita kerjaan!” seru yang bermata besar. Mendengar ocehan-ocehan mereka, Sandra hanya menanggapinya dengan senyum.

“Eh, sorry nih, mereka emang gitu. Kalau bicara nggak mikir-mikir dulu! Sorry ya, nggak bermaksud kok!” mendengar gaya bicara si Tubuh Besar bak Aderai itu, teman-temannya tertawa.

“Eh, Bung! Sejak kapan Luh jadi alim gini?”

“Hehe … Sejak … Sejak hari ini kali?!”  spontan, mendengar jawaban si Tubuh Besar, Sandra dan yang lainnya tertawa, dia pun ikut tertawa walau tahu yang ditertawai adalah dirinya.

Sandra! Sandra! Dengan mengingat kehidupan lo waktu masih sehat, membuat gue jadi senyum-senyum sendiri. lo gadis unik, lo punya cara tersendiri untuk menolong orang yang emang membutuhkan. Karena lo, manusia yang tadinya bengal, dibenci banyak orang, kini menjadi pekerja keras, disanjung banyak orang, mereka sukses dengan pekerjaan yang lo berikan. Lo enggak cuma memberikan uang, tapi juga pekerjaan, keterampilan untuk masa depan yang lebih cerah. Andai aja, semua manusia di dunia ini kayak lo, enggak kan ada lagi kemiskinan, kesengsaraan, semua sama derajatnya, walau berbeda pekerjaan dan pangkat.

***
Assalamu’alaikum!” salamku pada anak-anak pengamen yang sedang berkumpul.

Wa’alaikumsalam! Kak Hasan?” jawab mereka kompak.

“Kak, kita kangen nih sama kak Sandra! Kak Sandra masih di rumah sakit ya?” tanya Santi, pengamen cilik dengan wajah lelahnya.

“Iya cantik, makanya kakak ke sini, mau ngajak kalian ngejenguk kak Sandra! Kalian…”

“Kita mau kak, nggak apa-apa deh, kita nggak ngamen. Ayo!” sahut Santi lagi, memotong ucapanku.

“Iya kak. Ayo! Ayo!” seru yang lainnya.

“Iya. Iya. Masuk gih ke mobil! Semangat banget sih?!” jawabku akhirnya

Aku benar-benar terharu sekali, mereka adalah anak-anak yang sudah dianggap keluarga bagiku dan Sandra. Kami selalu mengisi hari-hari kami dengan belajar apapun di rumah Sandra. Bahkan Sandra pun telah mengetahui bakat dari masing-masing mereka. Sandra telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan masa depan mereka kelak.

Aku senang dapat mendampinginya menjalankan semua kegiatan sosial, terkadang aku malu tak bisa berbuat banyak seperti yang dilakukan Sandra. Dia bisa dengan ikhlas melakukan apapun untuk orang-orang yang memang sangat memerlukan bantuan. Telah banyak masyarakat miskin yang terbantu dan sukses akibat pertolongannya.

Semua harta peninggalan keluarganya, dipergunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari membangun tempat-tempat yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki, hingga rumah-rumah layak huni yang diberikan cuma-cuma olehnya pada mereka yang tak memiliki tempat tinggal. Hartanya tidak pernah habis, karena memang selalu dimanfaatkan untuk beramal.

Dan satu hal yang membuat diri ini semakin kagum padanya adalah sebutan dirinya untuk orang-orang yang membutuhkan itu yaitu “Para Kekasih Allah”.

“Kenapa ya kak, kok kak Sandra bisa sakit gitu, padahal kan selama ini dia nggak pernah ngeluh sakit? Bahkan kalau dilihat kak Sandra tuh ceriaaa banget! Selalu bikin kita-kita senang!” tanya Dio, memecah keheningan dalam mobil.

“Kakak enggak tahu ganteng, tapi mungkin ini hadiah dari Allah, karena selama ini kak Sandra tuh selalu sibuk, kalau istirahat pun hanya sebentar, makanya kak Sandra tuh disuruh istirahat sama Allah. So, kita berdoa aja, mudah-mudahan kak Sandra sembuh dan bisa kembali mengisi hari-hari kita dengan keceriaannya. Setuju?!”

Mereka mengangguk dan perjalanan kembali hening dengan pikiran masing-masing. Aku yakin mereka sedang berdoa untuk kesembuhan Sandra.

Ya Allah, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Mu, ambillah penyakit Sandra. Rabb, kuatkanlah iman kami, tuntunlah hati kami agar selalu ingat pada-Mu. Aamiin!

***
Assalamu’alaikum!” salam kami saat memasuki kamar di mana Sandra dirawat.

Wa’alaikumsalam warahmatullah!” jawab suara dari dalam.

“Sandra? Alhamdulillah! Lo udah siuman!” betapa senangnya kami melihat Sandra yang telah lama koma, kini sadar.

“Ciuman? Hehe… Iya! Tau aja Lo, gue baru nyium bantal, tapi emang dasar rumah sakit, yang kecium bau obatnya. Kagak nahan deh!” seloroh Sandra

“Hehe… kak Sandra aneh banget. Padahal kan lagi sakit, tapi masih juga bisa bercanda!” Cindi berseru dengan senangnya.

“Yee…. Siapa juga yang sakit?! Wong, kak Sandra cuma numpang tidur, ternyata enggak enak ya, terlalu bersih. Udah gitu, bau obatnya enggak ketulungan, tajam banget!” canda Sandra lagi.

“Seneng deh kak Sandra udah kembali ceria! sahut Putri.

“Alhamdulillah! Oh ya, lupa. Ada yang bisa nolongin kak Sandra enggak?” tanya Sandra.

“Aku! Aku! Aku!” sahut para pengamen cilik itu dengan semangatnya.

“Iya, iya, ya udah, Santi, kakak minta tolong kamu selesain lukisan yang kakak buat ya, udah enggak sanggup lagi nih ngelukis! Dio sama Bagas tolong selesain gitar-gitar kecil yang kak rangkai, karena pada belum jadi semua, dan terakhir Cindi dan Putri kakak minta  tolong, kalian selesaikan boneka-boneka yang masih belum utuh itu, kasian tuh ada yang belum dikasih kepala, tangan, kaki, semuanya deh, alias belum ada sama sekali. Enggak apa-apa ya, sekali-sekali rumah sakit jadi tempat untuk menghasilkan karya-karya seni yang dahsyat dari tangan-tangan terampil hasil ciptaan Sang Maha ini! Lagian nih kamar lumayan gede! Tapi, jangan lupa, sampahnya dikumpulin trus dibuang ketempat sampah deh, trus bersih deh, trus selesai deh, trus udah deh! Trus…”

“Hihi… kak Sandra bisa aja. Okay! Kita bakalan ngelakuin apa yang kak Sandra minta! Semua ... siap! “ seru Bagas mengkomando teman-temannya, dan mereka pun mulai dengan tugasnya masing-masing.

Bro! Udah berapa lama nih gue enggak salat, udah banyak dosa gue, sekarang mumpung ada kesempatan gue pengen salat dhuha. Gue salat dulu ya!” Akupun melakukan hal yang sama dengan Sandra, salat dhuha, bedanya Sandra melakukannya dalam keadaan berbaring, sedangkan aku tegak berdiri.

Selesai salat, aku melihat adik-adik kecilku telah menyelesaikan tugasnya, bahkan mbok Nah, pembantu Sandra sudah berkumpul bersama kami.

Assalamu’alaikum, Den, maaf tadi mbok disuruh pulang sama neng Sandra, bau’ katanya. Hehe... Neng Sandra memang bisa saja!”

Wa’alaikumsalam warohmatullah, enggak apa-apa mbok!”

“Kak, tugas kita dah selesai nih, kak Sandra kok tidur ya?” tanya Cindi padaku.

“Tadi sih katanya mau salat, mungkin saking khusyuk-nya, jadi lama!” jawabku

“Wah, lukisan Santi bagus sekali!” seruku melihat lukisan yang berada di dekatnya.

“Yang bagus itu lukisannya kak Sandra, Santi hanya melukis bidadari yang berada di tengahnya ini!” jawabnya menunjuk lukisan bidadari cantik yang di sekelilingnya terdapat anak-anak cacat, orangtua-orangtua renta, para pengamen, pedagang dan preman.

“Kenapa Santi melukis bidadari cantik di tengah orang-orang itu?” tanyaku lagi.

“Kakak lihat, walaupun mereka cacat, sengsara, terlihat seram, tapi di bibir mereka memperlihatkan senyum yang tenang membawa kedamaian. Dan hal itu terlukis karena ada bidadari cantik di tengah-tengah mereka, yang menyejukkan hati mereka!” terang Santi.

“Yah, kamu benar sayang, enggak salah kak Sandra memilih kamu buat nyelesain lukisannya! Dio sama Bagas gitarnya mana?” tanyaku pada dua anak lelaki yang terlihat tenang sekali.

“Tadinya kami pikir kak Sandra membohongi kami, karena kami tidak melihat gitar-gitar kecil, tapi melihat bahan-bahan yang ada, terlintas dalam pikiran kami untuk membuat sebuah masjid. Tak disangka, masjid itu seperti sungguhan, sangat indah!” Dio memperlihatkan masjid yang memang terlihat nyata, seperti ingin rasanya masuk dan beribadah pada-Nya di dalam sana.

“Tapi, kenapa kak Sandra bilang gitar-gitar kecil ya?” tanyaku tak mengerti.

“Gitar-gitar kecil yang kak Sandra maksudkan adalah bahan-bahan yang dirangkainya sendiri, kaligrafi-kaligrafi kecil, mikrofon yang mungil, dan bahan-bahan lainnya. Gitar jika dipetik oleh ahlinya akan menimbulkan suara yang indah, begitupun bahan-bahan yang dirangkai oleh kak Sandra, bila disatukan akan menjadi sesuatu yang indah, Bagas yakin kak Hasan pasti ingin sekali masuk dan berzikir serta bershalawat di dalamnya, hingga menyejukkan hati bagi yang mendengarkan. Iya kan?” aku hanya bisa mengangguk.  

“Allahu Akbar! Kalian hebat! Hebat sekali! Lalu Cindi dan Putri bonekanya mana?”

“Ini!” serentak mereka berdua memperlihatkan hasil karya mereka.

“Loh, kakak kira boneka-boneka kecil yang biasa dijual di toko-toko boneka?!”

“Iya kak, kita juga berpikir begitu. Tapi ternyata boneka yang dimaksud adalah sepasang boneka yang persis seperti manusia, yang satu pria, yang satunya wanita. Tapi, mereka berada dalam keadaan tidak berbusana. Putri menyelesaikan yang pria, Cindi yang wanitanya. Melihat semuanya udah ada, kita langsung mengambil dan  memasangkannya, tapi saat mau dipasang mereka seperti nolak gitu, kayak waktu dipakein baju koko, baru turun dari lehernya, eh, langsung loncat. Jelas aja Putri kaget, karena penasaran, putri amati boneka manusia itu lekat-lekat, trus Putri ngelihat ada sesuatu yang bisa ngebuka bagian badannya. Putri baru tau kenapa itu semua terjadi, ada per dan beberapa alat lain yang menyebabkan boneka itu tidak bisa dipasangkan pakaian yang utuh! Akhirnya setelah Putri keluarkan isi yang ada dari kepala sampai kaki, baru deh dia bisa dipasangkan baju koko dan sarung serta pecinya!”

“Iya, Cindi juga kayak gitu, udah dikeluarin semua baru deh Cindi pakein baju gamis dan celana panjang serta jilbabnya, tak lupa kaos kakinya juga. Dari sini, kami mengambil kesimpulan bahwa, untuk berubah menjadi manusia yang beriman, kita harus berjuang melawan pengaruh-pengaruh buruk yang ada di sekitar dan bertekad dalam hati bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, dan akhiratlah tujuan dari kehidupan kita. Makanya hati dan tubuh itu harus dibaluti dengan sesuatu yang sesuai dengan syariat Islam!”

Subhanallah! Allahu Akbar!” aku tak bisa berkata apa-apa lagi, begitupun mbok Nah, dari bibir kami mengalir puji-pujian untuk Allah, yang telah menumbuhkan iman di hati kami.

“Kak, kok alat itu cuma ada garis-gris lurus yang bergerak tenang ya? Kan tadi ada gelombang-gelombang gitu?” tanya Dio.

Refleks aku melihat ke arah yang dimaksud  Dio, alat pengukur detak jantung, lalu menghampiri Sandra yang masih berada dalam keadaan salat. Tapi, dia tidak sedang salat, karena tak ada gerakan apapun yang dilakukannya, yah, Sandra sudah tidak bernafas lagi, detak jantungnya telah berhenti, dia telah kembali kepangkuan-Nya, “Innalillahiwainnailaihirojiun!” seruku, menyebabkan kamar itu berisik oleh isak tangis mereka yang ada didalam.

Bagas, Dio, Cindi, Putri, Santi, dan Mbok Nah, tak terkecuali aku, hanya  air mata yang keluar. Tak hanya air mata kesedihan, karena bidadari kami telah kembali pada-Nya, tapi juga air mata bahagia karena Ia kembali dalam keadaan husnul khotimah. Subhanallah! Allahu Akbar! Alhamdulillah!

“Kak!” dengan mata yang masih merah oleh tangis, Santi menghampiriku.

“Ada apa cantik?” aku heran melihat dia membawa lukisannya.

“Kakak lihat di atas lukisan ini ada yang mengembung, seperti kertas yang ditempelkan di sana!”

Aku mengambil lukisan itu, lalu memperhatikan sesuatu yang ganjil di sana, akupun meraba dan mencari celah agar bisa membukanya,

Subhanallah!” sekali lagi aku hanya bisa bertahmid pada-Nya, kertas yang ditempelkan itu menutup kalimat “Para Kekasih Allah”.

Hampir saja ingin kumasukkan ke dalam tong sampah, tapi melihat ada goresan-goresan tangan di kertas itu, aku membuka dan mulai membacanya,

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Kepada keluargaku,
Para kekasih Allah, mbok Nah, pakde dan mas Jo, serta bro Hasan.
Tanpa kalian, hidupku tiada arti, kuucap syukur alhamdulillah, karena cinta Allah yang begitu besar pada kita hamba-Nya. Kuucap istighfar astaghfirullahal’azim atas segala kekhilafan, kelalaian, dan perbuatan dosa.
Bro Hasan, terima kasih untuk semua kebaikanmu, kutitipkan semua titipan Allah yang ada padaku, para kekasih Allah, harta dan perusahaan. Sampaikan maafku untuk orangtuamu.
Mbok, pakde, dan mas Jo, terima kasih sandra ucapkan atas semua kesabaran dan kebaikan kalian. Kuserahkan rumah dan segala isinya pada kalian keluargaku tercinta.
Adik-adikku serta para kekasih Allah, janganlah pernah mengeluh, teruslah berjuang untuk menggapai ridho-Nya.
Ku berdoa pada Allah, semoga semua hamba-Nya mendapat hidayah dan semoga kita semua kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin ya robbal ‘alamin.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

                                                                                         Yang Tercinta,                                                                                                   Alexandra Keyzia.



#fiksi
#onedayonepost
#odopbatch5

4 komentar:

  1. Seriusan banget ini, satu kata buat cerpen ini gila, gila, gila bener-bener bikin termehek-mehek, ini bukan lebay, tapi sebuah cerita itu bisa ngaruh banget, termasuk cerita yg dibikin kak Nurhidayatunissa, sesuai nama kakak, cahaya hidayah perempuan. Ternyata untuk bisa kita menjadi baik (beriman) kita juga kudu menghilangkan pengaruh buruk yg ada di sekitar kita. Kak nissa nanti kalo kk berkenan, mampir yaa ke gubuk maya ku yang pas-pas'an di www.kangsanikradu.blogspot.com hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah, saya yang haru baca komennya. Alhamdulillah, semoga selalu istiqomah mengukir tinta kebaikan ya.
      InsyaAllah tak BW blognya kang Sanik nih ^_^

      Hapus