Jumat, 04 Mei 2018

Would World Be Better Without Islam? (Bulan Terbelah di Langit Amerika antara Novel dan Film)


Would world be better without Islam? Tema yang diusung dalam Novel National Best Seller yang diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sekuel sebelumnya dari 99 Cahaya di Langit Eropa ini mengangkat peristiwa 11 September 2001 yang lama menjadi momok mengerikan yang mengkreditkan Islam sebagai teroris. Tentu saja, akan ada banyak hal berbeda yang terdapat pada film yang berasal dari novel, tidak dapat dipungkiri, itu jualah yang terjadi pada film Bulan Terbelah di Langit Amerika yang dibuat dua sekuel ini. 


Film yang disutradarai Rizal Mantovani ini, diawali dengan pesta ulang tahun putri kecil bernama Sarah dan Abe sang ayah menghadiahi gadis mungil itu Al-quran, namun di tengah acara Abe yang akhirnya diketahui bernama Ibrahim Hussein menerima telepon mengenai pesawat dan paket yang ada padanya. Peristiwa besar itupun terjadi, sebuah pesawat menabrak gedung termegah di AS di kala Abe juga memiliki pekerjaan yang mengharuskannya mengunjungi menara kembar New York, hingga akhirnya Ia dicurigai sebagai salah satu teroris yang merubuhkan gedung WTC yang merenggut sekitar 3000-an jiwa yang merubah secara keseluruhan kehidupan istrinya Azima atau Julia Collins dan anaknya Sarah Hussein. 

Sejatinya dalam novel yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini, kisah di awali dengan suasana bandara Portland yang memperlihatkan dua sosok pria Arab yang cukup mencurigakan, yang disinyilalir bersama ketiga teman lainnya, berlima mereka membajak pesawat, dan menabrakkannya ke  gedung World Trade Center New York City, AS. Dengan Abe dan rekannya bernama Jo yang setelahnya diketahui ialah Anna menjadi salah satu korban peristiwa bersejarah tersebut. Ibrahim Hussein meninggalkan istri dan sarah yang saat itu masih bayi.

Perbedaan mencolok lainnya ialah sosok tokoh Hanum sendiri, dalam novel dikisahkan bahwa Istri Rangga Almahendra ini masih belum memberanikan dirinya untuk berhijab. Namun dalam film Ia telah mantap dengan pilihannya. Di sekuel sebelumnya 99 Cahaya di Langit Eropa diceritakan Hanum bertemu Fatma Pasha dan anaknya, dari merekalah Ia mendapatkan hidayah, juga pekerjaan, dan tentu saja untuk hijab hanya ada dalam versi filmnya, karena pada kenyataannya dalam novel Hanum tetaplah seorang muslimah yang belum bersiap dengan salah satu kewajibannya itu. Namun, demikian perjuangannya untuk Islam tetaplah mengimaninya, terbukti dalam novel dikisahkan betapa Ia sangat menghindari hal-hal yang menyimpang dari Islam dalam pekerjaan jurnalisnya. Dan hal ini tak dikisahkan dalam film karena di awal pertemuan kita dengan sosok Hanum, penonton dihadiahi pertemuan kilat Hanum dan bosnya, Gertrude dalam penugasan dirinya untuk menulis sebuah artikel berjudul “Apakah Dunia akan lebih baik tanpa Islam?”, dan Sarah Hussein dan Azima atau Julia Collins sebagai narasumber.

Lain halnya dengan Rangga, dan dua sahabat karibnya Khan dan Stefan. Pada Novel Rangga yang mendapat ide untuk paper The Power of Giving-nya berkat Stefan yang memperlihatkan artikel koran tempat Hanum bekerja, Heute ist Wunderbar mengenai Sr. Philipus Brown seorang miliarder New York yang sangat dermawan, dalam film justru Profesor Reinhard yang langsung memintanya untuk menemui Sang Dermawan itu. Jadilah Rangga dan Hanum dengan misi berbeda berangkat dari Wina menuju New York. 

Perbedaan yang paling mencolok lainnya ialah dalam Film justru Stefan yang menjadi rekan Rangga untuk menjalankan misi menemui Sr. Philipus Brown agar bersedia bersamanya ke Wina atas permintaan Prof. Reinhard untuk mengisi kelas Etika Bisnis di kampus.  Dan memunculkan sosok jasmine sebagai kekasih Stefan yang di novel tak tercantum. Karena, memang hanya mereka berdualah, Rangga dan Hanum yang berangkat ke New York City, AS. Selain itu, sosok Ibu Julia Collins, seorang nasrani yang amat tidak menyetujui pernikahan dan pilihan Julia alias Azima menjadi mualaf yaitu nyonya Hyacinth Collinsworth baru dimunculkan dalam film sekuel lanjutan Bulan Terbelah di Langit Amerika 2.


Terlepas dari beragam perbedaan yang sebenarnya hal itu bisa saja terjadi mengingat durasi dan segala keterbatasan pengarapan sebuah film, nilai yang diusung dari keduanya tetaplah menyentuh bagi pembaca juga penontonnya. Hal yang hingga kini masih membekas ialah tatkala menyadari seorang Julia Collins dengan nama Islamnya Azima Hussein tak sepenuhnya membenci Islam karena merenggut suami tercinta dan harus menerima segala kritik pedas mengenai agama pilihannya, di luar Ia terlihat membuka hijabnya, namun ternyata saat pertanyaan itu muncul dari Hanum, terjawablah bahwa sesungguhnya cinta dan imannya masihlah untuk Islam, Ia tak seutuhnya melepas hijabnya, rambut yang terurai itu hanyalah sebuah wig.

Film dan novel walaupun berbeda namun dengan apik begitu mengundang emosi tak terkendali, perjuangan Hanum berburu narasumber, perpisahan Hanum dan Rangga yang menimbulkan keresahan, sosok suami Anna yaitu Michael Jones yang membenci Islam karena menewaskan istrinya, hingga akhirnya Sr. Philipus Brown yang memberikan jawaban dari semua pertanyaan, yang ternyata amat mengenal Anna dan Abe, korban 11 September 2001.

Membaca dan menonton Bulan Terbelah di Langit Amerika dan sekuel keduanya, membuat saya harus mengapresiasi, pantaslah novel ini menyandang gelar sebagai National Best Seller Tahun 2014 yang sebelumnya juga mendapatkan penghargaan sebagai Novel Indonesia Terfavorit versi Anugerah Pembaca Indonesia Tahun 2014. Untuk filmnya sendiri, walau hanya mampu menjadi nominasi di segala kategori dalam perhelatan penghargaan perfilman Indonesian Box Ofiice Movie Awards 2016 dan hanya menambatkan piala untuk Nino Fernandez sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik, sudah cukup menjadi film yang membanggakan dengan nilai keislaman yang indah.

Membaca novelnya, membuat saya pribadi memikirkan banyak hal, betapa kuasanya Islam untuk Amerika, berbagai hal yang musti kita ketahui sebagai muslim, dihadirkan lewat novel ini, juga filmnya. Pesan yang sangat terpatri dan terlukiskan indah dalam novel dan film Bulan Terbelah di Langit Amerika ialah, “Demi matahari dan cahaya siangnya. Demi bulan apabila mengiringinya. Sungguh beruntung orang yang senantiasa menyucikan jiwa. Pancarkan Islam. Tebarkan salam. Sinarkan Kedamaian. Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.  Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah menyertai kamu sekalian.” 

Hanya satu yang menjadi kontroversi bagi saya selaku muslim, dianggap sebuah kebanggaan tatkala patung Nabi Muhammad Shallahu Wa Alaihi Wasallam dan dua Nabi lainnya di Mahkamah Agung AS, dan berbagai tempat lainnya, memang di sana disebutkan itu ialah apresiasi mereka untuk Rasulullah sebagai teladan tertinggi tuk sebuah keadilan dalam suatu Negara, namun, tetap saja hal itu sebuah kekeliruan terbesar yang harusnya diprotes keras umat Islam.

#TugasRCO3  
#Tugas2Level3  
#OneDayOnePost

Nb. By the way, tadinya mau sharing sama Cinta, soalnya dia juga nonton, eh, tuh anak masih lelap tidurnya.

0 komentar:

Posting Komentar