Senin, 17 September 2018

Angel dan Negeri Asap

pixabay.com

“Kami akan selalu ada untuk anda yang membutuhkan bantuan demi menjaga kelestarian alam, namun, kami juga berharap, anda semua dapat membantu kami mewujudkannya, bagi siapapun yang ingin bergabung, kami siap menerima bahkan amat sangat bersyukur. Karena dengan lebih banyak yang peduli pada lingkungan, maka diharapkan kerusakan alam akan berkurang, bahkan musnah berganti keindahan alam yang memukau semesta.”

“Wuah … itu ayah! Bundaaa … lihat, ayah masuk TV lagi. Ayah gagah sekali, Angel suka ayah, ayah kereeen.” seru Angel sambil mengacungkan jempolnya di depan televisi.

“Iya, ayah Angel memang kereeen banget. Nah, sekarang, Angel tidur ya….” jawab sang bunda dengan senyuman indahnya nan menyejukkan.

“Iya, Angel mau tidur kok, tapi, nanti ayah datang kan bunda? Angel mau ketemu ayah, Angel mau cerita buanyaaak sama ayah.” pertanyaan gadis mungil itu, dijawab anggukan oleh sang bunda yang mulai menidurkannya.

***
“Hai, gadis kecil bangunlah, bangun!” terdengar suara parau yang menggema dan berhasil membuat sang gadis mungil itu terbangun.

“Ada apa? Bukannya Angel baru tidur, kok udah dibangunkan? Eh, ini di mana? Angel di mana?” setelah sadar sepenuhnya, Angel berputar-putar untuk melihat sekelilingnya.

“Kau ada di hutan gadis kecil, tidak seharusnya kau berada di sini, kembalilah ke tempatmu.” kembali terdengar suara tua yang bergema penuh perhatian.

“Pohon, kamu? Bagaimana bisa pohon bicara? Apa Angel tengah bermimpi?” tanya Angel dengan mata berbinar terang.

“Benar, kamu sedang bermimpi, jadi bangunlah dan pergi dari sini!” kali ini burung elang yang bertengger pada si pohon yang bersuara.

“Iya, pergi sekarang juga, kalau tidak kau akan celaka gadis kecil!” sahutan para semut serentak terdengar.

“Wuah … ini keren, sangat keren! Bagaimana bisa? Tapi, kenapa Angel harus pergi? Hutan ini sangat indah, Angel ingin berlama-lama di sini.” ucap Angel dengan penuh antusias.

“Aneh, kamu tidak takut? Kami bicara padamu, itu hal yang tidak lumrah, seharusnya kamu menangis saat ini.” Si Pohon kembali memperdengarkan suara lembutnya yang bergema.

“Kenapa harus takut? Bukankah elang bilang Angel tengah bermimpi? Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan. Oh tidak, apa yang terjadi…” belum sempat Angel melanjutkan ocehannya, asap mulai merebak dan mulai mendekati mereka, Angel pun terbatuk keras karenanya.

“Sudah kami bilang bukan? Sangat berbahaya untukmu berada di sini. Sekarang kau harus merasakan apa yang telah dilakukan manusia pada hutan yang seharusnya mereka lindungi. Begitu banyak hewan yang harus kehilangan tempat tinggal mereka, berapa banyak pohon yang musnah tanpa dapat menikmati kehidupan yang mewah. Semua kesenangan hidup itu hancur karena ulah manusia yang tidak bertanggungjawab, mereka menebang pohon, membakar hutan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.

Karena itu, pergilah wahai gadis kecil, biarkan kami musnah sendiri, kamu harus menyelamatkan diri dan membantu teman-teman kami yang masih bisa dilestarikan, beritahukan pada dunia manusia bahwa kami juga butuh kehidupan yang damai, kami juga bisa sangat bermanfaat untuk mereka, tanpa mereka harus merusak alam. Sampaikanlah itu pada dunia, wahai Angel. Kembalilah sekarang….

***  
“Angel sayang, bangun nak, apa yang terjadi? Ada yang sakitkah? Ini, minumlah.” terdengar suara sang bunda penuh kekhawatiran melihat anak gadisnya tak henti terbatuk.

“Bunda, ayah mana? Angel harus bicara sama ayah, sekarang. Sekarang … Angel….” belum sempat gadis berumur delapan tahun itu melanjutkan ucapannya, matanya kembali menutup dan sayup-sayup terdengar olehnya suara tangis bunda yang meratap penuh duka menyebut namanya.

~End~
This entry was posted in

6 komentar:

  1. Kalau dikembangkan lagi bagus ini mbak kisahnya.

    BalasHapus
  2. Hehehe... makasih masukannya mbak ^_^

    BalasHapus
  3. kereeen, sllu suka kalo baca fiksi fantasi (y)

    BalasHapus
  4. fanfiknya kang Dwi lebih keren atuh(y)

    BalasHapus
  5. Menarik sekali, Mbak kisahnya...Tapi sedih endingnya..hiks

    BalasHapus