Selasa, 18 September 2018

Harapan Jati

pixabay.com

Di sebuah Hutan, terjadi percakapan cukup serius antara Pohon Jati dan Burung Elang yang selalu bertengger erat di dahannya yang mulai merapuh ditelan masa kehidupan.

“Beruntunglah engkau wahai Jati, kau masih bisa berdiri tegak menikmati kehidupan setelah begitu banyaknya teman-temanmu yang harus rela ditebang dan kehilangan jati diri mereka yang sebenarnya.” ucap Elang yang hari itu terlihat sendu.

“Bukannya justru dirimu yang beruntung bila aku masih hidup? Lihat saja, hampir setiap hari kamu berdiam di dahanku, padahal hidupku ini bisa saja juga akan menemui akhirnya. Sejujurnya, aku iri pada mereka, karena …”

“Apa? Iri? Yang benar saja, bagaimana bisa kau merasa iri pada teman-temanmu yang telah meregang nyawa?” sergah Elang memotong curhatan Jati.

“Ah, kamu ini Elang, dengarkan dulu ucapanku, jangan asal menyela begitu. Tahukah kamu? Bila kamu ingin didengar sekitarmu, maka kamu harus menjadi pendengar yang baik, bukannya hanya memperdengarkan celotehanmu yang seakan selalu menusuk itu!” jelas Jati menasehati Elang yang memang terkenal dengan kecerewetannya yang selalu mendatangkan duka mendalam. “Hei, Elang, kamu masih mendengarkanku bukan?”

“Iya. Aku mendengarkanmu Jati. Aku akan diam mendengarkan, jadi silahkan lanjutkan, apa maksudmu iri pada mereka yang malang itu?” sahut Elang yang mulai menunjukkan keseriusannya.
“Ah, ya. Aku iri pada mereka karena mereka bisa sangat bermanfaat bagi semesta. Mereka memang telah kehilangan jati diri, eh, sebenarnya … tidak juga. Mereka hanya tengah menikmati menjadi pribadi lain dan itu terlihat lebih baik. Kamu tahu Elang? Terkadang aku dan yang lainnya menangis serta berharap kami pun akan bisa memberikan yang terbaik untuk manusia. Kamu sendiri juga tahu, sejahat apapun manusia itu, pasti ada yang terbaik. Nah, untuk manusia terbaik itu, aku ingin bermanfaat bagi mereka.

“Seperti yang kamu ketahui Elang, hutan ini telah karam dan akan segera punah, jadi, untuk apa aku mempertahankan diri, berdiri di tengah keterpurukan yang akan menjelang? Akan lebih baik bila ada manusia yang berniat untuk merubahku menjadi benda yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup mereka. Lagipula, hanya buang-buang energi bila kita selalu mengelak dari apa yang sudah ditakdirkan bukan?

“Yah, kita semua tahu bagaimana sifat manusia, mereka makhluk serakah, mereka juga makhluk yang penuh ambisi. Jadi, untuk kami, pohon yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan manusia, hanya bisa memasrahkan diri untuk menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Beda denganmu Elang, kamu masih bisa berkelana dalam semesta ini, kamu bisa terbang bebas dan menikmati segala yang ada.

“Tapi, kami? Kami hanya bisa tumbuh dan menetap di satu tempat, akan sangat indah bila kami bisa menjadi tempat berteduh, namun, bila memang harus keluar dari hutan dan dipermak menjadi berbagai alat kebutuhan untuk digunakan manusia, kami hanya bisa berpasrah, karena itulah takdir kehidupan yang diberikan semesta. Lagipula, seperti yang sudah kukatakan di awal, hal itu masih lebih baik, daripada berdiam diri meratapi hidup yang kan segera punah ini.”

“Ah, bagaimana bisa sebatang pohon berpikir seperti itu? Terlalu mulianya dirimu wahai Jati.” batin Elang yang tengah mengusap air matanya yang tak sengaja menetes dan membasahi dahan. Lalu, dengan tegar menanggapi pengharapan Jati yang tak bisa diterimanya,

“Kau benar, hanya menunggu masa untukmu bernasib sama seperti teman-temanmu yang lainnya. Tapi, bukan berarti kau hanya harus berpasrah! Kata siapa kau hanya bisa tumbuh dengan bantuan manusia? Kata siapa kau hanya hidup agar bisa dimanfaatkan mereka? Semesta juga membutuhkanmu, kau tahu? Bila pohon-pohon tiada, hutan musnah, lalu bagaimana dengan kami, makhluk yang hanya bisa hidup di hutan? Bagaimana dengan alam yang akan semakin gersang dan semakin panas membakar?

“Bahkan manusia sendiri akan mengalami dampak negatif dari kepunahanmu, tiada hutan maka akan tiadalah penghidupan untuk mereka, bumi akan memanas dan itu artinya mereka, manusia akan ikut mengalami kepunahan dan segala yang mereka buat tiada lagi gunanya, mereka takkan bisa menikmatinya, karena semesta ini sepenuhnya gersang dan rusak dikarenkan tiadanya hutan yang menjadi akar penghidupan.” setelah mengatakan segala pemikiran dengan mata tajam penuh amarahnya, Elang terbang meninggalkan Pohon Jati yang terdiam sempurna.

“Elang benar, kenapa aku hanya memikirkan diri sendiri? Kalau kami tiada, hutan tiada, lalu bagaimana dengan semesta?” batin Jati tersadarkan. Namun, tiada guna, karena seperti yang telah diyakininya, segerombolan manusia dengan gergaji mesin besarnya memasuki hutan dan mulai menebang setiap pohon yang berdiri anggun. “Selamat tinggal Elang, selamat tinggal alamku yang mendamaikan, semoga kelak kan ada tunas baru yang mengisi kembali keindahan hutan.”

~End~
This entry was posted in

5 komentar:

  1. Jati jadi bingung pilih yg mana 😂😂😂

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, makasih, bunda festi lebih keren lagi ^_^
    Yang mana-mana Paket ;)

    BalasHapus
  3. Tulisannya keren Mbak NIa, Keep wrinting ya......

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, makasih Daeng.
    (Masih harus banyak-banyak belajar lagi)
    Keep Writing juga ya ^_^

    BalasHapus