Selasa, 10 September 2019

Diri Ini dan Dia


Masih terekam jelas dalam angan,
Bagaimana diri dan dia merancang mimpi.
Namun, semua itu terpaksa lenyap terbawa masa,
Karena akhirnya di dunia telah hampiri.

Yah, dunia hanyalah rantauan saja,
Akhiratlah kampung halaman yang abadi.
Namun, manusia seolah lupa,
Masih saja terpesona indahnya mimpi.

Laksana diri yang harusnya sadar dan kuat hadapi,
Namun, tetap saja berkubang sendu.
Selalu tak sabar diri menanti,
Hari bersua kembali bersama yang dirindu.

Akankah jiwa terampuni,
Di kala raga selalu rapuh.
Akankah sanubari terpenuhi,
Di kala bathin selalu mengeluh.

Wahai diri, yang selalu merindu,
Bukankah kau sadar, dunia hanyalah semu,
Namun, kenapa masih saja pilu.
Bila akhirnya kau dan dia 'kan kembali bertemu.

Yah, wahai diri,
Kutahu kau masih akan selalu terkenang,
Kau takkan pernah melukai diri,
Kutahu dia insan tersayang.

Kodrat manusia ialah menjalani,
Takdirnya tak bisa kau pungkiri.
Bila kau memanglah meyakini,
Al-fatihah untuknya kau hadiahi.
---

Wahai Kamu yang sempat membersamai,
Puncak segala perhatian,
Tak pernah lelah mendampingi,
Tumpuan semua harapan.

Kamu, insan beriman,
Panutan di kala resah,
Tempat berkeluh kesah,
Tiada lelah berikan senyuman.

Kamu, sang pahlawan,
Pemilik mimpi yang tinggal kenangan,
Begitu elok dan rupawan,
Hingga akhirpun tetaplah dermawan.

Wahai kamu,
Bersama dengan-Nya ialah impian,
Jannah-Nya tempat kembalimu,
Hadiah segala sabar dan keimanan.
-nurhidayatunnisa- Duri-Riau.
This entry was posted in

9 komentar:

  1. Huum. Kakak juga ya? Tapi, saya masih perlu banyak belajar lagi nih, pengen banget buat puisi yang wow gitu😁

    BalasHapus
  2. Keren kak, sy blm nge-klik ni sm bikin puisi..

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah. Hehehe ... moga suatu saat "klik" ya😁

    BalasHapus
  4. Amat Menawan kak. Benar-benar apik memainkan kata. Terbaik terbaik terbaik. hihi

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah. Kak Ilis juga keren banget.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah. Selvi juga terbaik banget....

    BalasHapus