Senin, 11 November 2019

Rindu

doc.pribadi

Jalanan di sore hari menjelang senja begitu lengang. Tiada tampak satu manusia pun berlalu lalang di kompleks yang cukup padat ini, "Aduh, Tina jadi merinding, ke mana semua orang? Kok sepi sih?gumamku dalam hati. Penglihatanku mulai merayap ke sekitar, rumah-rumah minimalis dengan beragam warna sedikit membantu diriku menghilangkan rasa takut yang tiba-tiba hinggap. Di setiap rumah terdapat halaman yang luas dengan bermacam-macam bunga, menambah kesejukan hati bagi siapa saja yang melintasi kompleks yang telah sepuluh tahun kutempati.

Dan bola mata biru ini, tertegun sangat lama melihat pemandangan di depanku. Aku melihat seekor kucing, menyendiri dengan tatapan kosong, terlihat Ia sangat merindukan seseorang. Bagaimana aku tahu? Karena memang begitulah kenyataannya. Kucing bernama Rindu itu tengah merindu tuannya yang telah pergi meninggalkannya lima tahun lalu. Tak kuasa menatapnya yang begitu sendu, air mataku tiba-tiba saja mengalir tanpa dapat kuhentikan, 'Ah, andai saja kubisa memeluk dan mendamaikan sedikit hatinya yang tengah berduka itu? Mama, apa yang harus Tina lakukan? Lihatlah, dia, Rindu, hewan peliharaan kesayangan kakek Imam masih saja membuatku iba.'

Kakek Imam, bukanlah nama sebenarnya. Panggilan itu kami berikan, karena beliau adalah imam masjid kompleks. Orang tua yang sangat kami kagumi dan teladani. Kata Mama, kakek Imam telah ada di sini sejak perumahan pertama kali diresmikan, dan Rindu? Ia telah bersama kakek jauh sebelum itu. Kakek tidak punya keluarga. Ia hidup berdua dengan Rindu. Entahlah kata orang-orang dewasa di sekitar, kakek melajang hingga akhir hayatnya, tiada yang tahu apakah Ia benar-benar sendiri di atas dunia ini, 'Tidak, tentu beliau tidak sendiri, ada Rindu yang selalu setia menemani kakek.'

Rumah kakek Imam bercat biru langit, mempunyai halaman yang amat luas dengan pohon besar menyejukkan dan terdapat bangku panjang di bawahnya. Rumah kakek tidak berpagar, beliau membiarkan halamannya menjadi taman bermain anak-anak, terkadang orang-orang dewasa juga berkumpul, duduk di bawah rimbunnya pohon rindang yang hingga kini aku masih tidak tau namanya. Bahkan, sekiranya ada sesuatu yang mendesak yang harus dibicarakan, rumah dan halaman kakek menjadi tempat untuk mendiskusikannya.

Tapi, semua itu berakhir, tatkala seorang paman berusia empat puluhan masuk kompleks dan menempati rumah kakek, paman itu mengaku sebagai anak kakek Imam, sebagai buktinya dia menyerahkan sebuah foto dirinya bersama kakek, awalnya para warga sekitar tidak percaya. Namun, Rindu mendekati paman pendatang baru itu, matanya yang tadinya redup setelah kepergian kakek, kembali bersinar cerah saat melihat paman yang wajahnya memang sedikit mirip kakek. 'Ah, entahlah! Apakah paman itu mengatakan yang sebenarnya?'

Sejujurnya, kami bersyukur karena Rindu tidak akan kesepian lagi. Tapi ternyata, hal itu tidak berlangsung lama, paman (yang mengaku sebagai anak kakek) itu jarang pulang. Beliau memang sangat memperhatikan Rindu, tidak pernah telat memberi Rindu makan, tapi, sekali lagi, hanya sebatas itu. Bahkan, beliau melarang kami untuk mendekati halaman rumahnya, dan selalu tahu kami bermain di sana saat beliau kembali. Kata Papa, 'mungkin si Paman memasang CCTV, jadi tahu apa yang terjadi di rumah, walau beliau tak ada di sana.' Hah, terserahlah, aku tidak peduli, tapi, sungguh aku prihatin pada Rindu! Aku selalu teringat kebersamaan kakek dan Rindu. Kenangan indah itu, selalu terpatri dalam sanubari kami yang menjadi saksi betapa eloknya kisah cinta kakek dan Rindu.

Pernah, suatu hari, kakek tengah khusyuk dengan mushaf dan kopi yang selalu menemaninya menikmati pergantian senja. Saat itu, Rindu mengeluarkan suara yang terdengar seolah menjerit, kakek menoleh, dan mendapati kucing kesayangannya telah berada di tepi jalan. Namun yang menjadi perhatian bukan itu, melainkan alasan kenapa makhluk yang amat dicinta Rasul ini berada di sana. Kakek berlari, dan menarik seorang anak yang ingin mengambil bolanya di tengah jalan kompleks, hampir saja, anak berpostur gemuk itu tertabrak, karena setelah kakek berhasil menyelamatkannya, sebuah motor melintas cepat di jalanan sempit itu.

Kakek tidak memperhatikan siapa pengendara yang mengebut itu, karena fokusnya teralihkan pada tatapan si anak yang tak lepas dari bolanya yang tengah menggelinding semakin jauh. Anak gendut yang ternyata tetangga kakek, berterima kasih setelah kakek Imam mengembalikan bolanya, Ia sama sekali tak menyadari bahwa nyawanya hampir saja melayang, jika Rindu dan Kakek tidak menyelamatkannya. Dan peristiwa itu, diceritakan kakek di tengah ceramahnya selepas maghrib, mengingatkan para orang tua untuk mengawasi anaknya bermain, dan juga mengingatkan para orang dewasa untuk berkendara lebih hati-hati selama masih dalam wilayah kompleks.

Suara kucing yang mengeong, mengingatkanku pada suara tangis bayi, sangat menyentuh, dan membuatku ingin selalu memeluknya. Tapi, tidak bisa, aku mendapat vonis dokter sebagai si alergi bulu, jadilah aku tidak punya hewan peliharaan, walau sebenarnya juga tidak ingin, karena aku tidak yakin akan bisa merawatnya seperti kakek merawat kucingnya yang berbulu lebat dan mulus itu. Di mana ada Kakek, di situ ada Rindu. Kakek selalu mengajak kekasihnya berjalan berkeliling kompleks, atau saat Ia harus mengisi ceramah di luar, bahkan ke masjid? Rindu juga ikut. Anehnya, makhluk menggemaskan ini hanya akan menunggu di teras depan, entahlah tiada yang tau apa alasannya tidak pernah mau masuk masjid. Apa Ia merasa dirinya tidak pantas masuk? Hah, entahlah!

Namun, hari itu, hari yang tidak pernah kami sangka akan terjadi, Rindu sang belahan jiwa kakek Imam, ikut masuk ke masjid, bahkan tatapannya tidak pernah lepas pada setiap gerakan kakek mengimami salat. Hingga, saat di sujud terakhir, sangaaat lama, kakek tidak juga bersuara, dan Rindulah yang membangunkan kami. Setelah mengakhiri rakaat terakhir itu, para orang dewasa laki-laki menghampiri kakek Imam, dan membenarkan posisi kakek yang ternyata sudah menghadap Ilahi. Rindu? Ia menangis, tak pernah kutahu bahwa binatang juga bisa meneteskan air mata, dan hari itu aku melihatnya. Cahaya mata Rindu tertutup genangan air mata yang menggumpal, menetes ke atas sajadah yang dikenakan kakek Imam subuh Jum'at itu.

***
“Kakek, kenapa kucing cantik itu, diberi nama Rindu?”

“Hmmm ... untuk mengingatkan diri bahwa rindu yang pantas dijaga ialah kerinduan pada Allah, Sang Maha Pencipta. Tatapan mata, celotehan makhluk mungil nan lincah itu entah bagaimana ... kakek merasa ialah milik-Nya."

"Tina nggak ngerti deh, maksudnya apa sih Kakek?"

"Hahaha ... maafkan kakek sayang, suatu saat nanti Tina akan mengerti apa maksud ucapan kakek! Sudahlah, ayo kembali setor bacaan qurannya, yang lain juga bersiap-siap ya!"

Terbit : Majalah Hadila, 
Edisi Mei 2019

This entry was posted in

4 komentar:

  1. Mantepp, semangat posting lagi, Keren Mba NiaπŸ’•πŸ’•πŸ’• jadi Rindu 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rindu berat sama bunda dan para alien mars😘

      Hapus