Sabtu, 18 Januari 2020

Cinta Sedalam Duka


Aku tak pernah paham, apa itu cinta? Pernahkah benar-benar merasakannya? Pernahkah diri dilanda cinta? Atau bahkan sakit karena cinta?

Aku yang bukan siapa-siapa. Tak pernah sekalipun bisa tersentuh hatinya. Hanya bersama karena kebutuhan. Bersua karena pertemanan. Tiada rasa yang begitu dalam. Tiada angan untuk selalu bersama. Tiada keinginan tuk selalu bersua.

Karena ku yakin dan pasti,  semua hal di dunia ini hanya sementara. Hanya DIA-lah yang abadi. Hanya Allah Sang Maha Segalanya yang pantas dicintai. Hanya Allah-lah yang kan selalu bersama hingga kehidupan abadi kelaknya.

Baiklah, aku paham maksudmu. Tapi, untuk hidup di dunia ini, hanya berserah yang bisa kulakukan. Hanya bertumpu pada-Nya yang bisa kuharapkan. Aku tak berani meminta apapun. Aku tak berani memimpikan apapun. Karena, hanya akan ada luka dan aku takkan sanggup hadapinya.

Kehilangan, kesedihan, luka, sakit akibat rasa yang terlalu dalam di hati. Kerinduan nan mendalam akibat kepergian orang terkasih, hingga saat ini masih membekas dan akan selalu ada hingga perjumpaan kembali kelaknya.

Yah, aku tak benar-benar sekuat baja. Aku tak benar-benar punya hati semulus sutra. Kau tahu benar, bagaimana kehidupan orang yang ditinggalkan kekasih hati untuk selamanya. Bagaimana menjaga rindu yang selalu membuncah untuk dicurahkan. Bagaimana menjalani semua kepedihan atas masa lalu yang selalu menyertai perjalanan.

Jadi? Begitukah cinta? Hanya akan memberikan keperihan. Hanya akan memberikan duka sedalam-dalamnya cinta. Lalu ... bagaimana harus menjalani hidup yang penuh duka. Kemudian ... menghadirkan kembali rasa yang telah membawa duka yang mendarah daging dalam jiwa? Bisakah cinta itu akan kembali hadir dan sembuhkan hati yang terluka?

Benar! Aku adalah si penakut itu. Aku si sakit itu. Yah, aku sudah benar-benar larut dalam duka. Aku sungguh tak lagi tahu apa yang akan terjadi. Aku tak lagi punya harapan apapun. Hanya berserah pada-Nya untuk semua yang kan terjadi. Hanya menunggu-Nya kembali ceriakan hati. Menghapus kepedihan atas kehilangan semu yang ditakdirkan. Menjadi pribadi yang hanya hidup untuk dan karena-Nya.

2 komentar: