Senin, 13 Januari 2020

Ingin Celaka, Merugi atau Beruntung?


Kau ingin aku menulis lagi? Hm, Baiklah. Tapi ... jangan menyesal atau bahkan berekspresi berlebihan. Okay? Tahun masehi sudah berganti dari 2019 ke 2020, lalu ... bagaimana dengan perjalanan hidup? Sudahkah ada perubahan? Telahkah temukan tujuan?

Ah, benar! Tujuan kita dilahirkan ke dunia ini ialah untuk menyembah-Nya. Lalu ... telahkah kau lakukan? Bagaimana kabar imanmu? Ibadahmu? Sudahkah benar-benar kau berikan hatimu hanya pada-Nya? Telahkah kau tumpukan harapan hanya pada-Nya?

Berapa banyak yang datang dan pergi darimu? Berapa banyak hal manfaat yang kau lakukan di 2019 lalu? Adakah hal yang berubah darimu? Pribadimu? Penampilanmu? Pergaulanmu? Bagaimana? Adakah perubahan positif itu terjadi?

Tidak, aku bukan bermaksud men-judge atau bahkan menasehatimu. Tulisan ini untuk diriku sendiri. Pribadi yang tak berubah dari dulu hingga kini. Sejak tahun hijriah berganti, berlanjut tahun masehi yang telah berubah. Hidup ini masih begini-begini saja. Miris!

Bahkan di usia yang tak lagi muda, sikap diri masih saja tak dewasa. Seolah takkan pernah menua, sibuk menyiakan waktu yang berlalu tanpa erti. Iman yang lebih mudah turun, dan naik hanya sesekali. Seolah hidup abadi di dunia. Lupa, akhirat nan abadi menanti.

Teringat saat apel pagi di Jum’at lalu, amanat paling menohok diri tersiarkan. “Bila hidupmu tahun ini sama dengan tahun lalu, maka merugilah diri. Bila lebih buruk dari tahun lalu, sungguh celakanya diri ini. Namun, bila tahun ini lebih baik dari tahun nan lalu, maka beruntunglah hidupmu.” Jadi, bagaimana? Kau pilih yang mana? Ingin celaka, merugi atau beruntung?

Tidak! Sekali lagi kutuliskan, deretan kalimat tak menyenangkan ini ialah untuk diriku sendiri. Yah, ini vonis untukku, yang masih saja tak bergerak. Setia dengan kesiaan yang tiada ujung makna. Hingga benar-benar tak lagi dapat diharapkan.

Jadi, wahai diri? Bagaimana? Apa yang kau inginkan? Apa yang kau impikan? Sampai kapan kau harus bersikap tak menyenangkan bahkan mengecewakan? Sampai kapan kau berdiam diri lewati waktu yang kian menjauh pergi? Tak inginkah kau hidup lebih baik? Tak inginkah kau menjadi “seseorang”? Tak inginkah?

Cukup! Berhentilah abai dan diam tanpa hal bermakna kau hadiahkan. Mulailah merangkak, berjalan, berlari, dan mendaki puncak tertinggi kehidupan. Bukankah kau menyakini ada kehidupan abadi nan menanti? Jadi, fokuslah hanya pada-Nya. Bukankah kau punya keluarga dan orang sekitar yang tak ingin kau kecewakan? Bergegaslah ... buatlah hidupmu lebih bermakna dan jangan lagi biarkan ada duka kecewa karena perbuatanmu.

2 komentar:

  1. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik di tahun ini dan seterusnya.

    BalasHapus