DIA Yang Selalu Ada

Membaca judulnya saja, hati ini sudah ikut tenang, Tenanglah, Masih Ada Allah. Tenanglah, seberat apapun beban kehidupan yang kita jalani, ada Allah yang selalu menyertai. Ada Allah yang, 'kan selalu memberikan solusi terbaik untuk segala permasalahan. 

Namun, untuk mendapatkannya, tentu kita harus lebih baik dulu. Tentu kita harus memperbaiki pola kehidupan yang sesuai syariat-Nya. Tentu, kita mampu melakukannya bukan? Tenang, Mbak Murnisetya kan menuntun kita, tuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat buku penuh motivasi dan pembelajaran ini. 

Pilihan Hidup

Kehidupan ini tergantung pada pilihan kita. Kebahagiaan, kesedihan, kesuksesan, maupun kegagalan, semua itu tak lepas dari bagaimana kita menjalani kehidupan. 

Apa tujuan kita dalam kehidupan ini? Bagaimana dan untuk apa waktu yang kita gunakan? Adakah Allah di setiap langkah yang kita pilih? Masa lalu tentu mengajarkan banyak hal dan waktunya bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

“Hidup ini hanya sementara. Lakukanlah hal-hal yang bermakna atau waktumu akan terbuang sia-sia” (hlm.8)

Hijrah

Membaca bab ini membuat diri terkenang masa di saat diri mulai mendekat pada-Nya dengan mengubah penampilan nan sesuai anjuran-Nya. Bagi muslimah, jilbab ialah identitas yang tak bisa ditawar.

Teringat tomboinya diri, bahkan koleksi rok hanyalah seragam sekolah, selebihnya celana panjang nan mencekik kulit. Seiring masa berlalu, Allah menunjukkan jalan-Nya. Kuliah, menjadi awal dimulainya perubahan diri, walau tentu tak semulus nan dirasa. 

Selalu ada rintangan, 'tuk mencapai kebaikan, dan di sanalah, tugas kita menyelesaikan tanpa terperosok dalam hasutan nan memabukkan. Akankah kekuatan hijrah bertahan ataukah kelemahan iman kembali menghantui diri.

“Perempuan yang berjilbab, belum tentu baik. Tetapi, dengan berjilbab berarti dia ingin berubah menjadi lebih baik.” (hlm. 63)

Bersabar dalam Doa

Hidup takkan pernah luput dari ujian nan menggerogoti iman. Ujian ialah bentuk cinta Allah pada umat-Nya. Bersyukurlah dengan ujian, karena itu artinya Allah masih menyayangi dan merindukan kita untuk berharap hanya pada-Nya. 

Janganlah berputus asa, bila doamu belum terkabulkan, walau sebenarnya telah dijawab-Nya, namun dirimu tak menyadari. Karena baik menurut kita, bisa jadi buruk menurut Allah. Begitupun sebaliknya, buruk menurut kita, namun, baik menurut-Nya.

Bila saat ini Allah belum mengabulkan doamu, bukan berarti Allah tidak mengabulkannya. Bisa jadi, Allah menundanya, karena mungkin doa itu belum pantas untukmu saat ini.” (hlm.133)

Allah Selalu Ada

Siapalah kita yang selalu menuntut banyak hal? Siapalah kita yang selalu mengeluhkan situasi yang kurang menyenangkan? Siapalah kita yang terkadang sombong dan lupa diri? 

Tapi, adakah Allah bosan pada setiap pintaan? Adakah Allah marah pada setiap ratapan? Adakah Allah pergi meninggalkan kita saat kita melupakan-Nya? Adakah teman?

“Jika kamu merasa Allah itu sangat jauh, keningmu mungkin kurang dekat dengan sajadah, doamu mungkin masih terlalu singkat, dan hatimu mungkin belum seutuhnya percaya kepada-Nya.” (hlm.166)

Judul buku  : Tenanglah, Masih Ada Allah
Penulis.        : Murnisetya
Penerbit       : Gema Insani
Tebal buku  : xx + 188 hlm.
ISBN             : 978-602-250-688-1
EISBN           : 978-602-250-786-4
Cetaka pertama, Februari 2020

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Allah sebaik-baiknya tempat meminta dan kembali. Referensi buku yang baik ini mbak Nisa๐Ÿ‘ƒ๐Ÿ‘ƒ

    BalasHapus